Harta Terpendam Di Pegunungan Salju Papua
Determinasi manusia di bumi membuat kehidupan alam semakin kompleks. Kompleksitas tersebut membuat tekanan-tekanan kehidupan di permukaan bumi dan menuju pada kerusakan habitat-habitat lingkungan yang kaya akan keanekaragaman hayati. Perkiraan tingkat kepunahan spesies di seluruh dunia berkisar antara 100.000 setiap tahun.
Fenomena seperti pemanasan global (Global Warming) adalah akibat dari intesitas penggunan bahan bakar dan freon untuk aktivitas kehidupan manusia yang membuat perangkap ultra violet di atmosfer sehingga suhu bumi semakin tinggi. Pemansan global tersebut kini telah menyusutkan gletser-gletser di Pegunungan salju Papua. Untuk ukuran yang lebih kasat mata, penebangan liar hutan dan penambangan minyak dan mineral bumi sering dituding sebagai sumber-sumber pencemar limbah yang merusak keharmonisan ekosistem alam.
Kerusakan demi kerusakan alam seperti ini dirasakan semakin menyurutkan kesempatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan terjebak pada kondisi bertahan dari gangguan buruknya lingkungan. Menurut prediksi penelitian-penelitian, pemanasan global akan menimbulkan efek jangka panjang yang membahayakan, kelaparan, penyebaran penyakit dan mengancaman kepunahan berbagai mahluk hidup.
Dalam berbagai forum internasional telah dibahas keprihatinan atas masalah global ini. Dan sebagai hasil, telah disepakati adanya tuntutan untuk mengintensifkan konservasi keanekaragaman hayati (Biodiversitas) demi kelestarian dan pemanfaatannya sekarang maupun masa yang akan datang yang pada masa belakangan kumandangnya semakin kencang. Konservasi keaneka ragaman hayati ini, selain untuk melindungi juga untuk kemungkinan pemanfaatannya di masa mendatang secara berkelanjutan. Untuk hal tersebut, diperlukan strategi dan kebijakan global, regional dan nasional yang harmonis. Masalah lingkungan adalah maslah global, dirasakan semua umat manusia di dunia.
Atas kesadaran global ini, pada tahun 1992 pemimpin-pemimpin dunia yang menghadiri KTT Bumi (Earth Summit) di Rio de janeiro Brazil telah sepakat dan menandatangani Konvensi Tentang Keanekaragaman Hayati (Convention On Biological Diversity/ CBD) yang ditandatangani oleh 54 kepala negara dan pemerintahan. Konvensi tersebut telah diratifikasi oleh Indonesia dengan Undang-undang No. 5 Tahun 1994 Tentang Pengesahan United Nations on Biological Diversity. Hingga kini, 145 negara telah meratifikasi konvensi tersebut. Konvensi ini pada intinya memberi panduan menyeluruh mengenai strategi perlindungan keanekaragaman hayati untuk mencegah krisis akibat kepunahan hayati dunia dan membuat kehidupan hayati masa depan semakin terlindungi.
Keanekaragaman hayati yang popular dengan istilah biodiversitas (Biodiversity) secara ringkas dapat dikatakan sebagai variasi besar tipe ekosistem, spesies dan genetika binatang, tumbuhan dan mikroorganisme yang hidup di bumi. Terminologi ini mengacu pada semua atau salah satu hal berikut: (a) Keanekaragaman Ekosistem (Variasi Ekosistem) (b) Keanekaragaman Spesies (Kekayaan Spesies) (c) Variasi Intra Spesies (Keanekaraaman Genetik).
Klasifikasi permukaan bumi atas darat, laut, sungai, gunung dan gurun membuat kehidupan mahluk hidup terdesak dan melakukan penyesuaian-penyesuaian alam, menyebar ke sudut-sudut permukaan bumi. Interaksinya satu sama lain membuat ekosistem-ekosistem baru dan penyebaran ini membuat mahluk hidup semakin beraneka ragam.
Para peneliti telah mengidentifikasi, ada sekitar 175.000 spesies di muka bumi ini yang sebagian besar adalah mahluk hidup kecil seperti serangga atau mikroorganisme. Namun, beberapa eksplorasi setingkat ekspedisi ke pedalaman hutan dan gunung yang telah dilakukan menunjukan, masih ada kehidupan-kahidupan di alam liar yang belum teridentifikasi. Dalam ekspedisi Foja di pegunungan Foya sekitar sungai Membramo, Papua oleh Conservation Internastional pada 2005 lalu telah ditemukan sekitar 20 sub spesies Katak baru dan Cendrawasih spesies Parotia Berlepschidan. Ini menunjukan, kehidupan alam liar masih menyisakan mahluk-mahluk yang masih belum dikenal. Kondisi keanekaragaman hayati masih dapat dioptimalkan.
Keanekaragaman hayati di dunia berperan penting untuk berlanjutnya proses evolusi serta terpeliharanya keseimbangan ekosistem dan kehidupan biosfer. Sementara saat ini, keanekaragaman hayati sedang mengalami pengurangan dan kehilangan nyata karena kegiatan tertentu manusia yang dapat menimbulkan terganggunya keseimbangan sistem kehidupan di bumi yang pada gilirannya akan mengganggu berlangsungnya kehidupan manusia.
Indonesia sebagai negara tropis dan kepulauan, tidak diragukan lagi keanekaragaman hayatinya. Dengan jumlah 17.000 pulau yang terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Pasifik dan India), Indonesia memiliki sejumlah besar spesies asli yang sebagian besar bersifat endemik.
Identik dengan negara ”megadiversity”, Indonesia memiliki 10% tumbuhan berbunga yang ada di dunia, 12% binatang menyusui, 16% reptilia dan amfibi, 17% burung, 25% ikan dan 15% serangga (Bappenas, 1993). Satwa Indonesia juga mempunyai tingkat endemisitas yang cukup istimewa, sekitar 500-600 jenis mamalia besar, 36% endemik; 35 jenis primata, 25% endemik; 78 jenis paruh bengkok, 40% endemik; dan dari 212 jenis kupu-kupu, 44% endemik (Laporan Profauna).
Dari sejumlah itu, Papua dapat dikatakan sebagai penyumbang keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Lebih dari 80% wilayah Papua merupakan habitat alam yang diduga memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, mulai dari daerah laut, pantai, dataran tinggi sampai pegunungan. Dari penelitian-penelitian keanekaragaman hayati yang telah dilakukan di Papua telah ditemukan spesies-spesies baru yang menunjukan semakin kayanya keanekaragaman hayati di Papua. Penemuan-penemuan ini merupakan indikasi tingginya keanekaragaman hayati Papua yang belum teridentifikasi.
Keanekaragaman Hayati Pegunungan Tengah
Pegunungan Tengah sebagian besar terletak di kawasan Taman Nasional Lorentz. Secara fisiografi, Pegunungan Tengah terdiri dari puncak-puncak gunung tertinggi di Indonesia. Daerah ini secara umum berbentuk periglasial seperti moraine, danau es yang mencair dan bukit kecil diatas topografi karst dari formasi kapur yang tajam terbentuk karena peluruhan. Lebih ke utara, lereng yang menurun di Cordillera Tengah menyebabkan terjadinya dataran tinggi Zengillorong dan Kemabu. Pada puncak-puncak gunung tinggi terdapat selimut padang salju, gletser Carstensz dan Meren Puncak Jaya, mewakili tiga dari wilayah gletser khatulistiwa di dunia, pegunungan Andes dan Kilimanjaro.
Dipisah oleh lembah Meren dan lembah Kuning, Pegunungan Tengah terbagi atas dua jejeran pegunungan bersalju pada puncaknya di sebelah utara dan selatan. Di utara lembah Meren terdapat dinding-dinding batu tebing curam yang memanjang mulai dari puncak Wachter di bagian barat meluruh ke timur dan klimaksnya di sebelah barat yang dinamakan Puncak Jaya. Antara Wachter dan Puncak Jaya dipisah oleh New Zealand Pass, tempat yang lebih rendah yang merupakan akses ke dataran tinggi Kemabu.
Di selatan lembah kuning, jejeran pegunungan Carstensz menjulang curam mulai dari Zebra Wall di sebelah barat sampai ke timur yang merupakan titik tertinggi puncak Carstensz Pyramid (4884 meter). Lebih ke timur, tempat yang lebih rendah diantara Puncak Jaya dan Carstensz Pyramid, terdapat Carstensz Timur yang diselimuti salju.
Pada lembah Meren yang ketinggiannya antara 4000 meter – 4200 meter terdapat beberapa danau dari salju yang mencair. Secara fisiografi, lembah Meren dan lembah kuning di kepung oleh dinding-dinding curam Puncak Jaya dan Carstensz Pyramid, membuat lokasi ini sulit diakses selain dari New Zealand Pass dan lokasi pertambangan PT. Freeport di sebelah barat. Sedang akses paling mudah menuju puncak-puncak gununug di kawasan ini dapat melalui lembah Meren dan lembah Kuning.
Dengan ketinggiannya yang rata-rata diatas 4000 meter diatas permukaan laut, vegetasi Pegunungan Tengah termasuk dalam kategori Alpine. Kawasan ini hampir-hampir tak pernah bebas dari sengatan dingin dan cuaca yang tak menentu. Boleh jadi pagi hari langit cerah, siang hujan mulai turun dan sepanjang sore hingga pagi salju yang basah melayang di udara ketika suhu mencapai yang terendah. vegetasi kawasan ini umumnya berupa tumbuhan tingkat rendah seperti savana, lumut dan alga.
Pada bagian puncak Jaya umumnya didominasi rerumputan (Deschampsia klossii). Di daerah berbatu Moraine di sekitar lembah Meren pada ketinggian antara 4000 meter – 4200 meter banyak terdapat Tetramolopium kolssii - Rhacumitrium. Di danau Biru pada ketinggian 4020 meter terdapat plankton dan Zooplankton. Terdapat juga jenis alga yang hidup di daerah gletser (Cryvegetation).
Jenis-jenis vegetasi tersebut merupakan beberapa hayati yang telah berhasil diungkap melalui survey-survey ekspedisi terdahulu. Namun, Pegunungan Tengah merupakan lokasi pegunungan yang sebagian besar berupa bagian-bagian curam berbentuk tebing ratusan meter. Dari dugaan beberapa peneliti yang mengklaim banyaknya. keanekaragaman hayati papua yang berlum teridentifikasi, maka masih dapat diduga pula adanya vegetasi-vegetasi untuk koleksi tambahan yang mungkin tumbuh di sekitar punggung-punggung gunung yang curam tersebut.