Archive for May, 2007
Mitos, Masih Kalah Angker
Mitos, Masih Kalah Angker
Lu percaya “mitos”? Kemarin kawan gua cerita, soal kucing yang mati di jalan, dan tiba-tiba gua ingat mitos. Ceritanya begini. Sewaktu nyetir mobil, kawan gua itu ngelindes kucing. Meninggal. Karena nggak mau ambil pusing dia bilang, “Taro aja di pinggir jalan”. Semua masalah beres.
Warga sekitar yang lihat tiba-tiba minta supaya kawan gua ngurusin jenazah kucing itu dengan layak, dikubur. Kawan gua itu sempat berniat memasukannya ke mobil. “Nanti malah jadi repot”, katanya. Akhirnya dia kasih uang ke orang yang lihat itu dan minta tolong nguburin.
Dulu, nenek gua bilang, kalau ada kucing melintas di depan sewaktu berkendaraan, itu artinya tanda-tanda sial. Seperti kawan gua itu: udah kehilangan waktu, keluar uang pula. Mitos kucing nyebrang: Kesialan.
Waktu naek gunung Slamet, gua pernah diwanti-wanti sama petugas jaga pos pendakian soal mitos: jangan ngomong sembarangan selama di gunung itu. Juga, kalau haus jangan bilang haus, kalau mendung jangan bilang hujan, karena kalau kita bilang, maka itu semua akan terjadi: kehausan dan kehujanan.
Di gunung Ciremai mitosnya lain cerita, orang dilarang buang air kecil di gunung itu. Jadi, jangan heran kalau naik gunung Ciremai kita akan menemukan botol-botol air mineral yang digantung di cabang-cabang pohon berisi air yang berwarna kekuningan. Isinya air kencing di sepanjang jalan.
Dilemanya kalau kita naik Ciremai: 1) Kencing di tanah dan terkena sanksi mitos, atau 2) Masukan penis ke dalam botol, kencing di dalamnya, terus gantungkan botol itu di cabang pohon. Bayangkan, kalau ada seratus orang berpikiran seperti nomor 2) dalam sebualan, Ciremai apa jadinya ya?
Dalam kepecinta alaman memang ada satu etika: “Menghormati adat istiadat setempat”. Tapi, apa etika semacam ini musti kita telen mentah-mentah? Meninggalkan botol air mineral berisi air kencing di cabang-cabang pohon, apa berarti sudah menunaikan kewajiban “menghormati adat setempat”? Lalu, soal lingkungannya yang menjadi kotor?
Dua kali mendaki gunung ini, gua sempat acuh sama etika adat itu. Gua lebih memilih menyiram tanaman hutan dengan air kencing, dan memupuk pohon-pohon dengan tinja di kubur tanah, ketimbang nyerah sama adat. Gua rasa, itu akan lebih baik. Kotoran kita, disaring sama alam, diurai dalam tanah lalu dijadikannya pupuk. Tanpa meninggalkan plastik botol air mineral yang jelas-jelas sulit diurai, apalagi berisi air kencing yang bisa bikin jijik, geli, dan muntah.
Buktinya, gua nggak kenapa-kenapa karena pelanggaran mitos itu. Atau memang belum? Terserah lah, yang pasti ilmu-ilmu tentang bagaimana alam mengurai kotoran masih lebih angker ketimbang mitos yang sulit di jelaskan (Atau gua aja yang nggak ngerti penjelasan ilmiahnya?). Mitos masih kalah angker sama ilmiah.
Dadang Sukandar
Freelance Writing - Promote Your Name As A Writer And Get Famous
Freelance Writing - Promote Your Name As A Writer And Get Famous
by Angela Booth
For a freelance writer, your name is everything: it’s becoming known for
what you do, and the quality of your work. When you build your name, you
become known not only to editors and publishers, but also to your readers.
Name-recognition is money in the bank for a writer. When I wrote about
"getting famous" and promoting your name as a writer in my writers’
ezine, I was startled by the amount of feedback I received.
The gist of the feedback was - "I’ve never thought of it that way." So
please, start thinking of it now. You must promote your own name as a
writer, because if you don’t, you’ll always be an unknown quantity not
only to the people who can hire you, but also to readers.
One of the first things a literary agent will tell you is that you must
build your "platform" - this is the people who know you by name. A
platform means that publishers are more likely to look favorably on you,
because they known you know how publishing works. Name-recognition is
EVERYTHING to any writer.
It’s vital. Until that knowledge becomes a part of the way you operate
as a writer, you’ll always be a dabbler, not a professional. Publishers
will not take you seriously, and will be hesitant about committing to
you, because you don’t seem serious about your writing.
Name recognition is also a matter of security. The waters you swim in as
a writer are full of sharks, who will think nothing of ripping you off.
They’ll take your time and your energy. I’ve written about writing scams
before many times, because they’re so common. You make it less likely
that you’ll be ripped off if people know your name.
Becoming Known Costs Nothing - But It’s Essential For Your Writing Career
I’m constantly amazed by the writers’ Web sites I see on which there’s
no mention of the writer’s real name. There’s either a nick name, or no
name at all.
If your full-time job is not writing-related, then perhaps you might
want to keep your name a secret… but why? Your employer isn’t likely
to fire you because you moonlight as a writer. And not publicizing your
name takes away from any credibility you have.
If you’re not promoting your own name, start doing so today.
http://www.penulisl epas.com/ v2
“Pecinta Alam” Bukan Cuma Soal Sampah
“Pecinta Alam” Bukan Cuma Soal Sampah
Dalam beberapa fokus diskusi milis atau thread, sering dibicarakan soal istilah “Pecinta Alam” yang kayaknya mulai kehilangan arahnya. Atau rohnya. Dan dalam diskusi-diskusi itu, membicarakan istilah “Pecinta Alam” hampir selalu nggak terpisah dengan soal pencemaran sampah. Bahkan, sering pecinta alam itu dituding merusak alam, mencemari gunung, etc, etc, etc. Dan pembahasan pecinta alam selalu berkutat dalam soal pencemaran sampah, kondisi lingkungan buruk, sehingga banyak orang yang suka naik gunung malu menyandang “Pecinta Alam”. Lebih memilih istilah: PA (Penikmat Alam), atau BUPALA (Bukan Pecinta Alam). Kenapa malu dengan istilah Pecinta Alam? Bukankah pecinta alam itu punya makna yang lebih besar daripada sampah dan pencemaran?
Setau gua, secara historis, istilah “Pecinta Alam” pertama digunakan oleh Soe Hok Gie CS waktu mau ngebentuk Mapala UI. Itu tahun 1964. Tujuan organisasi ini ada 3 (Dasar-dasar Kegiatan Alam bebas, Mapala UI, 1999):
- Memupuk patriotisme yang sehat di kalangan anggotanya. Ini dapat dicapai dengan jalan hidup di alam dan rakyat kebanyakan. Bahwa patriotisme yang sehat tidak mungkin timbul dari slogan-slogan, indoktrinasi ataupun poster-poster. Patriotisme yang sehat hanyalah mungkin dibina atas pastisipasi yang aktif dari seorang melalui hidup di tengah-tengah alam dan rakyat Indonesia pada umumnya.
- Mendidik para anggotanya, baik mental maupun fisik. Sebab kader yang baik adalah kader yang sehat jasmani dan rohaninya.
- Mencapai semangat gotong royong dan kesadaran sosial.
Oke, mungkin ini ribet… tapi sekedar mengingatkan, bahwa istilah pecinta alam lahir bukan cuma mau bicara soal sampah. Pecinta alam, awalnya punya soal yang lebih besar, soal-soal nasionalisme pemuda yang mestinya terus-menerus di pupuk. Dengan cara jalan-jalan ke alam. Eksplorasi.
Atau, kalo ini dianggap abstrak, tidak kongkrit, setidaknya tujuan mulia itu lahir dan hidup sebagai visi dan semangat dari pemuda-pemuda
Indonesia yang suka keluyuran di alam.
Sekedar usul, sebaiknya membicarakan pecinta alam tidak melulu bicara soal sampah dan pencemaran lingkungan. Bukannya persoalan sampah adalah persoalan semua orang? semua komunitas? Nggak cuma PA? Nggak usah jauh-jauh, lokit aja
Jakarta . Gudangnya sampah kaleeee…. Bahkan, masalahnya lebih serius dibandingkan sampah gunung, dan dampaknya lebih langsung dan lebih dirasakan masyarakat. Ini bukan berarti menyepelekan soal sampah di gunung.
So, bukannya soal sampah berarti cuma salah satu soal dari istilah “Pecinta Alam”? Bagaimana kalau bicara soal yang lebih besar lagi? Soal-soal nasionalisme? Soal-soal mendasar bangsa ini? Soal kenapa seorang pemuda ngambil S2 di luar dan ogah balik lagi ke Indo dan malah memutuskan jadi WN
sana ? Soal-soal orang yang bicara kesejahteraan padahal mencekik leher rakyat? Bukannya itu juga soal-soal anak PA ya? Soal-soal TRIDARMA PERGURUAN TINGGI.
Jadi, menurut gua, awalnya istilah “pecinta alam” itu punya makna yang lebih luas dari sekedar sampah. Soal yang bosan kita bicarakan tiap hari dan tanpa perubahan. Karena apa? Karena soal-soal yang lebih mendasar lagi dari bangsa ini nggak juga tertanggulangi. Soal orang korupsi, soal hukum yang bengkok, soal sogok-sogokan politik, etc.
Dalam perjalanannya, organisasi yang dibentuk GIE CS itu, selain naek gunung, juga rata-rata tiap dua tahun sekali bikin acara baksos.
Semua cuma untuk jalan-jalan dan melihat orang
Indonesia dari dekat. Supaya kita peka: terhadap orang, terhadap lingkungan.
dadang
Luv U Mom…
Kemarin, seorang junior gua di kampus, cewe, mengeluh sehabis ribut sama nyokapnya:
“Hiks… gua abis dimarahin nyokap. Berantem. Nyokap nggak seneng gua sibuk di organisasi pecinta alam melulu, jalan-jalan melulu, naek gunung melulu, dan lebih-lebih pulang larut malam melulu. Hiks… hiks… hiks…”.
Dan tiba-tiba gua bersemangat kasih dia support. Mungkin karena pengalaman yang sama dulu:
“Dulu nyokap gua juga begitu. Nyokap ampe bosen cerewet nasehatin gua soal naek gunung dan organisasi PA. Kayaknya lebih capek dia yang nasehatin gua dari pada gua yang naek gunungnya. Tapi sekarang, beliau cuek, bosen kali. ATAU UDAH PERCAYA SAMA GUA?”
“Waktu itu gua nggak brenti-brentinya kemukakan ini: 1. GUA CERITAKAN TENTANG BETAPA POSITIFNYA KEGIATAN GUA: gembel tapi belajar jujur di jalan, rada nekat tapi tetep objektif di tebing, boros tapi ngerti gimana cara ngatur uang, dan lapar tapi ngerti gimana cara masak nasi di nesting. 2. GUA MEMBERIKAN BUKTI-BUKTI: nilai sekolah yang selalu gua laporin (Tentu yg baik-baik : ) ), menulis di koran dan majalah tentang perjalanan (Gua kasih liat tulisan gua di Kompas dan Intisari), mendatangkan mereka ke wisuda sarjana gua yang membuat mereka mau nangis, selalu ijin kalo mau naik gunung (Meski izinnya via SMS dari kereta), dan perhatian sama permasalahan rumah sesibuk apapun gua (At least make a phone call kalo musti nginep). Ini emang nggak cukup sekali, musti sering-sering, kontinyu, dan konsisten. Mereka akhirnya percaya (Atau harus percaya?). MAMAH SELALU SAYANG SAMA APAPUN KELAKUAN KITA. Ia, seperti juga bapa, bukan pihak dimana kita beroposisi kan? Bersikap humble pada orang yang berjuang untuk hidup kita bukan sesuatu yang harus dipertanyakan. Kita cuma butuh kasih tau apa yang kita lakukan dan korelasinya pada sukses hidup, seperti harapan mereka juga.
Kegiatan jalan-jalan petualang resikonya memang bukan Cuma di gunung, tapi juga di rumah. Pertanyaan dan larangan-larangan orang tua, itu juga bagian resiko petualang. Pertanyaan, malah bukan cuma datang dari orang tua, tapi juga banyak orang. Temen-temen, om, tante, keponakan. Dan anehnya, kita selalu mengambil kesimpulan dan jarak, “Kalian semua nggak ngerti!”. Nggak ngerti jiwa petualangan yang lagi bergelora. Sementara, mungkin kita jarang kasih penjelesan baik buruknya tentang langkah kita. Lebih-lebih membuktikan positifnya. Bagaimana mereka mau ngerti? Ke mereka, kepercayaan musti dibangun.
Cermati juga apa yang mereka tanyakan: 1). Dari mana uang lu kalau jalan-jalan melulu (Pastinya nggak nyopet lah!)? 2). Kuliah lu ancur nggak (Dikatakan nggak ancur mungkin kalau IP: 3.00)? 3). Gimana kalo elu nyasar di hutan ato jatuh dari tebing ato dimakan macan? 4). Mereka juga takut elu ngobat atau minum-minum dan belaga gila lainnya yang bikin kelakuan ancur. 5). NGAPAIN SIH LU NAEK GUNUNG? Jadi, wajar aja kalau mereka ngelarang-larang atau cerewet. Dan itu justru bagian dari tantangan bertualang, meyakinkan bonyok, sama seperti meyakinkan sopir angkot buat disewa dari Sumedang ke Majalengka waktu naek gunung Ciremai. Dan bukannya cuma peduli pada diri pribadi sendiri. Hobi sendiri.
Dan baik buruknya, cuma kita yang tau. Kan, kita yang melakukan. Kalo kita memang berpikir dan bertindak positif, maju dan berkembang dari setiap langkah petualangan, aura itu bakal berpendar, dan orang-orang bakal ngerti. Kita juga orang yang tau diri kok, bisa jaga diri dan calon orang tangguh. Bener-bener tangguh buat bangsa ini. Tapi, sekali terlibat masalah yang negatif, ya sudah, barharaplah karier petualangan nggak hancur.
Dan buat kamu yang dimarahin sama nyokap, santai aja. Nyokap sayang kok! Doa restunya selalu disamping perjalanan. Dalam langkah-langkah.
Oh ya! Barusan banget, sebelum gua posting artikel ini, gua ngangkat telepon dari nyokapnya. Dia juga cerita ke gua, “Iya nih, padahal tante cuma pengen dia fokus sama kuliahnya, biar cepet lulus, cepet kerja dan bahagia. BAHAGIA!”
Luv U Mom.
dadz
Lumba-lumba Berhati Buaya
Lumba-lumba Berhati Buaya
Seminggu lalu saya menghadiri ceramahnya Pak Rhenald Kasali, pakar manajemen. Ia biacara soal Merek (Brand) dalam rangka acara hari Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sedunia ke-7 di Art Gallery, Kemang. Selesai ceramah, panitia dari pusat HKI fakultas hukum UI memberinya kenang-kenangan: Boneka Lumba-lumba UI. Boneka itu maskotnya UI.
Sewaktu menerima merchandise itu Pak Rhenald bertanya pada floor, “Tau nggak artinya Lumba-lumba?”. Floor saling lirik, lalu memberi jawaban macam-macam: pintar, cerdas, tangkas, penolong, penyayang.
Tidak ada yang salah. Dan ini mungkin sesuai dengan lambangnya UI, “Makara”, yang artinya hewan laut.
Pak Rhenald menambahkan, prakteknya, setelah lulus, kebanyakan anak-anak UI bergerak maju dan berkembang sendiri-sendiri. Ini beda misalnya dengan Unpad atau ITB, yang lebih sering bersama-sama. Padahal, kecenderungan Lumba-lumba itu bersama-sama. Beda halnya dengan Buaya: agresif, analitis, fokus dan penyendiri. Tapi keduanya jelas binatang beda, satu mamalia satu reptil.
Dalam beberapa artikel dan bukunya, Pak Rhenald sering menyandingkan kedua hewan itu dalam bahasan leadership dan kerja sama. Masing-masing mengacu pada karakter hewannya. Tapi, mana gaya paling tepat, setiap pemimpin tetap harus memimpin. Minimal memimpin dirinya sendiri.
Si Lumba-lumba, suka berkelompok, cerdas dan penolong. Mungkin dia bisa kita kategorikan sebagai mamalia lembut yang mewatakkan orang baik hati. Sebaliknya, Buaya adalah Buaya, berjaya di air dan di darat. Reptil ini bisa sangat menyendiri, agresif, kuat, analitikal dan fokus. Seperti gambaran kulitnya yang tajam dan keras. Mana yang lebih baik untuk memimpin, bekerja sama dan maju?
Keduanya punya kekurangan kelebihan. Dan mengambil kedua kelebihannya tentu yang paling baik: binatang agresif dan lembut, Lumba-lumba berhati buaya atau Buaya berhati Lumba-lumba. Ini berarti sama dengan seorang yang agresif melihat peluang, penuh analisis sebelum bergerak dan fokus, juga sekaligus baik hati dan penolong.
Sekali waktu, saya membandingkan Lumba-lumba di hati Buaya itu dengan kawan saya. Sebut saja namanya Tomas. Dia seorang wartawan yang juga pendaki gunung. Sekali waktu saya mendaki bersama Tomas. Repot sekali orangnya. Sebelum berangkat dia minta saya pelajari peta gunungnya, detil. Padahal, untuk mendaki gunung itu, jalan umumnya sudah terbuka lebar. Juga perlengkapan kemah dan alat mendaki. Tomas sampai membuat ceklist detilnya. Dan latihan. Dia memaksa saya joging seminggu dua kali biar bugar dan otot kaki tidak keram di tanjakan gunung. Saya ikuti, dan saya juga jadi ribet.
Di gunung, saya keteter di tanjakan. Tomas di depan dan saya jadi ekor. Padahal, dari kelakuannya yang perokok dan jarang olah raga, Tomas harusnya tergopoh-gopoh. Tapi ini tidak, ia berjalan pelan di tanjakan, tapi konstan. Sekali-sekali memandang ke puncak, matanya tajam ke sana. Dan dia tahu persis apa yang harus dilakukannya, bergerak, menyesuaikan, menaganalisa masalah dan merebut puncak.
Saya melihatnya seperti buaya: bergerak santai namun ada agresivitas di dalamnya. Setidaknya, mata yang tajam mengarah ke puncak. Tomas fokus dan hatinya tak terbantahkan.
Sekali waktu saya menemuinya di bawah pohon. Tomas sedang istirahat, dan saya tidak yakin betul dia benar-benar istirahat. Dia sedang menunggu saya yang keteter jauh di ekor. Dia peduli pada saya, dan saya yakin tidak tertipu dengan baik hatinya. Tapi, matanya masih terus ditancapkan ke puncak gunung, ke tujuannya.
Kami berjalan lagi dan begitu seterusnya. Dia berjalan pelan dan konstan sambil tidak mengedipkan mata ke puncak. Dan waktu saya keteter lagi, dia menunggui saya, memastikan kawannya seorang ini baik-baik saja. Sampai-sampai, saya lama-lama tidak enak hati, dan makin memaksakan diri mengejarnya di depan, diatas.
Mungkin tipe ini yang dimaksud dengan Lumba-lumba berhati Buaya? Semoga tidak salah mengambil keputusan. Tapi yang jelas, kawan sepengiringan saya itu positif di hati, obyektif di pikiran dan agresif dalam tindakan. Disamping juga, dia Buaya darat. Maksudnya bener-bener “Buaya Darat”. Banyak cewe-cewe yang didaratkan di hatinya. (Dadang Sukandar).
Total Aset: Otak
Total Aset: Otak
Siang tadi, kawan saya dokter yang tugas di Kalimantan menelpon. Katanya, suaminya dulu pernah ikut lomba foto. Lama tidak ada kejelasan. Dan baru-baru ini, fotonya ditemukan terpajang di sebuah kantor Bupati.
Suaminya menkonfirmasi ke pihak panitia. Mereka sering ngeles. Dan setelah lebih dalam, diketahui ternyata panitia itu seorang anggota DPRD.
Eng… ing… enggg……
Setelah urung rembug dengan peserta lain, mereka berserikat dan mengirim somasi. Anggota dewan itu kebakaran jenggot. Ujungnya, mereka damai, dengan teken di atas kertas.
Saya jadi ingat waktu dulu menghadiri seminar Hak Cipta fotografi di galeri Oktagon. Ternyata, hal yang suka kita anggap remeh temeh bisa bikin perkara, dan membuat seorang anggota dewan kalang kabut.
Kita mungkin tidak sadar pada apa yang melintas dan diperbuat dalam keseharian. Khususnya soal foto. Seperti di blog ini misalnya. Bisa saja ada yang meng-grabed foto kita, dan tau-tau dipajang entah di mana. Di majalah mungkin. Atau lebih parah, kalau foto kita di-grabed lalu dimodifikasi jadi bugil. Bisa ngilu dada. Lalu, di mana letaknya Hak Kekayaan Intelektual, HKI, dijunjung?
Terkait pelanggaran HKI, Indonesia sudah divonis internasional sebagai pelanggar besar dan jempolan. Karena itu juga, Timnas untuk pelanggaran HKI dibuat Presiden. Dan bolak-balik, soal HKI masih jadi soal hukum. Setiap ketanggor masalah HKI, orang akan lari ke advokat atau konsultan HKI.
Sebenarnya, konsep HKI sangat lekat dengan keseharian kita. Konsep HKI sangat dekat dengan proses isi kepala, intelektualitas. Bukankah manusia setiap hari menggunakan otaknya? Bahkan manusia tidak berotak sekalipun menggunakan otaknya. Soal isinya, bisa jadi belakangan.
Sebagai negara berkembang, beda betul kalau kita membadingkannya dengan negara-negara maju. Di sana, isu HKI bukan cuma isu hukum, tapi isu segala macam isu. Melekat pada setiap sisi kehidupan. Indonesiapun harusnya begitu. Harus, karena hukum UU HKI sudah menyebutkannya “Harus”.
Ambil contoh tentang kegiatan sehari-hari kita. Ketika bangun pagi, sehabis mandi dan sebelum ngantor, yang pertama kita korek-korek di dapur adalah Coffemix. Kita membutuhkan Merek itu. Dan sewaktu nyantai sebentar baca koran, di sana ada ratusan Hak Cipta karya tulis dan fotografi para wartawannya. Lalu, waktu masuk kantor kita akan ketemu papan nama perusahaan di dekat meja resepsionis, PT. Baru Berdiri Megah Mandiri. Ini juga ada HKI-nya, Merek. Dan begitu duduk di meja kerja, kita langsung mengoperasikan produknya Microsoft yang ber-Hak Cipta. Dan kalau program komputer yang digunakan bajakan, berarti sepagi itu kita sudah terlibat pelanggaran Hak Cipta. Lalu siangnya makan siang di Hoka-hoka Bento, mungkin bosan dengan warteg Bahari. Dan sewaktu membayar di kasir, sekian persen yang kita bayar itu juga untuk membayar Merek mereka yang ekslusif dari pada warteg Bahari. Dan ketika tiba di kasur malam hari, pernahkan kita menghitung berapa banyak pertemuan kita dengan HKI. Yang mungkin kita langgar, atau bahkan kita ciptakan.
“… hak atas kekayaan yang timbul atau lahir dari kemampuan intelektual manusia”, begitu kata Suyud Margono dalam bukunya tentang pengertian HKI, Hak atas Kekayaan Intelektual. Dalam Inggrisnya, Intellectual Property Right.
Termasuk kekayaan intelektual ini : karya-karya dibidang ilmu pengetahuan, seni, sastra dan teknologi. Segala yang didalilkan karena motivasi intelektual: Daya, Cipta dan Karsa.
Kalau kembali pada perspektif hukum, ada tujuh bidang yang diatur UU HKI:
1. Hak Cipta
2. Hak Merek
3. Hak Paten
4. Hak Desain Industri
5. Hak Perlindungan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.
6. Hak Perlindungan Varietas Tanaman
7. Rahasia Dagang.
Oke! Ini ribet, tapi kita sudah terlibat di dalamnya. Mungkin terlibat jauh. Munggkin melanggar, mungkin juga menciptakan sesuatu dengan intelektual kita. Kita cuma tidak menyadarinya saja. Asal diingat: kita memotret ada Hak Ciptanya, kita membuka kafe ada mereknya, kita meneliti obat ada Hak Patennya, sama seperti kita membuat boneka, ada Hak Desain Industrinya. Dan kita adalah orang yang kaya. Kaya pikiran dan keuangan. Meskipun masih belum tentu kaya hati.
Segi HKI yang banyak berkaitan dengan keseharian meliputi: Hak Cipta, Paten, Merek dan Desain Industri.
Hak Cipta
Undang-undang Hak Cipta mengaturnya begini:
“… hak khusus bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.”
Hak khusus ini, yang berupa “mengumumkan” dan “memperbanyak” ciptaan, berada sepenuhnya pada pencipta. Jadi, tidak sembarang orang bisa mengumumkan dan memperbanyak ciptaan kita. Kalau orang lain mau melakukan itu, harus izin dulu. Seperti contoh panitia lomba foto tadi. Dan untuk izin itu, disini ada kompensasi. Biasanya berupa royalti. Ini segi kekuatan ekonominya, kekayaan seorang pencipta. Izinnya punya nilai.
Kapan Hak Cipta itu hadir ? Ini juga banyak pertanyaannya. Mungkin karena HKI itu didaftarkan, banyak orang mengira untuk mendapatkan Hak Cipta orang harus daftar dulu ke Dirjen HKI. Beda dengan segi HKI lainnya, Hak Cipta sudah lahir tanpa perlu didaftarkan lebih dulu. Hak Cipta lahir sejak ciptaannya jadi. Hak Cipta foto lahir sejak sang fotografer menekan shutle kamera. Ctak! Maka lahirlah sebuah Hak Cipta Fotografi, mengimajinasikan citra. Dan pelanggarannya bisa diganggu guat.
Termasuk bidang Hak Cipta ini:
1. Buku, program komputer, pamflet, perwajahan (Lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain.
2. Ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu.Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
3. Lagu atau musik dengan atau tanpa teks.
4. Drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan dan pantomim.
5. Seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase dan seni terapan.
6. Arsitektur.
7. Peta.
8. Seni batik.
9. Fotografi.
10. Sinematografi.
11. Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan.
Hak Merek
Merek, seperti disebutkan dalam undang-undang merek, adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa. Unsur terpenting suatu merek adalah adanya daya pembeda.
Hak Paten.
Hak paten adalah hak ekslusif yang diberikan negara kepada penemu/inventor atau hasil penemuannya/invensinya di bidang teknologi, untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri penemuannya/invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada orang lain untuk melaksanakannya. Ada dua hak yang terbit dari hak Paten ini : Hak melaksanakan sendiri penemuanya dan hak memberi persetujuan pada orang lain.
Misalnya, suatu hasil penelitian. Hasil penelitian itu bisa kita gunakan untuk keperluan praktis kita sendiri, atau digunakan oleh pabrik industri untuk dikembangkan dan dimasyarakatkan kepraktisannya. Yang terakhir ini juga tentu ada kompensasinya yang biasanya dihitung dengan rumus royalti.
Desain Industri.
Sama seperti HKI lainnya, dilindungi dan bernilai moral serta ekonomi. Definisi tentang hak ini : Suatu kreasi tentang bentuk konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang komoditas industri, atau kerajinan tangan.
Menjual Aset Intelektual
Saya ada kawan seorang penulis buku. Penulis novel. Dia penulis novel komedi petualangan yang bukunya sudah 5 kali cetak. Sekali cetak buku itu sekitar 3000 eksemplar, dan berarti sudah tercetak 15.000 eksemplar. Dari novel itu dia mendapat royalti 10%. Artinya, mendapat 10% dari harga setiap buku yang terjual. Harga bukunya sendiri Rp. 25.000, itu sama dengan Rp. 2.500 dia mendapat dari setiap buku terjual. Sekarang coba kalkulasi totalnya kasar-kasar kalau semua buku laku terjual: royalti 10% x Rp. 25.000 harga buku x 3000 eksemplar x 5 cetakan = Rp. 37.500.000.
Lumayan untuk kerja bikin cerita selama tiga bulan sebagai kerja sampingan. Mungkin bisa jadi kerja utama seperti J.K Rowling atau John Grisham. Memang itungan ekonomi sering membikin semangat orang. Tapi janga dilupa juga, segi HKI masih punya nilai moral. Nilai yang membuat orang berpikir cerdas, aktual dan dihargai karya-karya gemilangnya. Selamat berkarya. Selamat memiliki HKI baru. (Dadang Sukandar).
: ) : ) : ) : ) : ) : ) : ) : )
: ) : ) : ) : ) : ) : ) : ) : ) : ) : ) : )
Ditulis ulang dari lawakannya Warkop DKI waktu masih siaran di Prambors.
*
Mercedes Pak Joni
Pak Joni kembali dari WC dan melewati meja sekretarisnya. Sang sekretaris memandangnya sambil tersenyum-senyum sendiri. “Kenapa kamu senyum-senyum?”, tanya pak Joni.
“Nggak pak. Itu, garasi bapak terbuka”, kata sekretarisnya.
“Ah! Nggak mungkin! Sudah di tutup kok. Pembantu saya yang tutup di rumah”, kata pak Joni.
Sang sekretaris kekeuh, “Bener pak. Garasi bapak terbuka.”
“Ah! Sok tau kamu. Saya lihat sendiri, pembantu saya yang tutup”, kata pak Joni sambil ngeloyor masuk ke ruangannya.
Menjelang siang, pak Joni mampir pulang ke rumah dan bertemu istrinya untuk makan siang.
“Pa! Papa nggak malu apa?”, tanya isri pak Joni.
“Malu kenapa?”, tanya pak Joni balik.
“Itu! Resleting bapak terbuka.”
“Hah!?”, pak Joni kaget sambil menengok selangkangannya.
“Ooo… ini mungkin yang dimaksud sekretarisku tadi ya”, pikir pak Joni.
Setelah menyelesaikan makan siangnya pak Joni kembali ke kantor.
“Nona!”, panggil pak Joni.
“Iya pak!”
“Nona tadi melihat Mercedez saya di garasi?”
“Tidak pak”, jawab sekretarisnya.
“Tapi saya lihat bemo!”
*
Pintu Neraka
Temen saya yang sudah meninggal, si Sukri, kirim surat dari neraka. Dasar orang penggede di dunianya, maka di neraka ia mendapat fasilitas lebih. Ia bebas memilih kamar-kamar yang disediakan.
Sebelum jadi penghuni tetap neraka, Malaikat mengantarkan si Sukri melihat-lihat dulu kamarnya. Pada kamar 1, ia melihat beberapa orang sedang dipukuli pakai besi panas. “Waduh! Nggak enak di sini, sakit!”, katanya.
Dia tinggalkan kamar 1 dan masuk kamar 2. Malaikat membuka kamar 2, dan ia menemukan orang yang ditusuk kepalanya dari ujung kepala sampai ujung “tahiti”, lalu diputer-puter seperti kambing guling.
“Aduh! Ini juga sakit. Nggak jadi”, katanya sambil meninggalkan kamar itu.
Malaikat mengantarnya lagi ke kamar 3. Disini lebih enak. Orang-orangnya sedang direndem. Tapi, pake air tinja. Dia pikir, mendingan di sini, bau-bau dikit nggak apa-apa. “Iya deh! Saya di sini aja”, katanya pada Malaikat. Iapun berendam di sana.
Lima menit kemudian, teng… teng… teng… teng… teng… bel berbunyi. Malaikat penjaga kamar itu mengumumkan, “Ya, sekarang silakan nyelem kembali!”
*
Bedanya orang Batak dan orang Jawa
“Apa bedanya orang Batak sama orang Jawa?”, tanya Dono pada Nanu.
Orang Batak:
Kalau sendiri: menyanyi solo
Berdua: main catur
Bertiga: main halma
Berempat: nari Tortor
Lebih dari empat: tutup semua jendela dan pintu-pintu.
Orang Jawa:
Kalau sendiri: main perkutut
Berdua: cari kutu
Bertiga: klenengan
Berempat: wayang orang
Lebih dari empat: transmigrasi.
Tapi paling enak kalau punya istri orang sunda. Orang Sunda itu praktis, ekonomis dan sedikit berkumis. Praktisnya, orang Sunda kalau makan sukanya pake daun-daunan. Lalap-lalapan namanya. Jadi, untuk mengumpani hidupnya gampang, kasih sambal dan tinggal lepas di kebon, sudah hidup. Daun singkong dimakan, daun pisang dimakan, daun pepaya dimakan, daun jambu dimakan, cuma satu daun yang nggak dimakan, daun jendela.
*
FLORA PEGUNUNGAN JAWA
Judul Asli:
THE MOUNTAIN FLORA OF JAVA
Oleh: C. G. G. J. van Steenis
Flora Pegunungan Jawa mengungkapkan warisan alam Indonesia yang unik. Gunung-gunung berapi yang menjulang tinggi menyajikan berbagai relung ekologi bagi aneka tumbuhan dan strategi bagi keberhasilan evolusi. Sejarah geologi dan lokasi geografi Jawa, antara benua Asia dan Australia, menjadikan floranya sangat istimewa sehingga menyandang prioritas konservasi nomor satu dalam skala global.
Paling informatif uraiannya dan paling indah ilustrasinya, buku ini disiapkan bagi para ilmuwan maupun pembaca awam untuk lebih mengenal kawasan pegunungan Jawa. Dilengkapi gambar berwarna dalam ukuran sebenarnya dari 456 spesies tumbuhan berbunga asli Jawa. Flora Pegunungan Jawa dirancang ramah pembaca.
Judul aslinya: The Mountain Flora of Java, dalam bahas Inggeris, diterbitkan di Leiden, Negeri Belanda, edisi perdana pada tahun 1972 dan edisi kedua pada tahn 2006.
Daftar Isi :
- Pendahuluan
- Sketsa sejarah – Pentingnya Cibodas Gede
- Pegunungan Jawa sebagai gunung berapi
- Iklim
- Zona elevasi
- Efek elevasi massa pegunungan
- Biologi bunga
- Tumbhan asing dan gulma asing pendatang
- Tumbuhan klimaks, suksesi, pionir, dan nomad
- Kebakaran dalam hutan pegunngan
- Catatan lepas tentang hewan
- Formasi tumbhan
- Perbedaan antara Jawa bagian barat dan timur
- Tumbhan pegunungan yang mum dan yang langka
- Variabilitas tumbuhan pegnungan
- Pemencaran dan persebaran – Umur tumbhan pegnungan
- Komposisi, turunan, dan asal muasal flora pegunungan Jawa
- Rjkan pilihan untuk pegunungan Jawa
- Perlindungan dan konservasi hutan pegunungan
- Catatan penjelasa
Penulis: Cornelis Gijsbert Gerrit Jan van Steenis
Penulis buku Flora Pegunungan Jawa Ini lahir di Utrecht, negeri Belanda pada 1901. Sejak kecil ia sudah sangat tertarik pada tumbuhan, dan karena itu belajar botani di universitas Utrecht. Pada tahn 1927 ia meraih gelar PhD berkat karyanya yang berupa revisi taksonomi bignoniaceae kawasan Malesia di bawah bimbingan Profesor A. A. Pulle, pakar botani terkenal masa itu. Sejak 1927 hingga 1949 ia bertugas di Kebun Raya Bogor dan Herbarium Bogoriense di Bogor (Waktu itu Buitenzorg). Disinilah pengetahuannya mengenai flora Indonesia tumbuh dan berkembang dengan pesat. Sumbangan ilmiahnya sangat besar dalam bidang-bidang taksonomi, biogeografi dan ekologi tropik. Iapun meletakan dasar-dasar penerbitan Flora Malesiana – satu-satunya terbitan ilmiah berkala mengenai semua tumbuhan berbiji dan paku-pakuan dari seluruh kawasan Malesia, sebuah kawasan yang diciptkannya sendiri berdasarkan pola persebaran tumbhan.
Pelukis Spesies Tumbuhan: AMIR HAMZAH dan MOEHAMAD TOHA
Dilengkapi 57 gambar berwarna. Menampilkan 456 spesies tumbuhan berbnga asli pegunungan Jawa, yang dilukis dalam ukuran sebenarnya berdasarkan spesimen hidup. Semasa hidpnya Amir Hamzah dan Moehamad Toha berkarya sebagai pelukis botani pada Herbarium Bogoriense, Lembaga Pusat Penelitian Alam (Kebun Raya Indonesia), Departemen Pertanian.
Penerjemah & Penyunting Naskah: JENNY A. KARTAWINATA
Mantan Redaktur Pelaksana Majalah Femina
Penelaah ilmiah:
KUSWATA KARTAWINATA
Penasihat Senior dalam bidang ekologi pada kantor UNESCO Jakarta.
ELIZABETH A. WIDJAJA
Direktur PROSEA Network Office, Bogor.
TUKIRIN PARTOMIHARDJO
Pakar ekpologi tumbuhan, Herbarim Bogoriense. Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi LIPI.
Penerbit: Pusat Penelitian Biologi – LIPI, Bogor, Indonesia, 2006
Sejarah Pendakian Gunung dan Panjat Tebing
Sejarah Pendakian Gunung dan Panjat Tebing
SUMBER: http://mapalaui.info
Sebagian besar informasi berasal dari katalog Lomba Panjat Dinding nasional tahun 1990.
Updating dari Adi Seno (M-207-UI), 9 Januari 2004: “Data dari LPDN 90 ini ditulis oleh redpel majalah TRAS, sebelumnya Buletin FPTI, a/n Haryanto Suwarno dan dua kali diperbaiki di TRAS, terakhir ketika pergantian ketua FPTI tahun 1995 (kalau tidak salah)
Updating lainnya dari Adi ada di bagian Ekspedisi Carstensz dan Mount Cook Mapala UI, Ekspedisi Vasuki Parbat Wanadri, dan pemanjatan dinding utara Carstensz oleh Adi dan Budi Cahyono (1992).
1492
Sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m), di kawasan Vercors Massif. Tak jelas benar tujuan mereka, tetapi yang jelas, sampai beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di Pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois, sejenis kambing gunung. Jadi mereka memanjat karena dipaksa oleh mata pencaharian, kurang lebih mirip para pengunduh sarang burung walet gua di tebing-tebing Kalimantan Timur atau Karang Bolong, Jawa Tengah.
1623
Yan Carstensz adalah orang Eropa pertama yang melihat “….. pegunungan yang sangat tinggi, di beberapa tempat tertutup salju !” di pedalaman Irian. Salju itu sangat dekat ke khatulistiwa. Laporannya tak dipercaya di Eropa, padahal belum lama berselang diberitakan ada juga salju di Pegunungan Andes dekat khatulistiwa.
1624 Mana Pass (pass = pelana/punggungan yang terentang antara dua puncak), dan Garhwal di
India ke kawasan
Tibet .
Masih berkaitan dengan pekerjaan juga, pastor-pastor Jesuit merupakan orang-orang Eropa pertama yang melintasi Pegunungan Himalaya, tepatnya
1760 Mont Blanc di perbatasan Perancis-Italia, sehingga dia menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat menemukan lintasan ke puncaknya, untuk penyelidikan ilmiah yang diimpikannya. Sayang tak ada yang tertarik, terutama karena keder terhadap naga-naga yang konon mbaurekso di puncak gunung tertinggi di Eropa Barat itu.
Profesor de Saussure agaknya begitu jatuh cinta pada
1786
Setelah beberapa percobaan gagal, Puncak Mont Blanc (4807 m) digapai manusia. Mereka adalah Dr.Michel-Gabriel Paccard dan seorang pandu gunung, Jacques Balmat. Puncak tertinggi di Alpen yang didaki sebelumnya adalah Lysjoch (4153 m), tahun 1778.
1830
Alexander Gardiner melintasi Pelana Karakoram dari Sinkiang di Cina ke wilayah Kashmir di India.
1852
Ahli-ahli ukur tanah di India berhasil menentukan ketinggian Puncak XV, 8840 meter. Berarti puncak tertinggi di dunia, mengalahkan Puncak VIII (Kangchenjunga, 8598 m) yang sebelumnya dianggap paling tinggi. Puncak XV itu lalu diberi nama Everest (padahal aslinya orang Nepal menyebutnya Sagarmatha, atau Chomolungma kata orang Tibet). Belakangan ketinggiannya dikoreksi, 8888 meter, lalu dikoreksi lagi menjadi 8848 meter, sampai sekarang.
1854
Batu pertama Zaman Keemasan dunia pendakian di Alpen, diletakkan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke Puncak Wetterhom (3708 m), cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga.
1857
Alpine Club yang pertama berdiri, di Inggris.
1858
Ketinggian K2 (singkatan Karakoram nomer 2) terukur, 8610 meter, menggeser lagi kedudukan Kangchenjunga menjadi juara tiga.
1865
Dinding selatan Mont Blanc dipanjat untuk pertama kali lewat lintasan Old Brenva, menandai lahirnya panjat es (ice climbing). Sementara itu di Alpen bagian tengah, Edward Whymper dan enam rekannya berhasil menggapai Puncak Matterhorn (4474 m)di Swiss. Tetapi 4 anggota tim, yang saling terikat dalam satu tali, tewas dalam perjalanan turun, ketika salah seorang terpeleset jatuh dan menyeret yang lain. Musibah ini mengakhiri 11 tahun Zaman Keemasan. Tak urung lebih dari 180 puncak besar telah didaki dalam masa itu, sedikitnya satu kali, dan lebih dari setengahnya oleh orang-orang Inggris.
1874 Jungfrau dan Wetterhorn di musim dingin, sehingga digelari Bapak Winter Climbing. Pada tahun 1870-an ini muncul trend baru, pendakian tanpa pemandu, yang segera menjadi ukuran kebanggaan di antara pendaki.
WA Coolidge mendaki Puncak
1878
Regu yang dipimpin Clinton Dent berhasil memanjat Aiguille du Dru di Perancis, memicu trend baru lagi, yaitu pemanjatan tebing-tebing yang tak seberapa tinggi namun curam dan sulit.
1883 Nanda Devi dan Sikkim India, bahkan konon berhasil mencapai Puncak Changabang (6864 m).
WW Graham menjadi orang Eropa pertama yang mengunjungi Pegunungan Himalaya dengan tujuan mendaki gunung sebagai olahraga dan petualangan. Dia mendaki beberapa puncak rendah di kawasan
1895 Nanga Parbat (8125 m), oleh AF Mummery. Orang Inggris yang sering disebut Bapak Pendakian Gunung Modern ini hilang pada ketinggian sekitar 6000 meter.
Percobaan pertama mendaki gunung berketinggian di atas 8000 meter,
1899
Ekspedisi Belanda pembuat peta di Irian menemukan kebenaran laporan Yan Carstensz, yang dibuat hampir 3 abad sebelumnya. Maka namanya diabadikan di situ.
1902
Percobaan pertama mendaki K2, oleh ekspedisi dari Inggris.
1907
Ekspedisi di bawah Tom Longstaff mendaki Trisul (7120 m), puncak 7000-an yang pertama. Longstaff adalah orang pertama yang mencoba penggunaan tabung oksigen dalam pendakian.
1909
Ekspedisi Persatuan Ahli Burung dari Inggris (BPUE) memasuki rawa-rawa sebelah selatan kawasan Carstensz. Dalam 16 bulan mereka kehilangan 16 orang anggota mati dan 120 sakit.
1910 Munich , Jerman Barat, diilhami oleh penggunaannya dalam pasukan pemadam kebakaran.
Karabiner buat pertama kali dipakai dalam pendakian gunung, diperkenalkan oleh pemanjat-pemanjat dari
1912
Eks anggota ekspedisi BPUE 1090, Dr.AFR Wallaston, kembali ke Irian bersama C.Bodden Kloss, dengan 224 kuli pengangkut barang dan serdadu. Tiga jiwa melayang.
1921 Tibet .
George L.Mallory dkk. berhasil sampai di North Col Everest dalam perjalanan penjajagan mereka dari sisi
1922
Usaha pertama mendaki Everest berakhir pada ketinggian 8320 meter di punggungan timur laut.
1924 Irvine yang kembali mencoba Everest, hilang pada ketinggian sekitar 8400 meter. Rekannya, Edward Norton, mencapai 8570 meter, rekor waktu itu, sendirian dan tanpa bantuan tabung oksigen.
Mallory dan
1931 Matterhorn lewat dinding utara, sekaligus melahirkan demam North Wall Climbing. Peningkatan taraf hidup di Inggris dan Eropa daratan pada umumnya, menimbulkan perubahan pola penduduk
kota melewatkan waktu luangnya, menyebabkan populernya panjat tebing.
Schmid bersaudara mencapai Puncak
1932
Grivel memperkenalkan cakar es (crampoon) model 12 gigi, yang karena efektifnya tetap disukai hingga kini.
1933
Comici dari Italia memanjat overhang dinding utara Cima Grande Lavredo di kawasan Dolomite, Alpen Timur, menandai aid climbing yang pertama. Sekitar tahun ini pula sol sepatu Vibram ditermukan oleh Vitale Bramini.
1936
Dr.A.H.Colijn, manajer umum perusahaan minyak Belanda dekat Sorong, dan geolog DrJ.J.Dozy, menemukan bijih tembaga di kawasan dinding timur Gletser Moriane, tak jauh dari kawasan Carstensz, Irian.
1937
Bill Murray mengubah tongkat pendaki yang panjang menjadi kapak es, menandai lahirnya panjat es modern.
1938
Dinding utara Eiger di Swiss akhirnya berhasil dipanjat, oleh tim gabungan Jerman Barat dan Austria, yang oleh Hitler diiming-imingi dengan medali emas olympiade. Dinding maut ini sebelumnya telah menelan cukup banyak korban, dan berlanjut hingga kini. .
1941
Ekspedisi Archbold ‘menemukan’ Lembah Baliem, kantung suku Dani dengan tingkat kebudayaan yang amat tinggi, di tengah belantara yang seolah tak berbatas dan tak tertembus. Irian kian jadi perhatian ilmuwan-ilmuwan dunia.
1949
Nepal membuka perbatasannya bagi orang luar.
1950
Tibet dicaplok Cina. Pendakian Himalaya dari sisi ini tak diperkenankan lagi. Maurice Herzog memimpin ekspedisi Perancis mendaki Annapurna (8091m), puncak 8000-an yang pertama, menandai awal 20 tahun Zaman Keemasan pendakian di Himalaya. Di Alpen, tali nilon mulai dipergunakan. Sebelumnya, tali serat tumbuhan hampir tak memiliki kelenturan, sehingga ada ‘hukum’ bahwa seorang leader tak boleh jatuh, sebab hampir pasti pinggangnya patah tersentak. Pakaian bulu angsa mulai membuat malam-malam di bivouac lebih nyaman.
gaya Inggris menjadi tolok ukur dunia panjat tebing. Walter Bonatti dkk. menyelesaikan dinding timur Grand Capucin, awal aid climbing pada tebing yang masuk kategori big wall.
1951
Don Whillan menemukan pasangannya, Joe Brown, duet pemanjat terkuat yang pemah dimiliki Inggris. Panjat bebas (free climbing)
Bermula di Inggris, terjadi Revolusi Padas. Tebing batu gamping ternyata tak serapuh yang selama itu disangka. Tebing-tebing granit dan batuan beku lainnya mendapat saingan.
1952
Herman Buhl solo di dinding timur laut Piz Badile di Swiss, dalam waktu 4 1/2 jam. Inilah nenek moyang speed climbing. Rekor waktu pada rute tersebut, yang dibuat tahun 1937, 52 jam!
1953
Herman Buhl dkk. menggapai Puncak Nanga Parbat (8125 m), puncak 8000-an kedua yang didaki orang. Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris, menjadi manusia-manusia pertama yang berdiri di puncak atap dunia, Everest.
1954 Makalu (8463 m). Di Alpen, Don Whillan dan Joe Brown mencatat dinding Barat Aiguille du Dru dalam 2 hari, rekor lagi.
Ekspedisi Inggris sukses di Kangchenjunga, ekspedisi Perancis sukses di
1955
Walter Bonatti solo pilar barat daya du Dru 6 hari.
1956
Ekspedisi Jepang berhasil mendaki Manaslu (8163 m). Jepang segera menjadi salah satu negara besar dalam dunia pendakian di Himalaya.
1957 Austria mencapai
Puncak Broad Peak (8047 m), sekaligus mematok pendakian pertama gunung 8000-an dengan alpine tactic.
Herman Buhl dan tim
1958
Lapangan terbang perintis dibuka pada beberapa lokasi di Irian, membangkitkan semangat para pendaki gunung untuk menjajal Carstensz, sang perawan salju di khatulistiwa.
1960
Claudio Barbier dari Belgia solo ketiga dinding utara di Tre Cima Laverdo dalam 1 hari. Pertama kali speed climbing menggunakan teknik gabungan free dan aid climbing.
Helm mulai sering digunakan para pemanjat tebing.
Harness menjadi wajib, menyusul kematian seorang pemanjat Inggris di Dolomite. Harness pertama yang diproduksi massal dan dijual untuk umum terbuat dari webbing, merek Tankey.
Tebing 48 Citatah mulai digunakan sebagai ajang latihan bagi pasukan Angkatan Darat kita.
1961
Ekspedisi dari Selandia Baru coba mendaki Carstensz Pyramide tapi mengalami kegagalan sebab keterlambatan dukungan logistik lewat jembatan udara.
1962
Puncak Cerstensz Pyramide akhirnya berhasil digapai oteh tim Heinrich Heiner. Juga Puncak Eidenburg didekatnya, oleh ekspedisi yang dipimpin oleh Phillip Temple.
Awal pemakaian baut tebing di Alpen; Tebing pantai mulai diminati. Pemanjat Amerika Serikat mulai bicara di Alpen, diawali Hemmings dan Robbins yang menciptakan lintasan super sulit di dinding barat du Dru.
1963 gaya AS. Kode etik dalam panjat tebing mulai banyak diperdebatkan di rumah-rumah minum. Pemanjatan solo pertama Eiger Nordwand, oleh Michel Darbellay, dalam satu hari.
Tim gabungan Inggris-AS memanjat dinding selatan Aiguille du Fou, hardest technical climbing di Alpen waktu ilu, dengan teknik-teknik aid climbing
Bonatti dan Zapelli menyantap mix climbing (ice dan rock) tersulit di Alpen, dinding utara Grand Pilier d’Angle di
Mont Blanc . Seorang ahli gletser yang baru kembali dari Antartika berusaha mendaratkan pesawat terbangnya di di Puncak Jaya, dekat Carstensz. Untung angin kencang mengurungkan niatnya, sebab salju tebal di
sana terlalu lunak sebagai landas pacu. Tapi buntutnya, dua pesawat DC 3 kandas di lereng utara dan selatannya, pada ketinggian sekitar 4300 meter.
1964
Ekspedisi Cina berhasil mendaki Shisha Pangma (8046 m)di Tibet, satu-satunya puncak 8000-an yang terletak diluar Nepal dan Pakistan (Karakoram). Beberapa pendaki Jepang serta 3 orang ABRI, Fred Athaboe, Sudarto dan Sugirin, yang tergabung dalam Ekspedisi Cendrawasih, berhasil mencapai Puncak Carstensz (4884 m) di Irian. Dua perkumpulan pendaki gunung tertua lahir, Mapala Ul di Jakarta dan Wanadri di Bandung. Tahun ini dianggap awal sejarah pendakian gunung di Indonesia.
1965 Matterhorn diperingati dengan peliputan pendakian Hornli dkk. Oleh BBC/TV sampai ke puncak. Untuk pertama kalinya pendakian gunung maupun panjat tebing menjadi olahraga yang juga dapat ‘ditonton’ orang banyak. Nepal menutup pendakian
Himalaya di wilayahnya.
Seratus tahun pendakian pertama
Robbins dan John Harlin dri AS bikin lintasan lurus di dinding barat du Dru, mendemonstrasikan keunggulan pemanjat AS dalam pemanjatan panjang dan berat. Pemerintah
1967
Revolusi bagi para pemanjat es. Chouinnard memperkenalkan kapak es berujung lengkung, dan McInnes menawarkan jenis Terodactyl. Lahirnya sekrup es berbentuk pipa meningkatkan standar pemanjatan ice climbing.
Penggunaan tali kernmantle dipelopori oleh Inggris.
1968
Nafas segar bagi para pendaki, sejumlah lapangan terbang milik misi Katolik dibuka (Ji Irian. Tapi dasar sial, hampir bersamaan dengan itu Pemerintah Rl tidak lagi mengeluarkan izin pendakian di kawasan Carstensz.
1969
Reinhold Messner keluar dari pertapaannya di tebing-tebing Alpen Timur, meluruk ke barat, menyikat dinding es raksasa tes Drotes dalam waktu 81/2 jam solo, membuyarkan rekor sebelumnya, 3 hari.
Pemanjat-pemanjat Jepang mulai membanjiri pasaran di Alpen, antara lain bikin lintasan baru di Eiger.
Sensus yang dilakukan British Mountaineering Club (BMC) mengatakan, ada 45.000 pemanjat dan 500.000 walkers, di Inggris saja.
Nomer perdana majalah ‘Mountain’ beredar, menjadi media pendaki gunung dan pemanjat tebing pertama yang beredar luas dalam bahasa Inggris, sehingga banyak mempengaruhi perkembangan lewat perdebatan dan opini.
Pemerintah
Nepal membuka kembali wilayahnya bagi pendakian
Himalaya , dengan beberapa peraturan baru dan membatasi pendakian pada puncak-puncak yang terdaftar dalam permitted peaks saja. Agen-agen trekking komersial tumbuh dan berjibun seperti kutu yak, menggelitik kelompok-kelompok kecil dari luar ‘main-main’ di Himalaya dengan mudah dan murah.
Soe Hok Gie dan ldhan Lubis gugur di Gunung Semeru, terkena gas beracun.
1970
Dinding Selatan Annapurna dirambah tim Inggris, menggunting pita pembukaan era pendakian jalur-jalur sulit di gunung-gunung besar. Tingkat kesulitan lintasan menjadi lebih penting dari pada sekedar mencapai puncak. Ini tak lepas dari kian canggihnya perlengkapan panjat es, kecepatan pemanjatan meningkat drastis.
Di Alpen artificial climbing tambah populer dan kaya teknik. Kurang lebih tahun ini pula lahir cabang panjat dinding. Tebing buatan yang pertama dikenal orang kemungkinan besar didirikan di Universitas
Leeds ,Inggris. Perancangnya Don Robinson, yang kemudian juga merancang dinding panjat di Acker’s Trust,
Birmingham , dinding panjat pertama yang diklaim mampu menampung segala pegangan, pljakan dan gerakan panjat tebing, sekaligus menawarkan bentuk sculpture yang artistik.
Sejalan dengan itu, bentuk-bentuk latihan terpisah dalam panjat tebing mulai menggema. Salah seorang pelopornya ialah Pete Livesey, pemanjat yang juga pecinta speleologi dan olahraga
kano , serta punya dasar di atletik sebagai pelari. Pete tahu benar pentingnya latihan spesifik bagi jenis-jenis olahraga tersebut. Dan dia mencoba menerapkan prinsip yang sama pada panjat tebing. Pelan tapi pasti, panjat tebing mulai dipandang lebih sebagai kegiatan atletis, ketimbang sekedar ‘hura-hura di tebing’. Tak lagi memadai semboyan ‘best training for climber is climbing’, apalagi hanya dengan memupuk kejantanan lewat gelas-gelas bir, seperti yang selama & dianut.
1971 Australia ,
Jerman , AS , bahkan Hongkong. Tahun ini pula Mapala UI berhasil mencapai Puncak Jaya, antara lain oleh Herman O. Lantang dan Rudy Badil, orang-orang sipil
Indonesia pertama.
Kawasan Carstensz kembali dibuka untuk pendakian, segera diserbu oleh ekspedisi-ekspedisi dari
1972
Untuk pertama kalinya panjat dinding masuk dalam jadwal olimpiade, yaitu didemonstrasikan dalam Olympiade Munich.
1974
Pasangan Reinhold Messner dan Peter Habeler mendaki Hidden Peak (8068 m) di Karakoram, 3 hari dengan Alpine push, kemudian memecahkan rekor kecepatan Eiger, 10 jam.
1975
Ekspedisi dari Jepang menjadi tim wanita pertama yang menjejakkan Puncak Everest. Sementara itu Cina mengirimkan tim pertamanya, dari punggungan timur laut.
Perlengkapan panjat es kian lengkap, lalu ramalan cuaca kian akurat dengan intervensi komputer. Akibatnya, seolah tak ada lagi pelosok Alpen yang terpencil. Namun, bercak-bercak kapur magnesium mulai terasa merisihkan tebing-tebing di Inggris dan Eropa daratan, kebanyakan dituduhkan sebagai ulah pemanjat-pemanjat ‘hijau’, yang mengobral magnesium pada lintasan-lintasan yang seharusnya bisa dilampaui tanpa bubuk itu.
1976
Harry Suliztiarto tak sanggup lagi menahan obsesinya, dengan tali nilon dia mulai latihan panjat memanjat di Citatah, dan dibelay oleh pembantu rumahnya. Patok pertama panjat tebing modern di Indonesia.
1977 Bandung oleh Harry Suliztiaito, Agus Resmonohadi, Heri Hermanu, Deddy Hikmat. Inilah awal tersebarnya kegiatan panjat tebing di Indonesia.
Skygers Amateur Rock Climbing Group didirikan di
Ekspedisi Selandia Baru coba mendaki Everest tanpa bantuan sherpa. Mereka cuma sampai
South Col , tapi mereka mereka seolah memukul gong yang gaungnya merantak ke mana-mana, ‘ekspedisi berdikari’. Yang pro mengganggapnya sebagai kejujuran yang wajib, yang kontra melecehkannya sebagai kesia-siaan yang konyol. Perdebatan tak selesai hingga kini.
1978 Himalaya dengan pendakian Everest tanpa bantuan tabung oksigen. Tambah geger ketika Messner bersolo karier di Nanga PQrtied dalam waktu 12 hari. Pendakian solo ini oleh banyak pakar dianggap lebih penting daripada pendakian tanpa oksigennya.
Messner & Habeler menggegerkan dunia kangouw
Pemerintah
Nepal menambahkan beberapa permitted peaks.
Dua pendaki Mapala UI, di antaranya Hadidjojo, menjajaki base camp Everest dari sisi selatan.
1979
Harry Suliztiarto memanjat atap Planetarium, Taman Ismail Marzuki.
1980
Tebing Parang untuk pertama kalinya oleh tim ITB, di bawah pimpinan Harry Sulisztiarto. Wanadri untuk pertamakalinya menyelenggarakan ekspedisi ke Carstensz di Pegunungan Jayawijaya. Skygers menyelenggarakan sekolah panjat tebing untuk pertama kalinya. Sampai kini belum ada lagi kelompok yang membuat pendidikan panjat tebing untuk umum seperti ini.
Pemerintah
Nepal membuka kesempatan pendakian musim dingin, di samping musim semi dan musim gugur. Kian banyak kaki meratakan jalan-jalan setapak dipelbagai pelosok
Himalaya , kikan tinggi sampah menumpuk di sana-sini. Sebagai gantinya, konon mata uang asing makin deras mengalir ke
sana . Tapi siapa yang tambah kaya?
1981 Indonesia sekaligus di dinding Selatan Carstensz, Mapala Ul dan ITB. Salah seorang anggota tim Mapala Ul, Hartono Basuki, gugur di sini. Jayagiri dari
Bandung mengirimkan Danardana mengikuti sekolah pendaki gunung di Glenmore Lodge, Skotlandia, dilanjutkan pendakian Matterhorn di Swiss.
Dua ekspedisi
1982 Matterhorn serta Monte Rosa di Swiss.
Jayagiri kembali mengirimkan orang, Irwanto, ke sekolah pendakian di ISM, Swiss, dilanjulkan ekspedisi 4 orang ke Mont Blanc di Perancis, dan
Ahmad dari kelompok Gideon Bandung tewas terjatuh di Tebing 48 Citatah, korban pertama panjat tebing di
Indonesia .
1984
UGM (Mapagama) mengirimkan Tim Ekspedisi Gajah Mada ke Irian Jaya. Tim panjatnya, Gendon Bandono, bersama Ahmad Rizali dari Mapala UI berhasil mencapai puncak Carstensz Pyramide melalui jalur normal.
Tebing Lingga di Trenggalek, Jawa Timur, serta tebing pantai Uluwatu di Bali, berhasil dipanjat oleh kelompok Skygers bersama GAP (Gabungan Anak Petualang) dari Surabaya.
1985 di Himalaya , Nepal . Ekspedisi Jayagiri gagal memanjat Eiger Nordwand.
Tebing Serelo di Lahat, Sumatra Selatan, berhasil dipanjat oleh tim yang menamakan dirinya Ekspedisi Anak Nakal. Ekspedisi Mapala Ul gagal mencapai Puncak Chulu West (6584 m)
1986
Kelompok gabungan Exclusive berhasil memanjat Tebing Bambapuang di selatan Toraja, Sulawesi Selatan.
Ketompok UKL (Unit Kenal Lingkungan) Univeritas Pajajaran Bandung memanjat tebing Gunung Lanang di Jawa Timur.
Pemanjat-pemanjat Jayagiri Bandung merampungkan Dinding Ponot di air terjun Sigura-gura, Sumatera Utara.
Ekspedisi Jayagiri mengulang pemanjatan Eiger, berthasil, menciptakan lintasan baru. Mapala Ul mengirimkan ekspedisi ke Puncak Kilimanjaro (5895 m) di Afrika antara lain Don Hasman.
Kompetisi panjat tebing pertama di dunia diselenggarakan di Uni Soviet, di tebing alam, dan sempat ditayangkan juga oteh TVRI.
Patrick Morrow, pendaki dan fotografer Kanada yang kelak mempopulerkan ide mendaki Seven Summits, mendaki Carstensz Pyramid bersama Adiseno dari Mapala UI. Ini puncak terakhir dari rangkaian Seven Summits yang didaki Pat Morrow.
Di tempat lain, milyuner asal
Texas bernama Dick Bass juga merintis Seven Summits dalam versi berbeda. Dia menganggap Kosciusko (2230 m) di Australia sebagai bagian dari Seven Summits, bukannya Carstesz Pyramid.
Tahun ini pula, bersamaan dengan EXPO di Vancouver, Kanada, Pat Morrow menemani Norman Edwin, Adiseno, dan Tituz Pramono dari Mapala UI untuk memanjat puncak granit Bugaboo Spire (3186 m), salah satu puncak terpopuler Kanada yang terletak di kawasan British Columbia.
Mapala UI berlatih di Carstensz dengan ketuanya Adi Seno. Kelak, Mapala UI meneruskan tradisi latihan di Carstensz ini nyaris secara reguler. Beberapa tim yang datang ke
sana antara lain dipimpin Handiman Rico (Koko), lalu oleh tim yang dipimpin Aloysius Febrian (Dedi).
1987
Empat Anggota Ekspedisi Aranyacala Universitas Trisakti tewas diserang Gerombolan Pengacau Irian dalam perjalanan menuju Jayawaijaya.
Ekspedisi Wanadri menyelesaikan pemanjatan Tebing Batu Unta di Kalimantan Barat.
Kelompok Trupala memanjat tebing Bukit Gajah di Jawa Tengah. Sepikul di Jawa Timur disantap Skygers.
Ekspedisi Wanita Indonesia Mendaki Himalaya ke lmja Tse, Himalaya, hampir bersamaan dengan dua anggota Ekspedisi Jayagiri Saddle Marathon yang sedianya berambisi memanggul sepeda ke puncak namun terhadang birokrasi
Nepal . Di Afrika, ekspedisi sepeda ini berhasil mencapal puncak tertingginya, Kilimanjaro (5895 m) dan Mount Kenya (5199 m, tanpa sepeda).
Ekspedisi Wanadri gagal mencapai Puncak Vasuki Parbat (6792 m) di
Garhwal Himalaya , India .
Adi Seno: “Vasuki Parbat merupakan seri pertama ekspedisi atas biaya Sampoerna yang didapat oleh Wanadri. Dari Mapala UI ada dua orang yang ikut, saya dan Rudi Badil (Kompas). Saya ke base camp mereka dan terus ikut naik sampai Camp III, di mana akhirnya Ogun dkk mencoba ke puncak tapi gagal karena tali habis dan badai datang. Kita semua pulang bareng dgn selamat.‿
Lomba panjat tebing pertama di Indonesia dilaksanakan di tebing pantai Jimbaran di Bali.
1988
Dinding panjat buat pertama kali diperkenalkan di Indonesia, dibawa oleh 4 atlet pemanjat Prancis yang diundang atas kerjasama Kantor Menpora dengan Kedubes Perancis di Jakarta. Mereka juga sempat memberikan ilmu lewat kursus singkat kepada pemanjat-pemanjat kita. Bersamaan, lahir Federasi Panjat Gunung & Tebing Indonesia, diketuai Harry Suliztiarto.
Untuk pertama kalinya disusun rangkaian kejuaraan untuk memperebutkan Piala Dunia Panjat Dinding yang direstui dan diawasi langsung oleh UIAA (badan Internasional yang membawahi federasi-federasi panjat tebing dan pendaki gunung), diawali dengan kejuaraan
di Snowbird , Utah , AS.
Ekspedisi panjat tebing pertama yang dilakukan sepenuhnya oleh wanita, Ekspedisi Putri Parang Aranyacala, Tower III. Sedangkan kelompok putranya memanjat Tebing Gunung Kembar di Citeureup,
Bogor .
Ekspedisi UKL Unpad Bandung di Batu Unta, Kalbar, kehilangan satu anggotanya, Yanto Martogi Sitanggang jatuh bebas. Speed climbing pertama di
Indonesia dilakukan oleh Sandy & Jati, di dinding utara Parang, 3 jam. Sekaligus merupakan pemanjatan big wall pertama tanpa menggunakan alat pengaman sama sekali, keduanya hanya dihubungkan dengan tali.
Lomba panjat ‘tebing buatan’ pertama dilakukan di Bandung, mengambil dinding gardu listrik.
Ekspedisi Wanadri berhasil menempatkan 3 pendakinya di Puncak Pumori (7145 m)
di Himalaya , Nepal , disusul pasangan Hendricus Mutter dan Vera dari Jayagiri mendaki Imja Tse (6189 m), tanpa bantuan sherpa.
Lalu di Alpen, Ekspedisi Jayagiri Speed Climbing gagal memenuhi target waktu 2 hari pemanjatan dinding utara Eiger, mulur menjadi 5 hari. Sedangkan ekspedisi dari Pataga Jakarta berhasil menciptakan lintasan baru di dinding yang sama.
Di Yosemite, AS, Sandy Febyanto dan Jati Pranoto dari Jayagiri memanjat Tebing Half Dome (gagal memecahkan retor John Bachar & Peter Croft 4,5 jam) dan Tebing El Capitan (gagal memecahkan rekor 10,5 jam).
Mapala Ul mendaki Chimborazo (6267 m) dan Cayambe (gagal) di Pegunungan
Andes , Ekuador (Amerika Selatan). Anggota tim adalah Adi Seno (ketua ekspedisi), Tantyo Bangun, alm. Didiek Samsu, Aloysius Febrian (Dedi), dan Setyo Ramadi.
1989 Indonesia merunduk dilanda musibah, gugurnya salah satu pemanjat terbaik
Indonesia , Sandy Febyanto, jatuh di Tebing Pawon, Citatah. Tapi tak lama, semangat almarhum seolah justru menyebar ke segala penjuru, memacu pencetakan prestasi panjat tebing di Bumi Pertiwi ini.
Awal tahun dunia panjat tebing
Tim Panjat Tebing Yogyakrta/TPTY melakukan ekspedisi ke Dinding Utara Carstensz tetapi gagal mencapai puncak secara direct, namun jalur normal Carstensz berhasil dipanjat sebelumnya.
Kembali kawasan Citeureup dirambah anak Aranyacala, kali ini Tebing Rungking. Malang memanjat tebing Gajah Mungkur di seputaran dalam kawah Gunung Kelud. Kemudian tim Jayagiri dalam persiapannya ke Lhotse Shar di Nepal, mematok target memanjati semua pucuk-pucuk tebing sekeliling kawah Kelud tadi, tapi tak berhasil. Ekspedisi Lhotse Shar itu sendiri batal berangkat.
Arek-arek Young Pioneer dari
Tebing Uluwatu dipanjat ekspedisi putri yang kedua, dari Mahitala Unpar.
Kelompok MEGA Universitas Terumanegara melakukan Ekspedisi Marathon Panjat Tebing, beruntun di tebing-tebing Citatah, Parang, Gajah Mungkur, dan berakhir di Uluwatu, dalam waktu hampir sebulan, marathon panjat tebing pertama di
Indonesia . Ekspedisi Putri Lipstick Aranyacala dia Bambapuang, tapi musibah menimpa sebelum puncak tergapai. Ali Irfan Batubara, fotografer tim, tewas tergelincir dari ketinggian.
Tahun ini tercatat tak kurang dari sepuluh kejuaraan panjat dinding diselenggarakan di
Indonesia . Beberapa yang besar antara lain di Universitas Parahyangan
Bandung , Universitas Trisakti Jakarta, ISTN Jakarta, di Markas Kopassus Grup I Serang, dua kali oleh Trupala SMA-6 (di Balai Sidang dan Ancol), lalu SMA 70 Bulungan Jakarta, kelompok KAPA FT Ul, Geologi ITB.
Mapala Ul bikin dua ekspedisi, Mount Cook (3764 m) di Selandia Baru dan Puncak McKinley (6149 m) di Alaska.
Yang mencapai puncak
Mount Cook adalah Sugiono Soetedjo (ketua ekspedisi), Umar Farouk, dan satu pendaki lagi. Sementara Diah Bisono dan Keplek menunggu dan lantas bertemu pendaki sekaligus pemandu terkemuka, Eric Simondson.
Nama yang terakhir ini orang AS, yang di lain kesempatan menemani Gunawan Ahmad (Ogun) dari Wanadri dalam Ekspedisi Khancenjunga di Himalaya. Eric pula yang di akhir ‘90-an menemukan jenazah George Mallory di Everest. Di McKinley, keempat pendaki Mapala UI mencapai puncak: Sugiono Soetedjo, alm. Didiek Samsu, Alloysius Febrian, dan alm. Norman Edwin.
Empat anggota Wanadri termasuk Ogun mengikuti kursus pendakian gunung es di Rainier Mountaineering Institute di AS, dilanjutkan dengan bergabung dengan ekspedisi AS ke Kangchenjunga di Himalaya. Tajuknya saat itu Ekspedisi Sampoerna.
Di Alpen, Ekspedisi Wanita Alpen Indonesia berhasil pula merampungkan misinya, mendaki 5 puncak tertinggi di 5 negara Eropa, Mont Blanc (4807m, Perancis), Grand Paradiso (4601 m, Italia), Marts Rosa (4634 m, Swiss), Grossgiockner (3978 m, Austria) dan Zugsptee (2964 m, Jerman Barat).
Akhir tahun ini ditutup dengan gebrakan Budi Cahyono melakukan pemanjatan solo di Tower III Tebing Parang. Artificial solo climbing pada big wall yang pertama di Indonesia.
1990 Mt. Elbrus (5642 m) di
Pegunungan Kaukasus , Georgia . Ini rangkaian dari program Seven Summits setelah Carstensz Pyramid, Kilimanjaro, dan McKinley. Keempat anggota tim adalah Norman Edwin, Didiek Samsu, Alloysius Febrian, dan Sugiono Soetedjo. Setelah Elbrus, tiga puncak lagi yang disasar adalah
Aconcagua , Vinsson Masif, dan Everest.
Mapala UI menggelar ekspedisi dan berhasil mencapai puncak ke
Di Carstensz, Didiek Samsu dari Mapala UI mencetak rekor tercepat sampai saat itu. Base Camp di Lembah Danau-Danau ke puncak ditempuhnya dalam 10 jam. Didiek mendaki Carstensz menemani pendaki Belanda yang mengejar Seven Summits, Ronald Naar.
1991 Indonesia .
Aryati menjadi wanita Asia pertama yang berhasil menjejakkan kakinya di Puncak Annapurna IV, Himalaya, pada Ekspedisi Annapurna Putri Patria
Tim Srikandi Tim Panjat Tebing Yogyakarta (6 orang) membuat jalur i Bukit Tanggul, Tulung Agung, Jawa Timur.
1992 Indonesia kembali berduka karena kehilangan dua orang terbaiknya, Norman Edwin dan Didiek Syamsu, anggota Mapala UI tewas diterjang badai di
Gunung Aconcagua , Argentina . Tiga anggota tim lainnya adalah Rudi Nurcahyo, Fayez, dan Dian Hapsari.
Dunia petualangan
Beberapa waktu kemudian, dua anggota Mapala UI menyelesaikan pendakian
Aconcagua yaitu Ripto Mulyono dan Tantyo Bangun. Seven Summits ke-5 untuk Mapala UI. Tinggal dua yang belum: Everest dan
Vinson Massif .
Ekspedisi Pemanjat Putri
Indonesia menjejakkan kakinya di Puncak Tebing Cima Ovest, Tre Cime, Italia.
Ekspedisi Putri Khatulistiwa Tim Panjat Tebing Yogyakarta memanjat dinding utara Bukit Kelam, Sintang, Kalimantan Barat.
Adi Seno dan Budi Cahyono ke Carstensz tahun 1992 bulan Mei. Bertemu dua pemanjat dari Eropa Timur.
Adi Seno: “Saat turun Budi memungut helm mereka, karena helm mereka Petzl, mahal banget. Saya jatuhkan di puncak Carstensz ketika dipakai untuk menggali snow hole. Kita bermalam di puncak. Saya punya foto Budi di puncak ketika tiba malam, dia yang simpan. Teman-teman dari Wanadri, Jojo teman saya ke Vasuki Parbat tahun 1987 (Juni) tidak percaya saya sampai di atas sana.‿
“Kami manjat dua hari. Hari pertama kemah di teras besar. Hari kedua sampai di puncak pukul 18.00 waktu setempat. Bermalam karena jalan turun lewat rute normal yang saya pernah lewati dua kali sebelumnya (1984 dan 1986) tidak terlihat. Besoknya kita turun rapelling dan meninggalkan anchor di puncak tali. Sebuah webbing kuning, (mustinya Agung, Zainal, Rully dkk lihat karena selanjutnya mereka yang ke puncak).
Rute tersebut di pesawat pulang ke
Jakarta disepakati oleh Budi Cahyono, atas usul saya, untuk dinamai rute Norman Edwin yang tahun itu meninggal di
Aconcagua . Ini mencontoh rute sulit di Eiger yang diberi nama pendaki Amerika terkemuka, yang tewas saat mencoba membuat rute. Cerita ini ada di TRAS edisi tahun 1993.
1993 Jakarta .
Mapala UI berekspedisi dan berlatih untuk kesekian kali ke Carstensz. Satu tim (Zainal, Agung, Rully) membuat jalur direct, memanjat Carstensz Pyramid dan kelak jalur ini diberi nama Didiek Samsu. Satu tim lagi (Sapto, Hariyono, Cholik, dll) mendaki lewat rute normal. Tim pimpinan M. Fayez ini juga mendaki puncak-puncak lain di kawasan itu, sekaligus melakukan penelitian terhadap fungsi faal manusia di ketinggian, melibatkan unsur medis dari
Bulan Desember, Adi Seno dan Diah Bisono berusaha ke
Mount Cook lewat jalur pendakian pertama. Tapi lantas memustuskan kembali setibanya di gletser.
————————-
1994
Ekspedisi Mapala UI memanjat tebing-tebing di Trenggalek dan Pacitan.
1995
Adi Seno bersama Patrick dan Baiba Morrow mendaki 21 gunung di atas ketinggian 3000 meter di Jepang. Mereka menyeberangi Pulau Honsyu dari Laut Jepang sampai Laut Pasifik sambil mendaki marathon.
1996
Dua guide profesional, Scott Fischer dari San Francisco (AS) dan Rob Hall dari Selandia Baru tewas saat terjadi musibah di Everest. Jon Krakauer, anggota tim yang juga reporter Majalah Outside, menuliskan tragedi ini ke dalam buku yang lantas menjadi best seller, Into Thin Air, dan juga difilmkan.
Mapala UI sekali lagi menyatroni Trenggalek, Jawa Timur. Kali ini giliran Watu Lingga yang batuan andhesit-nya rapuh.
Para pemanjat di acara Temu Wicara dan Kenal Medan Mahasiswa Pencinta Alam Indonesia (TWKM) membuat beberapa jalur sport climbing di Tebing Lazila, Buton (Sulawesi Tenggara).
1997 Himalaya . Banyak pihak yang meragukan kedua kakinya telah menjejak puncak tertinggi di dunia itu.
Clara Sumarwati membuat kontroversi dalam pendakiannya di Everest, puncak tertinggi di Pegunungan
Pratu Asmujiono anggota pendaki dari Kopassus menjadi orang pertama
Indonesia yang menjejakkan kakinya di puncak tertinggi
Himalaya , Everest. Asmujiono berangkat bersama tim Ekpedisi Everest
Indonesia yang merupakan gabungan anggota Kopassus dan pendaki sipil lainnya. Tiga pendaki Mapala UI terlibat dalam ekspedisi ini. Rudi Nurcahyo mendaki dari sisi selatan, Ripto Mulyono dari sisi utara, dan ada pula Adiseno.
Ekspedisi Putri Mapala UI merampungkan pemanjatan Bambapuang di Sulawesi Selatan. Anggotanya adalah Andi Purnomowati, Maya, Nadira, Dian, dan Ita.
1999
Tebing Lawe di Banjarnegara (Jawa Tengah) dipanjat oleh Mapala UI.
2002
Tebing Dolok Simarsolpa di Sumatera Utara dipanjat oleh beberapa anggota Mapala UI bersama pemanjat setempat. Simarsolpa berbatu andhesit setinggi 250 meter.
Anatoly Boukreev, seorang mountaineer berkebangsaan Rusia yang terkemuka di Himalaya, konsultan pada Ekspedisi Indonesia ke Everest pada tahun 1997, tewas tertimpa avalanche di Annapurna.
2003
Ekspedisi Mapala UI memanjat tebing Gunung Krakatau di Selat Sunda. Sekitar tahun ini pula Mapala UI merintis jalur baru untuk mendaki puncak Gunung Raung (Jawa Timur) yang sesungguhnya. Di Jawa Barat, tebing Sela-Rumpang di Taman Nasional Gede Pangrango dijajal oleh beberapa pemanjat Mapala UI dengan izin khusus.
Ekspedisi Aranyacala Trisakti ke Mount Cook di Selandia Baru gagal pada percobaan pertama. Sembilan pendaki diselamatkan oleh SAR setempat.
2004
Patrick Berhault meninggal jatuh di Dom, puncak tertinggi Swiss, dalam rangka memanjat semua tebing gunung 4000 meter di Alp. Rencananya selama tiga bulan dia manjat semua 4000 meter, dan jika berhasil di DOm itu berarti puncak yang ke-65!
Kejadiannya 29 April. Berhault pernah manjat di
Indonesia bersama Corinne Labrun. Dia juga yang ikut membangunkan FPTGI, cikal bakal FPTI.
(*)

