dadzfla

look up there… the world is so high…

Archive for October, 2006


Sepatu Panjat Tebing

Keutamaan sepatu panjat tebing adalah pada keampuhan karet solnya untuk mencengkram tebing. Kelenturan sol mengikuti bentuk permukaan tebing yang tidak berarturan sehingga menghasilkan friksi dan membuat rute-rute panjat yang sulit menjadi biasa-bisa saja.

Sekarang, untuk mendapatkan sepatu-sepatu panjat dengan ramuan karet yang paling lengket tidak terlau sulit. Namun, meski lengket, sepatu belum tentu cocok dengan kondisi tebingnya. Tidak semua tebing punya karakter yang sama. Hal terpenting memilih sepatu panjat adalah pada jenis permukaannya yang akan dipanjat. Untuk memanjat celah lebar (Wide crack), sepatu yang tinggi hingga menutupi mata kaki lebih sesuai. Sepatu umumnya memiliki sol yang keras (Hard sole) dan efektif memanjat celah lebar. Bentuknya yang tinggi dapat melindungi mata kaki ketika disumpalkan ke celah lebar. Ini untuk menghindari resiko keseleo.

Untuk tebing yang vertikal dan mulus, sepatu yang tinggi dengan sol keras kurang sesuai. Celah-selah tebing seperti ini membutuhkan sol yang lebih lembut supaya ujung-ujung kaki dapat merasakan pijakan batu tebingnya. Namun, bagi pemanjat pemula sebaiknya menggunakan sol yang keras. Umumnya, pemanjat pemula kurang fokus pada gerakan kaki, sehingga kalau memanjat cenderung menyeret-nyeret sepatu. Sol yang keras membuatnya awet.

Supaya kaki tidak selip, sebaiknya didalam sepatu tidak terdapat rongga yang dapat membuat kaki bergeser. Oleh karena itu, pilihlah nomor yang sesuai. Maksudnya, sepatu menempel erat pada kaki, tapi tidak menyiksa. Untuk memiih sepatu, piihlah 1 atau 1,5 dibawah ukuran sepatu biasa. Misalnya, untuk kaki nomor 7, pilihlah sepatu nomor 6 atau 5,5. Ini supaya sepatu tidak teralu ebar melarnya setelah beberapa kali digunakan.

ROCK CLIMBING, Panduan Praktis Panjat Tebing.

Message In The Botle

Ketika mengawasi tim panjat tebing dari kapal di laut, saya melihat tiga sosok tubuh menyelinap dari arah timur, dari balik rerimbunan hutan pinus. Mereka terhubung dangan tali pengaman satu sama lain. Saya memperhatikan mereka dengan teropong. Seorang dari mereka yang perempuan turun ke dasar tebing di Swater Hook dengan tali, sementara dua lainnya, yang laki-laki, mereyapi permukaan tebing menuju teras besar di atasnya. Setelah memperhatikan lebih dekat, mereka adalah rekan-rekan pemanjat tebing asal Lampung, Piton, Lodong dan Ayak.

Beberapa hari yang lalu ketiganya pamit pada kami di Legon Cabe. Katanya mereka akan susur pantai, mengelilingi pulau Rakata Besar kearah timur lalu muncul kembali di Legon Cabe dari arah barat. Dalam hitungan hari, kami bertemu kembali dengan mereka di permukaan tebing yang curam, di sebelah utara pulau yang memotong lingkaran keliling pulau Rakata Besar. Mereka masuk dari sisi timur permukaan tebing, dari balik hutan, kemudian merayapi dinding utara Rakata Besar.

Saya tidak pasti apa yang sedang mereka lakukan. Komunikasi sulit dilakukan karena kencangnya angina laut. Suara kami, walau sudah teriak sekuat tenaga, hilang begitu saja ditelan kemegahan tebing. Saya hanya tahu kalau Piton dan Lodong saat itu sedang memanjat lebih tinggi, kearah teras besar, kemudian melanjutkan pemanjatannya dari tempat itu ebih tinggi lagi. Sementara, Ayak yang menuruni tebing sudah bersama kami di kapal.

Sampai matahari memerah, Lodong dan Piton belum juga turun. Seluruh anggota tim kami sudah turun ke kapal. Kami sempat menunggu Lodong dan Piton beberapa lama agar dapat kembali ke base camp di Legon Cabe bersama-sama. Namun, keduanya tak juga muncul sehingga kami mulai khawatir. Seorang dari kami di kapal melihat botol minuman  yang jatuh. Botol tersebut tersangkut di tengah-tengah celah tebing.

Kami sempat bertanya pada Ayak, rekan mereka yang sudah di kapal bersama kami, apakah rekan-rekannya itu berencana menginap di tebing? Apakah mereka membawa perlengkapan menginap? Gadis itupun tidak dapat memastikannya. Yang ia tahu, kedua rekannya itu membawa sekotak susu dan ponco (jas hujan). Jadi, kalaupun mereka hendak menginap, hal itu masih dapat mereka lakukan dengan nyaman.

Akhirnya kami menyimpulkan bahwa mereka akan menginap di teras besar. Itu suatu hal yang wajar dilakukan oleh pemanjat tebing bilamana kemalaman di tebing. Kamipun pulang ke Legon Cabe tanpa Lodong dan Piton.

Esoknya, seperti biasa, pagi-pagi kami sudah `bekerja` di tebing. Agi, Yoshua dan Daus mulai menaiki tebing dengan meniti fixed rope sambil merapihkan tali-tali yang semalam berantakan tertiup angin. Saya meminta mereka supaya mengecek kedua rekan asal Lampung itu lebih dulu setibanya mereka di teras besar.

Tiba-tiba, dari radio komunikasi yang menghubungkan pemanjat dengan kapal terkirim berita, “Yoshua mengabarkan bahwa kedua orang tim dari Lampung mengalami kecelakaan”. Kabarpun dikirim balik, “Hentikan pemanjatan dan fokuskan pada evakuasi korban”.

Semua pemanjat segera menyerbu teras besar. Saya yang waktu itu di kapal ikut menyusul naik untuk membantu. Piton, mengalami luka-luka. Separuh kakinya terparut batu-batu tebing. Celananya sampai robek,robek. Katanya, pengaman mereka jebol sewaktu menambah ketinggian kemarin sore. Untungnya, mereka masih sadar dan masih sanggup turun tebing dengan dibantu Agi dan Yoshua. Setengah hari itu kami habiskan untuk evakuasi korban.

Ternyata Lodong dan Piton mengalami kecelakaan kemarin sore ketika tim kami sudah turun ke dasar tebing. Semalaman mereka hanya bisa menunggu di tempat itu dengan tubuh yang terluka. Mereka mencoba mengabari kami dengan melempar botol minuman yang berisi sebuah pesan di dalamnya. Kemarin, kami juga melihat botol itu, tersangkut di celah tebing. Kami sama sekali tidak menduga kalau botol itu adalah pesan buat kami. Maaf ya kawan…!

Berburu Nyali Di Tebing Emas.

Message In The Botle

Ketika mengawasi tim panjat tebing dari kapal di laut, saya melihat tiga sosok tubuh menyelinap dari arah timur, dari balik rerimbunan hutan pinus. Mereka terhubung dangan tali pengaman satu sama lain. Saya memperhatikan mereka dengan teropong. Seorang dari mereka yang perempuan turun ke dasar tebing di Swater Hook dengan tali, sementara dua lainnya, yang laki-laki, mereyapi permukaan tebing menuju teras besar di atasnya. Setelah memperhatikan lebih dekat, mereka adalah rekan-rekan pemanjat tebing asal Lampung, Piton, Lodong dan Ayak.

Beberapa hari yang lalu ketiganya pamit pada kami di Legon Cabe. Katanya mereka akan susur pantai, mengelilingi pulau Rakata Besar kearah timur lalu muncul kembali di Legon Cabe dari arah barat. Dalam hitungan hari, kami bertemu kembali dengan mereka di permukaan tebing yang curam, di sebelah utara pulau yang memotong lingkaran keliling pulau Rakata Besar. Mereka masuk dari sisi timur permukaan tebing, dari balik hutan, kemudian merayapi dinding utara Rakata Besar.

Saya tidak pasti apa yang sedang mereka lakukan. Komunikasi sulit dilakukan karena kencangnya angina laut. Suara kami, walau sudah teriak sekuat tenaga, hilang begitu saja ditelan kemegahan tebing. Saya hanya tahu kalau Piton dan Lodong saat itu sedang memanjat lebih tinggi, kearah teras besar, kemudian melanjutkan pemanjatannya dari tempat itu ebih tinggi lagi. Sementara, Ayak yang menuruni tebing sudah bersama kami di kapal.

Sampai matahari memerah, Lodong dan Piton belum juga turun. Seluruh anggota tim kami sudah turun ke kapal. Kami sempat menunggu Lodong dan Piton beberapa lama agar dapat kembali ke base camp di Legon Cabe bersama-sama. Namun, keduanya tak juga muncul sehingga kami mulai khawatir. Seorang dari kami di kapal melihat botol minuman  yang jatuh. Botol tersebut tersangkut di tengah-tengah celah tebing.

Kami sempat bertanya pada Ayak, rekan mereka yang sudah di kapal bersama kami, apakah rekan-rekannya itu berencana menginap di tebing? Apakah mereka membawa perlengkapan menginap? Gadis itupun tidak dapat memastikannya. Yang ia tahu, kedua rekannya itu membawa sekotak susu dan ponco (jas hujan). Jadi, kalaupun mereka hendak menginap, hal itu masih dapat mereka lakukan dengan nyaman.

Akhirnya kami menyimpulkan bahwa mereka akan menginap di teras besar. Itu suatu hal yang wajar dilakukan oleh pemanjat tebing bilamana kemalaman di tebing. Kamipun pulang ke Legon Cabe tanpa Lodong dan Piton.

Esoknya, seperti biasa, pagi-pagi kami sudah `bekerja` di tebing. Agi, Yoshua dan Daus mulai menaiki tebing dengan meniti fixed rope sambil merapihkan tali-tali yang semalam berantakan tertiup angin. Saya meminta mereka supaya mengecek kedua rekan asal Lampung itu lebih dulu setibanya mereka di teras besar.

Tiba-tiba, dari radio komunikasi yang menghubungkan pemanjat dengan kapal terkirim berita, “Yoshua mengabarkan bahwa kedua orang tim dari Lampung mengalami kecelakaan”. Kabarpun dikirim balik, “Hentikan pemanjatan dan fokuskan pada evakuasi korban”.

Semua pemanjat segera menyerbu teras besar. Saya yang waktu itu di kapal ikut menyusul naik untuk membantu. Piton, mengalami luka-luka. Separuh kakinya terparut batu-batu tebing. Celananya sampai robek,robek. Katanya, pengaman mereka jebol sewaktu menambah ketinggian kemarin sore. Untungnya, mereka masih sadar dan masih sanggup turun tebing dengan dibantu Agi dan Yoshua. Setengah hari itu kami habiskan untuk evakuasi korban.

Ternyata Lodong dan Piton mengalami kecelakaan kemarin sore ketika tim kami sudah turun ke dasar tebing. Semalaman mereka hanya bisa menunggu di tempat itu dengan tubuh yang terluka. Mereka mencoba mengabari kami dengan melempar botol minuman yang berisi sebuah pesan di dalamnya. Kemarin, kami juga melihat botol itu, tersangkut di celah tebing. Kami sama sekali tidak menduga kalau botol itu adalah pesan buat kami. Maaf ya kawan…!

Berburu Nyali Di Tebing Emas.