BERBURU NYALI DI TEBING EMAS
”Berburu Nyali Di Tebing Emas”
ISBN 979-763-504-X
Author: Dadang Sukandar
12×19 cm, 104 hlm.
Cetakan I, 2006
Entah kapan naik gunung dan panjat tebing itu jadi olah raga, tapi yang jelas sejak abad 14 orang-orang di Alpen sudah naik gunung. Motifnya beragam, untuk berburu, mencari batu kristal atau mengantar aristokrat-aristokrat Inggris sebagai guide. Bahkan jauh sebelum itu, kunjungan ke gunung merupakan proses ibadah menghaturkan sembah pada dewa gunung. Ada juga yang melengkapinya untuk strategi perang.
Apapun motifnya, setiap yang pernah ke gunung punya hak jawab yang sama untuk motivasi itu. Motivasi perjalanan Nana ke gunung Pendil, sampai akhirnya ia dirasuki ”N i m a s”, adalah pulang ke rumah dengan selamat. Seperti juga mahasiswa-mahasiswa hukum yang bertandang ke gunung Gede, sekedar menghilangkan suntuk karena ujian pidana dan perdata seminggu penuh.
Buku ini bukanlah buku pelajaran naik gunung atau memanjat tebing, meski disana-sini ada juga menyinggung hal-hal yang bersifat teknis lapangan. Buku ini juga bukan buku pelajaran tentang bagaimana membentuk jiwa yang kuat karena di beberapa bagiannya ada cerita horor tentang kematian dan hantu. Buku ini Cuma buku cerita yang mau menghadirkan lebih dekat suasana alam dalam aktivitas naik gunug dan panjat tebing, tentang apa-apa yang ditemui, yang kemudian dapat menjadi semacam nilai yang terserah pada diri kita sendiri, apa hendak kita simpan ataukah akan kita buang.
Berbagai cerita yang disajikan dalam buku ini bukanlah cerita yang sambung menyambung sehingga menjadi suatu konstruksi. Setiap bab adalah penggalan cerita perjalanan ke alam gunung, tebing-tebing curam maupun pusat kota. Jadilah semacam kompilasi, kumpulan cerita perjalanan. Anda dapat mulai membacanya dari bab mana saja karena setiap cerita mempunyai bobot yang bisa dibilang sama.