Lumba-lumba Berhati Buaya
Lumba-lumba Berhati Buaya
Seminggu lalu saya menghadiri ceramahnya Pak Rhenald Kasali, pakar manajemen. Ia biacara soal Merek (Brand) dalam rangka acara hari Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sedunia ke-7 di Art Gallery, Kemang. Selesai ceramah, panitia dari pusat HKI fakultas hukum UI memberinya kenang-kenangan: Boneka Lumba-lumba UI. Boneka itu maskotnya UI.
Sewaktu menerima merchandise itu Pak Rhenald bertanya pada floor, “Tau nggak artinya Lumba-lumba?”. Floor saling lirik, lalu memberi jawaban macam-macam: pintar, cerdas, tangkas, penolong, penyayang.
Tidak ada yang salah. Dan ini mungkin sesuai dengan lambangnya UI, “Makara”, yang artinya hewan laut.
Pak Rhenald menambahkan, prakteknya, setelah lulus, kebanyakan anak-anak UI bergerak maju dan berkembang sendiri-sendiri. Ini beda misalnya dengan Unpad atau ITB, yang lebih sering bersama-sama. Padahal, kecenderungan Lumba-lumba itu bersama-sama. Beda halnya dengan Buaya: agresif, analitis, fokus dan penyendiri. Tapi keduanya jelas binatang beda, satu mamalia satu reptil.
Dalam beberapa artikel dan bukunya, Pak Rhenald sering menyandingkan kedua hewan itu dalam bahasan leadership dan kerja sama. Masing-masing mengacu pada karakter hewannya. Tapi, mana gaya paling tepat, setiap pemimpin tetap harus memimpin. Minimal memimpin dirinya sendiri.
Si Lumba-lumba, suka berkelompok, cerdas dan penolong. Mungkin dia bisa kita kategorikan sebagai mamalia lembut yang mewatakkan orang baik hati. Sebaliknya, Buaya adalah Buaya, berjaya di air dan di darat. Reptil ini bisa sangat menyendiri, agresif, kuat, analitikal dan fokus. Seperti gambaran kulitnya yang tajam dan keras. Mana yang lebih baik untuk memimpin, bekerja sama dan maju?
Keduanya punya kekurangan kelebihan. Dan mengambil kedua kelebihannya tentu yang paling baik: binatang agresif dan lembut, Lumba-lumba berhati buaya atau Buaya berhati Lumba-lumba. Ini berarti sama dengan seorang yang agresif melihat peluang, penuh analisis sebelum bergerak dan fokus, juga sekaligus baik hati dan penolong.
Sekali waktu, saya membandingkan Lumba-lumba di hati Buaya itu dengan kawan saya. Sebut saja namanya Tomas. Dia seorang wartawan yang juga pendaki gunung. Sekali waktu saya mendaki bersama Tomas. Repot sekali orangnya. Sebelum berangkat dia minta saya pelajari peta gunungnya, detil. Padahal, untuk mendaki gunung itu, jalan umumnya sudah terbuka lebar. Juga perlengkapan kemah dan alat mendaki. Tomas sampai membuat ceklist detilnya. Dan latihan. Dia memaksa saya joging seminggu dua kali biar bugar dan otot kaki tidak keram di tanjakan gunung. Saya ikuti, dan saya juga jadi ribet.
Di gunung, saya keteter di tanjakan. Tomas di depan dan saya jadi ekor. Padahal, dari kelakuannya yang perokok dan jarang olah raga, Tomas harusnya tergopoh-gopoh. Tapi ini tidak, ia berjalan pelan di tanjakan, tapi konstan. Sekali-sekali memandang ke puncak, matanya tajam ke sana. Dan dia tahu persis apa yang harus dilakukannya, bergerak, menyesuaikan, menaganalisa masalah dan merebut puncak.
Saya melihatnya seperti buaya: bergerak santai namun ada agresivitas di dalamnya. Setidaknya, mata yang tajam mengarah ke puncak. Tomas fokus dan hatinya tak terbantahkan.
Sekali waktu saya menemuinya di bawah pohon. Tomas sedang istirahat, dan saya tidak yakin betul dia benar-benar istirahat. Dia sedang menunggu saya yang keteter jauh di ekor. Dia peduli pada saya, dan saya yakin tidak tertipu dengan baik hatinya. Tapi, matanya masih terus ditancapkan ke puncak gunung, ke tujuannya.
Kami berjalan lagi dan begitu seterusnya. Dia berjalan pelan dan konstan sambil tidak mengedipkan mata ke puncak. Dan waktu saya keteter lagi, dia menunggui saya, memastikan kawannya seorang ini baik-baik saja. Sampai-sampai, saya lama-lama tidak enak hati, dan makin memaksakan diri mengejarnya di depan, diatas.
Mungkin tipe ini yang dimaksud dengan Lumba-lumba berhati Buaya? Semoga tidak salah mengambil keputusan. Tapi yang jelas, kawan sepengiringan saya itu positif di hati, obyektif di pikiran dan agresif dalam tindakan. Disamping juga, dia Buaya darat. Maksudnya bener-bener “Buaya Darat”. Banyak cewe-cewe yang didaratkan di hatinya. (Dadang Sukandar).
April 18th, 2008 at 10:53 pm
oK ju9a,,,,,,
November 4th, 2008 at 5:03 am
Thank you for your site
I made on photoshop backgrounds for myspace,youtube and whatever
my backgrounds:http://tinyurl.com/5assk2
take care and thank you again!