Gunung Raung (Tidak) Memilih
Biasanya, pendaki yang rela tersaruk-saruk di gunung Raung yang tingginya 3332 meter dari permukaan laut (Mdpl) itu, mendaki gunung ini dari bagian utara, dari desa Sumber Wringin di Bondowoso, Jawa Timur. Di sana sudah ada jalur umum dan pos resminya untuk mendaki. Sejak 2002, sejak tim Pataga Universitas 17 Agustus (Pataga Untag) Surabaya membuka jalur mendaki dari arah selatan gunung ini, beberapa tim pendaki mulai banyak yang meluncur ke sana. Menurut pendaki setempat, kurang lebih baru sepuluh klub yang masuk gunung Raung dari selatan, dari kecamatan Kalibaru sejak dibuka 2002. Di tambah satu jalur lagi yang dibuat oleh tim Mapala UI tahun 2003 dari kecamatan Glenmore, maka genap sudah 2 jalur mendaki Raung dari selatan, jalur Kalibaru dan jalur Glenmore. Tapi, hingga kini di dua jalur itu belum ada pos resmi pendakiannya.
Sebab itu pula, mendaki dari Kalibaru atau Glenmore di selatan punya kesulitan sendiri yang lebih khas, dan tentunya lebih sulit karena jalurnya pendakiannya tidak terawat. Kadang-kadang saja dilewati, jedanya bisa sampai berbulan-bulan dan membuat beberapa bagian hutan basahnya rapat lagi, tertutup pohon tumbang, juluran rotan-rotan dan perdu berduri. Kesan rintangan sulit keduanya, adalah saat menjelang puncak setelah melewati bagian hutan. Bagian menjelang puncak ini berupa tebing pasir yang setidaknya 500 meter tingginya. Mendaki bagian ini harus melewati sebuah sadle panjang, punggungan tipis yang lebarnya tidak lebih dari dua meter. Di situ kami berjalan melipir menyerang puncak. Dan di kanan kiri sadle itu, tebing-tebing 500 meter tersebut menganga. Kesan pertamaku, tebing-tebing itu sepertinya meminta korban. Aku sempat menebak-nebak, karena inikah gunung Raung disebut-sebut sebagai The Hardest in Java?
Sepanjang beberapa catatan perjalanan selatan Raung yang kulongok, banyak yang gagal mencapai puncaknya. Kegagalan itu umumnya karena kemampuan peralatan dan keterampilan tali-temali, serta kekurangan air. Dari laporan-laporan itu aku kembali menghitung pendakian Raung via Kalibaru ini, bukan cuma dua kali, tapi berkali-kali. Soal berapa panjang tali yang musti kubawa, pasak tebing piton, kapak es, makanan seminggu, sampai kewajiban tiap pendaki menggondol sepuluh liter air dalam setiap ranselnya. Barang-barang itu kami angkut bersembilan ketika hmendaki Raung lewat Kalibaru pada medio Januari 2007 kemarin. Ketika kuhitung terakhir sebelum berangkat, nampaknya peralatan itu berlebihan, dan berat. Tapi, kalau kukurangi dan bahaya menimpa, tak ada yang bisa kusesali toh.
Karena tidak ada pos pelaporan resmi pendakian, aku melakukan pelaporan aparat keamanan dan birokrasi pemerintahan biasa, alias kepada kapolsek Kalibaru dan kepala dusun Wonorejo. Mereka menerima kami bersembilan dengan senang hati. Maksudku benar-benar senang, antusias, seperti orang daerah yang menerima orang kota yang ingin melihat-lihat desa dan pemandangan gunung. Dan karena senangnya, mereka membantu secara all out. Bahkan, pak Yayan yang kebagian tugas jaga kantor polsek turut membantu mencarikan kendaraan untuk mengantar kami ke dusun Wonorejo. Ia sampai ikut ke batas hutan lengkap dengan pakaian dinas dan pistolnya. Kata pak Yayan, kalau carter mobil sendiri bisa-bisa dicegat sama sopir ojek motor di palang jalan masuk ke desa. Dan itu berarti perlu keluar biaya lebih mahal lagi. Tapi, polisi di sana punya pamor, dihormati. Ketika mobil kami melintasi sekerubungan orang kerja bakti di sebuah pekarangan rumah yang sedang siap-siap pesta perkawinan, semua melambaikan tangan dan berteriak, “Mampir pak Yayan !”. Kami sih, cuma senyum-senyum saja. “Gini-gini, saya juga pernah dilepas di hutan untuk dapetin ini nih!”, kata Pak Yayan sewaktu melepas pendakian di dusun Wonorejo. Dan itu ia kemukakan sambil menunjuk pada badge kepolisiannya dengan bangga.
Pelayanan all out itu kurasa karena kami membawa surat rekomendasi dari Polres Depok, Jawa Barat, kepolisian resort dimana kami tercatat berdomisili. Surat rekomendasi itu lumayan sakti. Maksudku sakti bukan sekedar katebelece, tapi hanya merunut persiapan keamanan pendakian ini sebaik mungkin, koordinasi sana-sini secara baik, jadi kalau terjadi apa-apa tidak hanya ditunjuk-tunjuk kepalanya sambil disalah-salahkan, tapi benar-benar dibantu karena koordinasinya rapih. Sampai sini saja, kurasa kami sudah mengumpulkan poin memenangkan sebuah pendakian. Tinggal itu tuh yang terlupa, mohon izin masuk ke tanah kekuasannya Perhutani. Kawasan hutan Raung secara keseluruhan di bawah pengawasan dan kekuasaan pihak Perhutani, jadi ibaratnya mereka adalah wakil negara pemilik tanah dan hutan gunung. Tuan tanahnya. Sementara, polisi dan aparat desa adalah koordinasi keamanan kalau terjadi darurat gunung, semacam SAR gitu lah. Untuk izin perhutani ini, kami lupa. Dan itu kami anggap lalai.
Terhalang Gunung Wates
Hari pertama mendaki, kami berkemah di sebuah gubuk kayu reot di tengah-tengah ladang kopi pada pukul lima. Gubuk itu terkunci pintunya, dan di dalamnya berisi kayu-kayu potongan ketika aku mengintip. Rumah kayu itu milik Pak Sunarya, kuncennya Raung di jalur Kalibaru. Sampai kemah itu, kami telah berjalan selama tiga jam dari dusun Wonorejo. Kami mulai jalan dari Wonorejo setelah makan siang, sekitar pukul dua, karena paginya mengurus koordinasi polisi dan kepala dusun.
Hari kedua mendaki, kami dikecohkan koordinat peta dan bentangan alam. Keenakan mengikuti jalur penduduk di antara ladang-ladang kopi, kami jadi lupa pada peta ketinggian topografi dan mesin GPS (Global Positioning System). Kami menyeberangi sebuah lembah untuk loading air sungai di dasarnya, lalu mendaki lagi ke punggungan di seberangnya, karena ke arah itu ada jalan setapak. Ketika punggungan itu patah di ujungnya, kami membandingkan peta dan GPS, dan barulah sadar, kami terpelanting ke punggungan seberang, keluar dari punggungan jalur utama yang sudah kami ploting sejak dari Jakarta. Kami putuskan untuk menyebrangi lembah lagi menuju ke punggungan utama semula, dan ini memakan waktu setengah hari membuka hutan. Sulung yang berjalan paling depan membuka hutan, menebas-nebas halangan pohon rubuh dengan tangan dan golok tramontina-nya, menuju ke punggungan utama. Ia seorang wartawan yang kebetulan penggila gunung juga, dan tangannya yang baret-baret tergores semak berduri dan cabang-cabang pohon tajam sepertinya tak terasa sakit untuk digunakan membuat catatan, menggenggam pulpennya. Sampai ke puncak Raung, jarang sekali kulihat ia berjalan di belakang, selalu di depan memimpin, menebas-nebas pohon hutan dengan tangganya. Pergerakan jalannya tidak terlalu cepat, tapi konstan, dan baru berhenti kalau benar-benar letih. Hari pertama itu kami simpulkan sebagai hari yang kurang produktif, waktu habis hanya untuk berputar-putar di hutan bagian bawah gunung, tidak signifikan menambah ketinggian.
Punggungan utama itu tipis, dan jalan setapaknya yang remang-remang tertutup semakin nyata menunjukan sebuah jalur pendakian. Kami membuka peta, dan membandingkan jalan itu dengan koordinat peta. Kami berada di jalan yang tepat. Langsung kami meluncur dengan semangat, melewati punggungan gunung selebar rata-rata dua atau tiga meter, dengan kanan kiri punggungan berupa lembah curam sekurang-kurangnya 50 meter dalamnya.
Semakin sore tenaga di tangan makin lemas karena menebas-nebas beberapa bagian hutan yang rapat. Semak-semak berduri yang menyangkut di kulit, membuat tangan kami baret-baret dan bernanah besoknya. Juluran pohon-pohon rotan yang melintang, menyangkut di kepala ransel yang tingginya lebih tinggi dari kepalaku. Itu membuat tubuhku terikat, sulit bergerak dan harus merunduk, kadang merayap, berjalan jongkok atau berjalan berbalik arah menyibak semak dengan ransel di punggung. Pada bagian-bagian itu, golok tebas tramontina-ku jelas tak berfungsi.
Di langit, kawanan burung Rangkong yang terbang berbaris seolah mengejek kami. Aku diam istirahat dan hanya menatap langit, jarang-jarang melihat burung jenis itu. Sesekali, ada juga Elang Jawa yang melesat membelah langit. Lengkingan suaranya yang membentur dinding lembah, terdengar seperti jeritan penderitaan manusia. Juga kera-kera yang melompat dari satu pohon ke pohon lain. Semua kuperhatikan, dan seolah binatang-binatang itu mengejek kami. Pada jam lima sore, di sebuah tanah yang agak lapang, GPS versi hitungan UTM menunjukan koordinat peta: 7140.9510. Di titik peta itu kami mendirikan camp 2 untuk melewati malam.
Hari ketiga pendakian, puncak gunung Raung belum juga bisa kulihat. Punggungan tipisnya yang berupa tebing pasir yang sering kami sebut igir-igir juga belum terlihat, masih tersembunyi di balik puncak gunung Wates, anak gunung Raung. Hutan Raung yang basah menjadi semakin basah ketika hujan pelan-pelan menutupi hari yang terik. Tanganku basah, dan rasanya tidak enak ketika menyentuh pohon jelatang. Rasa gatal dan perihnya berlipat dua saat tetes air hujan jatuh di atas lukanya. Begitu juga binatang Agas yang berterbangan di depan mukaku, membuat luka bekas benturan pohon di pipiku semakin gatal dan perih.
Hujan mereda pada sore hari, sekitar jam lima. Tubuhku basah karena sisa siraman hujan, dan pelan-pelan disambut kedinginan karena tak melakukan banyak gerakan yang bisa menghasilkan panas tubuh. Kami memutuskan membuat camp 3 di koordinat peta 7280.9720, pada ketinggian 1700 mdpl. Di sini banyak binatang Agasnya. Awo menyulut rokok lintingan dari pasar lokal, katanya asap rokok yang dilinting sendiri itu bisa mengusir Agas yang berterbangan di depan mukanya. Padahal, setahuku ia tak pernah merokok, bukan perokok. Tapi, untungnya mahasiswa fakultas hukum yang satu ini tidak sempat merampas rokok kretek kemasan di ranselku yang tinggal sedikit. Ia cuma butuh rokok lintingan, asapnya yang tebal katanya pengusir Agas. Ketika mengganti baju dengan yang kering, kutemukan darah bekas gigitan Pacet di pahaku yang masih segar. Pacet itu gendut, jatuh ke tanah setelah kekenyangan menghisap darahku. Binatang macam ini, sering kutemui di hutan-hutan basah, seperti Pangrango misalnya.
Hari keempat, harusnya kami mencapai rencana camp 4 di batas vegetasi, di sekitar ketinggian 3000 mdpl. Tapi, karena terhambat segerombolan semak berduri dan beberapa bagian hutan rapat, camp 4 kami dirikan di ketinggian 2700 mdpl, di koordinat peta 7380.9940. Camp itu kami sebut juga advance base camp, karena dari camp ini kami akan meninggalkan sebagian isi ransel yang berat untuk menyosor langsung pucuk utama Raung. Dari camp itu kami hanya membawa peralatan panjat dan makanan kalori tinggi, istilah mountaineering-nya summit attack. Sebagian perlengkapan dan makanan yang tidak perlu kami tinggal di advance base camp agar perjalanan lebih ringan. Semacam base camp kedua di ketinggian, bukan yang di kaki gunung. Jadi, hanya tali, kapak es, paku tebing, kompor trangia, beberapa bungkus coklat kalori tinggi dan sup sachet asparagus yang kami angkut ke dalam ransel.
Puncak Raung Memilih
Ketika kubuka catatan perjalanan beberapa tim mendaki Raung via Kalibaru sebelum berangkat, tak satupun kutemukan pendakian yang berhasil mencapai puncak tertingginya, kecuali tim Pataga Untag Surabaya. Semua catatan itu mengaku gagal mencapai puncak Raung. Dan kalaupun memang ada yang pernah sampai di puncaknya setelah tim Pataga, berarti banyak yang khilaf dalam literatur catatan risetku. Salahku sepenuhnya kalau begitu. Dan sebagai pengobat gagal, catatan itu memberinya bermacam-macam alasan untuk membesarkan hati. Soal keterbatasan alat, keterbatasan kemampuan, sampai kehabisan air. Aku sempat miris dan tertawa dalam hati soal alasan-alasan itu. “Cuma alasan”, pikirku. Tapi, ketika aku terhubung satu tali dengan Fachri melewati igir tipis menjelang puncak, dengan jurang-jurang tebing pasir sedalam lima ratus meter di kanan-kirinya, akupun bisa dengan mudahnya membuat sejuta alasan untuk mundur. Alasan yang mudah. Dan alasan yang masuk akal. Jadi, tidak terlalu disalahkan kalau pulang nanti bawa cerita nggak sampai puncak tertinggi. “Jalurnya susah cuy!”.
Setelah keluar hutan dan masuk daerah bebatuan, tepatnya di batas vegetasi antara hutan dan tebing, puncak gunung Raung baru kulihat. Akhirnya, setelah empat hari mendaki-daki, pucuk bebatuan botak itu baru bisa dilongok. Dramatis. Cuma itu pikiranku sambil memandang mimbar besar. Aku merinding sampai titik ini, dan rasanya sudah cukup kalau memang ditakdirkan gagal dan hanya sampai titik ini. Tapi, tidak, perjalanan empat hari kemarin tidak boleh disia-siakan. Sudah kepalang tanggung. Puncak Raung masih berdiri megahnya di depanku seperti balkon, di atas awan, melambai-lambaikan tantangan, dan kami belum lagi meraihnya.
Aku bertanya pada kawanku Bambang yang pada 2003 lalu membuka jalur baru puncak Raung via perkebunan Glenmore, “Gimana sih kondisi tebing puncak Raung ?”. Menurut pengamatannya, bisa saja dilewati dari segala arah, tergantung kabut dan hujan. Itu yang penting. Di sekitar ketinggian puncak sering turun hujan. Dan kalau kabut, itu tidak mungkin tidak ada. Turunnya hujan ini sangat mengganggu pastinya. Ketika aku kehujanan di ketinggian 200 meter tebing batu Simarsolpa di Simalungun, kulihat tebing gersang itu berubah seketika menjadi taburan air terjun. Saat itu badanku menggigil digigit dinginnya air hujan selama setengah jam pertama. Aku membandingkannya dengan puncak Raung yang berada di ketinggian 3000 mdpl lebih, dan kubayangkan dinginnya pasti berlipat-lipat daripada waktu aku meluncur kehujanan di Simarsolpa.
Kusimpulkan, puncak Raung bisa ditembus. Semoga tidak hujan, karena kalau hujan, tak tahu apa jadinya. “Santai aja lagi, Raung memilih orang-orang yang sampai puncak !”, kata Bambang secara bercanda. Sebelumnya, ia sudah dua kali ke Raung dengan misi membuka jalur lewat selatan gunung ini. Pertama, pada tahun 2001. Saat itu ia berbalik tertunduk memunggungi puncak Raung setelah gagal menerobos dan cuma puas sampai ketinggian 2700-an meter. Kedua, pada tahun 2003, dan berhasil mencapai puncak Raung dari selatan lewat Glenmore. Jadi, pada 2001 itu ia tak terpilih, dan baru terpilih pada 2003 sebagai penginjak puncak Raung. Hal itu, ternyata sampai juga ke pertimbanganku, “Raung memilih kita nggak ya?”. Kalau hujan, bisa jadi aku dan teman-temanku tidak terpilih sebagai penginjak puncaknya. Tapi kalau cuma kabut doang, itu puncak harus dikejar.
“Raung memilih!”, mungkin, tapi aku tidak percaya. Aku lebih percaya pada keyakinan bertindak dari manusia, bukan pada benda mati yang begitu menentukan. Kami hanya perlu melakukan penyesuaian. Kalau hujan, berhenti dulu, buka kemah darurat di celah-celah tebing yang aman, lalu lanjut kalau hujan berhenti. Toh, aku membawa air dan makanan cadangan untuk dua hari seandainya kemalaman dan harus ngemping di tebing. Jadi, sepertinya aman!
Kami berjalan meninggalkan batas vegetasi menuju tiang bendera merah putih, tiang penanda puncak pertama yang disebut Puncak Selatan. Jaraknya cuma lima menit berjalan memelipiri bebatuan yang lapang, tapi di bagian kirinya langsung jurang. Aku bergeser tiga meter dari tiang bendera itu, dan tiba-tiba tebing batu setinggi setengah kilo meter langsung menghempaskan pemandangan di bawah kakiku. Aku memandangnya sebentar penasaran, dan setelah itu sama sekali tak ingin membayangkan jatuh ke dalamnya. Puncak Selatan itu dihubungkan oleh sebuah sadle berupa punggungan tipis ke arah puncak 17, sebuah puncak gundukan batu dan tanah berbentuk piramid yang tingginya sekitar sepuluh atau dua puluh meter. Aku kurang paham kenapa gundukan piramid itu dinamakan puncak 17, tapi kalau tidak salah untuk memberi penghargaan kepada rekan-rekan dari klub Pataga Universitas 17 Agustus Surabaya sebagai pembuka jalur Kalibaru.
Igir itu tipis dengan kanan-kirinya tebing jurang sedalam setengah kilometer. Kami bertujuh berjalan beriringan dengan terikat satu tali perdua orang, sementara Bambang dan Yuni, camp manager kami, lebih memilih menunggu di advance base camp saja, tidak ikut muncak. Paling depan, Jamal dan Bagus berjalan terhubung satu tali untuk merintis jalur. Ia yang mencari arah jalan memelipiri punggungan tipis itu. Sesekali mereka menancapkan kapak es dan paku tebing ke celah batu atau ditancapkan ke tanah untuk penambat tali. Di belakangnya, Sulung, Awo dan Rekso juga terikat dalam satu tali mengekori perintis terdepan. Sementara, aku terikat dalam satu tali dengan Fachri paling belakang. Teknik moving together, bergerak bersama dalam satu tali terhubung.
Aku mendapatkan inspirasi teknis ini di Raung saat membaca buku “Menyentuh Yang Niskala”, buku terjemahan dari aslinya “Touching The Void”. Buku itu bercerita tentang sebuah tragedi kecelakaan saat mendaki Dinding Barat Siula Grande di pedalaman pegunungan Andes, Peru. Joe Simpson, penulisnya, sudah disangka mati oleh Simon Yates partner-nya mendaki saat tali pengaman yang menghubungkan badan mereka berdua putus saat turun tebing. Sebelumnya, Joe dan Simon punya perjanjian, kalau salah satu dari mereka terjungkal ke jurang di sebuah punggungan tipis atau igir, maka yang lainnya yang selamat melompat ke jurang di seberangnya. Dengan begitu, tubuh mereka akan saling tertahan, saling terkekang tali, karena tali mereka tersangkut di juluran es atau salju.
Aku memikirkan teknik itu untuk Raung. Tapi, setelah kutimbang-timbang, ini bisa juga jadi bahaya. Ketika aku mengamankan Fachri menyeberangi igir tipis, aku menebak-nebak, apakah aku akan melompat ke jurang sebelah kiri seandainya Fachri terjungkal ke jurang di kanannya. Kalau itu kulakukan, tubuh kami berdua akan saling tertahan, dan tali penghubung kami akan tersangkut di antara batu-batu. Tapi, menurutku itu juga bukan jaminan aman. Ketika tali pengaman saling menahan dan tegang, tali yang tersangkut ke batu itu akan getas dan friksi. Dan kalau friksinya tepat di bagian batu yang tajam atau runcing, bagian batu itu akan mudah merobek tali. Tali yang kugunakan jenis tali kernmantle dinamis. Seperti kebiasaan tali kernmantle, semakin tegang tali ini semakin mudah robek. Aku pernah menempelkan sebuah golok ke tali tegang yang ditarik ke arah ujung-ujungnya sewaktu latihan tali temali. Golok itu cuma kutempelkan. Dan dalam hitungan detik, tali itu menjepret, putus dan saling pental ke arah dua sisi ujungnya. Bagian-bagian itu, kemudian jadi pertimbanganku. Tapi yang paling penting, keputusan dan tindakanku harus yakin.
Aku tak ada waktu untuk memberi keterangan seperti itu kepada Fachri saat sedang repot melintasi punggungan tipis sambil terhubung tali ke badannya. Tapi, ia cuma tahu teknik itu saat menyeberanginya. Sementara, aku sempat memikirkan teknik lain kalau misalnya salah satu dari kami terperosok ke jurang, yaitu meraih batu terbesar yang terdekat dengan badanku lalu mengalungkan tali penghubung kami buru-buru sebelum tegang. Ini bukan cuma perlu tindakan yang sangat cepat, tapi juga kecermatan berpikir yang super kilat. Dan akhirnya, kami hanya menjalaninya saja, menyeberangi punggungan tipis itu tanpa banyak mikir lagi selain hati-hati.
Sebelum mengekang tali melewati punggungan tipis itu, di tempat lapang yang aman, kami membuat beberapa kesepakatan. Kesepakatan pertama, jarak kami tidak boleh berjauhan, sekitar dua puluh sampai tiga puluh meter paling jauh. Karena ini jarak pandang yang paling aman kalau tiba-tiba kabut tebal mengurung punggungan tipis itu. Kedua, meniupkan peluit sebanyak-banyaknya jika terjadi keadaan darurat, misalnya ada yang jatuh ke jurang. Jadi, jangan main-main sama peluit yang dikalungkan ke leher masing-masing. Ketiga, berlaku sistem “We are the rescue team”. Maksudnya, tim yang lain adalah tim penyelamat bagi tim yang mendapat celaka. Jadi, tidak menyiapkan satu tim khusus sebagai penyelamat. Ini kami rasakan lebih efektif, bergerak bersama dalam satu tali dan saling menjaga kawan setali, memperhatikan satu sama lain. “Cuy! Karena kalau enggak elu, mungkin gua yang di-rescue”.
Punggungan tipis itu berhasil juga kami lalui, dan mengantarkan kami ke leher piramid puncak 17. Tempat ini lebih aman. Menjelang puncak 17, kami bertemu crux kedua, titik tersulit untuk menyeberang jurang dan harus diamankan penambat besi yang sudah tertancap ke tanah. Penambat besi itu sudah ada di sana, sudah dipasang oleh tim mendaki sebelumnya, mungkin timnya Pataga Untag yang memasang. Aku menggoyang penambat itu dengan kaki untuk menguji kekuatan penambat, sepertinya kuat, tapi aku tak berpikir untuk membebaninya dengan berat tubuhku ketika menyebrang jurang. Kurasa, itu sugesti saja.
Tali yang terjulur dan terikat ke sabuk kekang harness jamal, diamankan oleh sistem penambat ketika ia mulai memanjat crux kedua, sistem belay. Bagus yang mengamankan dari bawah saat Jamal memanjat rompalan pasir dan batu. Sambil merintis, ia menancapkan piton lagi ke celah-celah batu dan pasir. Di ujung rintisan, ketika ujung tali pengaman sudah habis, ujung gagang kapak es-nya ditancapkan ke celah-celah batu dan pasir, menjadikannya penambat tali dan berganti giliran mengamankan Bagus menyeberangi crux tersebut pada giliran kedua, upper belay. Dengan memperhatikan gaya saling tarik ulur tali mereka, dua tim di belakangnya hanya tinggal mengikuti tanpa banyak masalah.
Kami berkumpul di pucuk puncak 17 yang berupa gundukan batu pasir itu pada pukul sebelas siang. Sementara, di depanku menghadang tebing batu rontok yang lebar, langsung menghadap ke arah puncak tertinggi gunung Raung. Tapi, untuk mencapai dinding kakinya, harus menyeberangi sebuah sadle sekali lagi, sebuah punggungan tipis yang lebarnya tidak sampai dua meter. Sementara, sampai titik tertinggi gundukan batu pasir itu, kami sudah berjalan sekitar lima jam dari advance base camp. Untuk melewati punggungan dan dinding curam di depanku, kurasa akan memakan waktu lebih dari tiga jam kalau kami bertujuh semua berjalan bersamaan. Pergerakan kelompok yang besar, kurasa bisa melambatkan ritme jalan. Soalnya, aku khawatir, kalau-kalau sampai jam dua siang belum juga sampai puncak, turun bisa kemalaman. Belum lagi hujan yang katanya sering turun menjelang sore. Itu bisa menahan semakin lama di kawasan puncak, dan aku malas membayangkannya kalau terkurung kemalaman dan terpaksa menginap di sekitar tebing-tebing puncak.
Sebagai climbing leader keseluruhan pendakian, kuputuskan tim Jamal dan Bagus saja yang ke puncak. Lima orang selebihnya tetap bertahan di gundukan pasir itu, sambil mengamati pemanjatan dan stand by melakukan pertolongan kalau ada apa-apa. Aku memegang handie talkie. Di tim mereka, Bagus yang memegang HT itu. Kami selalu berkomunikasi sepanjang summit attack. Sekali-sekali, komunikasi mengejek. Sekali-sekali, komunikasi memberi arahan jalan dan semangat. Dari titik aku memegang HT, dinding curam itu terlihat jernih kalau tak terhalang kabut. Jadi, kami berlima bisa melihat dengan jelas pergerakan mereka, ke kanan atau ke kirinya. Boring menunggu pemanjatan, Awo memasak sup sachet asparagus dan kopi kreamer sachet. Juga coklat-coklat manis yang membuat gigiku ngilu. Dan, tak ada yang lebih nikmat selain wangi tembakauku yang terbakar, kretek Sam Soe.
Pukul satu, Jamal dan Bagus belum juga keluar dari crux ketiga. Tebing pasir setinggi tujuh meter. Aku berkali-kali mengontak Bagus lewat HT ketika kabut mengurung mereka dan mereka hilang dari pandanganku. Mungkin mereka ada masalah sampai begitu lama di titik itu, atau mungkin mereka mengambil jalan yang ke kiri, ke arah jurang yang dasarnya tertutup awan. Semoga mereka tidak memilih jalan itu. Bayarannya terlalu mahal untuk menyeberang. “Sebentar lagi, kita lagi ngelewatin crux ketiga nih! Gue ngambil jalan yang ke kanan!”, balas Bagus. Keputusan yang tepat menurutku, meski terlihat dari tempatku dinding itu batuannya rontok.
Pukul dua siang, Jamal dan Bagus belum juga sampai puncak. Kabut sudah mengurung mereka, juga lembah-lembah menganga di kanan kiriku, dibawah ketinggian setengah kilometer. Titik air dari langit, pelan-pelan menempel di kulit tangan dan jaketku. Sekelilingku hanya putih kabut, tak kulihat tumbuhan-tumbuhan hijau hutan yang beberapa hari lalu kulewati dengan terseok-seok. “Gus, udah jam dua nih!”, getaran pita suaraku kusalurkan kedalam HT, semoga Bagus mendengarnya di seberang lembah sana yang tertutup kabut. “Iya, iya. Tanggung. Udah deket nih ke puncak, gue minta waktu setengah jam lagi deh”, lapornya. “Oke, setengah jam ya, kalau nggak sampe, lu berdua turun!”, perintahku. “Oke, oke. Tengkiu Dang!”, kubayangkan mukanya berseri menerima itu.
Mungkin tidak sampai lima belas menit, aku mendengar teriakan panjang dari arah puncak Raung, “Puncaaaaak!”. “Udah sampe puncak lu?”, tanyaku lewat HT. “Yoi, kita berdua udah sampe puncak!”, balas Bagus dengan nada berseri-seri. Kami berlima yang di puncak 17 itu berteriak, teriakan khas Mapala UI, “Uooooooooo…”. Teriakan itu membalas mereka berdua yang di puncak, “Uooooooo…” (Dadang Sukandar/ Dok. Mapala UI).