Welcome Café Debu-debu, Puncak Slamet
Welcome Café Debu-debu, Puncak Slamet
Tiga bulan menjelang pelantikan sebagai Gubernur, Sri Sultan minta diletakan fotonya di goa di sekitar puncak gunung Slamet. Fotonya enggak dibawa sendiri, dititipkan sama penjaga administrasi gerbang jalur mendaki gunung Slamet dari arah Bangbangan.
Cerita itu ditularkan penjaga gerbang Slamet begitu saja dan tidak memberi pengaruh apa-apa buat acara naek gunung Slamet anak-anak Mapala UI pada weekend 11-13 Agustus minggu lalu. Cerita biasa soal mitos gunung yang sering kita dengar juga kalau naek gunung dimana-mana.
Waktu di dinding sudah jam tiga pagi. Start naek Slamet dimulai dari bawah suhu dingin angin gunung yang membawa aroma-aroma tanaman ladang kentang dan jagung. Sepi, kecuali suara-suara rebana dan Qasidah yang diputar di mesjid sepanjang malam sampai pagi.
Dengan ransel-ransel gunung di pundak, dan dibawah lindungan cahaya headlamp, ladang jagung sepanjang satu jam menanjak menjadi menu pertama selepas gerbang start mendaki Slamet dari arah Bangbangan. Beriring berjalan menanjak, Rekso, Awo, Dadang, Agam dan Maul. Sementara Jamal, Sulung, Cipto dan Ega sudah jalan lebih dulu kemarinya untuk mendirikan advance camp di pos 7. Itu kabar dari Sulung di pos 7 via sms ketika rombongan terakhir start naik.
Menuju pos satu di tengah ladang jagung, tanjakannya pendek-pendek, tapi sanggup membuat nafas memompa hidung dan jantung lebih cepat. Rasanya ini cuma efek aklimatisasi saja menjumpai ketinggian baru. Dan setelah “on the zone” dalam beberapa jam, enggak kerasa pos demi pos dilalui. Sampai di pos Samyang Ketebon, matahari sudah meniupkan teriknya. Sulung dan Jamal yang sudah naek dari Kamis siang kemarinnya cuma ketawa-ketawa menyambut.
Total perjalanan, dikurang waktu-waktu istirahat, sekitar sembilan jam dari Bangbangan ke pos 7 Samyang Ketebon. Ini jadi prestasi yang membuat kita-kita tersenyum sendiri. Pasalnya, dalam beberapa laporan perjalanan ke sana, total mendaki standarnya sepuluh jam. Dan Agam yang senyumnya paling lebar karena merasa usianya mendekati kepala enam. Dengan beban enam liter air di ransel dan godaan-godaan Awo untuk bongkar tenda di tanah-tanah lapang sepanjang jalur mendaki.
Pos Samyang Ketebon bukan tujuan terakhir. Pos ini masih di sekitar Pelawangan, batas antara vegetasi gunung dan undakan batu-batu vulkanik menuju puncak gunung Slamet. Layaknya kebiasaan naek gunung, puncak gunung adalah tujuan mutlak dengan sedikit keberuntungan. Dan puncak Slamet masih dua jam di muka pos 7 Samyang Ketebon.
Waktu matahari baru muncul sedikit pada hari Minggunya, rombongan mendaki dari Bogor dan Jagakarsa yang melewati bangunan seng pos Samyang Ketebon membangunkan tidur yang pulas. Sebotol Black Label dan beberapa linting kanabis sisa api unggunan semalam membuat bangun tidur jadi telat dari yang seharusnya jam empat pagi. Jam yang direncanakan untuk muncak Slamet. Dan ketika keluar dari sleeping bag, beberapa rombongan mendaki sudah mengantri diatas sana, di jalur terbuka bebatuan antara Pelawangan - puncak Slamet.
Tanpa mau kalah finish, satu persatu berhamburan meninggalkan Samyang Ketebon menghajar puncak Slamet. Dengan mengambil jalur bebatuan diluar jalur utama yang mengantri, jalur seharga dua jam perjalanan itu dilalui Rekso dalam lima puluh lima menit. Menyusul, Awo beberapa menit setelahnya lalu Agam yang satu jam lima belas menit ketika Cipto, Ega dan Maul masih merangkak diantara batu-batu yang dingin.
Ketika foto grup dan buah kalengan, rombongan mendaki dari Bogor dan Jagakarsa sudah mulai turun ke kemah masing-masing di bawah Pelawangan. Dalam hitungann menit, rombongan mereka yang masih tersangkut di jalan batu sempat dilewati. Ada yang lari, berjalan ada juga yang merangkak. Yang pertama tiba di Samyang Ketebon tidak sampai setengah jam. Lari!
Sebenarnya ini bukan lomba kebut gunung atau speed climbing, cuma mau ukur kemampuan fisik di gunung aja. Dengan pikiran liar dan suasana santainya. Baik tua maupun muda, rasanya sama saja.
Tiba di Samyang Ketebon matahari sudah benar-benar terik. Beberapa rombongan mendaki yang melewati Samyang Ketebon mengenakan penutup mulut dan hidung, menghindari menghisap debu-debu disepanjang jalur. Di Slamet sudah dua bulan enggak turun hujan. Dan enggak setetspun air yang membasuh mas Slamet ini. Debu kering dimana-mana, rumput, pohon atap bangunan pos sampai makanan di atas kompor. Selain Samyang Ketebon, kita namakan juga bangunan pos ini “café Debu-debu”.
Selesai packing, turun gunung jam 11.00 lewat jalur yang sama menuju Bangbangan. Ini terjadi perubahan mendadak dari rencana semula yang turun lewat jalur Kaliwadas. Karena alasan jarak dan waktu, diputuskan turun lewat Bangbangan lagi ketika sebelum naik. Tapi alasan sejujurnya dari semua ini adalah, MALES!. Males ngebayangin ngangkat ransel lagi lalu nanjak menuju puncak dan nyebrang kawah Slamet kearah Kaliwadas dipecahan jalur yang ke Baturaden. Kalau ditotal, bisa tiga belas jam jalan naik turun.
Rombongan yang pertama tiba di Bangbangan, Awo, Maul, Dadang, jam 12.40. Total turun gunung sekitar satu jam empat puluh menit dengan melewati beberapa rombongan mendaki yang sudah turun duluan dari pos kemah atas. Paling akhir, Sulung tiba jam 15.00 dengan sedikit cedera pada pahanya. Tiba di Bangbangan enggak satupun dengkul yang enggak bergetar.
Tapi, pekerjaan-pekerjaan gunung belum selesai buat Ega, Maul dan Cipto. Mereka tiga orang mahasiswa fakultas hukum UI angkatan 2005 yang berminat ikutan BKP Mapala UI awal 2007 besok. Sebagai bacang (Bakal caang), aturan-aturan urut nomor dan senioritas enggak mungkin dilepas dari mereka. Dan aturan itu cuma berlaku untuk bikin teh manis, potongin kue lapis legit dan pelayanan ini itu lainnya yang sederhana. Seperti Shaolin, belajar nimba air dan kuda-kuda dulu sebelum jurus mautnya.
Belum hilang rasa lelah kaki yang mau copot ini, isu naik gunung lagi udah mulai disemangati. Padahal pulang sampai Jakarta pun belum. Naik gunungnya itu ke Sumbing atau Sundoro di Wonosobo sekitar September sebelum puasa. Lewat Kledung Pass diantara Sundoro-Sumbing. Mungkin kalau diseriuskan ini bisa jadi olah raga alternatif pengganti golf, yang kata Agam, “Golongan Orang Lemah Fisik” : )
dadang
August 22nd, 2006 at 6:05 am
daads……
fotonya dong…
hue he.. salam buat anak-anak sekret ya..
Agung Yuni/M-613-UI
August 30th, 2006 at 2:20 am
Salam kenal. Kita memang belum pernah ketemu, apalgi kenal. tapi..aku sangat tertarik dgn pengalamanmu ini. jadi pgn mengalami dan mengenal slamet juga.
ada rencana ke Mahameru?atau sudah pernah berkali2?
August 31st, 2006 at 12:59 am
salam kenal ya….tulisan2 loe tuh bagus banget….kalo bisa sich di lengkapi ma peta n jalur pendakian…kan top banget…jadi itung2 bantuin kita2 yang belum pernah ke slamet…gw pernah rencana kesana tapi belum kesampain sampe sekarang
hehehe bener juga tuh….golf mang buat orang2 yang lemah fisik…
August 31st, 2006 at 1:00 am
salam kenal ya….tulisan2 loe tuh bagus banget….kalo bisa sich di lengkapi ma peta n jalur pendakian…kan top banget…jadi itung2 bantuin kita2 yang belum pernah ke slamet…gw pernah rencana kesana tapi belum kesampain sampe sekarang
hehehe bener juga tuh….golf mang buat orang2 yang lemah fisik…
August 31st, 2006 at 9:46 pm
wah… tulisannya mas dadang bagus2 dan menarik !..
salam kenal yaa..
jadi pengen baca bukunya mas dadang neh!