Mitos, Masih Kalah Angker
Mitos, Masih Kalah Angker
Lu percaya “mitos”? Kemarin kawan gua cerita, soal kucing yang mati di jalan, dan tiba-tiba gua ingat mitos. Ceritanya begini. Sewaktu nyetir mobil, kawan gua itu ngelindes kucing. Meninggal. Karena nggak mau ambil pusing dia bilang, “Taro aja di pinggir jalan”. Semua masalah beres.
Warga sekitar yang lihat tiba-tiba minta supaya kawan gua ngurusin jenazah kucing itu dengan layak, dikubur. Kawan gua itu sempat berniat memasukannya ke mobil. “Nanti malah jadi repot”, katanya. Akhirnya dia kasih uang ke orang yang lihat itu dan minta tolong nguburin.
Dulu, nenek gua bilang, kalau ada kucing melintas di depan sewaktu berkendaraan, itu artinya tanda-tanda sial. Seperti kawan gua itu: udah kehilangan waktu, keluar uang pula. Mitos kucing nyebrang: Kesialan.
Waktu naek gunung Slamet, gua pernah diwanti-wanti sama petugas jaga pos pendakian soal mitos: jangan ngomong sembarangan selama di gunung itu. Juga, kalau haus jangan bilang haus, kalau mendung jangan bilang hujan, karena kalau kita bilang, maka itu semua akan terjadi: kehausan dan kehujanan.
Di gunung Ciremai mitosnya lain cerita, orang dilarang buang air kecil di gunung itu. Jadi, jangan heran kalau naik gunung Ciremai kita akan menemukan botol-botol air mineral yang digantung di cabang-cabang pohon berisi air yang berwarna kekuningan. Isinya air kencing di sepanjang jalan.
Dilemanya kalau kita naik Ciremai: 1) Kencing di tanah dan terkena sanksi mitos, atau 2) Masukan penis ke dalam botol, kencing di dalamnya, terus gantungkan botol itu di cabang pohon. Bayangkan, kalau ada seratus orang berpikiran seperti nomor 2) dalam sebualan, Ciremai apa jadinya ya?
Dalam kepecinta alaman memang ada satu etika: “Menghormati adat istiadat setempat”. Tapi, apa etika semacam ini musti kita telen mentah-mentah? Meninggalkan botol air mineral berisi air kencing di cabang-cabang pohon, apa berarti sudah menunaikan kewajiban “menghormati adat setempat”? Lalu, soal lingkungannya yang menjadi kotor?
Dua kali mendaki gunung ini, gua sempat acuh sama etika adat itu. Gua lebih memilih menyiram tanaman hutan dengan air kencing, dan memupuk pohon-pohon dengan tinja di kubur tanah, ketimbang nyerah sama adat. Gua rasa, itu akan lebih baik. Kotoran kita, disaring sama alam, diurai dalam tanah lalu dijadikannya pupuk. Tanpa meninggalkan plastik botol air mineral yang jelas-jelas sulit diurai, apalagi berisi air kencing yang bisa bikin jijik, geli, dan muntah.
Buktinya, gua nggak kenapa-kenapa karena pelanggaran mitos itu. Atau memang belum? Terserah lah, yang pasti ilmu-ilmu tentang bagaimana alam mengurai kotoran masih lebih angker ketimbang mitos yang sulit di jelaskan (Atau gua aja yang nggak ngerti penjelasan ilmiahnya?). Mitos masih kalah angker sama ilmiah.
Dadang Sukandar
October 27th, 2008 at 7:45 am
ga masalah ma lingkungan broo……tuh botol kuning kan bkl diambil n dibuat minuman berenergi ama penduduk sana…..heheheheh