Merayapi Tebing Rapuh Krakatau di Tengah Laut
MAJALAH KRAKATAU volume 2 no. 6
(Laporan: Dadang Sukandar, Mapala UI, Foto-foto: Dadang Sukandar dan Joshua K. Tumata)
Tanggal 27 Agustus 1883, letusan dahsyat di Selat Sunda menggegerkan dunia. Gunung Krakatau meletus. Kekuatan letusannya diperkirakan 10.000 kali kekuatan ledakan bom atom yang dijatuhkan di
Hiroshima
menjelang akhir Perang Dunia II. Guncangannya terasa sampai di Mongolia, di tengah Benua Asia dan Kepulauan Hawaii. Langit menjadi gelap tertutup debu vulkanik tebal sampai radius 150 km.
Gelombang tsunami setinggi 30 m memporakporandakan desa-desa sepanjang pesisir Banten dan Lampung, menewaskan 36.417 penduduk. Itulah salah satu letusan gunung api yang paling dahsyat dalam sejarah geologi Bumi.
Kini, peristiwa alam dahsyat itu hanya menyisakan potongan-potongan terindahnya. Letusan Gunung Krakatau membentuk gugusan empat pulau, Pulau Gunung Anak Krakatau, Rakata, Sertung dan Pulau Panjang. Masing-masing pulau berjarak tidak lebih dari lima kilometer. Jika berkunjung ke sana, terlihat kepulauan asap pulau Gunung Anak Krakatau yang merupakan gunung api aktif. Aktivitas Gunung Anak Krakatau membuatnya gersang seperti padang pasir. Hanya di kaki gunung saja terdapat hutan cemara yang mengelilingi pulau yang botak itu, sedangkan ketiga pulau lainnya benar-benar tertutup hutan yang lebat.
Pulau Rakata yang memiliki puncak tertinggi 813 m dari permukaan laut (mdpl) memiliki daya tarik tersendiri. Bagian selatan pulau ini tertutup hutan lebat dengan aneka satwanya seperti biawak (Varanus salvator), penyu hijau (Cholonia midas), ular piton (Phyton sp), dan elang (Heliastur leucogaster) serta taman-taman laut di sekitar pantai yang biru. Di sisi utaranya terdapat tebing terjal menjulang setinggi 800 m. Batuannya yang masih muda terkena sinar matahari terlihat laksana gundukan emas di sore hari.
Semua itu hanya cerita dari rekan-rekan kami yang pernah berkunjung ke sana untuk camping, cerita yang memberi inspirasi kepada kami, tim panjat tebing Mapala Universitas Indonesia (UI), untuk berwisata dalam sebuah petualangan panjat tebing. Dua bulan pun menjadi waktu yang panjang untuk mempersiapkan pemanjatan besar di tebing besar (big wall) itu. Persiapan harus matang meng-ingat berbagai kondisi yang serba sulit. Tujuh pemanjat dan tiga orang pendukung pun akhirnya terpilih untuk pergi ke sana Juni lalu.
Awalnya Baik
Perut masih terguncang ketika rombongan tim panjat tebing Mapala UI tiba di Legon Cabe setelah tiga jam menembus ombak selat Sunda dari pantai Carita, Banten menggunakan kapal motor. Legon Cabe adalah sebuah pantai yang tidak terlalu luas di Pulau Rakata. Mungkin hanya Legon Cabe satu-satunya pantai yang dapat digunakan untuk menginap di Rakata, selebihnya hanya tebing-tebing terjal yang langsung terkena hempasan ombak. Menjelang matahari terbenam, biasanya nelayan singgah di sini untuk melewati malam sambil menghitung ikan-ikan tangkapannya.
Tidak banyak pilihan untuk membuat base camp di Legon Cabe karena memang luasnya terbatas. Dalam tiga jam, lima tenda telah berdiri membentuk base camp yang nyaman. Pada malam hari, base camp terlihat terang benerang seperti sebuah kampung di tengah pulau yang sepi. Setiap tenda dialiri listrik dari generator yang sengaja dibawa, alunan musik reggae Bob Marley pun terlantun membunuh sepinya hutan pantai. “Kurang TV aja nih buat nonton piala dunia,” cetus Joshua, salah seorang anggota tim yang mudah bosan jika bepergian.
Hari kedua di Rakata adalah hari yang paling dinantikan, karena hari itu pemanjatan akan dimulai. Pukul 08.00 pagi, lima orang anggota tim berangkat meninggalkan base camp menuju Swater Hook, titik start pemanjatan di kaki tebing. Swater Hook adalah dataran kecil di kaki tebing berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 30 m. Jaraknya hanya sepuluh menit dari base camp menggunakan perahu motor. Besarnya ombak angin timur menyulitkan perahu menepi ke Swater Hook sehingga peralatan panjat harus dipindahkan dengan berenang. Peralatan panjat harus benar-benar rapih terbungkus dry bag agar tidak terkena air laut yang bersifat korosif terhadap peralatan panjat yang sangat rentan.
Di Swater Hook, kelima orang anggota tim segera membagi tugas. Hanya tiga orang yang benar-benar terlibat langsung dalam pemanjatan, selebihnya adalah fotografer dan entry boy. Semua anggota tim sudah memahami tugasnya masing-masing dan harus benar-benar cermat karena sedikit salah dapat berarti petaka. Sebagai perintis jalur (leader) menuju pitch (titik akhir suatu lintasan) 1 adalah Agi yang berhasil membuat lintasan sepanjang 40 m, disusul Joshua dan Retta sebagai pemanjat pendukung. Di sisi timur, saya sibuk dengan kamera mengabadikan pemanjatan, sementara Nisma menjadi entry boy yang memantau pemanjatan di kapal melalui teropong sambil sesekali berkomunikasi dengan tim panjat melalui HT.
Jika terjadi kecelakaan di tebing, Nisma entry boy memegang peran yang sangat penting. Dia yang memegang kunci komunikasi antara panjat di tebing dan tim evakuasi di base camp. Prosedur evakuasi jika terjadi musibah harus benar-benar dikuasai oleh seorang entry boy sebab keselamatan korban dalam hitungan detik ada di tangan entry boy. Namun syukurlah, sampai akhir pemanjatan tidak ada anggota tim yang celaka.
Sore hari pukul 17.00, saat keletihan merasuki tim panjat, pemanjatan dihentikan. Seluruh anggota tim kembali ke base camp. Hari itu panjat berhasil mencapai ketinggian 150 m, hasil yang cukup baik untuk hari pertama. Ketegangan Agi yang lebih sebagai climbing leader memuncak saat makan malam di base camp. “Apaan nih, cape-cape manjat cuma dikasih kerak nasi,” ketus Agi yang kecewa dengan suguhan makan malam berupa nasi gosong. Namun, suasana kembali pada keriangan saat Marni mengganti makan malam itu dengan pesta ikan bakar di pinggir pantai.
Hujan Batu
Pagi hari, suasana base camp digemparkan oleh teriakan Tari yang berlari kesana kemari meminta tolong. Pasalnya, ada seekor kelabang yang menyelinap ke dalam tenda. Panjang binatang itu 10 cm dengan kaki-kakinya yang menyeramkan. Menurut cerita nelayan, kelabang itu beracun dan pernah hampir menewaskan seorang penyelam asal Lampung yang beberapa hari lalu disengat dua ekor kelabang jenis yang sama. Semua tenda pun akhirnya diperiksa untuk memastikan tidak ada binatang yang menyelinap dan semua kembali seperti biasa.
Hari-hari pemanjatan selalu ada ketegangan. Rasa panik benar-benar menghampiri pada hari ketiga saat sebuah batu sebesar ransel terlepas dari tebing dan jatuh menghujam permukaan tebing di bawahnya lalu pecah berkeping-keping bagai hujan meteor. Agi sang climbing leader berteriak “Rock!” yang berarti peringatan bagi pemanjat di bawahnya bahwa ada batu yang jatuh. Para pemanjat di bawah langsung membuat posisi aman dengan merapatkan tubuh ke tebing dan membiarkan drama menegangkan itu berlalu. Semua terdiam sesaat menenangkan diri dan memastikan rekan-rekan yang lain tidak ada yang tertimpa batu, pelindung pun cepat-cepat dikencangkan.
Secara keseluruhan, batuan tebing masih sangat muda dan gampang rontok jika dipijak. Ternyata waktu 120 tahun belum cukup untuk merekatkan batuan muda campuran kuarsa, andesit dan debu vulkanik ini. Bahkan di sisi kiri tebing yang di-panjatkan bentuknya masih berupa tanah padat berwarna merah. Kondisi ini tingkat kesulitan tersendiri dari segi pemanjatan karena sulitnya memasang pengaman pada batuan yang mudah rontok. Paku-paku tebing (piton) hanya bisa ditancapkan pada permukaan batu yang keras itu pun minim, sisanya, ekstra hati-hati tentu.
Evakuasi Korban
Di hari kelima, ketinggian pemanjatan hanya bertambah 40 m (1 pitch) karena harus mengevakuasi seorang rekan pemanjat dari Lampung yang telah berada di sana mendahului tim Mapala UI. Dia jatuh setinggi 25 m pada ketinggian 300 m, beberapa pengaman yang terpasang jebol, tidak kuat menahan beban pemanjat yang jatuh. Meskipun tidak patah tulang, namun separuh tubuhnya cedera terparut permukaan tebing yang tajam. Malam di base camp pun diisi dengan evaluasi membahas kecelakaan itu. Semua cerita musibah menjadi pelajaran berharga akan makna safety procedure dalam panjat tebing.
Kekecewaan kembali terulang pada hari keenam karena target mencapai puncak tebing pada ketinggian 800 m hari itu tidak tercapai. Tim panjat hanya berhasil mencapai ketinggian 500 m. Rencana enam hari pemanjatan mencapai puncak tebing Rakata hanya menjadi impian bagi anggota tim. Petuah Agi sang climbing leader cukup mengobati kekecewaan anggota tim. Menurut Agi, bukan hasil akhir yang menentukan, tapi sulitnya proses mencapai hasil akhir tersebut dengan suka dukanya yang paling penting. Itulah salah satu nilai yang dapat diambil dalam panjat tebing, di mana kita bisa belajar tentang kerja sama, tentang emosi, tentang diri sendiri, tentang manusia lain, dan tentang alam.