Nasionalisme, Prestasi dan Hura-hura.
Nasionalisme, Prestasi dan Hura-hura.
Dalam beberapa milis dan forum, soal blangsaknya pecinta alam belakangan nyanter banget baunya. Dan banyak pula anggota perkumpulan pencinta alam yang sekarang malu-malu mengaku “Pencinta Alam”, kesannya ekslusif, munafik, sok jago dan jijik. Padahal sewaktu pelantikan di organisasi Mapalanya mungkin bangganya bukan main. Sekarang malah lebih seneng nyebut dirinya “Penikmat Alam” saja. Tapi biarlah, toh seorang “Penikmat Alam” juga merupakan “Pencinta Alam”. Seorang Pencinta Alam, adalah orang yang paling bisa menikmati alam.
Sebabnya mungkin karena perbedaan persepsi di kalangan pelaku-pelakunya, seperti organisasi Pencinta Alam, misalnya Mapala. Tanpa persepsi yang sama terhadap istilah, kita cuma akan bicara menurut pengertian masing-masing. Dan tanpa ada persamaan persepsi tentang apa itu “Pencinta Alam”, tentunya dalam kita diskusi bisa jadi kurang nyambung, karena nggak punya alat ukur yang sama. Alat ukur kita cuma pengertian sendiri-sendiri yang belum tentu klop itu, dan sering bikin nyerempet emosi.
Dalam hukum, ada beberapa cara untuk mengintepretasikan sebuah pengertian (Khusunya pasal). Paling sering digunakan adalah intepretasi gramatikal, berdasarkan bunyi kalimatnya. Dan ini juga yang sering dilakukan, mengintepretasikan istilah “Pencinta Alam” dengan menarik dua kata itu menjadi terpisah: “Pencinta” dan “Alam”. Tentu buat tiap orang ini maknanya bisa jadi hablur. “Pencinta” adalah layaknya orang yang jatuh cinta, mungkin akan mati-matian kita membelanya. Dan “Alam”, lebih sering kita artikan sebagai hutan, gunung dan sungai. Jadi pencinta alam kira-kira sama lah dengan membela alam, kalau perlu mati-matian. Dan yang nggak sanggup membelanya mati-matian, bisa ditoleransi dengan cara “Leave nothing only footprints” kalau ke gunung, kalau ke hutan dan sungai. Nggak nyampah.
Tapi, apakah “Alam” yang dimaksud disini cuma alam gunung, hutan dan sungai? Bagaimana dengan kota? Apakah itu bukan “Alam”? Bahkan, dengan dunia mahluk halus, apakah itu juga bukan alam sehingga orang sempet susah-susah bikin “Ekspedisi Alam Gaib”? Ditayangkan di TV pula (Emang, ternyata setan laku di jual).
Ketimbang gramatikal, saya pribadi lebih milih mengitepretasikan istilah “Pencinta Alam” secara historis. Mempelajari sejarahnya: “Kenapa bisa yang munculnya istilah Pencinta Alam?”. Dari nge-trace sejarahnya mungkin kita bisa ngerti latar belakang pemikiran kenapa yang digunakan istilah Pencinta Alam. Bahwa pencinta alam muncul karena begini begitu, deh!
Dari literatur dan cerita turun temurun, secara historis, istilah Pencinta Alam pertama kali dimunculkan di fakultas sastra UI. Gengnya Soe Hok Gie cs yang memperkenalkan ini.
Suatu sore di tanggal 8 November 1964. Waktu istirahat kerja bakti di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Soe Hok Gie mengemukakan gagasan itu. Kepada kawan-kawannya, sesama mahasiswa sastra UI, ia mengatakan mau membentuk organisasi untuk kelompok-kelompok mahasiswa yang gemar keluyuran di alam bebas. Kebanyakan mereka anak-anak Arkeologi dan Antropologi yang memang tukang turun lapangan.
“Tudjuan Mapala ini adalah mentjoba untuk membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa-mahasiswa untuk setjara djudjur dan benar-benar mentjintai alam, tanah air, raktjat dan almamaternja. Mereka adalah sekelompok mahasiswa jang pertjaja, bahwa patriotisme tidak dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan djendela-djendela mobil. Mereka pertjaja bahwa dengan mengenal rakjat dan tanah air Indonesia setjara menjeluruh, barulah seseorang dapat mendjadi patriot-patriot jang baik”. (Soe Hok Gie, Media cetak Bara Eka, 1965).
Organisasi ini akhirnya di resmikan dalam suatu upacara di bukit kapur Ciampea. Awalnya organisasi ini bernama “Impala”, Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam. Tapi karena waktu itu Impala terdengar borjuis (Nama merek mobil mewah), dan segala sesuatu yang borjuis waktu itu diganyang, maka mereka ganti nama menjadi Mapala Prajnaparamitha, dan tahun 1971 setelah berada langsung dibawah Rektorat berganti nama menjadi Mapala UI sampai sekarang. Mapala sendiri akronim dari “Mahasiswa Pencinta Alam”, yang bisa juga berarti “Buah yang tumbuh”.
Selain mendidik mental dan fisik anggota-anggotanya, organisasi ini juga bertujuan memupuk patriotisme yang sehat. Patriotisme yang sehat hanya mungkin dibina atas pastisipasi aktif melalui hidup di tengah-tengah alam dan rakyat Indonesia. Juga bertujuan mencapai semangat gotong royong dan kesadaran sosial.
Saya sih nengkepnya “Pencinta Alam” ini lahir sebagai sebuah konsep yang berusaha “menyambungkan” pemikiran intelek anak-anak di kampus dengan realita masyarakat, supaya mereka punya alat ukur untuk teori-teori ilmu yang dijejalkan di bangku kuliahan. “Sesuai nggak sih statistik yang dijelaskan dosen ekonomi di kampus tentang kesejahteraan dengan realitas di kaki gunung?”
Dengan mengetahui keadaan bangsa secara lengkap, dari buku dan lapangan, diharapkan anak-anak muda yang kuliah ini nanti, sewaktu jadi deccision maker di masyarakat, dapat lebih berani sekaligus bijak membuat keputusan. Karena dirinya sudah disuplai ilmu, kekuatan mental dan realitas kesadaran sosial. Dengan ilmu, anak muda berpikir. Dengan Pencinta Alam, anak muda berlatih tentang jiwa dan mental. Dengan Mapala, mahasiswa berlatih mengambil keputusan, yang “objective”. Pun dengan Mapala, pemuda belajar mengenal tanah airnya. Bukan menjadi pemuda yang takut berjudi dengan tantangan dalam memperoleh mimpi cita-cita yang tinggi, cuma karena alasan: takut miskin.
Urusan kantung dan amplop, kini sulit mencari pemuda yang intelek “berani miskin”. Mungkin seloroh Soe tentang duit itu salah. Dulu almarhum suka berkata, “Pokoknya kita musti atur duit, jangan duit sampe ngatur kita”. Sering dia omong serius, katanya, “Lo musti punya kepribadian, karena lo bukan anak orang kaya, juga bukan anak orang berpangkat. Kalau enggak gitu, lo enggak punya apa-apa.” ( “Jejak Kampus Di Jalan alam”, 2005).
Selain karena idealismenya itu, Mapala ini juga lahir karena didorong situasi politik yang menuntut revolusi waktu itu. Seperti layaknya kaum intelektual, mahasiswa selalu ambil peran dalam setiap perubahan arah bangsa. Karena ingin turut berperannya, mahasiswa-mahasiswa di kampus banyak yang ikut-ikutan partai politik. Tapi ada juga yang tidak, dan yang tidak ini juga tidak berkembang. Dan Mapala, hadir untuk mengelompokkan mahasiswa dalam sebuah wadah jalan-jalan, ke gunung, ke hutan, ke salju. Untuk mengembangkan diri juga.
Tapi bukan berarti anak-anak muda ini keluyuran dan lantas tidak peduli nasib bangsa. Justru dengan jalan-jalan ke “Alam”, anak-anak muda ini melihat yang namanya “bangsa”. Saya pernah baca sebuah artikel Soe tentang pendakian dari arah utara gunung Slamet, kalau nggak salah di buku “Zaman Peralihan”. Waktu baca judulnya, saya kira Soe akan cerita soal heroik-nya naik gunung itu dari utara. Tapi, dia malah cerita soal perbedaan pendapat di puncaknya. Sewaktu rekannya mendaki bermaksud mengacak-acak barisan batu-batu yang membentuk tulisan “Soekarno”, Soe melarang. Katanya, meski beda pendapat, kita musti mengharagai perbedaan itu. Juga ceritanya soal pergerakan-pergerakan politik di daerah yang waktu itu genting. Dan Soe menemukannya di jalan, di lapangan, di puncak gunung Slamet.
Idealis, humanis, dan juga punya pesan moral, setidaknya begitu yang saya tangkap tentang “Pencinta Alam”. Tapi, jangan juga ini dipandang sebagai kegiatan yang amat teramat sangat serius karena suasana politik waktu itu yang dalam keadaan genting. Banyak juga anak-anak kampus itu yang menikmati perjalanan mereka cuma buat leyeh-leyeh, kemping ceria atau hahahihi saja, yang penting kebersamaannya dalam suasana persaudaraan yang lebih khidmat. Sedikit hura-hura pun nggak masalah, toh ini hanya hobi di musim libur. Dan Mapala punya nasionalismenya sendiri waktu itu.
Pada era 1980 dan 1990-an, Pencinta Alam bisa dibilang mengapresiasikan nasionalismenya lewat prestasi, lewat berbagai kegiatan ekspedisi petualangan. Disemangati oleh perdebatan pendapat Dick Bass dan Pat Morrow soal Carstensz Pyramid atau Mount Kuzioska yang jadi bagian dari “The Seven Summit”, anak-anak muda di Indonesia, baik yang Mapala maupun bukan, rame-rame rebutan prestasi ekspedisi gunung es. Wanadri berangkat ke Vasuki Varbat. Mapala UI ke McKinley. Juga tim ekspedisi putri yang independen, berangkat ke Aconcagua. Menjelang akhir abad milenium, 1997, Indonesia menginjakan kakinya di puncak Everest dalam sebuah ekspedisi yang dikoordinir Kopasus. Tapi dibaliknya dilibatkan juga organisasi-organisasi sipil yang suka jalan-jalan ke gunung itu.
Satu yang tidak dilupakan tim-tim itu, menyelipkan dua bendera kecil ke dalam ranselnya sewaktu packing, sebelum berangkat ke bandara. Bendera merah putih dan bendera organisasinya, untuk melakukan tindak tanduk seperti biasa orang naik gunung, difoto di balik kedua bendera itu di puncak gunung. Dan yang menyembul adalah kebanggan sebagai sebagai orang Indonesia.
Anak muda memang butuh prestasi, tapi apakah ekspedisi gunung-gunung ini cuma supaya bisa tepuk dada? Menurut almarhum Mang Ayat, “Penaklukan itupun baru akan berhasil jika si manusia berhasil menyeimbangkan kedua aspek dirinya itu. Keseimbangan jasmani dan rohani itulah yang menyebabkannya berhasil mencapai puncak gunung dan sebagainya itu. Jadi, sama sekali ia tidak menaklukan alam.”
Pasca ekspedisi Everest menjelang milenium tahun 2000, adalah masa yang sulit buat Indonesia. Masa Reformasi. Masa kerusuhan di bulan Mei. Masa tembak-tembakan di pinggir jalan. Ekspedisi anak-anak Pencinta Alam jarang, malah tidak, terdengar. Ke mana anak-anak Mapala ini? Ngumpet di gudang alat?
Suatu malam di tahun 1998 saya menonton siaran berita TV. Berita tentang demonstrasi mahasiswa di depan gedung DPR. Beritanya adalah tentang tentara-tentara yang ditabrak mobil VW Safari warna merah ketika mereka membarikade masa demonstran mahasiswa. Saya sempat melihat tayangan mobil VW merahnya. Hal yang paling saya ingat sampai sekarang tentang mobil itu adalah sticker yang ditempel di kaca depannya. Sticker itu bertuliskan “Petzl”, sebuah nama merek peralatan mendaki gunung yang waktu itu cukup beken di Jakarta. Melihat sticker itu saya langsung berasumsi, “Ini pasti mobilnya anak Mapala.” Karena rata-rata anak Mapala yang ngerti alat-alat semacam jummar, auto stop dan grigri merek Petzl. Betul saja. Sewaktu saya kuliah dan dilantik jadi anggota Mapala, saya ketemu pemilik dan penyopir mobil itu. Dia ternyata senior saya. Dan menurut senior yang lain, waktu jaman demo-demo itu mereka menutup kemeja resmi organisasi Pencinta Alamnya dengan jaket almamater, dan bergabung dengan gelombang mahasiswa yang lain dalam sebuah demo di dekat Senayan. Gunung, nanti dulu lah. Negara lebih penting.
Setelah (Apa yang kita sebut) “Rezim” tumpas, anak-anak Mapala ke gunung lagi. Ke hutan lagi. Berprestasi lagi. Tanpa mengukur enteng beratnya ekspedisi, Indonesia bertualang lagi. Aryanyacala Trisakti berangkat ke Mount Coock. Mapala Unand ke Carstensz. Juga tim ekspedisi wanita Indonesia, berangat ke Kalla Patar dengan membawa pesan kemanusiaan tentang penyakit Lupus.
Bukan cuma prestasi, kemanusiaan anak-anak Mapala juga tersenggol sewaktu terjadi bencana tsunami di Aceh. Bergabung dengan solidaritas nasional para volunter, banyak anak Mapala yang ikut mengantri di bandara buat ngikut ke Aceh dan membantu sebisanya. Juga ketika gempa Jogja, anak-anak di sekber Pencinta Alam Jogja sampai susah di telepon dan di SMS karena shock sekaligus musti stand by di pos pengungsian bencana gunung Merapi.
Menurut saya, “Pencinta Alam” punya makna yang filosofis: Nasionalisme, Prestasi dan Hura-hura. Seorang Pencinta alam dituntut mencintai tanah airnya, itu sudah pasti, seperti juga setiap pemuda dituntut untuk mencintainya. Karena itulah Mapala menggembleng jiwa-jiwa mudanya di alam bebas, supaya kekuatan “Jasmani” dan “rohaninya” seimbang. Juga berkesadaran sosial, terlibat dalam masalah-masalah bangsa dalam kapasitasnya sebagai mahasiswa dan intelektual. Dan prestasi, rasanya gunung, laut, tebing, sungai dan goa adalah alat yang mumpuni untuk menggembleng kekuatan jasmani dan rohani pemuda-pemuda itu supaya seimbang. Dengan cara berlatih menghasilkan prestasi, mencapai puncak gunung atau puncak tebing.
Tapi jangan terlalu serius gitu juga lah. Mapala kan organisasi hobi, jadi perlu rileks. Sedikit hura-hura untuk euforia puncak gunung kayaknya perlu juga.
Oke, mungkin semua ini terdengar klise, muluk-muluk dan tidak membumi. Dan biarlah tetap begitu, biarlah “Pencinta Alam” tetap menjadi sebuah “Ide”, “Gagasan” dan “Pemikiran”, yang bentuknya mungkin abstrak dan perlu penerawangan khusus sampai jidat berkerut dan mata kedut-kedut. Sesuatu yang kedengarannya turun dari langit. Justru karena pemikiran yang ujung-ujungnya nasionalis itu, Mapala ada, untuk mengkongkretkannya dalam pemikiran dan tindakan pelaku-pelakunya, di gunung maupun di kota. Seperti juga “Tri Dharma” Perguruan Tingginya.
Apa salahnya sama “Mapala” sekarang?
Nilai-nilai ini, sebagai sesuatu yang filosofis sulit dilihat kongkretnya tapi bisa diterawang. Dia bukan sebuah kegiatan konkret, tapi dia hidup di dalamnya. Apa yang sering dilakukan pencinta alam: mendaki gunung, panjat tebing, arung jeram, telusur goa, menyelam, berlayar, susur pantai, gunung hutan, konservasi dan advokasi lingkungan, bakti sosial, bukanlah jaminan “Pencinta Alam” diikrarkan. Mendaki gunung, adalah kegiatan anak Pencinta Alam. Tapi seorang pendaki yang korupsi kecil-kecilan di gudang perusahaan kantornya bekerja, apakah itu menunjukan seorang pandaki gunung yang Pencinta Alam?
Pencinta Alam, yang saya maksud dalam konteks ini, adalah nilai yang mengendap dan menjadi roh dalam keseharian tindakan. Dengan terbiasa bersikap obyektif dalam kegiatan Mapala di lapangan, diharapkan begitu juga dalam keseharian, di kantor, di kampus, di keluarga, di masyarakat. Berapa banyak pejabat-pejabat kita yang bekerja secara “tidak obyektif” di kantor-kantor, negeri maupun swasta? Mereka kemungkinan orang-orang yang tidak mendaki gunung, yang tidak pernah mengambil pelajaran bagaimana menghadapi badai di puncak. Mungkin juga ada yang pendaki gunung dan pencinta alam, tapi belum tentu memahami dan meresapkan nilainya, atau bahkan mengkhianatinya.
Jadi, saya kira bicara soal Pencinta Alam tidak cuma bicara soal pencemaran sampah di gunung atau kisah tentang “proyek ijo” yang gagal dan bikin berantem sesama teman Mapala. Bukan juga cuma bicara soal orang yang boker di sumber air di Surya Kencana. Lebih dari itu, Pencinta Alam adalah mengenai persoalan besar bangsa ini, supaya orang belajar dari ilmu dan melihat realitas sosial di gunung, di lapangan, supaya bijak kalau bertindak dalam keseharian. Soal lingkungan yang carut marut? Selamanya kita akan dibuat kesal dengan sampah-sampah gunung kalau sebuah gunung seperti Gede Pangrango kurang profesional pengelolaannya. Mungkin akan profesional, kalau saja dana-dana yang semacam dana “non-budgeter” dari pemerintah digunakan untuk perbaikan-perbaikan bangsa ini, dan bukan untuk dana kampanye partai. Jadi, kalau masalah yang besar semodel penyimpangan dana negara, hukum yang bengkok dan ketidak adilan sosial masih ada di negara ini, praktek-praktek yang tidak obyektif itu, maka kita akan terus ribut soal sampah dan gunung yang rusak. Lingkungan yang rusak, termasuk gunung tempat main anak Mapala. Dan ini bukan tanggung jawab anak Mapala semata, tapi tanggung jawab semua orang, yang tua yang muda.
Seperti air di mangkuk, jelek bagus bentuknya tergantung wadahnya juga. Bukan “Pencinta Alam”-nya yang rusak, bisa saja karena nilainya yang kurang dipahami oleh pelaku-pelakunya. Pencinta Alam adalah sebuah “pemikiran”, sebuah “ide”, sebuah “gagasan”. Bagaiman mungkin gagasan mencintai tanah air dianggap merusak kehidupan? Kalaupun ada yang jelek, salah dan rusak, itu adalah pelaksananya, orangnya, wadahnya. Mungkin bisa jadi Mapalanya. Karena kegagalan memahami nilai Pencinta Alam, dengan sendirinya rusak dalam tindakan. Nggak semua orang yang ngaku Pencinta Alam paham nilainya.
Hari ini kebetulan saya baca koran Sinar Harapan terbitan Jum`at kemarin. Ada artikel bagus tentang profil seorang yang baru saja diangkat jadi anggota Komnas HAM. Namanya Nur Kholis dari Sumatera Selatan. Menurut laki-laki yang dikenal pendiam ini, Nilai-nilai yang diperoleh sebagai Pencinta Alam, seperti kebebasan, solidaritas, kejujuran, kesabaran dan daya tahan, menjadi bekal yang bermanfaat ketika ia terjun sebagai aktivis, baik di WALHI Sumsel maupun di LBH Palembang.
“Di Pencinta Alam, saat menaklukan gunung, kejujuran dan solidaritas merupakan modal yang paling berharga. Di tengah alam, tak ada manusia lain selain rekan satu tim kita, kejujuran sangat dibutuhkan. Misalnya, kita tidak boleh menyikat jatah makanan teman kalau kita sudah makan karena itu bisa membahayakan teman. Begitu juga sikap solidaritas dan tidak mementingkan kepentingan pribadi, merupakan hal yang sangat penting”, ujarnya (Sinar harapan, 29 Juni 2007).
Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Gemapala Wigwam Universitas Sriwijaya ini sewaktu kuliahnya gemar merambahi gunung-gunung di Sumatera. Ia juga seorang atlit panjat tebing yang aktif di kejuaraan. Selepas kuliah aktif di WALHI dan LBH, serta melakukan pendampingan warga untuk kasus-kasus tanah dan perburuhan. Bukannya saya mau melebih-lebihkan abang kita satu ini, tapi menurut saya inilah semangatnya MAHASISWA PENCINTA ALAM. Mapala banget, deh!
Jadi, Mahasiswa Pencinta Alam bukan untuk menghasilkan “The Real Climber”. Tidak juga berkewajiban melakukan konservasi dan advokasi lingkungan. Mapala bukan untuk mencetak atlit, bukan juga pencetak master-master lingkungan. Kalau bisa mewujudkan The Real Climber, advokat atau konservator, hebat sekali itu. Tapi sekali lagi itu bukan kewajiban. Kalu mau jadi The Real Climber, sudah banyak lah klub-klub yang berorientasi teknis dan pengembangan prestasi. Kalau mau jadi advokat lingkungan, banyak juga LSM atau kantor hukum yang berpihak pada masyarakat kecil (Bahkan orang-orangnya banyak yang berasal dari organisasi Mapala). Mapala, hanya organisasi kemahasiswaan biasa yang punya banyak keterbatasan tapi doyan jalan-jalan, dan memetik pengalaman di luar ruang. Merasakan bulatnya dunia dan mengenal sesamanya orang Indonesia. Itu sudah cukup. Dengan pengalaman melihat realitas sosial, terinternalisasi dalam diri, mahasiswa-mahasiswa ini kelak kalau lulus dan terjun di masyarakat diharapkan dapat mempertahakan nasionalismenya dan menyumbangkan pretasi pembangunan, karena fisik, jiwa dan mentalnya sudah diasah oleh Mapala. DALAM BENTUK APAPUN.
Mapala Sepi Peminat?
Beberapa kali saya ketemu sama temen-temen BP Mapala, dan ini yang sering mereka keluhkan: “organisasi mereka sepi peminat”. Benarkah sebab musababnya karena Mapala udah nggak penting lagi? Udah nggak membumi dan kurang gaul? Atau karena senior-seniornya buluk-buluk sehingga nggak sesuai sama anak dugem? Tukang mabok dan segala prahara blangsak lainnya?
Ketika ditanya pengalaman soal itu di organisasi saya, saya cuma menjawab: mungkin begini, mungkin begitu. Saya juga nggak pasti apa sebabnya.
Saya coba buka buku “Jejak Kampus Di Jalan Alam”, bab terakhir. Isinya tentang analisa kenapa sebuah organisasi Mapala sepi peminat. Ada beberapa sebabnya, dan umumnya tidak jauh dari suasana kampus. Dengan coba memutakhirkan masalah, ada setidaknya 3 penyebab: 1) Masa kuliah makin pendek 2) Biaya kuliah makin mahal dan 3) Waktu libur kuliah yang sering diisi perkuliahan semester pendek. Selain itu, masalah eksternalnya misalnya menjamurnya organisasi Mapala tingkat fakultas. Bahkan jurusan. Perkembangan informasi dan teknologi, juga punya andil. Dengan majunya TI, petualangan dapat dikelola sendiri secara individu tanpa melibatkan organisasi Mapala. Disamping itu, terjadinya perkembangan spesialisasi teknis, munculnya organisasi-organisasi luar kampus yang tanpa embel-embel Mapala: FPTI, FAJI, Skyger, Tramp, IAA, High Camp, etc.
Dan solusinya? Saya kira tidak ada jalan selain “menyesuaikan diri” dengan zaman. Mungkin bisa dengan cara memperingan proses rekrutmen anggota tanpa mengurangi visinya Mapala. Saya denger, proses rekrutmen Mapala yang keras mulai kurang disukai. Bukankah orang udah mulai bosan sama kekerasan di kampus, apalagi setelah kasus IPDN. Bukan bermaksud menyamakan Mapala dan IPDN, tapi sekarang, segala yang berbau kekerasan, siapa yang suka?
“Leaving On The Mountain …”
Buat anak-anak Mapala, selagi masih mahasiswa, banyak-banyaklah jalan-jalan. Dengan teknik yang benar tentu. Dengan jalan-jalan, mata akan melihat lebih banyak warna. Masa muda, jadi lebih beragam. Soal kuliah, soal gampang lah itu. Seorang petualang mampu menghadapi susah di jalan, apalagi cuma kuliah. Jangan cuma dicekoki teori-teori kuliah tapi nggak ngerti logika aplikasinya gimana. Dan lebih ngeri lagi, setelah diwisuda dan mendengar wejangan Dekan, kita nggak ngerti gimana musti melangkah di masyarakat. Bodo amat lah sama surat ancaman DO karena sibuk di Mapala, selama nggak bener-bener di-DO, karena dosen-dosen kita pun belum tentu sebaik gunung Slamet mengajarkan kita tentang menyikapi sebuah perbedaan pendapat, seperti Soe. Dan anak Mapala yang udah pada lulus, rasanya perlu nginget-nginget lagi gimana cara kita ngambil keputusan obyektif seperti waktu di organisasi Mapala dulu: nekat lanjut hajar puncak gunung atau berhitung dan secara obyektif memutuskan turun karena badai?
Dan “Pencinta Alam”, biarlah tetap begitu, biarlah tetap hidup sebagai nilai. Nilai yang ngendap di dada masing-masing pelakunya. Yang perlu dicari tau, gimana memupuk diri sendiri dengan nilai-nilai itu, supaya kita juga berguna di masyarakat nanti, dalam pembangunan.
PS: Saya mengajak kawan-kawan sekalian untuk angkat topi dan tunduk kepala sesaat, dan berdoa. Untuk seorang kawan kita yang meninggal beberapa hari lalu di Gua Walet, gunung Ciremai. Berikut saya petikkan beritanya dari Kompas (30/06/07):
“KUNINGAN, KOMPAS – Seorang pendaki gunung, Nurdiyanto (16) dari Sekolah Menengah Kejuruan 1 Jatibarang, tewas saat mendaki gunung Ceremai. Sementara, enam pendaki lainnya mengalami hipotermia, namun sudah dibawa turun oleh tim pengelola pendakian Gunung Ceremai, Jawa Barat.”
Dadang Sukandar