dadzfla

look up there… the world is so high…

Tebing Cagak, Klapa NUnggal

 

“Mengapa selalu ada pertentangan diantara kita?” Penyebabnya mungkin tak sulit ditebak: karena manusia dilahirkan dengan seperangkat ego yang dilimpahkan Tuhan, dan kecenderungan manusia adalah mempertahankannya, atau bila perlu diadu atas nama kepentingan . Kalau pertanyaan ini munculnya di arena panjat tebing mungkin ceritanya bakal lain lagi: mengabaikan segala pertentangan dan hanya fokus pada bagaimana menuntaskan rintangan jalur. Di tebing Cagak, secara spontan pertanyaan itu hanya menjadi abadi sebagai nama jalur panjat, jalur “Why?”, bertingkat kesulitan 5.11 dan memanjang sampai ketianggian 20 meter. Nama jalur itu tergurat di permukaan tebing bagai merek minuman yang menimbul seperti urat nadi di botol Jack Daniel’s. 

 

Keluar dari pintu tol Gunung Putri tinggal belok kiri, dan setibanya di kantor polsek Klapa Nunggal belok kanan lagi menyusuri jalur truk, diantara pabrik-pabrik semen dan jalanan off road . Dulu jalanan ini cuma tanah berunduk-unduk, tapi sekarang sudah ditimpa semen sampai sekitar dua kilo meter ke dalam. Bagi pemanjat-pemanjat di sekitar Bogor dan Jakarta kawasan ini cukup familiar sebagai tempat latihan tebing alam, yang biasanya dilakukan di sebuah ceruk goa dibalik bukit tempat gunung-gunung kapur dihancurkan segepok dinamit untuk pabrik semen. Di dekat kawasan panjat tebing yang lama itu baru-baru ini  dibuat lagi sebuah kawasan panjat baru oleh pemanjat-pemanjat asal Bogor. 

Menurut salah seorang pembuat jalurnya, Indra Supriyatna, nama jalur-jalur baru itu dibubuhi di kawasan tebing bukit Cagak. Nama bukit Cagak sendiri adalah sebutan orang setempat yang kemungkinan karena bentuknya secara keseluruhan seperti cagak. Para pembuat jalur dan pemanjatnya biasa menyebut lokasi itu tebing Cagak, Klapa Nunggal.   

Kawasan panjat tebing Cagak dibuat untuk mengganti kebosanan kawasan tebing lama dan kerinduan para pemanjat akan jalur-jalur baru. Indra dan rekan-rekannya bergelantungan di sana,  mengangkut bor dan hanger, dan dua minggu kemudian sebelas jalur panjat baru siap dipanjat. Tingkat kesulitan kesebelas jalur itu bervariasi, mulai dari 5.9 sampai 5.11c. 

Dua jalur paling kiri disebut jalur “Cangcut”. Kedua jalur itu mempunyai titik start yang sama lalu terpecah menjadi dua jalur: “Cangcut Lurus” dan “Cangcut Miring”. Kedua jalur itu buatan Indra dan memiliki tingkat kesulitan 5.10. Menurut pembuatnya, dinamakan jalur “Cangcut” karena ketika jalur itu dijajal oleh tester (Pemanjat yang mengetes jalur baru), cangcut (Celana dalam) sang tester kelihatan dari kaki tebing.

Jalur ketiga di sebelah kanan jalur Cangcut dinamakan jalur “Asmiranda”, diambil dari nama seorang bintang sinetron Asmiranda yang beberapa waktu lalu foto sexy-nya sempat beredar di internet. Agak kurang jelas kenapa dinamakan Asmiranda, tapi kemungkinan sewaktu pembuatan jalur ini namanya menjadi buah bibir di kaki tebing. Jalur Asmiranda memiliki tingkat kesulitan 5.11 dan dibuat oleh seorang pemanjat handal asal Bogor, Andri alias Kebo.

Jalur keempat dinamakan “ii”, singkatan dari “Indra dan Indra”, dua orang yang bernama sama dimana Indra kesatu sebagai pembuat jalur dan Indra kedua sebagai tester. Jalur ini punya tingkat kesulitan 5.10d. Di sebelah kanan “ii” adalah jalur “MM”, singkatan dari ”Maripatu Mariam”, nama dari putri kesayangan Indra sang pembuat jalur. Jalur “MM” dibuat oleh Indra dan punya tingkat kesulitan 5.11a.

Di samping “MM” jalur “Virginia” buatan Norman. Jalur ini memiliki tingkat kesulitan 5.11c. Dinamakan jalur “Virginia” karena menurut gosipnya, hati Norman sempat tergetar oleh seorang gadis yang bernama Virginia. Entah bagaimana hasil akhirnya, tapi yang jelas nama itu abadi di tebing Cagak sebagai nama jalur panjat, lekang seperti putri raja yang dipuja seorang jejaka yang mulai menua. 

Jalur ketujuh adalah jalur “Tato”. Jalur ini bertingkat kesulitan 5.10d dan dibuat oleh Tobing dan Alay. Dinamakan jalur “Tato” karena kedua pembuat jalur itu bertato. Selanjutnya jalur kedelapan jalur “Kunyuk”, 5.11, dibuat oleh Indra. Sewaktu jalur “Kunyuk” selesai dibuat, Rana, pemanjat asal Bogor  yang menjadi tester. Sewaktu nge-tes jalur itu suasana di tebing sangat panas dan membuat badan Rana menjadi hitam, seperti Kunyuk. 

“My Juliet” adalah jalur kesembilan, berkesulitan 5.10d buatan Indra. Menurut Indra, nama jalur itu dibuat spontan saja, yang intinya mengingatkan kaum pria pada kehadiran wanita. “Setiap cowo punya Juliet-nya masing-masing,” kata Indra. Keras sekaligus lembut, seperti salju gunung es abadi.

Ada lagi satu pertanyaan yang nampaknya belum terjawab, dilukis secara abadi di jalur “ Why ” buatan ‘Mbe: “Mengapa selalu ada pertentangan diantara kita?” Nampaknya ‘Mbe belum mendapat jawaban filosofis dari pertanyaan-pertanyaan yang melingkunginya itu: tentang penyebab percekcokan dalam organisasinya atau tentang keretakan hubungannya dengan sang kekasih hati. Makanya ia mengguratkan jalurnya dengan nama “Why?” yang bertingkat kesulitan 5.11. Terakhir, disamping jalur “Why?”, jalur “Batako” buatan Apiv. Simple saja, dinamakan jalur “Batako” karena bentuknya yang mirip batako. 

Norman, dan juga oknum-oknum yang membuat jalur-jalur itu sepakat, jalur panjat tebing Cagak dipahat sebagai bentuk jeritan hati mereka. Makanya, meskipun para pembuatnya pria-pria kekar tapi nama jalur-jalurnya begitu melo . Bagaimana cara efektif memanjat jalur-jalur itu, tak usahlah diceritakan dalam artikel ini, sebab satu-satunya cara menuntaskan jalur panjat tebing adalah dengan membawa kernmantle dan harness langsung ke tebingnya sendiri. (Dadang Sukandar).

 

Thanks to:  

 

  • ‘Nyang bikin jalur: Indra, Andri (Kebo), Norman, Tobing, Alay, ‘Mbe, Apiv
  • ‘Nyang motret: koleksi Indra, koleksi Dadang.
  • ‘Nyang nyumbang hanger: Dedi Lawe
  • ‘Nyang ngeceng-ngecengin : anak-anak FPTI Bogor
  •  ‘Nyang belon disebutin namanya disini

 

 

Foto:

http://www.friendster.com/photos/13281808/1/268276761

http://www.facebook.com/photo.php?pid=951026&op=1&aid=41251&auser=701178352&id=701178352&ref=mf

 

 

Letter From A Man

Tubuhku tumbuh dengan pesat, tetapi pikiranku cemas dan penuh harap. Tubuhku menginginkan sesuatu yang lebih, sesuatu yang nyata. Tubuhku mencari realitas yang sungguh-sungguh, selalu, seakan-akan tubuhku tidak di sana…

Namun, kamu langsung melihat hal yang kulakukan. Aku Mendaki.

John Menlove Edwards, “Letter From a Man”.

Taken fom: “Into The Wold”.

Berburu Nyali Di Tebing Emas

Berburu_nyali_di_tebing_emas_3Judul b uku : Berburu Nyali di Tebing Emas


Penulis : Dadang Sukandar

Penerbit : Penerbit ANDI, 2006
Jumlah halaman : v+89

Selalu ada kisah menarik dibalik suatu kegiatan. Dadang Sukandar seorang pegiat olah raga alam bebas menuturkan pengalamannya lewat buku mungilnya. Dadang, yang merupakan Jebolan MAPALA UI serta pencinta Alamnya SMU 13 ini banyak menceritakan pengalamannya yang berkaitan dengan aktifitas alam bebas.

Buku ini tidak seperti menggurui, buku ini pun tidak seperti Diktat Kegiatan Alam bebas yang menjemukan. Lebih jauh, buku ini merupakan catatan perjalanan suatu kegiatan. Sesekali terselip pengalaman yang patut kita renungkan.

Meskipun buku ini berlatar belakang petualang alam, buku ini juga banyak mengulas pengalaman di kota dan pedesaan. Singkatnya, buku ini penting dibaca bagi para pegiat alam bebas, agar dapat memaknai setiap kegiatan dan perjalanannya.

Source: plassoke.blogjurnalistikonlain.com

Nasionalisme, Prestasi dan Hura-hura.

Puncak17Nasionalisme, Prestasi dan Hura-hura.

Dalam beberapa milis dan forum, soal blangsaknya pecinta alam belakangan nyanter banget baunya. Dan banyak pula anggota perkumpulan pencinta alam yang sekarang malu-malu mengaku “Pencinta Alam”, kesannya ekslusif, munafik, sok jago dan jijik. Padahal sewaktu pelantikan di organisasi Mapalanya mungkin bangganya bukan main. Sekarang malah lebih seneng nyebut dirinya “Penikmat Alam” saja. Tapi biarlah, toh seorang “Penikmat Alam” juga merupakan “Pencinta Alam”. Seorang Pencinta Alam, adalah orang yang paling bisa menikmati alam.

Sebabnya mungkin karena perbedaan persepsi di kalangan pelaku-pelakunya, seperti organisasi Pencinta Alam, misalnya Mapala. Tanpa persepsi yang sama terhadap istilah, kita cuma akan bicara menurut pengertian masing-masing. Dan tanpa ada persamaan persepsi tentang apa itu “Pencinta Alam”, tentunya dalam kita diskusi bisa jadi kurang nyambung, karena  nggak punya alat ukur yang sama. Alat ukur kita cuma pengertian sendiri-sendiri yang belum tentu klop itu, dan sering bikin nyerempet emosi.

Dalam hukum, ada beberapa cara untuk mengintepretasikan sebuah pengertian (Khusunya pasal). Paling sering digunakan adalah intepretasi gramatikal, berdasarkan bunyi kalimatnya. Dan ini juga yang sering dilakukan, mengintepretasikan istilah “Pencinta Alam” dengan menarik dua kata itu menjadi terpisah: “Pencinta” dan “Alam”. Tentu buat tiap orang ini maknanya bisa jadi hablur. “Pencinta” adalah layaknya orang yang jatuh cinta, mungkin akan mati-matian kita membelanya. Dan “Alam”, lebih sering kita artikan sebagai hutan, gunung dan sungai. Jadi pencinta alam kira-kira sama lah dengan membela alam, kalau perlu mati-matian. Dan yang nggak sanggup membelanya mati-matian, bisa ditoleransi dengan cara “Leave nothing only footprints” kalau ke gunung, kalau ke hutan dan sungai. Nggak nyampah.

Tapi, apakah “Alam” yang dimaksud disini cuma alam gunung, hutan dan sungai? Bagaimana dengan kota? Apakah itu bukan “Alam”? Bahkan, dengan dunia mahluk halus, apakah itu juga bukan alam sehingga orang sempet susah-susah bikin “Ekspedisi Alam Gaib”? Ditayangkan di TV pula (Emang, ternyata setan laku di jual).

Ketimbang gramatikal, saya pribadi lebih milih mengitepretasikan istilah “Pencinta Alam” secara historis. Mempelajari sejarahnya: “Kenapa bisa yang munculnya istilah Pencinta Alam?”. Dari nge-trace sejarahnya mungkin kita bisa ngerti latar belakang pemikiran kenapa yang digunakan istilah Pencinta Alam. Bahwa pencinta alam muncul karena begini begitu, deh!

Dari literatur dan cerita turun temurun, secara historis, istilah Pencinta Alam pertama kali dimunculkan di fakultas sastra UI. Gengnya Soe Hok Gie cs yang memperkenalkan ini.

Suatu sore di tanggal 8 November 1964. Waktu istirahat kerja bakti di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Soe Hok Gie mengemukakan gagasan itu.  Kepada kawan-kawannya, sesama mahasiswa sastra UI, ia mengatakan mau membentuk organisasi untuk kelompok-kelompok mahasiswa yang gemar keluyuran di alam bebas. Kebanyakan mereka anak-anak Arkeologi dan Antropologi yang memang tukang turun lapangan. 

Tudjuan Mapala ini adalah mentjoba untuk membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa-mahasiswa untuk setjara djudjur dan benar-benar mentjintai alam, tanah air, raktjat dan almamaternja. Mereka adalah sekelompok mahasiswa jang pertjaja, bahwa patriotisme tidak dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan djendela-djendela mobil. Mereka pertjaja bahwa dengan mengenal rakjat dan tanah air Indonesia setjara menjeluruh, barulah seseorang dapat mendjadi patriot-patriot jang baik”. (Soe Hok Gie, Media cetak Bara Eka, 1965).

Organisasi ini akhirnya di resmikan dalam suatu upacara di bukit kapur Ciampea. Awalnya organisasi ini bernama “Impala”, Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam. Tapi karena waktu itu Impala terdengar borjuis (Nama merek mobil mewah), dan segala sesuatu yang borjuis waktu itu diganyang, maka mereka ganti nama menjadi Mapala Prajnaparamitha, dan tahun 1971 setelah berada langsung dibawah  Rektorat berganti nama menjadi Mapala UI sampai sekarang. Mapala sendiri akronim dari “Mahasiswa Pencinta Alam”, yang bisa juga berarti “Buah yang tumbuh”.

Selain mendidik mental dan fisik anggota-anggotanya, organisasi ini juga bertujuan memupuk patriotisme yang sehat. Patriotisme yang sehat hanya mungkin dibina atas pastisipasi aktif melalui hidup di tengah-tengah alam dan rakyat Indonesia. Juga bertujuan mencapai semangat gotong royong dan kesadaran sosial.

Saya sih nengkepnya “Pencinta Alam” ini lahir sebagai sebuah konsep yang berusaha “menyambungkan” pemikiran intelek anak-anak di kampus dengan realita masyarakat, supaya mereka punya alat ukur untuk teori-teori ilmu yang dijejalkan di bangku kuliahan. “Sesuai nggak sih statistik yang dijelaskan dosen ekonomi di kampus tentang kesejahteraan dengan realitas di kaki gunung?”

Dengan mengetahui keadaan bangsa secara lengkap, dari buku dan lapangan, diharapkan anak-anak muda yang kuliah ini nanti, sewaktu jadi deccision maker di masyarakat, dapat lebih berani sekaligus bijak membuat keputusan. Karena dirinya sudah disuplai ilmu, kekuatan mental dan realitas kesadaran sosial. Dengan ilmu, anak muda berpikir. Dengan Pencinta Alam, anak muda berlatih tentang jiwa dan mental. Dengan Mapala, mahasiswa berlatih mengambil keputusan, yang “objective”. Pun dengan Mapala, pemuda belajar mengenal tanah airnya. Bukan menjadi pemuda yang takut berjudi dengan tantangan dalam memperoleh mimpi cita-cita yang tinggi, cuma karena alasan: takut miskin.


Urusan kantung dan amplop, kini sulit mencari pemuda yang intelek “berani miskin”. Mungkin seloroh Soe tentang duit itu salah. Dulu almarhum suka berkata, “Pokoknya kita musti atur duit, jangan duit sampe ngatur kita”. Sering dia omong serius, katanya,  “Lo musti punya kepribadian, karena lo bukan anak orang kaya, juga bukan anak orang berpangkat. Kalau enggak gitu, lo enggak punya apa-apa.” ( “Jejak Kampus Di Jalan alam”, 2005).

Selain karena idealismenya itu, Mapala ini juga lahir karena didorong situasi politik yang menuntut revolusi waktu itu. Seperti layaknya kaum intelektual, mahasiswa selalu ambil peran dalam setiap perubahan arah bangsa. Karena ingin turut berperannya, mahasiswa-mahasiswa di kampus banyak yang ikut-ikutan partai politik. Tapi ada juga yang tidak, dan yang tidak ini juga tidak berkembang. Dan Mapala, hadir untuk mengelompokkan mahasiswa dalam sebuah wadah jalan-jalan, ke gunung, ke hutan, ke salju. Untuk mengembangkan diri juga.

Tapi bukan berarti anak-anak muda ini keluyuran dan lantas tidak peduli nasib bangsa. Justru dengan jalan-jalan ke “Alam”, anak-anak muda ini melihat yang namanya “bangsa”. Saya pernah baca sebuah artikel Soe tentang pendakian dari arah utara gunung Slamet, kalau nggak salah di buku “Zaman Peralihan”. Waktu baca judulnya, saya kira Soe akan cerita soal heroik-nya naik gunung itu dari utara. Tapi, dia malah cerita soal perbedaan pendapat di puncaknya. Sewaktu rekannya mendaki bermaksud mengacak-acak barisan batu-batu yang membentuk tulisan “Soekarno”, Soe melarang. Katanya, meski beda pendapat, kita musti mengharagai perbedaan itu. Juga ceritanya soal pergerakan-pergerakan politik di daerah yang waktu itu genting. Dan Soe menemukannya di jalan, di lapangan, di puncak gunung Slamet.

Idealis, humanis, dan juga punya pesan moral, setidaknya begitu yang saya tangkap tentang “Pencinta Alam”. Tapi, jangan juga ini dipandang sebagai kegiatan yang amat teramat sangat serius karena suasana politik waktu itu yang dalam keadaan genting. Banyak juga anak-anak kampus itu yang menikmati perjalanan mereka cuma buat leyeh-leyeh, kemping ceria atau hahahihi saja, yang penting kebersamaannya dalam suasana persaudaraan yang lebih khidmat. Sedikit hura-hura pun nggak masalah, toh ini hanya hobi di musim libur. Dan Mapala punya nasionalismenya sendiri waktu itu.   

Pada era 1980 dan 1990-an, Pencinta Alam bisa dibilang mengapresiasikan nasionalismenya lewat prestasi, lewat berbagai kegiatan ekspedisi petualangan. Disemangati oleh perdebatan pendapat Dick Bass dan Pat Morrow soal Carstensz Pyramid atau Mount Kuzioska yang jadi bagian dari “The Seven Summit”, anak-anak muda di Indonesia, baik yang Mapala maupun bukan, rame-rame rebutan prestasi ekspedisi gunung es. Wanadri berangkat ke Vasuki Varbat. Mapala UI ke McKinley. Juga tim ekspedisi putri yang independen, berangkat ke Aconcagua. Menjelang akhir abad milenium, 1997, Indonesia menginjakan kakinya di puncak Everest dalam sebuah ekspedisi yang dikoordinir Kopasus. Tapi dibaliknya dilibatkan juga organisasi-organisasi sipil yang suka jalan-jalan ke gunung itu.

Satu yang tidak dilupakan tim-tim itu, menyelipkan dua bendera kecil ke dalam ranselnya sewaktu packing, sebelum berangkat ke bandara. Bendera merah putih dan bendera organisasinya, untuk melakukan tindak tanduk seperti biasa orang naik gunung, difoto di balik kedua bendera itu di puncak gunung. Dan yang menyembul adalah kebanggan sebagai sebagai orang Indonesia.

Anak muda memang butuh prestasi, tapi apakah ekspedisi  gunung-gunung ini cuma supaya bisa tepuk dada? Menurut almarhum Mang Ayat, “Penaklukan itupun baru akan berhasil jika si manusia berhasil menyeimbangkan kedua aspek dirinya itu. Keseimbangan jasmani dan rohani itulah yang menyebabkannya berhasil mencapai puncak gunung dan sebagainya itu. Jadi, sama sekali ia tidak menaklukan alam.”

Pasca ekspedisi Everest menjelang milenium tahun 2000, adalah masa yang sulit buat Indonesia. Masa Reformasi. Masa kerusuhan di bulan Mei. Masa tembak-tembakan di pinggir jalan. Ekspedisi anak-anak Pencinta Alam jarang, malah tidak, terdengar. Ke mana anak-anak Mapala ini? Ngumpet di gudang alat?

Suatu malam di tahun 1998 saya menonton siaran berita TV. Berita tentang demonstrasi mahasiswa di depan gedung DPR. Beritanya adalah tentang tentara-tentara yang ditabrak mobil VW Safari warna merah ketika mereka membarikade masa demonstran mahasiswa. Saya sempat melihat tayangan mobil VW merahnya. Hal yang paling saya ingat sampai sekarang tentang mobil itu adalah sticker yang ditempel di kaca depannya. Sticker itu bertuliskan “Petzl”, sebuah nama merek peralatan mendaki gunung yang waktu itu cukup beken di Jakarta. Melihat sticker itu saya langsung berasumsi, “Ini pasti mobilnya anak Mapala.” Karena rata-rata anak Mapala yang ngerti alat-alat semacam jummar, auto stop dan grigri merek Petzl. Betul saja. Sewaktu saya kuliah dan dilantik jadi anggota Mapala, saya ketemu pemilik dan penyopir mobil itu. Dia ternyata senior saya. Dan menurut senior yang lain, waktu jaman demo-demo itu mereka menutup kemeja resmi organisasi Pencinta Alamnya dengan jaket almamater, dan bergabung dengan gelombang mahasiswa yang lain dalam sebuah demo di dekat Senayan. Gunung, nanti dulu lah. Negara lebih penting.

Setelah (Apa yang kita sebut) “Rezim” tumpas, anak-anak Mapala ke gunung lagi. Ke hutan lagi. Berprestasi lagi. Tanpa mengukur enteng beratnya ekspedisi, Indonesia bertualang lagi. Aryanyacala Trisakti berangkat ke Mount Coock. Mapala Unand ke Carstensz. Juga tim ekspedisi wanita Indonesia, berangat ke Kalla Patar dengan membawa pesan kemanusiaan tentang penyakit Lupus.

Bukan cuma prestasi, kemanusiaan anak-anak Mapala juga tersenggol sewaktu terjadi bencana tsunami di Aceh. Bergabung dengan solidaritas nasional para volunter, banyak anak Mapala yang ikut mengantri di bandara buat ngikut ke Aceh dan membantu sebisanya. Juga ketika gempa Jogja, anak-anak di sekber Pencinta Alam Jogja sampai susah di telepon dan di SMS karena shock sekaligus musti stand by di pos pengungsian bencana gunung Merapi.   

Menurut saya, “Pencinta Alam” punya makna yang filosofis: Nasionalisme, Prestasi dan Hura-hura. Seorang Pencinta alam dituntut mencintai tanah airnya, itu sudah pasti, seperti juga setiap pemuda dituntut untuk mencintainya. Karena itulah Mapala menggembleng jiwa-jiwa mudanya di alam bebas, supaya kekuatan “Jasmani” dan “rohaninya” seimbang. Juga berkesadaran sosial, terlibat dalam masalah-masalah bangsa dalam kapasitasnya sebagai mahasiswa dan intelektual. Dan prestasi, rasanya gunung, laut, tebing, sungai dan goa adalah alat yang mumpuni untuk menggembleng kekuatan jasmani dan rohani pemuda-pemuda itu supaya seimbang. Dengan cara berlatih menghasilkan prestasi, mencapai puncak gunung atau puncak tebing.

Tapi jangan terlalu serius gitu juga lah. Mapala kan organisasi hobi, jadi perlu rileks. Sedikit hura-hura untuk euforia puncak gunung kayaknya perlu juga.          

Oke, mungkin semua ini terdengar klise, muluk-muluk dan tidak membumi. Dan biarlah tetap begitu, biarlah “Pencinta Alam” tetap menjadi sebuah “Ide”, “Gagasan” dan “Pemikiran”, yang bentuknya mungkin abstrak dan perlu penerawangan khusus sampai jidat berkerut dan mata kedut-kedut. Sesuatu yang kedengarannya turun dari langit. Justru karena pemikiran yang ujung-ujungnya nasionalis itu, Mapala ada, untuk mengkongkretkannya dalam pemikiran dan tindakan pelaku-pelakunya, di gunung maupun di kota. Seperti juga “Tri Dharma” Perguruan Tingginya.      

Apa salahnya sama “Mapala” sekarang?

Nilai-nilai ini, sebagai sesuatu yang filosofis sulit dilihat kongkretnya tapi bisa diterawang. Dia bukan sebuah kegiatan  konkret, tapi dia hidup di dalamnya. Apa yang sering dilakukan pencinta alam: mendaki gunung, panjat tebing, arung jeram, telusur goa, menyelam, berlayar, susur pantai, gunung hutan, konservasi dan advokasi lingkungan, bakti sosial, bukanlah jaminan “Pencinta Alam” diikrarkan. Mendaki gunung, adalah kegiatan anak Pencinta Alam. Tapi seorang pendaki yang korupsi kecil-kecilan di gudang perusahaan kantornya bekerja, apakah itu menunjukan seorang pandaki gunung yang Pencinta Alam?

Pencinta Alam, yang saya maksud dalam konteks ini, adalah nilai yang mengendap dan menjadi roh dalam keseharian tindakan. Dengan terbiasa bersikap obyektif dalam kegiatan Mapala di lapangan, diharapkan begitu juga dalam keseharian, di kantor, di kampus, di keluarga, di masyarakat. Berapa banyak pejabat-pejabat kita yang bekerja secara “tidak obyektif” di kantor-kantor, negeri maupun swasta? Mereka kemungkinan orang-orang yang tidak mendaki gunung, yang tidak pernah mengambil pelajaran  bagaimana menghadapi badai di puncak. Mungkin juga ada yang pendaki gunung dan pencinta alam, tapi belum tentu memahami dan meresapkan nilainya, atau bahkan mengkhianatinya.

Jadi, saya kira bicara soal Pencinta Alam tidak cuma bicara soal pencemaran sampah di gunung atau kisah tentang “proyek ijo” yang gagal dan bikin berantem sesama teman Mapala. Bukan juga cuma bicara soal orang yang boker di sumber air di Surya Kencana. Lebih dari itu, Pencinta Alam adalah mengenai persoalan besar bangsa ini, supaya orang belajar dari ilmu dan melihat realitas sosial di gunung, di lapangan, supaya bijak kalau bertindak dalam keseharian. Soal lingkungan yang carut marut? Selamanya kita akan dibuat kesal dengan sampah-sampah gunung kalau sebuah gunung seperti Gede Pangrango kurang profesional pengelolaannya. Mungkin akan profesional, kalau saja dana-dana yang semacam dana “non-budgeter” dari pemerintah digunakan untuk perbaikan-perbaikan bangsa ini, dan bukan untuk dana kampanye partai. Jadi, kalau masalah yang besar semodel penyimpangan dana negara, hukum yang bengkok dan ketidak adilan sosial masih ada di negara ini, praktek-praktek yang tidak obyektif itu, maka kita akan terus ribut soal sampah dan gunung yang rusak. Lingkungan yang rusak, termasuk gunung tempat main anak Mapala. Dan ini bukan tanggung jawab anak Mapala semata, tapi tanggung jawab semua orang, yang tua yang muda.

Seperti air di mangkuk, jelek bagus bentuknya tergantung wadahnya juga. Bukan “Pencinta Alam”-nya yang rusak, bisa saja karena nilainya yang kurang dipahami oleh pelaku-pelakunya. Pencinta Alam adalah sebuah “pemikiran”, sebuah “ide”, sebuah “gagasan”. Bagaiman mungkin gagasan mencintai tanah air dianggap merusak kehidupan? Kalaupun ada yang jelek, salah dan rusak, itu adalah pelaksananya, orangnya, wadahnya. Mungkin bisa jadi Mapalanya. Karena kegagalan memahami nilai Pencinta Alam, dengan sendirinya rusak dalam tindakan. Nggak semua orang yang ngaku Pencinta Alam paham nilainya.

Hari ini kebetulan saya baca koran Sinar Harapan terbitan Jum`at kemarin. Ada artikel bagus tentang profil seorang yang baru saja diangkat jadi anggota Komnas HAM. Namanya Nur Kholis dari Sumatera Selatan. Menurut laki-laki yang dikenal pendiam ini, Nilai-nilai yang diperoleh sebagai Pencinta Alam, seperti kebebasan, solidaritas, kejujuran, kesabaran dan daya tahan, menjadi bekal yang bermanfaat ketika ia terjun sebagai aktivis, baik di WALHI Sumsel maupun di LBH Palembang.

Di Pencinta Alam, saat menaklukan gunung, kejujuran dan solidaritas merupakan modal yang paling berharga. Di tengah alam, tak ada manusia lain selain rekan satu tim kita, kejujuran sangat dibutuhkan. Misalnya, kita tidak boleh menyikat jatah makanan teman kalau kita sudah makan karena itu bisa membahayakan teman. Begitu juga sikap solidaritas dan tidak mementingkan kepentingan pribadi, merupakan hal yang sangat penting”, ujarnya (Sinar harapan, 29 Juni 2007).   

Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Gemapala Wigwam Universitas Sriwijaya ini sewaktu kuliahnya gemar merambahi gunung-gunung di Sumatera. Ia juga seorang atlit panjat tebing yang aktif di kejuaraan. Selepas kuliah aktif di WALHI dan LBH, serta melakukan pendampingan warga untuk kasus-kasus tanah dan perburuhan. Bukannya saya mau melebih-lebihkan abang kita satu ini, tapi menurut saya inilah semangatnya MAHASISWA PENCINTA ALAM. Mapala banget, deh!

Jadi, Mahasiswa Pencinta Alam bukan untuk menghasilkan “The Real Climber”. Tidak juga berkewajiban melakukan konservasi dan advokasi lingkungan. Mapala bukan untuk mencetak atlit, bukan juga pencetak master-master lingkungan. Kalau bisa mewujudkan The Real Climber, advokat atau konservator, hebat sekali itu. Tapi sekali lagi itu bukan kewajiban.  Kalu mau jadi The Real Climber, sudah banyak lah klub-klub yang berorientasi teknis dan pengembangan prestasi. Kalau mau jadi advokat lingkungan, banyak juga LSM atau kantor hukum yang berpihak pada masyarakat kecil (Bahkan orang-orangnya banyak yang berasal dari organisasi Mapala). Mapala, hanya organisasi kemahasiswaan biasa yang punya banyak keterbatasan tapi doyan jalan-jalan, dan memetik pengalaman di luar ruang. Merasakan bulatnya dunia dan mengenal sesamanya orang Indonesia. Itu sudah cukup. Dengan pengalaman melihat realitas sosial, terinternalisasi dalam diri, mahasiswa-mahasiswa ini kelak kalau lulus dan terjun di masyarakat diharapkan dapat mempertahakan nasionalismenya dan menyumbangkan pretasi pembangunan, karena fisik, jiwa dan mentalnya sudah diasah oleh Mapala. DALAM BENTUK APAPUN.      

Mapala Sepi Peminat?

Beberapa kali saya ketemu sama temen-temen BP Mapala, dan ini yang sering mereka keluhkan: “organisasi mereka sepi peminat”. Benarkah sebab musababnya karena Mapala udah nggak penting lagi? Udah nggak membumi dan kurang gaul? Atau karena senior-seniornya buluk-buluk sehingga nggak sesuai sama anak dugem? Tukang mabok dan segala prahara blangsak lainnya?

Ketika ditanya pengalaman soal itu di organisasi saya, saya cuma menjawab: mungkin begini, mungkin begitu. Saya juga nggak pasti apa sebabnya.      

Saya coba buka buku “Jejak Kampus Di Jalan Alam”, bab terakhir. Isinya tentang analisa kenapa sebuah organisasi  Mapala sepi peminat. Ada beberapa sebabnya, dan umumnya tidak jauh dari suasana kampus. Dengan coba memutakhirkan masalah, ada setidaknya 3 penyebab: 1) Masa kuliah makin pendek 2) Biaya kuliah makin mahal dan 3) Waktu libur kuliah yang sering diisi perkuliahan semester pendek. Selain itu, masalah eksternalnya misalnya menjamurnya organisasi Mapala tingkat fakultas. Bahkan jurusan. Perkembangan informasi dan teknologi, juga punya andil. Dengan majunya TI, petualangan dapat dikelola sendiri secara individu tanpa melibatkan organisasi Mapala. Disamping itu, terjadinya perkembangan spesialisasi teknis, munculnya organisasi-organisasi luar kampus yang tanpa embel-embel Mapala: FPTI, FAJI, Skyger, Tramp, IAA, High Camp, etc.

Dan solusinya? Saya kira tidak ada jalan selain “menyesuaikan diri” dengan zaman. Mungkin bisa dengan cara memperingan proses rekrutmen anggota tanpa mengurangi visinya Mapala. Saya denger, proses rekrutmen Mapala yang keras mulai kurang disukai. Bukankah orang udah mulai bosan sama kekerasan di kampus, apalagi setelah kasus IPDN. Bukan bermaksud menyamakan Mapala dan IPDN, tapi sekarang, segala yang berbau kekerasan, siapa yang suka?         

Leaving On The Mountain …”

Buat anak-anak Mapala, selagi masih mahasiswa, banyak-banyaklah jalan-jalan. Dengan teknik yang benar tentu. Dengan jalan-jalan, mata akan melihat lebih banyak warna. Masa muda, jadi lebih beragam. Soal kuliah, soal gampang lah itu. Seorang petualang mampu menghadapi susah di jalan, apalagi cuma kuliah. Jangan cuma dicekoki teori-teori kuliah tapi nggak ngerti logika aplikasinya gimana. Dan lebih ngeri lagi, setelah diwisuda dan mendengar wejangan Dekan, kita nggak ngerti gimana musti melangkah di masyarakat. Bodo amat lah sama surat ancaman DO karena sibuk di Mapala, selama nggak bener-bener di-DO, karena dosen-dosen kita pun belum tentu sebaik gunung Slamet mengajarkan kita tentang menyikapi sebuah perbedaan pendapat, seperti Soe. Dan anak Mapala yang udah pada lulus, rasanya perlu nginget-nginget lagi gimana cara kita ngambil keputusan obyektif seperti waktu di organisasi Mapala dulu: nekat lanjut hajar puncak gunung atau berhitung dan secara obyektif memutuskan turun karena badai?            

Dan “Pencinta Alam”, biarlah tetap begitu, biarlah tetap hidup sebagai nilai. Nilai yang ngendap di dada masing-masing pelakunya. Yang perlu dicari tau, gimana memupuk diri sendiri dengan nilai-nilai itu, supaya kita juga berguna di masyarakat nanti, dalam pembangunan.

PS: Saya mengajak kawan-kawan sekalian untuk angkat topi dan tunduk kepala sesaat, dan berdoa. Untuk seorang kawan kita yang meninggal beberapa hari lalu di Gua Walet, gunung Ciremai. Berikut saya petikkan beritanya dari Kompas (30/06/07):

KUNINGAN, KOMPAS – Seorang pendaki gunung, Nurdiyanto (16) dari Sekolah Menengah Kejuruan 1 Jatibarang, tewas saat mendaki gunung Ceremai. Sementara, enam pendaki lainnya mengalami hipotermia, namun sudah dibawa turun oleh tim pengelola pendakian Gunung Ceremai, Jawa Barat.”

Dadang Sukandar

Buku 40 Tahun Mapala UI

CoverBuku "40 Tahun Mapala UI" dijual lagi, hanya 50 eksemplar edisi softcover.

Harganya Rp. 135.000.
Untuk info & pemesanan hub:

Dina Karina (telp.08888630405)

Mitos, Masih Kalah Angker

Mitos, Masih Kalah Angker

Lu percaya “mitos”? Kemarin kawan gua cerita, soal kucing yang mati di jalan, dan tiba-tiba gua ingat mitos. Ceritanya begini. Sewaktu nyetir mobil, kawan gua itu ngelindes kucing. Meninggal. Karena nggak mau ambil pusing dia bilang, “Taro aja di pinggir jalan”. Semua masalah beres.

Warga sekitar yang lihat tiba-tiba minta supaya kawan gua ngurusin jenazah kucing itu dengan layak, dikubur. Kawan gua itu sempat berniat memasukannya ke mobil. “Nanti malah jadi repot”, katanya. Akhirnya dia kasih uang ke orang yang lihat itu dan minta tolong nguburin.

Dulu, nenek gua bilang, kalau ada kucing melintas di depan sewaktu berkendaraan, itu artinya tanda-tanda sial. Seperti kawan gua itu: udah kehilangan waktu, keluar uang pula. Mitos kucing nyebrang: Kesialan.

Waktu naek gunung Slamet, gua pernah diwanti-wanti sama petugas jaga pos pendakian soal mitos: jangan ngomong sembarangan selama di gunung itu. Juga, kalau haus jangan bilang haus, kalau mendung jangan bilang hujan, karena kalau kita bilang, maka itu semua akan terjadi: kehausan dan kehujanan.

Di gunung Ciremai mitosnya lain cerita, orang dilarang buang air kecil di gunung itu. Jadi, jangan heran kalau naik gunung Ciremai kita akan menemukan botol-botol air mineral yang digantung di cabang-cabang pohon berisi air yang berwarna kekuningan. Isinya air kencing di sepanjang jalan.

Dilemanya kalau kita naik Ciremai: 1) Kencing di tanah dan terkena sanksi mitos, atau 2) Masukan penis ke dalam botol, kencing di dalamnya, terus gantungkan botol itu di cabang pohon. Bayangkan, kalau ada seratus orang berpikiran seperti nomor 2) dalam sebualan, Ciremai apa jadinya ya?

Dalam kepecinta alaman memang ada satu etika: “Menghormati adat istiadat setempat”. Tapi, apa etika semacam ini musti kita telen mentah-mentah? Meninggalkan botol air mineral berisi air kencing di cabang-cabang pohon, apa berarti sudah menunaikan kewajiban “menghormati adat setempat”? Lalu, soal lingkungannya yang menjadi kotor?   

Dua kali mendaki gunung ini, gua sempat acuh sama etika adat itu. Gua lebih memilih menyiram tanaman hutan dengan air kencing, dan memupuk pohon-pohon dengan tinja di kubur tanah, ketimbang nyerah sama adat. Gua rasa, itu akan lebih baik. Kotoran kita, disaring sama alam, diurai dalam tanah lalu dijadikannya pupuk. Tanpa meninggalkan plastik botol air mineral yang jelas-jelas sulit diurai, apalagi berisi air kencing yang bisa bikin jijik, geli, dan muntah.

Buktinya, gua nggak kenapa-kenapa karena pelanggaran mitos itu. Atau memang belum? Terserah lah, yang pasti ilmu-ilmu tentang bagaimana alam mengurai kotoran masih lebih angker ketimbang mitos yang sulit di jelaskan (Atau gua aja yang nggak ngerti penjelasan ilmiahnya?). Mitos masih kalah angker sama ilmiah.

Dadang Sukandar

Freelance Writing - Promote Your Name As A Writer And Get Famous

Freelance Writing - Promote Your Name As A Writer And Get Famous

by Angela Booth

For a freelance writer, your name is everything: it’s becoming known for
what you do, and the quality of your work. When you build your name, you
become known not only to editors and publishers, but also to your readers.

Name-recognition is money in the bank for a writer. When I wrote about
"getting famous" and promoting your name as a writer in my writers’
ezine, I was startled by the amount of feedback I received.
The gist of the feedback was - "I’ve never thought of it that way." So
please, start thinking of it now. You must promote your own name as a
writer, because if you don’t, you’ll always be an unknown quantity not
only to the people who can hire you, but also to readers.

One of the first things a literary agent will tell you is that you must
build your "platform" - this is the people who know you by name. A
platform means that publishers are more likely to look favorably on you,
because they known you know how publishing works. Name-recognition is
EVERYTHING to any writer.

It’s vital. Until that knowledge becomes a part of the way you operate
as a writer, you’ll always be a dabbler, not a professional. Publishers
will not take you seriously, and will be hesitant about committing to
you, because you don’t seem serious about your writing.

Name recognition is also a matter of security. The waters you swim in as
a writer are full of sharks, who will think nothing of ripping you off.
They’ll take your time and your energy. I’ve written about writing scams
before many times, because they’re so common. You make it less likely
that you’ll be ripped off if people know your name.

Becoming Known Costs Nothing - But It’s Essential For Your Writing Career

I’m constantly amazed by the writers’ Web sites I see on which there’s
no mention of the writer’s real name. There’s either a nick name, or no
name at all.

If your full-time job is not writing-related, then perhaps you might
want to keep your name a secret… but why? Your employer isn’t likely
to fire you because you moonlight as a writer. And not publicizing your
name takes away from any credibility you have.
If you’re not promoting your own name, start doing so today.

http://www.penulisl epas.com/ v2

“Pecinta Alam” Bukan Cuma Soal Sampah

“Pecinta Alam” Bukan Cuma Soal Sampah

Dalam beberapa fokus diskusi milis atau thread, sering dibicarakan soal istilah “Pecinta Alam” yang kayaknya mulai kehilangan arahnya. Atau rohnya. Dan dalam diskusi-diskusi itu, membicarakan istilah “Pecinta Alam” hampir selalu nggak terpisah dengan soal pencemaran sampah. Bahkan, sering pecinta alam itu dituding merusak alam, mencemari gunung, etc, etc, etc. Dan pembahasan pecinta alam selalu berkutat dalam soal pencemaran sampah, kondisi lingkungan buruk, sehingga banyak orang yang suka naik gunung malu menyandang “Pecinta Alam”. Lebih memilih istilah: PA (Penikmat Alam), atau BUPALA (Bukan Pecinta Alam). Kenapa malu dengan istilah Pecinta Alam? Bukankah pecinta alam itu punya makna yang lebih besar daripada sampah dan pencemaran?

Setau gua, secara historis, istilah “Pecinta Alam” pertama digunakan oleh Soe Hok Gie CS waktu mau ngebentuk Mapala UI. Itu tahun 1964. Tujuan organisasi ini ada 3 (Dasar-dasar Kegiatan Alam bebas, Mapala UI, 1999):

  1. Memupuk patriotisme yang sehat di kalangan anggotanya. Ini dapat dicapai dengan jalan hidup di alam dan rakyat kebanyakan. Bahwa patriotisme yang sehat tidak mungkin timbul dari slogan-slogan, indoktrinasi ataupun poster-poster. Patriotisme yang sehat hanyalah mungkin dibina atas pastisipasi yang aktif dari seorang melalui hidup di tengah-tengah alam dan rakyat Indonesia pada umumnya.

  2. Mendidik para anggotanya, baik mental maupun fisik. Sebab kader yang baik adalah kader yang sehat jasmani dan rohaninya.

  3. Mencapai semangat gotong royong dan kesadaran sosial.

Oke, mungkin ini ribet… tapi sekedar mengingatkan, bahwa istilah pecinta alam lahir bukan cuma mau bicara soal sampah. Pecinta alam, awalnya punya soal yang lebih besar, soal-soal nasionalisme pemuda yang mestinya terus-menerus di pupuk. Dengan cara jalan-jalan ke alam. Eksplorasi.

Atau, kalo ini dianggap abstrak, tidak kongkrit, setidaknya tujuan mulia itu lahir dan hidup sebagai  visi dan semangat dari pemuda-pemuda

Indonesia

yang suka keluyuran di alam.

Sekedar usul, sebaiknya membicarakan pecinta alam tidak melulu bicara soal sampah dan pencemaran lingkungan. Bukannya persoalan sampah adalah persoalan semua orang? semua komunitas? Nggak cuma PA? Nggak usah jauh-jauh, lokit aja

Jakarta

. Gudangnya sampah kaleeee…. Bahkan, masalahnya lebih serius dibandingkan sampah gunung, dan dampaknya lebih langsung dan lebih dirasakan masyarakat. Ini bukan berarti menyepelekan soal sampah di gunung.

So, bukannya soal sampah berarti cuma salah satu soal dari istilah “Pecinta Alam”? Bagaimana kalau bicara soal yang lebih besar lagi? Soal-soal nasionalisme? Soal-soal mendasar bangsa ini? Soal kenapa seorang pemuda ngambil S2 di luar  dan ogah balik lagi ke Indo dan malah memutuskan jadi WN

sana

? Soal-soal orang yang bicara kesejahteraan padahal mencekik leher rakyat? Bukannya itu juga soal-soal anak PA ya? Soal-soal TRIDARMA PERGURUAN TINGGI.

Jadi, menurut gua, awalnya istilah “pecinta alam” itu punya makna yang lebih luas dari sekedar sampah. Soal yang bosan kita bicarakan tiap hari dan tanpa perubahan. Karena apa? Karena soal-soal yang lebih mendasar lagi dari bangsa ini nggak juga tertanggulangi. Soal orang korupsi, soal hukum yang bengkok, soal sogok-sogokan politik, etc.

Dalam perjalanannya, organisasi yang dibentuk GIE CS itu, selain naek gunung, juga rata-rata tiap dua tahun sekali bikin acara baksos.

     

Semua cuma untuk jalan-jalan dan melihat orang

Indonesia

dari dekat. Supaya kita peka: terhadap orang, terhadap lingkungan.

dadang

Luv U Mom…

26a Luv U Mom…

Kemarin, seorang junior gua di kampus, cewe, mengeluh sehabis ribut sama nyokapnya:

“Hiks… gua abis dimarahin nyokap. Berantem. Nyokap nggak seneng gua sibuk di organisasi pecinta alam melulu, jalan-jalan melulu, naek gunung melulu, dan lebih-lebih pulang larut malam melulu. Hiks… hiks… hiks…”.

Dan tiba-tiba gua bersemangat kasih dia support. Mungkin karena pengalaman yang sama dulu:

“Dulu nyokap gua juga begitu. Nyokap ampe bosen cerewet nasehatin gua soal naek gunung dan organisasi PA. Kayaknya lebih capek dia yang nasehatin gua dari pada gua yang naek gunungnya. Tapi sekarang, beliau cuek, bosen kali. ATAU UDAH PERCAYA SAMA GUA?”

“Waktu itu gua nggak brenti-brentinya kemukakan ini: 1. GUA CERITAKAN TENTANG BETAPA POSITIFNYA KEGIATAN GUA: gembel tapi belajar jujur di jalan, rada nekat tapi tetep objektif di tebing, boros tapi ngerti gimana cara ngatur uang, dan lapar tapi ngerti gimana cara masak nasi di nesting. 2. GUA MEMBERIKAN BUKTI-BUKTI: nilai sekolah yang selalu gua laporin (Tentu yg baik-baik : ) ), menulis di koran dan majalah tentang perjalanan (Gua kasih liat tulisan gua di Kompas dan Intisari), mendatangkan mereka ke wisuda sarjana gua yang membuat mereka mau nangis, selalu ijin kalo mau naik gunung (Meski izinnya via SMS dari kereta), dan perhatian sama permasalahan rumah sesibuk apapun gua (At least make a phone call kalo musti nginep). Ini emang nggak cukup sekali, musti sering-sering, kontinyu, dan konsisten. Mereka akhirnya percaya (Atau harus percaya?). MAMAH SELALU SAYANG SAMA APAPUN KELAKUAN KITA. Ia, seperti juga bapa, bukan pihak dimana kita beroposisi kan? Bersikap humble pada orang yang berjuang untuk hidup kita bukan sesuatu yang harus dipertanyakan. Kita cuma butuh kasih tau apa yang kita lakukan dan korelasinya pada sukses hidup, seperti harapan mereka juga.

Kegiatan jalan-jalan petualang resikonya memang bukan Cuma di gunung, tapi juga di rumah. Pertanyaan dan larangan-larangan orang tua, itu juga bagian resiko petualang. Pertanyaan, malah bukan cuma datang dari orang tua, tapi juga banyak orang. Temen-temen, om, tante, keponakan. Dan anehnya, kita selalu mengambil kesimpulan dan jarak, “Kalian semua nggak ngerti!”. Nggak ngerti jiwa petualangan yang lagi bergelora. Sementara, mungkin kita jarang kasih penjelesan baik buruknya tentang langkah kita. Lebih-lebih membuktikan positifnya. Bagaimana mereka mau ngerti? Ke mereka, kepercayaan musti dibangun.

Cermati juga apa yang mereka tanyakan: 1). Dari mana uang lu kalau jalan-jalan melulu (Pastinya nggak nyopet lah!)? 2). Kuliah lu ancur nggak (Dikatakan nggak ancur mungkin kalau IP: 3.00)? 3). Gimana kalo elu nyasar di hutan ato jatuh dari tebing ato dimakan macan? 4). Mereka juga takut elu ngobat atau minum-minum dan belaga gila lainnya yang bikin kelakuan ancur. 5). NGAPAIN SIH LU NAEK GUNUNG? Jadi, wajar aja kalau mereka ngelarang-larang atau cerewet. Dan itu justru bagian dari tantangan bertualang, meyakinkan bonyok, sama seperti meyakinkan sopir angkot buat disewa dari Sumedang ke Majalengka waktu naek gunung Ciremai. Dan bukannya cuma peduli pada diri pribadi sendiri. Hobi sendiri.

Dan baik buruknya, cuma kita yang tau. Kan, kita yang melakukan. Kalo kita memang berpikir dan bertindak positif, maju dan berkembang dari setiap langkah petualangan, aura itu bakal berpendar, dan orang-orang bakal ngerti. Kita juga orang yang tau diri kok, bisa jaga diri dan calon orang tangguh. Bener-bener tangguh buat bangsa ini. Tapi, sekali terlibat masalah yang negatif, ya sudah, barharaplah karier petualangan nggak hancur.

Dan buat kamu yang dimarahin sama nyokap, santai aja. Nyokap sayang kok! Doa restunya selalu disamping perjalanan. Dalam langkah-langkah.

Oh ya! Barusan banget, sebelum gua posting artikel ini, gua ngangkat telepon dari nyokapnya. Dia juga cerita ke gua, “Iya nih, padahal tante cuma pengen dia fokus sama kuliahnya, biar cepet lulus, cepet kerja dan bahagia. BAHAGIA!”

Luv U Mom.

dadz

Lumba-lumba Berhati Buaya

Lumba-lumba Berhati Buaya

Seminggu lalu saya menghadiri ceramahnya Pak Rhenald Kasali, pakar manajemen. Ia biacara soal Merek (Brand) dalam rangka acara hari Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sedunia ke-7 di Art Gallery, Kemang. Selesai ceramah, panitia dari pusat HKI fakultas hukum UI memberinya kenang-kenangan: Boneka Lumba-lumba UI. Boneka itu maskotnya UI.

Sewaktu menerima merchandise itu Pak Rhenald bertanya pada floor, “Tau nggak artinya Lumba-lumba?”. Floor saling lirik, lalu memberi jawaban macam-macam: pintar, cerdas, tangkas, penolong, penyayang.

Tidak ada yang salah. Dan ini mungkin sesuai dengan lambangnya UI, “Makara”, yang artinya hewan laut.

Pak Rhenald menambahkan, prakteknya, setelah lulus, kebanyakan anak-anak UI bergerak maju dan berkembang sendiri-sendiri. Ini beda misalnya dengan Unpad atau ITB, yang lebih sering bersama-sama. Padahal, kecenderungan Lumba-lumba itu bersama-sama. Beda halnya dengan Buaya: agresif, analitis, fokus dan penyendiri. Tapi keduanya jelas binatang beda, satu mamalia satu reptil.

Dalam beberapa artikel dan bukunya, Pak Rhenald sering menyandingkan kedua hewan itu dalam bahasan leadership dan kerja sama. Masing-masing mengacu pada karakter hewannya. Tapi, mana gaya paling tepat, setiap pemimpin tetap harus memimpin. Minimal memimpin dirinya sendiri.

Si Lumba-lumba, suka berkelompok, cerdas dan penolong. Mungkin dia bisa kita kategorikan sebagai mamalia lembut yang mewatakkan orang baik hati. Sebaliknya, Buaya adalah Buaya, berjaya di air dan di darat. Reptil ini bisa sangat menyendiri, agresif, kuat, analitikal dan fokus. Seperti gambaran kulitnya yang tajam dan keras. Mana yang lebih baik untuk memimpin, bekerja sama dan maju?

Keduanya punya kekurangan kelebihan. Dan mengambil kedua kelebihannya tentu yang paling baik: binatang agresif dan lembut, Lumba-lumba berhati buaya atau Buaya berhati Lumba-lumba. Ini berarti sama dengan seorang yang agresif melihat peluang, penuh analisis sebelum bergerak dan fokus, juga sekaligus baik hati dan penolong.   

  Sekali waktu, saya membandingkan Lumba-lumba di hati Buaya itu dengan kawan saya. Sebut saja namanya Tomas. Dia seorang wartawan yang juga pendaki gunung. Sekali waktu saya mendaki bersama Tomas. Repot sekali orangnya. Sebelum berangkat dia minta saya pelajari peta gunungnya, detil. Padahal, untuk mendaki gunung itu, jalan umumnya sudah terbuka lebar. Juga perlengkapan kemah dan alat mendaki. Tomas sampai membuat ceklist detilnya. Dan latihan. Dia memaksa saya joging seminggu dua kali biar bugar dan otot kaki tidak keram di tanjakan gunung. Saya ikuti, dan saya juga jadi ribet.

Di gunung, saya keteter di tanjakan. Tomas di depan dan saya jadi ekor. Padahal, dari kelakuannya yang perokok dan jarang olah raga, Tomas harusnya tergopoh-gopoh. Tapi ini tidak, ia berjalan pelan di tanjakan, tapi konstan. Sekali-sekali memandang ke puncak, matanya tajam ke sana. Dan dia tahu persis apa yang harus dilakukannya, bergerak, menyesuaikan, menaganalisa masalah dan merebut puncak.

Saya melihatnya seperti buaya: bergerak santai namun ada agresivitas di dalamnya. Setidaknya, mata yang tajam mengarah ke puncak. Tomas fokus dan hatinya tak terbantahkan.

Sekali waktu saya menemuinya di bawah pohon. Tomas sedang istirahat, dan saya tidak yakin betul dia benar-benar istirahat. Dia sedang menunggu saya yang keteter jauh di ekor. Dia peduli pada saya, dan saya yakin tidak tertipu dengan baik hatinya. Tapi, matanya masih terus ditancapkan ke puncak gunung, ke tujuannya.

Kami berjalan lagi dan begitu seterusnya. Dia berjalan pelan dan konstan sambil tidak mengedipkan mata ke puncak. Dan waktu saya keteter lagi, dia menunggui saya, memastikan kawannya seorang ini baik-baik saja. Sampai-sampai, saya lama-lama tidak enak hati, dan makin memaksakan diri mengejarnya di depan, diatas.

Mungkin tipe ini yang dimaksud dengan Lumba-lumba berhati Buaya? Semoga tidak salah mengambil keputusan. Tapi yang jelas, kawan sepengiringan saya itu positif di hati, obyektif di pikiran dan agresif dalam tindakan. Disamping juga, dia Buaya darat. Maksudnya bener-bener “Buaya Darat”. Banyak cewe-cewe yang didaratkan di hatinya. (Dadang Sukandar).