dadzfla

look up there… the world is so high…

Archive for August, 2006


Enterpreneur`s Credo:

“I do not choose to be a common man, it is my right to be uncommon man… if I can. I speak opportunity… not security. I do not wish to be a kept citizen, humbled and dulled by having the state look after me. I want to take the calculated risk; to dream and to build, to fail and succeed. I refuse to barter incentive for a dole; the thrill of fulfillment to the stale calm of Utopia. I will not trade freedom for beneficvcence nor my dignity for a handout. I will never cower before any master nor bend to any threat. It is my heritage to stand erect, proud and unafraid; to think and act for myself, to enjoy the benefit of my creations and to face the world boldly and say: This, with God`s help, I have done. All this is what it means to be Enterpreneur”.

Except from “Common Sense” (1776)

By: Thomas Paine

Kegiatan di Alam, a way of life…

Sambutan Herman O. Lantang dalam buku "Jejak Sang Beruang Gunung - Hidup dan Petualangan Norman Edwin"…

Sampai sekarang buku tentang petulanagan di alam bebas, mendaki gunung, yang dilakukan putra-putri bangsa Indonesia di tanah air sendiri saja masih sangat kurang, apalagi petualangan di alam bebas atau mendaki gunung antar benua seperti yang dilakukan almarhum Norman Edwin. Banyak `pendaki karbitan` atau `petualang musiman`, ngetrend, yang dipublikasikan secara luas, berhasil menaklukan puncak-puncak gunung tertinggi. Punya koneksi dan uang untuk Sherpa. Namun hal seperti itu takan membuat ia menjadi seorang petualang di alam bebas atau pecinta alam sejati. Petualang-petualang demikian muncul dan menghilang seketika, setelah tujuannya tercapai, yaitu demi mengejar popularitas dan prestise/ gengsi. Bagi seorang petualang dan pecinta alam sejati, kegiatan di alam adalah

gaya

hidup, a way of life, yang dilakukan secara konsisten.

Jakarta, April 2006

Herman O. Lantang

M-016-UI

Jejak Sang Beruang Gunung - Hidup dan Petualangan Norman Edwin

Jejak Sang Beruang Gunung - Hidup dan Petualangan Norman Edwin

ISBN 979-763-190-7

Author: Ganezh

12 x 19cm, 298hlm.

Cetakan I, 2006

Harga Awal: Rp.34500

Siang itu tanggal 20 Maret 1992. Di sana, di hamparan salju putih, sesosok tubuh tinggi besar sedang berjuang keras melintasi tanjakan dengan kemiringan 40 derajat pada ketinggian 6.700 meter. Niatnya sudah bulat. Ia akan mengibarkan Sang Merah Putih dan Panji Mapala UI di Puncak Aconcagua. Ya, puncak tertinggi Amerika Selatan itu hanya tinggal 200 meter lagi! Meski semangat terus membara, namun gerak tubuh itu kian perlahan. Sekilas ia teringat Didiek Samsu, yang juga keletihan dan kini beristirahat tak jauh di bawahnya. Lalu tarbayang wajah mungil Melati, anaknya. Karina, isterinya. Juga wajah-wajah keluarga yang dicintainya. Serta para sahabatnya yang sering menyuruhnya kembali. Iapun meringis.. “Aku akan sampai ke puncak. Kini aku akan istirahat sejenak.” pikirnya. Tak lama kemudian matanyapun terpejam. Rasa letih dan kantuk itu telah membiusnya dan mengantarkan jiwanya ke puncak.

“Berburu Nyali DI Tebing Emas”

"Berburu Nyali DI Tebing Emas"

Dari kecelakaan mahasisiwi di tebing curam, kerasukan penunggu gunung, evakuasi kecelakaan seorang teman ketika panjat tebing sampai kebanggaan mencapai puncak tebing. Semua ada di buku ini. Sekedar melihat kembali album perjalanan lama melalui cerita-cerita yang bisa dicomot sebagai pelajaran. Sudah beredar di gramedia-gramedia. Dapatkan dan informasikan ke temen-temen yang lain. Semoga bermanfaat, terhibur dan selamat membaca.

Three Some Hakim Edan

Three Some Hakim Edan

Roni baru setengah setahun bekerja di kantor hukum Bustomi & Partner sebagai paralegal. Bulan-bulan pertama bekerja di kantor itu benar-benar melelahkan. Setumpuk dokumen hukum harus ditanganinya setiap hari kerja sampai tengah malam. Bisa pulang kerja jam sembilan malam sudah sangat bersyukur. Jangankan memikirkan naik gunung, mikir bisa istirahat cukup saja sudah syukur. Tapi ia tidak banyak mengeluh. Bayaran 3,5 juta perbulan sebagai gaji sudah dianggapnya pantas karena masih fresh graduate.

Suatu hari, ketika sedang mewakili pak Bustomi, asosiate kantor hukum yang terkenal licin seperti belut, Romi diminta menemui hakim Subroto di ruangannya untuk membicarakan kasus korupsi seorang klien tajir kantor hukum Bustomi dan Rekan. Ia mewakili bosnya pak Bustomi yang pada hari itu ada dua sidang sekaligus di tempat lain untuk sebuah kasus pidana.

Roni menelisik lorong-lorong di belakang ruangan sidang, menuju kantor Pak Subroto ketika mendapat pesan SMS berantai dari Pak Subroto ke Pak Bustomi lalu Roni. Kemeja putihnya yang kebesaran mengenakan dasi yang kendur. Jakarta panas sekali.

Ketika memasuki ruangan hakim, masih ada seorang pengacara pidana yang sedang melakukan negosiasi dengan hakim Subroto. Pengacara baya dengan kemeja biru dan rambut kemilaunya. Hakim menunjuk Roni dan mengacungkan jarinya ke arah kursi di belakang pengacara berbaju biru itu. Seolah menyuruhnya duduk.

Pak Hakim, klien saya ini bukan orang elit, bukan orang kaya juga. Lagian dakwaan Jaksa atas korupsi seratus juta pada klien saya ini juga tidak terlalu kuat bukti-buktinya. Saya rasa lima puluh juta harga yang pantas untuk putusan bebas”, sang pengacara pidana  klimis itu mengemis di depan hakim Subroto. “Siapa bilang tidak kuat?”, nada suara hakim meninggi. “Saya dan Jaksa punya kartu as untuk menginapkan klien kamu itu seumur hidup di penjara”, kata sang Hakim lagi. “Yang perlu kamu lakukan adalah menambah beberapa puluh juta lagi. Dan putusan bebas besok akan saya bacakan. Sudah, tidak ada tawar-tawaran lagi”, tutup sang hakim. “Baiklah pak, akan saya usahakan. Saya bicarakan dulu dengan klien saya. Sekarang saya pamit”, pengacara itu bersalaman dan langsung keluar pintu tanpa memandang Roni.

Anak muda!”, sapa hakim pada Roni dengan akrab dan semangat. Roni hanya senyum, tak tahu apa yang harus diperbuatnya lagi. Ini kali pertama ia di ruang kerajaan mafia hakim. “Saya sudah telepon pak Bustomi”, hakim itu merangkul pundak Roni. “Sudah lama saya ndak ketemu pa Bustomi. Katanya dia sibuk sekali. Dia memang pengacara pintar, saya suka sekali dengan pengacara seperti dia”.Ia pak. Pak Bustomi juga titip salam buat bapak”, hanya itu yang bisa dikatakan Roni.

 “Oh ya. Bagaimana soal permintaan saya pada pak Tomi tempo hari. Katanya kamu bisa bantu?”, Roni dan sang hakim sudah di sofa yang nyaman. “Bantu apa pak ya?”, Roni setengah bingung. “Pak Bustomi belum cerita sama kamu?”, hakim itu sedikit heran. “Kata pak Bustomi saya diminta untuk membicarakan klien kami yang didakwa korupsi kredit Bank. Cuma itu. Katanya pak Hakim yang akan menjelaskannya pada saya”, Roni merasa canggung..

“Itulah pak Bustomi. Selalu mengajarkan pegawai-pegawainya dengan terjun langsung pada masalah”, hakim itu tersenyum lebar. “Begini. Kamu belum lam lulus kuliah hukum kan?”, tanya hakim. “Saya lulus sekitar satu tahun lalu pak”, jawab Roni. “Bagus. Berarti kamu masih kenal kan sama junior-junior kamu di kampus?”, hakim itu agak malu-malu. “Yah… kadang saya masih bertemu mereka. Memang kenapa pak?”.

“Saya dengar di kampus kamu banyak gadis-gadis cantiknya yang biasa diajak kencan. Semacam ayam kampus gitu lah. Kamu ada kenalan seperti itu? Atau orang yang bisa mencarikannya mungkin?”. “Ada pak. Tapi untuk apa ya?”, roni lebih heran lagi.

“Ya untuk saya. Kamu bisa usahakan satu?”, muka hakim itu terlihat nakal. Roni lama tak menjawab. Berpikir apa yang sedang terjadi dan apa yang harus ia lakukan. Namun, Roni ingat pesan singkat SMS pak Bustomi, “Demi klien kita, turuti apa yang hakim minta!”. Adakah yang membuat Roni menolaknya?

“Baik pak. Bapak mau yang seperti apa? Kapan dan dimana saya antar?”, tanya Roni to the point. “Aha… ha… ha… soal selera, saya kira selera muda kamu lebih hebat. Pokoknya gadis yang masih fresh ajalah, cantik dan putih. Saya lebih suka yang seksi dan agresif. Malam minggu besok jam tujuh malam kamu antarkan ke apartemen Ramona, lantai 5 nomor 507. Ok Ron?”. “Baik pak!”.

*

Apartemen Ramona tidak terlalu bergengsi. Apartemen nomor 507 milik hakim itu juga jarang ditempati kecuali kalau weekend. Kebanyak untuk nego-nego harga putusan dan kencan-kencan buta sang hakim.

Tepat pukul tujuh malam, Roni tiba bersama Sita, mahasiswi cantik junior Roni di kampusnya dulu. Dibalik tank top dan jaket denimnya terbungkus sekujur tubuh putih langsat yang halus. Wanginya menyebar ke seluruh lorong lantai 5 apartemen Ramona. Roknya yang mini sengaja diberi belahan samping. Dan mulutnya masih mengulum-ngulum permen karet.

Sang hakim membuka pintu ketika Roni mengetuk. “Selamat malam pak. Ini kenalkan pak, Sita”, Roni mengenalkan Sita pada hakim. “Halo sayang, senang jumpa kamu”, kata hakim sambil meraih tangan Sita, bersalaman lalu mencium jari jemarinya. Sita hanya tersenyum dengan senyumannya yang nakal.

Halo juga pak. Bapak sendiri aja?”, tanya Sita memulai. “Jangan panggil aku Pak dong Sita. Panggil saja aku mas, mas Broto”, hakim itu terkekeh. “Iya mas Broto”. “Kalau begitu, saya pamit dulu pak”, Roni memohon diri.

“Hey Ron, mau ke mana kamu?”, tanya hakim. “Tugas saya sudah selesai kan pak. Sekarang saya mohon diri. Nanti malah mengganggu”, Roni jadio merasa tidak enak. “Enggak-enggak. Kamu tetap disini menemani kami”, paksa sang hakim. “Menemani?”, Roni benar-benar heran. “Iya, menemani!”, hakim itu menegaskan. “Maksudnya pak?”, tanya Roni memastikan. Hakim itu mendekatkan mulutnya ke telinga Roni sambil berbisik, “Saya mau three some”. Roni memandang hakim itu sambil menelan ludah, “Glek!”.   (Dadang)   

Welcome Café Debu-debu, Puncak Slamet

Welcome Café Debu-debu, Puncak Slamet

Tiga bulan menjelang pelantikan sebagai Gubernur, Sri Sultan minta diletakan fotonya di goa di sekitar puncak gunung Slamet. Fotonya enggak dibawa sendiri, dititipkan sama penjaga administrasi gerbang jalur mendaki gunung Slamet dari arah Bangbangan.

Cerita itu ditularkan penjaga gerbang Slamet begitu saja dan tidak memberi pengaruh apa-apa buat acara naek gunung Slamet anak-anak Mapala UI pada weekend 11-13 Agustus minggu lalu. Cerita biasa soal mitos gunung yang sering kita dengar juga kalau naek gunung dimana-mana.

Waktu di dinding sudah jam tiga pagi. Start naek Slamet dimulai dari bawah suhu dingin angin gunung yang membawa aroma-aroma tanaman ladang kentang dan jagung. Sepi, kecuali suara-suara rebana dan Qasidah yang diputar di mesjid sepanjang malam sampai pagi.

Dengan ransel-ransel gunung di pundak, dan dibawah lindungan cahaya headlamp, ladang jagung sepanjang satu jam menanjak menjadi menu pertama selepas gerbang start mendaki Slamet dari arah Bangbangan. Beriring berjalan menanjak, Rekso, Awo, Dadang, Agam dan Maul. Sementara Jamal, Sulung, Cipto dan Ega sudah jalan lebih dulu kemarinya untuk mendirikan advance camp di pos 7. Itu kabar dari Sulung di pos 7 via sms ketika rombongan terakhir start naik.

Menuju pos satu di tengah ladang jagung, tanjakannya pendek-pendek, tapi sanggup membuat nafas memompa hidung dan jantung lebih cepat. Rasanya ini cuma efek aklimatisasi saja menjumpai ketinggian baru. Dan setelah “on the zone” dalam beberapa jam, enggak kerasa pos demi pos dilalui. Sampai di pos Samyang Ketebon, matahari sudah meniupkan teriknya. Sulung dan Jamal yang sudah naek dari Kamis siang kemarinnya cuma ketawa-ketawa menyambut.

Total perjalanan, dikurang waktu-waktu istirahat, sekitar sembilan jam dari Bangbangan ke pos 7 Samyang Ketebon. Ini jadi prestasi yang membuat kita-kita tersenyum sendiri. Pasalnya, dalam beberapa laporan perjalanan ke sana, total mendaki standarnya sepuluh jam. Dan Agam yang senyumnya paling lebar karena merasa usianya mendekati kepala enam. Dengan beban enam liter air di ransel dan godaan-godaan Awo untuk bongkar tenda di tanah-tanah lapang sepanjang jalur mendaki.

Pos Samyang Ketebon bukan tujuan terakhir. Pos ini masih di sekitar Pelawangan, batas antara vegetasi gunung dan undakan batu-batu vulkanik menuju puncak gunung Slamet. Layaknya kebiasaan naek gunung, puncak gunung adalah tujuan mutlak dengan sedikit keberuntungan. Dan puncak Slamet masih dua jam di muka pos 7 Samyang Ketebon.

Waktu matahari baru muncul sedikit pada hari Minggunya, rombongan mendaki dari Bogor dan Jagakarsa yang melewati bangunan seng pos Samyang Ketebon membangunkan tidur yang pulas. Sebotol Black Label dan beberapa linting kanabis sisa api unggunan semalam membuat bangun tidur jadi telat dari yang seharusnya jam empat pagi. Jam yang direncanakan untuk muncak Slamet. Dan ketika keluar dari sleeping bag, beberapa rombongan mendaki sudah mengantri diatas sana, di jalur terbuka bebatuan antara Pelawangan - puncak Slamet.   

Tanpa mau kalah finish, satu persatu berhamburan meninggalkan Samyang Ketebon menghajar puncak Slamet. Dengan mengambil jalur bebatuan diluar jalur utama yang mengantri, jalur seharga dua jam perjalanan itu dilalui Rekso dalam lima puluh lima menit. Menyusul, Awo beberapa menit setelahnya lalu Agam yang satu jam lima belas menit ketika Cipto, Ega dan Maul masih merangkak diantara batu-batu yang dingin.

Ketika foto grup dan buah kalengan, rombongan mendaki dari Bogor dan Jagakarsa sudah mulai turun ke kemah masing-masing di bawah Pelawangan. Dalam hitungann menit, rombongan mereka yang masih tersangkut di jalan batu sempat dilewati. Ada yang lari, berjalan ada juga yang merangkak. Yang pertama tiba di Samyang Ketebon tidak sampai setengah jam. Lari!

Sebenarnya ini bukan lomba kebut gunung atau speed climbing, cuma mau ukur kemampuan fisik di gunung aja. Dengan pikiran liar dan suasana santainya. Baik tua maupun muda, rasanya sama saja.

Tiba di Samyang Ketebon matahari sudah benar-benar terik. Beberapa rombongan mendaki yang melewati Samyang Ketebon mengenakan penutup mulut dan hidung, menghindari menghisap debu-debu disepanjang jalur. Di Slamet sudah dua bulan enggak turun hujan. Dan enggak setetspun air yang membasuh mas Slamet ini.  Debu kering dimana-mana, rumput, pohon atap bangunan pos sampai makanan di atas kompor. Selain Samyang Ketebon, kita namakan juga bangunan pos ini “café Debu-debu”.

Selesai packing, turun gunung jam 11.00 lewat jalur yang sama menuju Bangbangan. Ini terjadi perubahan mendadak dari rencana semula yang turun lewat jalur Kaliwadas. Karena alasan jarak dan waktu, diputuskan turun lewat Bangbangan lagi ketika sebelum naik. Tapi alasan sejujurnya dari semua ini adalah, MALES!. Males ngebayangin ngangkat ransel lagi lalu nanjak menuju puncak dan nyebrang kawah Slamet kearah Kaliwadas dipecahan jalur yang ke Baturaden. Kalau ditotal, bisa tiga belas jam jalan naik turun.

Rombongan yang pertama tiba di Bangbangan, Awo, Maul, Dadang, jam 12.40. Total turun gunung sekitar satu jam empat puluh menit dengan melewati beberapa rombongan mendaki yang sudah turun duluan dari pos kemah atas. Paling akhir, Sulung tiba jam 15.00 dengan sedikit cedera pada pahanya. Tiba di Bangbangan enggak satupun dengkul yang enggak bergetar.

Tapi, pekerjaan-pekerjaan gunung belum selesai buat Ega, Maul dan Cipto. Mereka tiga orang mahasiswa fakultas hukum UI angkatan 2005 yang berminat ikutan BKP Mapala UI awal 2007 besok. Sebagai bacang (Bakal caang), aturan-aturan urut nomor dan senioritas enggak mungkin dilepas dari mereka. Dan aturan itu cuma berlaku untuk bikin teh manis, potongin kue lapis legit dan pelayanan ini itu lainnya yang sederhana. Seperti Shaolin, belajar nimba air dan kuda-kuda dulu sebelum jurus mautnya.   

Belum hilang rasa lelah kaki yang mau copot ini, isu naik gunung lagi udah mulai disemangati. Padahal pulang sampai Jakarta pun belum. Naik gunungnya itu ke Sumbing atau Sundoro di Wonosobo sekitar September sebelum puasa. Lewat Kledung Pass diantara Sundoro-Sumbing. Mungkin kalau diseriuskan ini bisa jadi olah raga alternatif pengganti golf, yang kata Agam, “Golongan Orang Lemah Fisik”   :  )   

dadang

bukuku…

Setelah lama menunggu, dan dengan bercucuran keringat, akhirnya buku ini muncul juga. ”Berburu Nyali Di Tebing Emas”. Buku pertama gue sepenuhnya. Maksud sepenuhnya, gue yg menulis dari halaman start sampai halaman finish. Sebelumnya pernah juga menulis untuk buku 40 tahun Mapala UI dan tergabung dalam satu tim penulisan. Dan gue hanya menyumbang satu bab.

Bisa dibilang, buku ini sifatnya motivasional, sekedar cerita jalan-jalan ke gunung dari orang yang sedang bersemangat. Bukan buku panduan teknis atau sejenisnya. Ada penjelasan cara-cara bagaimana teknis di lapangan, cerita horor sampai cerita haru soal lepas dari maut di tebing curam ratusan meter. Semua perjalanan itu pernah gue jalani dan meninggalkan bekasnya hingga sekarang. Pelajaran-pelajaran tentang bagaimana memimpin di gunung, bersama-sama mengatur siasat menuju puncak-puncak ketinggian, belajar masak sampai menikmati betul rasa kanabis di gunung.

Terima kasih kepada sekalian rekan-rekan yang pernah membantu gue melunasi janji buku ini. Selamat membaca.

dadang

BERBURU NYALI DI TEBING EMAS

”Berburu Nyali Di Tebing Emas”

ISBN 979-763-504-X
Author: Dadang Sukandar
12×19 cm, 104 hlm.
Cetakan I, 2006

Entah kapan naik gunung dan panjat tebing itu jadi olah raga, tapi yang jelas sejak abad 14 orang-orang di Alpen sudah naik gunung. Motifnya beragam, untuk berburu, mencari batu kristal atau mengantar aristokrat-aristokrat Inggris sebagai guide. Bahkan jauh sebelum itu, kunjungan ke gunung merupakan proses ibadah menghaturkan sembah pada dewa gunung. Ada juga yang melengkapinya untuk strategi perang.

Apapun motifnya, setiap yang pernah ke gunung punya hak jawab yang sama untuk motivasi itu. Motivasi perjalanan Nana ke gunung Pendil, sampai akhirnya ia dirasuki ”N i m a s”, adalah pulang ke rumah dengan selamat. Seperti juga mahasiswa-mahasiswa hukum yang bertandang ke gunung Gede, sekedar menghilangkan suntuk karena ujian pidana dan perdata seminggu penuh.

Buku ini bukanlah buku pelajaran naik gunung atau memanjat tebing, meski disana-sini ada juga menyinggung hal-hal yang bersifat teknis lapangan. Buku ini juga bukan buku pelajaran tentang bagaimana membentuk jiwa yang kuat karena di beberapa bagiannya ada cerita horor tentang kematian dan hantu. Buku ini Cuma buku cerita yang mau menghadirkan lebih dekat suasana alam dalam aktivitas naik gunug dan panjat tebing, tentang apa-apa yang ditemui, yang kemudian dapat menjadi semacam nilai yang terserah pada diri kita sendiri, apa hendak kita simpan ataukah akan kita buang.

Berbagai cerita yang disajikan dalam buku ini bukanlah cerita yang sambung menyambung sehingga menjadi suatu konstruksi. Setiap bab adalah penggalan cerita perjalanan ke alam gunung, tebing-tebing curam maupun pusat kota. Jadilah semacam kompilasi, kumpulan cerita perjalanan. Anda dapat mulai membacanya dari bab mana saja karena setiap cerita mempunyai bobot yang bisa dibilang sama.

Daftar Isi “Berburu Nyali DI Tebing Emas”

Berburu Nyali Di Tebing Emas

Daftar Isi

  1. Panjat Tebing Itu Cara Bermain Aman di Sisi Curam

  2. Mengikat Janji Dengan Penunggu Pendil

  3. Leyeh-leyeh di Gunung Gede

  4. Krakatau, Sebuah Duni aBAru

  5. Tersangkut di Kawah Gunung Gede

  6. Catatan Harian Memanjat Tebing Sepikul

  7. Panjat Tebing Emas

  8. Telaga Sampuran Harimau

  9. Satu Weekend Di Citatah

  10. Hobi Baru Di Pusat Bisnis

Merayapi Tebing Rapuh Krakatau di Tengah Laut

Merayapi Tebing Rapuh Krakatau di Tengah Laut

MAJALAH KRAKATAU volume 2 no. 6

(Laporan: Dadang Sukandar, Mapala UI, Foto-foto: Dadang Sukandar dan Joshua K. Tumata)

Tanggal 27 Agustus 1883, letusan dahsyat di Selat Sunda menggegerkan dunia. Gunung Krakatau meletus. Kekuatan letusannya diperkirakan 10.000 kali kekuatan ledakan bom atom yang dijatuhkan di

Hiroshima

menjelang akhir Perang Dunia II. Guncangannya terasa sampai di Mongolia, di tengah Benua Asia dan Kepulauan Hawaii. Langit menjadi gelap tertutup debu vulkanik tebal sampai radius 150 km. Gelombang tsunami setinggi 30 m memporakporandakan desa-desa sepanjang pesisir Banten dan Lampung, menewaskan 36.417 penduduk. Itulah salah satu letusan gunung api yang paling dahsyat dalam sejarah geologi Bumi.

Kini, peristiwa alam dahsyat itu hanya menyisakan potongan-potongan terindahnya. Letusan Gunung Krakatau membentuk gugusan empat pulau, Pulau Gunung Anak Krakatau, Rakata, Sertung dan Pulau Panjang. Masing-masing pulau berjarak tidak lebih dari lima kilometer. Jika berkunjung ke sana, terlihat kepulauan asap pulau Gunung Anak Krakatau yang merupakan gunung api aktif. Aktivitas Gunung Anak Krakatau membuatnya gersang seperti padang pasir. Hanya di kaki gunung saja terdapat hutan cemara yang mengelilingi pulau yang botak itu, sedangkan ketiga pulau lainnya benar-benar tertutup hutan yang lebat.

Pulau Rakata yang memiliki puncak tertinggi 813 m dari permukaan laut (mdpl) memiliki daya tarik tersendiri. Bagian selatan pulau ini tertutup hutan lebat dengan aneka satwanya seperti biawak (Varanus salvator), penyu hijau (Cholonia midas), ular piton (Phyton sp), dan elang (Heliastur leucogaster) serta taman-taman laut di sekitar pantai yang biru. Di sisi utaranya terdapat tebing terjal menjulang setinggi 800 m. Batuannya yang masih muda terkena sinar matahari terlihat laksana gundukan emas di sore hari.

Semua itu hanya cerita dari rekan-rekan kami yang pernah berkunjung ke sana untuk camping, cerita yang memberi inspirasi kepada kami, tim panjat tebing Mapala Universitas Indonesia (UI), untuk berwisata dalam sebuah petualangan panjat tebing. Dua bulan pun menjadi waktu yang panjang untuk mempersiapkan pemanjatan besar di tebing besar (big wall) itu. Persiapan harus matang meng-ingat berbagai kondisi yang serba sulit. Tujuh pemanjat dan tiga orang pendukung pun akhirnya terpilih untuk pergi ke sana Juni lalu.

Awalnya Baik

Perut masih terguncang ketika rombongan tim panjat tebing Mapala UI tiba di Legon Cabe setelah tiga jam menembus ombak selat Sunda dari pantai Carita, Banten menggunakan kapal motor. Legon Cabe adalah sebuah pantai yang tidak terlalu luas di Pulau Rakata. Mungkin hanya Legon Cabe satu-satunya pantai yang dapat digunakan untuk menginap di Rakata, selebihnya hanya tebing-tebing terjal yang langsung terkena hempasan ombak. Menjelang matahari terbenam, biasanya nelayan singgah di sini untuk melewati malam sambil menghitung ikan-ikan tangkapannya.

Tidak banyak pilihan untuk membuat base camp di Legon Cabe karena memang luasnya terbatas. Dalam tiga jam, lima tenda telah berdiri membentuk base camp yang nyaman. Pada malam hari, base camp terlihat terang benerang seperti sebuah kampung di tengah pulau yang sepi. Setiap tenda dialiri listrik dari generator yang sengaja dibawa, alunan musik reggae Bob Marley pun terlantun membunuh sepinya hutan pantai. “Kurang TV aja nih buat nonton piala dunia,” cetus Joshua, salah seorang anggota tim yang mudah bosan jika bepergian.

Hari kedua di Rakata adalah hari yang paling dinantikan, karena hari itu pemanjatan akan dimulai. Pukul 08.00 pagi, lima orang anggota tim berangkat meninggalkan base camp menuju Swater Hook, titik start pemanjatan di kaki tebing. Swater Hook adalah dataran kecil di kaki tebing berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 30 m. Jaraknya hanya sepuluh menit dari base camp menggunakan perahu motor. Besarnya ombak angin timur menyulitkan perahu menepi ke Swater Hook sehingga peralatan panjat harus dipindahkan dengan berenang. Peralatan panjat harus benar-benar rapih terbungkus dry bag agar tidak terkena air laut yang bersifat korosif terhadap peralatan panjat yang sangat rentan.

Di Swater Hook, kelima orang anggota tim segera membagi tugas. Hanya tiga orang yang benar-benar terlibat langsung dalam pemanjatan, selebihnya adalah fotografer dan entry boy. Semua anggota tim sudah memahami tugasnya masing-masing dan harus benar-benar cermat karena sedikit salah dapat berarti petaka. Sebagai perintis jalur (leader) menuju pitch (titik akhir suatu lintasan) 1 adalah Agi yang berhasil membuat lintasan sepanjang 40 m, disusul Joshua dan Retta sebagai pemanjat pendukung. Di sisi timur, saya sibuk dengan kamera mengabadikan pemanjatan, sementara Nisma menjadi entry boy yang memantau pemanjatan di kapal melalui teropong sambil sesekali berkomunikasi dengan tim panjat melalui HT.

Jika terjadi kecelakaan di tebing, Nisma entry boy memegang peran yang sangat penting. Dia yang memegang kunci komunikasi antara panjat di tebing dan tim evakuasi di base camp. Prosedur evakuasi jika terjadi musibah harus benar-benar dikuasai oleh seorang entry boy sebab keselamatan korban dalam hitungan detik ada di tangan entry boy. Namun syukurlah, sampai akhir pemanjatan tidak ada anggota tim yang celaka.

Sore hari pukul 17.00, saat keletihan merasuki tim panjat, pemanjatan dihentikan. Seluruh anggota tim kembali ke base camp. Hari itu panjat berhasil mencapai ketinggian 150 m, hasil yang cukup baik untuk hari pertama. Ketegangan Agi yang lebih sebagai climbing leader memuncak saat makan malam di base camp. “Apaan nih, cape-cape manjat cuma dikasih kerak nasi,” ketus Agi yang kecewa dengan suguhan makan malam berupa nasi gosong. Namun, suasana kembali pada keriangan saat Marni mengganti makan malam itu dengan pesta ikan bakar di pinggir pantai.

Hujan Batu

Pagi hari, suasana base camp digemparkan oleh teriakan Tari yang berlari kesana kemari meminta tolong. Pasalnya, ada seekor kelabang yang menyelinap ke dalam tenda. Panjang binatang itu 10 cm dengan kaki-kakinya yang menyeramkan. Menurut cerita nelayan, kelabang itu beracun dan pernah hampir menewaskan seorang penyelam asal Lampung yang beberapa hari lalu disengat dua ekor kelabang jenis yang sama. Semua tenda pun akhirnya diperiksa untuk memastikan tidak ada binatang yang menyelinap dan semua kembali seperti biasa.

Hari-hari pemanjatan selalu ada ketegangan. Rasa panik benar-benar menghampiri pada hari ketiga saat sebuah batu sebesar ransel terlepas dari tebing dan jatuh menghujam permukaan tebing di bawahnya lalu pecah berkeping-keping bagai hujan meteor. Agi sang climbing leader berteriak “Rock!” yang berarti peringatan bagi pemanjat di bawahnya bahwa ada batu yang jatuh. Para pemanjat di bawah langsung membuat posisi aman dengan merapatkan tubuh ke tebing dan membiarkan drama menegangkan itu berlalu. Semua terdiam sesaat menenangkan diri dan memastikan rekan-rekan yang lain tidak ada yang tertimpa batu, pelindung pun cepat-cepat dikencangkan.

Secara keseluruhan, batuan tebing masih sangat muda dan gampang rontok jika dipijak. Ternyata waktu 120 tahun belum cukup untuk merekatkan batuan muda campuran kuarsa, andesit dan debu vulkanik ini. Bahkan di sisi kiri tebing yang di-panjatkan bentuknya masih berupa tanah padat berwarna merah. Kondisi ini tingkat kesulitan tersendiri dari segi pemanjatan karena sulitnya memasang pengaman pada batuan yang mudah rontok. Paku-paku tebing (piton) hanya bisa ditancapkan pada permukaan batu yang keras itu pun minim, sisanya, ekstra hati-hati tentu.

Evakuasi Korban

Di hari kelima, ketinggian pemanjatan hanya bertambah 40 m (1 pitch) karena harus mengevakuasi seorang rekan pemanjat dari Lampung yang telah berada di sana mendahului tim Mapala UI. Dia jatuh setinggi 25 m pada ketinggian 300 m, beberapa pengaman yang terpasang jebol, tidak kuat menahan beban pemanjat yang jatuh. Meskipun tidak patah tulang, namun separuh tubuhnya cedera terparut permukaan tebing yang tajam. Malam di base camp pun diisi dengan evaluasi membahas kecelakaan itu. Semua cerita musibah menjadi pelajaran berharga akan makna safety procedure dalam panjat tebing.

Kekecewaan kembali terulang pada hari keenam karena target mencapai puncak tebing pada ketinggian 800 m hari itu tidak tercapai. Tim panjat hanya berhasil mencapai ketinggian 500 m. Rencana enam hari pemanjatan mencapai puncak tebing Rakata hanya menjadi impian bagi anggota tim. Petuah Agi sang climbing leader cukup mengobati kekecewaan anggota tim. Menurut Agi, bukan hasil akhir yang menentukan, tapi sulitnya proses mencapai hasil akhir tersebut dengan suka dukanya yang paling penting. Itulah salah satu nilai yang dapat diambil dalam panjat tebing, di mana kita bisa belajar tentang kerja sama, tentang emosi, tentang diri sendiri, tentang manusia lain, dan tentang alam.