“Pecinta Alam” Bukan Cuma Soal Sampah
“Pecinta Alam” Bukan Cuma Soal Sampah
Dalam beberapa fokus diskusi milis atau thread, sering dibicarakan soal istilah “Pecinta Alam” yang kayaknya mulai kehilangan arahnya. Atau rohnya. Dan dalam diskusi-diskusi itu, membicarakan istilah “Pecinta Alam” hampir selalu nggak terpisah dengan soal pencemaran sampah. Bahkan, sering pecinta alam itu dituding merusak alam, mencemari gunung, etc, etc, etc. Dan pembahasan pecinta alam selalu berkutat dalam soal pencemaran sampah, kondisi lingkungan buruk, sehingga banyak orang yang suka naik gunung malu menyandang “Pecinta Alam”. Lebih memilih istilah: PA (Penikmat Alam), atau BUPALA (Bukan Pecinta Alam). Kenapa malu dengan istilah Pecinta Alam? Bukankah pecinta alam itu punya makna yang lebih besar daripada sampah dan pencemaran?
Setau gua, secara historis, istilah “Pecinta Alam” pertama digunakan oleh Soe Hok Gie CS waktu mau ngebentuk Mapala UI. Itu tahun 1964. Tujuan organisasi ini ada 3 (Dasar-dasar Kegiatan Alam bebas, Mapala UI, 1999):
- Memupuk patriotisme yang sehat di kalangan anggotanya. Ini dapat dicapai dengan jalan hidup di alam dan rakyat kebanyakan. Bahwa patriotisme yang sehat tidak mungkin timbul dari slogan-slogan, indoktrinasi ataupun poster-poster. Patriotisme yang sehat hanyalah mungkin dibina atas pastisipasi yang aktif dari seorang melalui hidup di tengah-tengah alam dan rakyat Indonesia pada umumnya.
- Mendidik para anggotanya, baik mental maupun fisik. Sebab kader yang baik adalah kader yang sehat jasmani dan rohaninya.
- Mencapai semangat gotong royong dan kesadaran sosial.
Oke, mungkin ini ribet… tapi sekedar mengingatkan, bahwa istilah pecinta alam lahir bukan cuma mau bicara soal sampah. Pecinta alam, awalnya punya soal yang lebih besar, soal-soal nasionalisme pemuda yang mestinya terus-menerus di pupuk. Dengan cara jalan-jalan ke alam. Eksplorasi.
Atau, kalo ini dianggap abstrak, tidak kongkrit, setidaknya tujuan mulia itu lahir dan hidup sebagai visi dan semangat dari pemuda-pemuda
Indonesia yang suka keluyuran di alam.
Sekedar usul, sebaiknya membicarakan pecinta alam tidak melulu bicara soal sampah dan pencemaran lingkungan. Bukannya persoalan sampah adalah persoalan semua orang? semua komunitas? Nggak cuma PA? Nggak usah jauh-jauh, lokit aja
Jakarta . Gudangnya sampah kaleeee…. Bahkan, masalahnya lebih serius dibandingkan sampah gunung, dan dampaknya lebih langsung dan lebih dirasakan masyarakat. Ini bukan berarti menyepelekan soal sampah di gunung.
So, bukannya soal sampah berarti cuma salah satu soal dari istilah “Pecinta Alam”? Bagaimana kalau bicara soal yang lebih besar lagi? Soal-soal nasionalisme? Soal-soal mendasar bangsa ini? Soal kenapa seorang pemuda ngambil S2 di luar dan ogah balik lagi ke Indo dan malah memutuskan jadi WN
sana ? Soal-soal orang yang bicara kesejahteraan padahal mencekik leher rakyat? Bukannya itu juga soal-soal anak PA ya? Soal-soal TRIDARMA PERGURUAN TINGGI.
Jadi, menurut gua, awalnya istilah “pecinta alam” itu punya makna yang lebih luas dari sekedar sampah. Soal yang bosan kita bicarakan tiap hari dan tanpa perubahan. Karena apa? Karena soal-soal yang lebih mendasar lagi dari bangsa ini nggak juga tertanggulangi. Soal orang korupsi, soal hukum yang bengkok, soal sogok-sogokan politik, etc.
Dalam perjalanannya, organisasi yang dibentuk GIE CS itu, selain naek gunung, juga rata-rata tiap dua tahun sekali bikin acara baksos.
Semua cuma untuk jalan-jalan dan melihat orang
Indonesia dari dekat. Supaya kita peka: terhadap orang, terhadap lingkungan.
dadang