Three Some Hakim Edan
Three Some Hakim Edan
Roni baru setengah setahun bekerja di kantor hukum Bustomi & Partner sebagai paralegal. Bulan-bulan pertama bekerja di kantor itu benar-benar melelahkan. Setumpuk dokumen hukum harus ditanganinya setiap hari kerja sampai tengah malam. Bisa pulang kerja jam sembilan malam sudah sangat bersyukur. Jangankan memikirkan naik gunung, mikir bisa istirahat cukup saja sudah syukur. Tapi ia tidak banyak mengeluh. Bayaran 3,5 juta perbulan sebagai gaji sudah dianggapnya pantas karena masih fresh graduate.
Suatu hari, ketika sedang mewakili pak Bustomi, asosiate kantor hukum yang terkenal licin seperti belut, Romi diminta menemui hakim Subroto di ruangannya untuk membicarakan kasus korupsi seorang klien tajir kantor hukum Bustomi dan Rekan. Ia mewakili bosnya pak Bustomi yang pada hari itu ada dua sidang sekaligus di tempat lain untuk sebuah kasus pidana.
Roni menelisik lorong-lorong di belakang ruangan sidang, menuju kantor Pak Subroto ketika mendapat pesan SMS berantai dari Pak Subroto ke Pak Bustomi lalu Roni. Kemeja putihnya yang kebesaran mengenakan dasi yang kendur. Jakarta panas sekali.
Ketika memasuki ruangan hakim, masih ada seorang pengacara pidana yang sedang melakukan negosiasi dengan hakim Subroto. Pengacara baya dengan kemeja biru dan rambut kemilaunya. Hakim menunjuk Roni dan mengacungkan jarinya ke arah kursi di belakang pengacara berbaju biru itu. Seolah menyuruhnya duduk.
“Pak Hakim, klien saya ini bukan orang elit, bukan orang kaya juga. Lagian dakwaan Jaksa atas korupsi seratus juta pada klien saya ini juga tidak terlalu kuat bukti-buktinya. Saya rasa lima puluh juta harga yang pantas untuk putusan bebas”, sang pengacara pidana klimis itu mengemis di depan hakim Subroto. “Siapa bilang tidak kuat?”, nada suara hakim meninggi. “Saya dan Jaksa punya kartu as untuk menginapkan klien kamu itu seumur hidup di penjara”, kata sang Hakim lagi. “Yang perlu kamu lakukan adalah menambah beberapa puluh juta lagi. Dan putusan bebas besok akan saya bacakan. Sudah, tidak ada tawar-tawaran lagi”, tutup sang hakim. “Baiklah pak, akan saya usahakan. Saya bicarakan dulu dengan klien saya. Sekarang saya pamit”, pengacara itu bersalaman dan langsung keluar pintu tanpa memandang Roni.
“Anak muda!”, sapa hakim pada Roni dengan akrab dan semangat. Roni hanya senyum, tak tahu apa yang harus diperbuatnya lagi. Ini kali pertama ia di ruang kerajaan mafia hakim. “Saya sudah telepon pak Bustomi”, hakim itu merangkul pundak Roni. “Sudah lama saya ndak ketemu pa Bustomi. Katanya dia sibuk sekali. Dia memang pengacara pintar, saya suka sekali dengan pengacara seperti dia”. “Ia pak. Pak Bustomi juga titip salam buat bapak”, hanya itu yang bisa dikatakan Roni.
“Oh ya. Bagaimana soal permintaan saya pada pak Tomi tempo hari. Katanya kamu bisa bantu?”, Roni dan sang hakim sudah di sofa yang nyaman. “Bantu apa pak ya?”, Roni setengah bingung. “Pak Bustomi belum cerita sama kamu?”, hakim itu sedikit heran. “Kata pak Bustomi saya diminta untuk membicarakan klien kami yang didakwa korupsi kredit Bank. Cuma itu. Katanya pak Hakim yang akan menjelaskannya pada saya”, Roni merasa canggung..
“Itulah pak Bustomi. Selalu mengajarkan pegawai-pegawainya dengan terjun langsung pada masalah”, hakim itu tersenyum lebar. “Begini. Kamu belum lam lulus kuliah hukum kan?”, tanya hakim. “Saya lulus sekitar satu tahun lalu pak”, jawab Roni. “Bagus. Berarti kamu masih kenal kan sama junior-junior kamu di kampus?”, hakim itu agak malu-malu. “Yah… kadang saya masih bertemu mereka. Memang kenapa pak?”.
“Saya dengar di kampus kamu banyak gadis-gadis cantiknya yang biasa diajak kencan. Semacam ayam kampus gitu lah. Kamu ada kenalan seperti itu? Atau orang yang bisa mencarikannya mungkin?”. “Ada pak. Tapi untuk apa ya?”, roni lebih heran lagi.
“Ya untuk saya. Kamu bisa usahakan satu?”, muka hakim itu terlihat nakal. Roni lama tak menjawab. Berpikir apa yang sedang terjadi dan apa yang harus ia lakukan. Namun, Roni ingat pesan singkat SMS pak Bustomi, “Demi klien kita, turuti apa yang hakim minta!”. Adakah yang membuat Roni menolaknya?
“Baik pak. Bapak mau yang seperti apa? Kapan dan dimana saya antar?”, tanya Roni to the point. “Aha… ha… ha… soal selera, saya kira selera muda kamu lebih hebat. Pokoknya gadis yang masih fresh ajalah, cantik dan putih. Saya lebih suka yang seksi dan agresif. Malam minggu besok jam tujuh malam kamu antarkan ke apartemen Ramona, lantai 5 nomor 507. Ok Ron?”. “Baik pak!”.
*
Apartemen Ramona tidak terlalu bergengsi. Apartemen nomor 507 milik hakim itu juga jarang ditempati kecuali kalau weekend. Kebanyak untuk nego-nego harga putusan dan kencan-kencan buta sang hakim.
Tepat pukul tujuh malam, Roni tiba bersama Sita, mahasiswi cantik junior Roni di kampusnya dulu. Dibalik tank top dan jaket denimnya terbungkus sekujur tubuh putih langsat yang halus. Wanginya menyebar ke seluruh lorong lantai 5 apartemen Ramona. Roknya yang mini sengaja diberi belahan samping. Dan mulutnya masih mengulum-ngulum permen karet.
Sang hakim membuka pintu ketika Roni mengetuk. “Selamat malam pak. Ini kenalkan pak, Sita”, Roni mengenalkan Sita pada hakim. “Halo sayang, senang jumpa kamu”, kata hakim sambil meraih tangan Sita, bersalaman lalu mencium jari jemarinya. Sita hanya tersenyum dengan senyumannya yang nakal.
“Halo juga pak. Bapak sendiri aja?”, tanya Sita memulai. “Jangan panggil aku Pak dong Sita. Panggil saja aku mas, mas Broto”, hakim itu terkekeh. “Iya mas Broto”. “Kalau begitu, saya pamit dulu pak”, Roni memohon diri.
“Hey Ron, mau ke mana kamu?”, tanya hakim. “Tugas saya sudah selesai kan pak. Sekarang saya mohon diri. Nanti malah mengganggu”, Roni jadio merasa tidak enak. “Enggak-enggak. Kamu tetap disini menemani kami”, paksa sang hakim. “Menemani?”, Roni benar-benar heran. “Iya, menemani!”, hakim itu menegaskan. “Maksudnya pak?”, tanya Roni memastikan. Hakim itu mendekatkan mulutnya ke telinga Roni sambil berbisik, “Saya mau three some”. Roni memandang hakim itu sambil menelan ludah, “Glek!”. (Dadang)