dadzfla

look up there… the world is so high…

Archive for August, 2006


Turut Berduka Cita!

Turut Berduka Cita…
Untuk warga Hiroshima yang tewas karena bom atom Amerika 61 tahun lalu
Untuk warga libanon yang tewas karena serangan Israel dukungan Amerika saat ini
Dan untuk jatuhnya nilai-nilai kemanusiaan
Turut Berduka Cita!

Naek Gunung Sambil Jadi Misionaris

Naek Gunung Sambil Jadi Misionaris

Hari Sabtu kemarin manjat lagi di Ciampea. Gosh… gw udah beberapa bulan enggak latihan manjat serius lagi, kebanyakan joging. Pas manjat jalur Kambing, enggak tahan lama. Tiga kali manjat aja udah bikin otot-otot kejang. Tangan langsung pada gendut, ototnya langsung kenceng. Kalau tangan masih bisa nahan, otot-otot jari udah enggak kuat cengkram tebing lama-lama.

Ke Ciampea kemaren tujuannya utama untuk latihan artificial climbing. Sekedar refresh masang alat-alat pengaman artifisial untuk latihan persiapan manjat ke tebing Parang tiga minggu lagi. Karena alatnya terbatas, sementara orang berenam, terpaksa dibagi dua tim. Satu manjat artifisial, satu lagi free climbing di jalur Kambing dan Toke. Lumayan juga latihan ini, sekalian persiapan naek gunung ke Slamet weekend (11-13 Agustus) ini.

Ke Slamet besok bersembilan orang sama temen-temen Mapala UI. Acaranya Cuma naek gunung aja. Menjajal gunung 3000 meter dengan limit waktu yang minim, Cuma dua hari satu malam. Beberapa temen yg gw ajak sempat ada yg enggak percaya dengan waktu yang sesempit itu.

Awalnya juga gw sulit menebak apakah waktu dua hari satu malam bisa cukup naek gunung Slamet. Tapi setelah cek lebih dalam, dengan syarat jadwal yang ketat dan konsisten, itu bukan enggak mungkin. Jadi bisa dibilang ini semacam uji latihan soal kosnsistensi. Kalau sudah bisa konsisten sama jadwal yang ketat itu, artinya kita bisa menerima pelajaran soal disiplin dan motivasi bertindak.

Dan sekedar mengasah kepekaan terhadap lingkungan gunung, kebiasaan mengamati lingkungan dan menulis cerita perjalanan dan masyarakat serta lingkungan gunung juga jadi agenda perjalanan ini. Tapi prioritas utama, olah raga naek gunungnya untuk kesehatan.

Perlunya melihat lingkungan gunung itu, dan bukan sekedar prestasi puncaknya, bukan semata-semata pekerjaan serius dari sebuah yang namanya naek gunung. Ini sekedar mempercayai bahwa puncak gunung dan masyarakatnya serta lingkungannya adalah satu kesatuan yang tidak terpisah. Mencapai puncak gunung juga berarti menyentuh masyarakat gunung dengan keadaannya yang seperti itu. Kalau ditanya untuk apa naek gunung, kadang gw juga enggak habis pikir, untuk apa ya? Dan pemikiran ini selalu berujung pada “apalah arti kedatangan gw ke gunung selain dari merusak sebuah keperawanan gunung demi yang namanya puncak gunung”.

Ini kemudian jadi semacam misi, bahwa ke gunung enggak cuma mengangkangi sebuah keperawanan gunung. Bahwa ke gunung, perlu ada perspektif lain dalam memandang gunung yang akan kita datangi. Enggak semata-mata puncaknya.

Seperti gunung-gunung lainnya di Jawa, gunung Slamet itu juga ternyata sarangnya kebobrokan lingkungan. Penebangan dan perburuan liar serta pengubahan lahan menjadi ladang pertanian adalah praktek-praktek kasat mata yang membuat lingkungan gunung smeakin bobrok. Belum lagi kalau berhitung soal kebakaran hutan karena musim panas ini lebih panjang.

Konsekswensi-konsekwensi matinya keanekaragaman hayati gunung Slamet adalah bayangan di depan yang bisa jadi menakutkan. Dan ini harusnya juga dipotret sama yang suka naek-naek ke puncak gunung supaya diketahui masyarakat diluar gunung yang lain dan bisa jadi semacam kampanye public awareness dalam menilai lingkungan kedepan. Paling enggak, itu minimal yang bisa dilakukan sorang penaek gunung kalau enggak bisa melakukan konservasi gunung secara nyata. Dan upaya-upaya semacam ini juga harusnya enggak cuma kalau naek gunung aja, tapi kemanapun setiap kaki kita melangkah. Gunung itu Cuma contoh. Dan menulis catatan naek gunung lalu menyiarkannya ke masyarakat juga sebuah upaya konservasi toh!

dadang

Big Wall Climbing

Big Wall Climbing,

Multi Pitch System

Sebelum memanjat tebing utara Rakata Besar di Kepulauan Krakatau, Agi dan timnya melakukan orientasi jalur pemanjatan, menentukan garis lintasan memanjat dari dasar hingga pucuk tebing di meter ke-813.  Dengan mengambil jarak agak jauh dari kaki tebing supaya seluruh permukaannya nampak jelas, Agi mengamati dinding tebing dengan teropong dari atas kapal di tengah laut. Sebuah sketsa jalur dibuatnya dalam coret-coretan kertas. 

Setelah mencermati seluruh permukaannya, jalur memanjatpun dibuat dengan menarik garis lurus dari kaki tebing hingga ke puncaknya. Agi memilih bagian muka tebing yang paling tengah sebagai jalur pemanjatan. Meski sebagian besar permukaan tebing terlihat rapuh, tapi di bagian tengahnya masih menyisakan batuan yang solid.

Ketika garis lurus di muka tebing sudah ditunjuk sebagai jalur, langkah berikut adalah menentukan strategi memanjatnya. Memanjat dengan sekali jalan dari dasar langsung ke puncak tebing pada ketinggian 800 meter tentu bukan siasat efektif. Di tengah jalan bisa-bisa sudah kepayahan. 

Pertama, garis yang telah ditunjuk sebagai jalur pemanjatan dibagi menjadi beberapa lintasan. Satu lintasan panjangnya sekitar satu tali pengaman atau 40 sampai 50 meter. Satu lintasan ini disebut satu pitch. Setiap pitch merupakan titik akhir dari sebuah lintasan dan awal dari lintasan berikutnya. Pitch demi pitch itu berantai, sambung-menyambung sampai ke puncak tebing. Siasat membagi beberapa lintasan ini disebut multi pitch system. Pada teknik single pitch, garis jalur pemanjatan tidak dibagi dalam lintasan. Pada jalur single pitch ketinggian tebing umumnya tidak lebih panjang dari satu tali pengaman yang 40 sampai 50 meter itu. 

Untuk pemanjatan multi pitch, ada dua strategi yang bisa dipakai, himalayan taktik dan alpine taktik. Sesuai namanya, istilah-istilah itu diambil dari nama dua pegunungan, Himalaya di Asia dan Alpen di Eropa. Mendaki dua pegunungan tersebut punya cara-cara yang beda.

Mendaki pegunungan Alpen dapat dilakukan dengan sekali jalan, menyosor puncak gunung secara langsung dari kakinya dan langsung kembali lagi. Kalau kemalam di jalan, menginap di sepanjang rute dengan bivak atau tenda menjadi satu-satunya cara melewati dinginnya gunung. 

Mendaki pegunungan Himalaya berbeda dengan Alpen. Gunung-gunung di Himalaya rata-rata tingginya 6000 sampai 8000 meter dengan metode pendakian yang lebih rumit. Ketinggiannya yang hanya menyisakan oksigen tipis, membuat para pendakinya harus menyelesaikan jalur gunung-gunung di Himalaya secara bertahap. Untuk mendaki Mount Everest (8848 meter) yang tertinggi di jajaran Himalaya, awal-awal pendakian dilakukan dengan menyesuaikan ketinggian dan udara tipis (Aklimatisasi) sebelum menyerang puncaknya. Penyesuaian ketinggian itu dilakukan dengan cara naik turun dari kemah induk (Base camp) ke kemah atas dan kembali lagi ke kemah bawah untuk besoknya kembali naik ke kemah yang lebih tinggi melalui celah-celah es. Beberapa kemah dibuat di antara Base camp sampai ke puncaknya. Kemah-kemah itu kalau ditarik garis membentuk sebuah jalur mendaki yang saling terhubung menuju puncak gunung di mana para pendaki dan pengangkut beban (Porter) lalu lalang untuk drop logistik dan aklimatisasi. 

Perbedaan teknik mendaki di Alpen dan Himalaya itu yang kemudian diadopsi kedalam panjat tebing. Dalam alpine taktik pemanjatan dilakukan dengan sekali jalan, melewati pitch demi pitch sampai ke puncak tebing tanpa terhubung dengan tali ke dasar tebing, kemudian langsung turun lagi. Dalam himalayan taktik, pemanjatan dilakukan secara bertahap, pitch demi pitch. Pitch-pitch itu dalam himalayan taktik ibarat kemah-kemah seperti mendaki di Himalaya, terhubung satu sama lain membentuk rute jalan sampai ke puncak. Untuk menghubungkan pitch demi pitch, dalam himalayan taktik digunakan sebuah tali yang selalu terjuntai ke dasar tebing sampai pemanjat mencapai puncaknya.

Secara sederhana, membedakan alpine taktik dan himalayan taktik mudah saja. Perhatikan, apakah pemanjat di ketinggian muka tebing terhubung ke dasarnya dengan tali atau tidak. Kalau tidak, berarti alpine taktik yang digunakan. Sebaliknya, kalau terhubung berarti himalayan taktik yang digunakan. Tali yang menghubungkan pemanjat di ketinggian tebing ke pitch-pitch di bawahnya hingga ke dasar tebing disebut fixed rope atau tali tetap. Diistilahkan fixed rope karena tali itu akan tetap terjuntai sampai pemanjatnya mencapai puncak tebing.

Ada beberapa keuntungan menggunakan fixed rope dalam himalayan taktik. Pertama, fixed rope dapat digunakan untuk turun menghindari malam di ketinggian tebing. Ini kalau pemanjatannya sampai lebih dari sehari. Kedua, fixed rope juga berguna sebagai jembatan evakuasi kalau terjadi kecelakaan di tebing. Kelemahannya, menggunakan fixed rope akan semakin menambah beban pemanjatan. Penggunaan fixed rope bisa menghabiskan bergulung-gulung tali. Selain berat, masalahnya jadi makin rumit kalu fixed rope kusut atau melilit.

Dibandingkan himalayan taktik, lebih sederhana kalau pemanjatan menggunakan alpine taktik. Tidak banyak tali dan peralatan yang harus diangkut ke tebing dan tidak ada fixed rope. Pemanjat di ketinggian sama sekali putus hubungan tali dengan pitch-pitch di bawahnya hingga ke dasar tebing. Prinsip manjatnya, sekali jalan sampai puncak tebing dan langsung turun lagi. Kalau pemanjatannya sampai berhari-hari, tidur menggantung di tebing menjadi satu-satunya pilihan untuk melewati malam. (Dadang Sukandar).

Wisata Kelas Atas Yang Direncanakan

NAEK GUNUNG

Naek gunung saat ini sudah bukan lagi kegiatan heroik atau melulu soal tantangan. Tidak percaya? Nongkrong saja di sekitar Cipanas atau Cibodas, Jawa Barat setiap weekend. Segerombolan orang-orang kota dengan ransel besar disandang hilir mudik penuh semangat. Rata-rata mereka ingin mendaki gunung Gede atau Pangrango. Diantara  mereka kebanyakan anak-anak muda. Tapi jangan jangan salah, yang berumurpun tidak sedikit.

Hiruk pikuk kota yang umumnya memotivasi mereka menyambangi daerah pegunungan untuk melakukan wisata kelas tinggi itu. Kalau sekedar berkunjung ke mall atau sport klub, sepertinya sudah jadi kegiatan rutin seperti halnya bekerja atau sekolah. Satu tantangan lain masih diperlukan untuk orang-orang kota yang super sibuk.

Namun, kadang berbagai alasan menjadi penghambat. Tragedi kecelakaan gunung yang sering menyelimuti surat-surat kabar sering menjadi desas-desus yang menakutkan. Ini alasan bagi banyak orang untuk berhenti mencari hiburan dan tantangan di gunung.

Sebenarnya, rahasia dari perjalanana mendaki gunung cukup sederhana. Berinti pada persiapan perjalanannya. Dalam kitab-kitab mendaki gunung yang dianut para legendaris gunung, dikatakan bahwa kesuksesan mendaki gunung tergantung dari persiapannya. Bisa dibilang, dengan persiapan mendaki yang baik., seorang pendaki gunung sudah mengantongi lima puluh persen kesuksesan mendaki. Selebihnya tinggal semangat dan mungkin sedikit keberuntungan.

Ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan pendakian gunung: perencanaan, pemilihan perlengkapan mendaki dan packing. Perencanaan berarti menentukan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan sebelum mendaki. Untuk menentukan langkah-langkah ini syaratnya sederhana, memiliki informasi yang cukup tentang gunung yang akan didaki. Bukan hanya itu, informasi tentang pribadi dan rekan mendaki juga sama pentingnya.

Untuk memperoleh informasi tentang gunung yang akan didaki tidak perlu repot. Tinggal klik Mr. Google, ratusan laporan berbentuk artikel mengenai gunung-gunung sudah terpampang. Umumnya situs-situs internet tersebut milik organisasi pecinta alam yang kegiatannya kebanyakan naek gunung. Organisasi semacam ini pada tingkat universitas sangat banyak. Boleh dibilang, hampir setiap universitas di Indonesia punya organisasi kemahasiswaan semacam ini.

Informasi mengenai pribadi yang akan melakukan pendakian juga tidak kalah pentingnya. Apalagi jika kita mendaki dalam satu kelompok kecil yang terdiri dari beberapa orang. Informasi mengenai kemampuan mendaki masing-masing anggota tim wajib diperhitungkan. Mendaki gunung merupakan perjalanan beberapa hari yang kadang menekan. Sedikit informasi mengenai rekan perjalanan bisa membuat pendakian menjadi runyam. Pasalnya, tekanan saat mendaki gunung membuat setiap orang menjadi sensitif. Faktor kelelahan yang membuatnya, tidak hanya fisik, tapi juga mental.
            Kalau berbagai informasi tersebut sudah terkumpul, langkah selanjutnya merencanakan perjalanan. Langkah ini dimulai dengan membuat jadwal perjalan. Kapan dan dari mana pendakian dimulai, di mana lokasi kemah dibuat dan kapan waktunya masak serta makan. Semua itu dibuat sejelas mungkin.

Kalau jadwal sudah dibuat, perencanaan berikut muncul dengan sendirinya. Dengan mengetahui estimasi perjalanan, setumpuk daftar perlengkapan yang akan dibawa menyusul. Berapa potong pakaian perlu dibawa, berapa tenda perlu dimasukan ransel dan jacket seperti apa yang cocok dengan tipe gunungnya.

Selain list perlengkapan, menu makan dan daftar belanja logistik akan muncul. Setelah itu rute transportasi menuju lokasi beserta estimasi biayannya. Setelah semua terencana dengan baik, perhitungan terakhir adalah soal seluruh biaya pendakian.

Setelah perencanaan matang dibuat, langkah berikutnya memilih perlengkapan untuk mendaki. Dalam memilih perlengkapan mendaki hendaknya perlu diperhatikan musim ketika pendakian dilakukan. Pada musim hujan, jas hujan (Raincoat) harus menjadi peralatan wajib yang tidak boleh terlewat. Guyuran hujan saat mendaki dan dinginnya iklim pegunungan, bisa membuat tubuh cepat kehilangan panas. Dalam kondisi seperti ini, mountain sicknes jenis hypothermia mudah hinggap. Mountain sicknes seperti ini yang membuat pikiran seorang pendaki gunung kadang menjadi tak terkendali. Perbuatannya cenderung tidak terkontrol dan sering mendatangkan kecelakaan.

Pada musim panaspun bukan berarti hawa dingin tidak hinggap. Sesuai rumus fisika, kalau siang begitu terik maka malam akan jadi amat dingin. Untuk itu, jacket tebal perlu diselipkan ke dalam ransel. Pilihlah jacket yang bahan dalamnya bulu angsa. Jacket macam ini lebih hangat untuk menikmati malam di tenda. Atau jaket yang sudah berteknologi modern.

Perjalanan mendaki gunung merupakan perjalanan yang melelahkan. Membawa tubuh ke atas ketinggian saja sudah payah, ditambah lagi dengan ransal dipundak. Untuk mengurangi beban selama mendaki, sebaiknya isi ransel seringan mungkin. Artinya, perlengkapan yang dibawa dalam ransel perlu diupayakan sesedikit mungkin. Hal ini bukan berarti tidak lengkap. Kelengkapan itu suatu kewajiban, tapi perlu disiasati agar sesedikit mungkin, sesuai kebutuhan.

Untuk meringankan isi ransel pilihlah perlengkapan yang praktis, ringan dan serbaguna. Misalnya, untuk makan bisa menggunakan mangkok kecil. Mangkok kecil ini selain dapat digunakan untuk menampung makanan juga dapat digunakan untuk minum sebagai pengganti gelas. Jadi penggunaannya serbaguna.

Kalau semua perlengkapan sudah dipilah-pilah, maka tugas terakhir sebelum berangkat adalah menyusun perlengkapan-perlengkapan itu kedalam ransel. Mungkin kelihatannya sepele, tapi efeknya sangat besar. Selama perjalanan mendaki gunung, ransel akan terus di sandang di pundak. Posisi yang tidak seimbang antara kiri dan kanan ransel atau posisi jatuh ransel yang tidak tepat akan menyengsarakan pundak. Sementara kemungkinan ransel akan disandang sepanjang hari  selama mendaki. Bisa dibayangkan, perjalanan yang menyenangkan untuk berwisata ke gunung bisa berubah menjadi perjalanan yang menyengsarakan.

Untuk menjadikan ransel nyaman disandang selama perjalanan, penyusunan perlengkapan ke dalam ransel perlu diatur seringkas mungkin. Bentuk ransel yang ringkas juga akan terlihat rapi. Bagi beberapa pendaki gunung, menyusun perlengkapan ke dalam ransel bisa menjadi seni tersendiri (The art of packing).

Untuk perlengkapan-perlengkapan sejenis sebaiknya dikelompokan dalam satu kantong. Misalnya, satu kantong baju, satu kantong makanan, satu kantong alat masak. Pergukanan kantong plastik atau sejenisnya yang kedap air. Pengelompokan perlengkapan dalam satu kantong ini selain mudah diraih kalau sewaktu-waktu dibutuhkan di gunung juga tidak basah kalau hujan. Terutama untuk pakaian ganti dan kantong tidur (Sleeping bag) yang membuat malam-malam terasa nyaman di tenda.

Perlu juga diperhatikan komposisi penyususnan perlengkapan ke dalam ransel. Untuk perlengkapan yang berat (Kompor, alat masak, tenda) sebaiknya diletakan sedikit mungkin dengan punggung. Hal ini agar beban ransel jatuhnya langsung dekat titik kesimbangan tubuh (Centre of gravity) sehingga ketika mendaki tubuh akan berada dalam posisi seimbang. Begitu juga berat ransel antara bagian kiri dan kanan harus seimbang.

Untuk perlengkapan yang dibutuhkan selama di perjalanan (Jas hujan, senter dan obat-obatan) sebaiknya diletakkan di bagian atas ransel. Hal itu agar perlengkapan tersebut mudah diraih apabila dibutuhkan selama perjalanan. Hindari juga menggantung perlengkapan-perlengkapan tersebut diluar ransel. Selain tidak enak dipandang juga kadang mengganggu gerakan selama berjalan dan mudah jatuh.

Untuk lebih meringankan beban, gunakan hip buckle dan chest buckle ransel dengan sempurna. Guna kedua buckle ini agar beban ransel terdistribusi dengan baik. Beban ransel tidak hanya jatuh di bagian pundak tapi juga di pinggang.

Contoh Menyusun Rencana Perjalanan Ke Gunung Selama Weekend

1. Jadwal Perjalanan

Hari

Jam

Acara

Jumat

….. s/d ….

……………………

….. s/d ….

……………………

….. s/d ….

……………………

Sabtu

….. s/d ….

……………………

….. s/d ….

……………………

….. s/d ….

……………………

Minggu

….. s/d ….

……………………

….. s/d ….

……………………

….. s/d ….

……………………

2. Daftar Perlengkapan

Perlengkapan

Pribadi

Perlengkapan Kelompok

1.       

1.

2.       

3.

3.       

4.

3. Menu makanan

Hari/

Menu

Makan

pagi

Makan

siang

Makan

malam

Jumat

Sabtu

Minggu

4. Daftar Belanja

Jenis

barang

Jumlah

Harga

Total

5. Rute Transportasi

Rute

Transportasi

Biaya

Total

6. Biaya

Post

Jumlah

Belanja makanan

Transportasi

Dokumentasi

Perizinan

Total

Dadang Sukandar

Harta Terpendam Di Pegunungan Salju Papua

Harta Terpendam Di Pegunungan Salju Papua

Determinasi manusia di bumi membuat kehidupan alam semakin kompleks. Kompleksitas tersebut membuat tekanan-tekanan kehidupan di permukaan bumi dan menuju pada kerusakan habitat-habitat lingkungan yang kaya akan keanekaragaman hayati. Perkiraan tingkat kepunahan spesies di seluruh dunia berkisar antara 100.000 setiap tahun.

Fenomena seperti pemanasan global (Global Warming) adalah akibat dari intesitas penggunan bahan bakar dan freon untuk aktivitas kehidupan manusia yang membuat perangkap ultra violet di atmosfer sehingga suhu bumi semakin tinggi. Pemansan global tersebut kini telah menyusutkan gletser-gletser di Pegunungan salju Papua. Untuk ukuran yang lebih kasat mata, penebangan liar hutan dan penambangan minyak dan mineral bumi sering dituding sebagai sumber-sumber pencemar limbah yang merusak keharmonisan ekosistem alam.

Kerusakan demi kerusakan alam seperti ini dirasakan semakin menyurutkan kesempatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan terjebak pada kondisi bertahan dari gangguan buruknya lingkungan. Menurut prediksi penelitian-penelitian, pemanasan global akan menimbulkan efek jangka panjang yang membahayakan, kelaparan, penyebaran penyakit dan mengancaman kepunahan berbagai mahluk hidup.

Dalam berbagai forum internasional telah dibahas keprihatinan atas masalah global ini. Dan sebagai hasil, telah disepakati adanya tuntutan untuk mengintensifkan konservasi keanekaragaman hayati (Biodiversitas) demi kelestarian dan pemanfaatannya sekarang maupun masa yang akan datang yang pada masa belakangan kumandangnya semakin kencang. Konservasi keaneka ragaman hayati ini, selain untuk melindungi juga untuk kemungkinan pemanfaatannya di masa mendatang secara berkelanjutan. Untuk hal tersebut, diperlukan strategi dan kebijakan global, regional dan nasional yang harmonis. Masalah lingkungan adalah maslah global, dirasakan semua umat manusia di dunia.

Atas kesadaran global ini, pada tahun 1992 pemimpin-pemimpin dunia yang menghadiri KTT Bumi (Earth Summit) di Rio de janeiro Brazil telah sepakat dan menandatangani Konvensi Tentang Keanekaragaman Hayati (Convention On Biological Diversity/ CBD) yang ditandatangani oleh 54 kepala negara dan pemerintahan. Konvensi tersebut telah diratifikasi oleh Indonesia dengan  Undang-undang No. 5 Tahun 1994 Tentang Pengesahan United Nations on Biological Diversity.  Hingga kini, 145 negara telah meratifikasi konvensi tersebut. Konvensi ini pada intinya memberi panduan menyeluruh mengenai strategi perlindungan keanekaragaman hayati untuk mencegah krisis akibat kepunahan hayati dunia dan membuat kehidupan hayati masa depan semakin terlindungi.   

Keanekaragaman hayati yang popular dengan istilah biodiversitas (Biodiversity) secara ringkas dapat dikatakan sebagai variasi besar tipe ekosistem, spesies dan genetika binatang, tumbuhan dan mikroorganisme yang hidup di bumi. Terminologi ini mengacu pada semua atau salah satu hal berikut: (a) Keanekaragaman Ekosistem (Variasi Ekosistem) (b) Keanekaragaman Spesies (Kekayaan Spesies) (c) Variasi Intra Spesies (Keanekaraaman Genetik).

Klasifikasi permukaan bumi atas darat, laut, sungai, gunung dan gurun membuat kehidupan mahluk hidup terdesak dan melakukan penyesuaian-penyesuaian alam, menyebar ke sudut-sudut permukaan bumi. Interaksinya satu sama lain membuat ekosistem-ekosistem baru dan penyebaran ini membuat mahluk hidup semakin beraneka ragam.

Para peneliti telah mengidentifikasi, ada sekitar 175.000 spesies di muka bumi ini yang sebagian besar adalah mahluk hidup kecil seperti serangga atau mikroorganisme. Namun, beberapa eksplorasi setingkat ekspedisi ke pedalaman hutan dan gunung yang telah dilakukan menunjukan, masih ada kehidupan-kahidupan di alam liar yang belum teridentifikasi. Dalam ekspedisi Foja di pegunungan Foya sekitar sungai Membramo, Papua oleh Conservation Internastional pada 2005 lalu telah ditemukan sekitar 20 sub spesies Katak baru dan Cendrawasih spesies Parotia Berlepschidan. Ini menunjukan, kehidupan alam liar masih menyisakan mahluk-mahluk yang masih belum dikenal. Kondisi keanekaragaman hayati masih dapat dioptimalkan.

Keanekaragaman hayati di dunia berperan penting untuk berlanjutnya proses evolusi serta terpeliharanya keseimbangan ekosistem dan kehidupan biosfer. Sementara saat ini, keanekaragaman hayati sedang mengalami pengurangan dan kehilangan nyata karena kegiatan tertentu manusia yang dapat menimbulkan terganggunya keseimbangan sistem kehidupan di bumi yang pada gilirannya akan mengganggu berlangsungnya kehidupan manusia.

Indonesia sebagai negara tropis dan kepulauan, tidak diragukan lagi keanekaragaman hayatinya. Dengan jumlah 17.000 pulau yang terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Pasifik dan India), Indonesia memiliki sejumlah besar spesies asli yang sebagian besar bersifat endemik.

Identik dengan negara ”megadiversity”, Indonesia memiliki 10% tumbuhan berbunga yang ada di dunia, 12% binatang menyusui, 16% reptilia dan amfibi, 17%  burung, 25% ikan dan 15% serangga (Bappenas, 1993). Satwa Indonesia juga mempunyai tingkat endemisitas yang cukup istimewa, sekitar 500-600 jenis mamalia besar, 36% endemik; 35 jenis primata, 25% endemik; 78 jenis paruh bengkok, 40% endemik; dan dari 212 jenis kupu-kupu, 44% endemik (Laporan Profauna).

Dari sejumlah itu, Papua dapat dikatakan sebagai penyumbang keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Lebih dari 80% wilayah Papua merupakan habitat alam yang diduga memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, mulai dari daerah laut, pantai, dataran tinggi sampai pegunungan. Dari penelitian-penelitian keanekaragaman hayati yang telah dilakukan di Papua telah ditemukan spesies-spesies baru yang menunjukan semakin kayanya keanekaragaman hayati di Papua. Penemuan-penemuan ini merupakan indikasi tingginya keanekaragaman hayati Papua yang belum teridentifikasi.

Keanekaragaman Hayati Pegunungan Tengah

Pegunungan Tengah sebagian besar terletak di kawasan Taman Nasional Lorentz. Secara fisiografi, Pegunungan Tengah terdiri dari puncak-puncak gunung tertinggi di Indonesia. Daerah ini secara umum berbentuk periglasial seperti moraine, danau es yang mencair dan bukit kecil diatas topografi karst dari formasi kapur yang tajam terbentuk karena peluruhan. Lebih ke utara, lereng yang menurun di Cordillera Tengah menyebabkan terjadinya dataran tinggi Zengillorong dan Kemabu. Pada puncak-puncak gunung tinggi terdapat selimut padang salju, gletser Carstensz dan Meren Puncak Jaya, mewakili tiga dari wilayah gletser khatulistiwa di dunia, pegunungan Andes dan Kilimanjaro[1]. 

Dipisah oleh lembah Meren dan lembah Kuning, Pegunungan Tengah terbagi atas dua jejeran pegunungan bersalju pada puncaknya di sebelah utara dan selatan. Di utara lembah Meren terdapat dinding-dinding batu tebing curam yang memanjang mulai dari puncak Wachter di bagian barat meluruh ke timur dan klimaksnya di sebelah barat yang dinamakan Puncak Jaya. Antara Wachter dan Puncak Jaya dipisah oleh New Zealand Pass, tempat yang lebih rendah yang merupakan akses ke dataran tinggi Kemabu.

Di selatan lembah kuning, jejeran pegunungan Carstensz menjulang curam mulai dari Zebra Wall di sebelah barat sampai ke timur yang merupakan titik tertinggi puncak Carstensz Pyramid (4884 meter). Lebih ke timur, tempat yang lebih rendah diantara Puncak Jaya dan Carstensz Pyramid, terdapat Carstensz Timur yang diselimuti salju.

Pada lembah Meren yang ketinggiannya antara 4000 meter – 4200 meter terdapat beberapa danau dari salju yang mencair. Secara fisiografi, lembah Meren dan lembah kuning di kepung oleh dinding-dinding curam Puncak Jaya dan Carstensz Pyramid, membuat lokasi ini sulit diakses selain dari New Zealand Pass dan lokasi pertambangan PT. Freeport di sebelah barat. Sedang akses paling mudah menuju puncak-puncak gununug di kawasan ini dapat melalui lembah Meren dan lembah Kuning.

Dengan ketinggiannya yang rata-rata diatas 4000 meter diatas permukaan laut, vegetasi Pegunungan Tengah termasuk dalam kategori Alpine. Kawasan ini hampir-hampir tak pernah bebas dari sengatan dingin dan cuaca yang tak menentu. Boleh jadi pagi hari langit cerah, siang hujan mulai turun dan sepanjang sore hingga pagi salju yang basah melayang di udara ketika suhu mencapai yang terendah. vegetasi kawasan ini umumnya berupa tumbuhan tingkat rendah seperti savana, lumut dan alga.

Pada bagian puncak Jaya umumnya didominasi rerumputan (Deschampsia klossii). Di daerah berbatu Moraine di sekitar lembah Meren pada ketinggian antara 4000 meter – 4200 meter banyak terdapat Tetramolopium kolssii - Rhacumitrium. Di danau Biru pada ketinggian 4020 meter terdapat plankton dan Zooplankton. Terdapat juga jenis alga yang hidup di daerah gletser (Cryvegetation).

Jenis-jenis vegetasi tersebut merupakan beberapa hayati yang telah berhasil diungkap melalui survey-survey ekspedisi terdahulu. Namun, Pegunungan Tengah merupakan lokasi pegunungan yang sebagian besar berupa bagian-bagian curam berbentuk tebing ratusan meter. Dari dugaan beberapa peneliti yang mengklaim banyaknya. keanekaragaman hayati papua yang berlum teridentifikasi, maka masih dapat diduga pula adanya vegetasi-vegetasi untuk koleksi tambahan yang mungkin tumbuh di sekitar punggung-punggung gunung yang curam tersebut.



tunggu….!

agustus…..!

Berburu Nyali Di Tebing Emas

Selalu ada cerita yang mampu memberi pelajaran berharga dalam setiap perjalanan ke gunung, ke tebing, bahkan ke pusat kota sekalipun. Buku ini menyuguhkan suasana alam dalam aktivitas naik gunung dan panjat tebing, tentang apa-apa yang ditemui yang kemudian dapat menjadi semacam nilai yang… yahhh… bisa direnungkan.

Berburu Nyali Di Tebing Emas

tunggu….!

agustus…..!

Berburu Nyali Di Tebing Emas

Selalu ada cerita yang mampu memberi pelajaran berharga dalam setiap perjalanan ke gunung, ke tebing, bahkan ke pusat

kota

sekalipun. Buki ini menyuguhkan suasana alam dalam aktivitas naik gunung dan panjat tebing, tentang apa-apa yang ditemui yang kemudian dapat menjadi semacam nilai yang… yahhh… bisa direnungkan.

BLUNDER OF THE DAY

BLUNDER OF THE DAY

Weekend kemaren ikutan lomba orientering klub naek gunungnya anak-anak ekonomi Universitas Pancasila, Talaseta. Jangan tanya menang apa kalah. Kita blunder enggak sampe finish!

Padahal titik koordinat finish sudah dicantumkan di peta. Kita tinggal kejar aja. Tapi dasar, gw sama Jamal yang satu tim enggak sadar sama titik start-finish nya, cuma fokus ke koordinat-koordinat peta yang ada nilai poinnya. Walhasil, kita lupa titik finishnya, dan berpikir bahwa titik finish itu sama dengan titik start nya, jadi balik lagi ke start awal setelah kumpulin poin-poin.

Setiba di garis start, “Lho, ko sepi!”. “Something wrong!”. Betul aja. Pas cek peta lagi, dan meyakinkan lagi, titik koordinat finishnya masih 8 km di depan, naik turun bukit nyemplung sungai. Kira-kira kalau dijalanin 2 jam, dengan kaki yang hampir copot setelah naik turun punggung bukit selama 6 jam. Dan waktu pertandingan sudah habis. Begitu kembali ke start awal, ternyata yang blunder enggak satu, tapi ada dua tim lagi di sana.

Hihih… semangat sih okeh-okeh aja, tapi kadang saking semangatnya justru hal terpenting jadi kelupaan, jadi bikin blunder semuanya. Buat jadi pelajaran aja lah…

dadang

Penunggu Gunung Pendil

Penunggu Gunung Pendil

Sang penunggu itu bisu….”

 

Nana tiba paling awal di puncak gunung Pendil bersama rombongan pembuka jalur. Setengah harian tadi ia membuka hutan sambil diguyur hujan. Pada sebuah bibir jurang, ia bersama anggota kelompok camp-nya beristirahat sambil membuat minuman hangat. Lama Nana tak bersuara, berusaha menelan lelah sambil menunduk dan menggigil dibalik kantong tidurnya (Sleeping bag) yang basah. Wajahnya yang pucat seperti kosong. 

Tiba-tiba, tanpa sebab Nana pingsan. Salah seorang rekan sekelompoknya berteriak meminta bantuan medis. Dokter Endang segera berlari ke arah Nana, demikian juga mas Hasan, pemandu kami dari desa Songgon. Beberapa orang turut berkerumun, berusaha membantu apa yang mungkin.

Setelah dokter Endang memberi instruksi mengganti pakainnya yang basah, Nanapun dimasukan ke dalam kantong tidur yang kering dan berlapis-lapis. Untuk lebih menghangatkan tubuhnya, beberapa rekan menyuapi teh hangat ke dalam bibirnya yang kaku. Tak lama kemudian Nana sadarkaan diri dan menangis kencang, sebentar kemudian tersenyum aneh. Dilihat dari air mukanya, menurut mas Hasan, ia kesurupan penunggu gunung Pendil. “Sang penunggu itu bisu”, demikian analisa pemandu yang memiliki kemampuan spiritual itu. Saat mas Hasan “berkenalan”, sang penunggu itu menuliskan namanya di secarik kertas melalui tangan Nana. “ N i m a s ”, begitu tulisnya.   

Mas Hasan dan beberapa dari kami yang hafal ayat-ayat pengusir setan berusaha mengeluarkan sang penunggu gunung Pendil itu dari jasad Nana. Ada yang berdoa secara islam, ada juga yang memasang tanda salib. Mas Hasan punya cara tersendiri menghadapinya, sebuah komat kamit mantra yang kurang kami pahami artinya. Berkat negosiasi mas Hasan, akhirnya Nimas-pun berjanji, ia akan keluar dari jasad Nana selepas maghrib nanti. Dan, Nimas-pun menepati janjinya itu ketika hari hampir habis. Setelah malam, Nana terbebas dari belenggu ikatan mahluk halus.

Beberapa dari kami ada yang begitu saja mempercayai pengalaman spiritual tersebut, sebagian yang lain hanya menganggapnya kelainan psikologis. Saya lebih percaya ini adalah pengalaman medis dan spiritualis. Ketika seorang pendaki gunung terguyur hujan, tubuhnya yang kuyup akan menggigil kedinginan. Ditambah lagi suhu udara pada ketinggian gunung yang  semakin  menusuk tulang dan rasa lelah yang ditanggung. Pada kondisi ini umumnya seorang pendaki rawan terkena hypothermia, Mountain sickness yang membuat panas tubuh menurun drastis dan pikiran jadi tak terkendali. Tanda-tandanya, tubuh  korbannya akan menggigil kedinginan dan sulit bicara.

Mountain sickness jenis hypothermia paling banyak dialami pendaki sewaktu di gunung. Dalam beberapa kasus pendakian, hypothermia kadang membawa bencana kematian karena pikiran yang tak terkendali menyebabkan pendaki hilang akal dan ceroboh. Tindakannya cenderung brutal dan membahayakan. Sesuai ajaran pasal-pasal dalam kitab suci, pada saat pikiran tak terkendali inilah seorang manusia rawan dirasuki mahluk halus atau sebangsanya. Segera mengganti pakaian korban dengan yang kering dan minuman hangat adalah penangkal paling mujarab untuk menghindari hypothermia di gunung. (Dadang Sukandar).

Gunung Sela

Gunung Sela

Tebing batu Sela tersembunyi di antara jurang kawah gunung Gede, taman nasional Gede Pangrango, Jawa Barat. Jarang saya dengar berita pemanjat tebing yang melawat ke sini. Mungkin karena repotnya yang harus mendaki gunung dulu baru mulai memanjat. Atau memang karena birokrasi taman nasional yang sulit ditembus. Malah bisa jadi, tebing ini memang tidak menarik sama sekali  untuk dipanjat.

Picture_028Di langit, matahari sudah condong ke barat waktu kami tiba di puncak gunung Sela. Agi yang pertama tiba, lalu saya dan Ucup. Sambil melepas ransel dari pundak, kami rebah sebentar mengecap lelah. Kami beristirahat di sebuah bibir jurang yang menghadap kawah gunung Gede di arah selatannya.

Yoshua dan rombongan yang lebih besar masih setengah jam di belakang. Rombongan itu jumlahnya sekitar lima belasan. Mereka kebanyakan mahasiswa-mahasiswa. Total, sepuluh jam kami mendaki puncak bukit ini dari arah gunung Putri di Cipanas.

Pada puncak tertingginya, gunung Sela dibatasi tebing jurang sedalam kira-kira 80 meter di sebelah selatan. Jurang ini langsung menjadi pembatas antara puncak gunung Sela dan kawah gunung Gede. Di seberangnya, dinding batu vulkanis melingkari kawah gunung Gede. Salah satu titik di atas dinding itu jadi puncak tertinggi gunung Gede yang 2.958 meter dari permukaan laut.

Kalau dihubung-hubungkan, gunung Sela masih bagiannya dari gunung Gede. Bisa dibilang, gunung Sela merupakan anak dari gunung Gede. Tingginya sekitar 2700-an meter. Saya pernah mendengar satu cerita. Beberapa tahun silam, seorang pendaki asal Jakarta pernah jatuh dari atas puncak tebing gunung Sela. Kepalanya terantuk batu di dasar tebing dekat kawah dan tewas seketika. Waktu itu ia kesasar sewaktu akan mendaki ke gunung Gede.

Untuk ukuran pendakian umumnya, rute menuju puncak gunung Sela sebenarnya bisa ditempuh dalam tujuh atau delapan jam. Namun karena jumlah rombongan kami yang besar dan sebagain dari kami bukan pendaki gunung sungguhan, waktu mendaki melebar sampai lebih dari target. Itu juga dengan catatan, ada seorang anggota rombongan yang kakinya cedera. Cederanya itu karena ia tidak mematuhi aturan kami, mendaki gunung hanya dengan sendal jepit. Sepanjang jalan, ia tertatih-tatih. Beberapa orang rekan bergantian membopong. Dalam mendaki gunung, ini menyulitkan.

Saya, punya andil bersalah juga atas cedera kaki kawan kami itu yang berujung pada menghambat perjalanan. Seharusnya saya tegas melarangnya sedari awal untuk ikut mendaki. Sebelumnya saya sudah mengetahui kalau kawan kami itu tidak biasa mendaki gunung. Ia juga hanya spontan saja ikut dengan rombongan kami, tanpa persiapan matang, karena dalam rombongan kami ada teman wanitanya yang ikut. Dan kefatalan saya ialah mengizinkannya ikut. Alasan saya itu dasarnya ceroboh, “rasa enggak enak sama temen”. Ini seharusnya tidak berlaku di gunung.   

Mendaki gunung dengan sendal jepit itu dampaknya bisa panjang untuk kategori gunung yang lebih serius, disamping juga perjalanan jadi tidak nyaman. Tapi, itu masih tergantung dari masing-masing orang. Bebas-bebas saja, tergantung kesukaan, yang penting tahu resiko. (Dadang Sukandar).