dadzfla

look up there… the world is so high…

Total Aset: Otak

Total Aset: Otak

Siang tadi, kawan saya dokter yang tugas di Kalimantan menelpon. Katanya, suaminya dulu pernah ikut lomba foto. Lama tidak ada kejelasan. Dan baru-baru ini, fotonya ditemukan terpajang di sebuah kantor Bupati.

Suaminya menkonfirmasi ke pihak panitia. Mereka sering ngeles. Dan setelah lebih dalam, diketahui ternyata panitia itu seorang anggota DPRD.

Eng… ing… enggg……

Setelah urung rembug dengan peserta lain, mereka berserikat dan mengirim somasi. Anggota dewan itu kebakaran jenggot. Ujungnya, mereka damai, dengan teken di atas kertas.

Saya jadi ingat waktu dulu menghadiri seminar Hak Cipta fotografi di galeri Oktagon. Ternyata, hal yang suka kita anggap remeh temeh bisa bikin perkara, dan membuat seorang anggota dewan kalang kabut.

Kita mungkin tidak sadar pada apa yang melintas dan diperbuat dalam keseharian. Khususnya soal foto. Seperti di blog ini misalnya. Bisa saja ada yang meng-grabed foto kita, dan tau-tau dipajang entah di mana. Di majalah mungkin. Atau lebih parah, kalau foto kita di-grabed lalu dimodifikasi jadi bugil. Bisa ngilu dada. Lalu, di mana letaknya Hak Kekayaan Intelektual, HKI, dijunjung?

Terkait pelanggaran HKI, Indonesia sudah divonis internasional sebagai pelanggar besar dan jempolan. Karena itu juga, Timnas untuk pelanggaran HKI dibuat Presiden. Dan bolak-balik, soal HKI masih jadi soal hukum. Setiap ketanggor masalah HKI, orang akan lari ke advokat atau konsultan HKI.

Sebenarnya, konsep HKI sangat lekat dengan keseharian kita. Konsep HKI sangat dekat dengan proses isi kepala, intelektualitas. Bukankah manusia setiap hari menggunakan otaknya? Bahkan manusia tidak berotak sekalipun menggunakan otaknya. Soal isinya, bisa jadi belakangan.

Sebagai negara berkembang, beda betul kalau kita membadingkannya dengan negara-negara maju. Di sana, isu HKI bukan cuma isu hukum, tapi isu segala macam isu. Melekat pada setiap sisi kehidupan. Indonesiapun harusnya begitu. Harus, karena hukum UU HKI sudah menyebutkannya “Harus”.

Ambil contoh tentang kegiatan sehari-hari kita. Ketika bangun pagi, sehabis mandi dan sebelum ngantor, yang pertama kita korek-korek di dapur adalah Coffemix. Kita membutuhkan Merek itu. Dan sewaktu nyantai sebentar baca koran, di sana ada ratusan Hak Cipta karya tulis dan fotografi para wartawannya. Lalu, waktu masuk kantor kita akan ketemu papan nama perusahaan di dekat meja resepsionis, PT. Baru Berdiri Megah Mandiri. Ini juga ada HKI-nya, Merek. Dan begitu duduk di meja kerja, kita langsung mengoperasikan produknya Microsoft yang ber-Hak Cipta. Dan kalau program komputer yang digunakan bajakan, berarti sepagi itu kita sudah terlibat pelanggaran Hak Cipta. Lalu siangnya makan siang di Hoka-hoka Bento, mungkin bosan dengan warteg Bahari. Dan sewaktu membayar di kasir, sekian persen yang kita bayar itu juga untuk membayar Merek mereka yang ekslusif dari pada warteg Bahari. Dan ketika tiba di kasur malam hari, pernahkan kita menghitung berapa banyak pertemuan kita dengan HKI. Yang mungkin kita langgar, atau bahkan kita ciptakan.

“… hak atas kekayaan yang timbul atau lahir dari kemampuan intelektual manusia”, begitu kata Suyud Margono dalam bukunya tentang pengertian HKI, Hak atas Kekayaan Intelektual. Dalam Inggrisnya, Intellectual Property Right.

Termasuk kekayaan intelektual ini : karya-karya dibidang ilmu pengetahuan, seni, sastra dan teknologi. Segala yang didalilkan karena motivasi intelektual: Daya, Cipta dan Karsa.

Kalau kembali pada perspektif hukum, ada tujuh bidang yang diatur UU HKI:

1.      Hak Cipta

2.      Hak Merek

3.      Hak Paten

4.      Hak Desain Industri

5.      Hak Perlindungan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.

6.      Hak Perlindungan Varietas Tanaman

7.      Rahasia Dagang.

Oke! Ini ribet, tapi kita sudah terlibat di dalamnya. Mungkin terlibat jauh. Munggkin melanggar, mungkin juga menciptakan sesuatu dengan intelektual kita. Kita cuma tidak menyadarinya saja. Asal diingat: kita memotret ada Hak Ciptanya, kita membuka kafe ada mereknya, kita meneliti obat ada Hak Patennya, sama seperti kita membuat boneka, ada Hak Desain Industrinya. Dan kita adalah orang yang kaya. Kaya pikiran dan keuangan. Meskipun masih belum tentu kaya hati.

Segi HKI yang banyak berkaitan dengan keseharian meliputi: Hak Cipta, Paten, Merek dan Desain Industri.

Hak Cipta

Undang-undang Hak Cipta mengaturnya begini:

… hak khusus bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

Hak khusus ini, yang berupa “mengumumkan” dan “memperbanyak” ciptaan, berada sepenuhnya pada pencipta. Jadi, tidak sembarang orang bisa mengumumkan dan memperbanyak ciptaan kita. Kalau orang lain mau melakukan itu, harus izin dulu. Seperti contoh panitia lomba foto tadi. Dan untuk izin itu, disini ada kompensasi. Biasanya berupa royalti. Ini segi kekuatan ekonominya, kekayaan seorang pencipta. Izinnya punya nilai.

Kapan Hak Cipta itu hadir ? Ini juga banyak pertanyaannya. Mungkin karena HKI itu didaftarkan, banyak orang mengira untuk mendapatkan Hak Cipta orang harus daftar dulu ke Dirjen HKI. Beda dengan segi HKI lainnya, Hak Cipta sudah lahir tanpa perlu didaftarkan lebih dulu. Hak Cipta lahir sejak ciptaannya jadi. Hak Cipta foto lahir sejak sang fotografer menekan shutle kamera. Ctak! Maka lahirlah sebuah Hak Cipta Fotografi, mengimajinasikan citra. Dan pelanggarannya bisa diganggu guat.

Termasuk bidang Hak Cipta ini:

1.      Buku, program komputer, pamflet, perwajahan (Lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain.

2.      Ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu.Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

3.      Lagu atau musik dengan atau tanpa teks.

4.      Drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan dan pantomim.

5.      Seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase dan seni terapan.

6.      Arsitektur.

7.      Peta.

8.      Seni batik.

9.      Fotografi.

10.  Sinematografi.

11.  Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan. 

Hak Merek

Merek, seperti disebutkan dalam undang-undang merek, adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa. Unsur terpenting suatu merek adalah adanya daya pembeda.

Hak Paten.

Hak paten adalah hak ekslusif yang diberikan negara kepada penemu/inventor atau hasil penemuannya/invensinya di bidang teknologi, untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri penemuannya/invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada orang lain untuk melaksanakannya. Ada dua hak yang terbit dari hak Paten ini : Hak melaksanakan sendiri penemuanya dan hak memberi persetujuan pada orang lain.

Misalnya, suatu hasil penelitian. Hasil penelitian itu bisa kita gunakan untuk keperluan praktis kita sendiri, atau digunakan oleh pabrik industri untuk dikembangkan dan dimasyarakatkan kepraktisannya. Yang terakhir ini juga tentu ada kompensasinya yang biasanya dihitung dengan rumus royalti.

Desain Industri.

Sama seperti HKI lainnya, dilindungi dan bernilai moral serta ekonomi. Definisi tentang hak ini : Suatu kreasi tentang bentuk konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang komoditas industri, atau kerajinan tangan.

Menjual Aset Intelektual

Saya ada kawan seorang penulis buku. Penulis novel. Dia penulis novel komedi petualangan yang bukunya sudah 5 kali cetak. Sekali cetak buku itu sekitar 3000 eksemplar, dan berarti sudah tercetak 15.000 eksemplar. Dari novel itu dia mendapat royalti 10%. Artinya, mendapat 10% dari harga setiap buku yang terjual. Harga bukunya sendiri Rp. 25.000, itu sama dengan Rp. 2.500 dia mendapat dari setiap buku terjual. Sekarang coba kalkulasi totalnya kasar-kasar kalau semua buku laku terjual: royalti 10% x Rp. 25.000 harga buku x 3000 eksemplar x 5 cetakan = Rp. 37.500.000.

Lumayan untuk kerja bikin cerita selama tiga bulan sebagai kerja sampingan. Mungkin bisa jadi kerja utama seperti J.K Rowling atau John Grisham. Memang itungan ekonomi sering membikin semangat orang. Tapi janga dilupa juga, segi HKI masih punya nilai moral. Nilai yang membuat orang berpikir cerdas, aktual dan dihargai karya-karya gemilangnya. Selamat berkarya. Selamat memiliki HKI baru. (Dadang Sukandar). 

: ) : ) : ) : ) : ) : ) : ) : )

: )   : )   : )   : )   : )   : )   : )   : )   : )   : )   : )   

Ditulis ulang dari lawakannya Warkop DKI waktu masih siaran di Prambors.

*

Mercedes Pak Joni

Pak Joni kembali dari WC dan melewati meja sekretarisnya. Sang sekretaris memandangnya sambil tersenyum-senyum sendiri. “Kenapa kamu senyum-senyum?”, tanya pak Joni.

“Nggak pak. Itu,  garasi bapak terbuka”, kata sekretarisnya.

“Ah! Nggak mungkin! Sudah di tutup kok. Pembantu saya yang tutup di rumah”, kata pak Joni.

Sang sekretaris kekeuh, “Bener pak. Garasi bapak terbuka.”

“Ah! Sok tau kamu. Saya lihat sendiri, pembantu saya yang tutup”, kata pak Joni sambil ngeloyor masuk ke ruangannya.

Menjelang siang, pak Joni mampir pulang ke rumah dan bertemu istrinya untuk makan siang.

“Pa! Papa nggak malu apa?”, tanya isri pak Joni.

“Malu kenapa?”, tanya pak Joni balik.

“Itu! Resleting bapak terbuka.”

“Hah!?”, pak Joni kaget sambil menengok selangkangannya.

“Ooo… ini mungkin yang dimaksud sekretarisku tadi ya”, pikir pak Joni.

Setelah menyelesaikan makan siangnya pak Joni kembali ke kantor.

“Nona!”, panggil pak Joni.

“Iya pak!”

“Nona tadi melihat Mercedez saya di garasi?”

“Tidak pak”, jawab sekretarisnya.

“Tapi saya lihat bemo!”

*

Pintu Neraka

Temen saya yang sudah meninggal, si Sukri, kirim surat dari neraka. Dasar orang penggede di dunianya, maka di neraka ia mendapat fasilitas lebih. Ia bebas memilih kamar-kamar yang disediakan.

Sebelum jadi penghuni tetap neraka, Malaikat mengantarkan si Sukri melihat-lihat dulu kamarnya. Pada kamar 1, ia melihat beberapa orang sedang dipukuli pakai besi panas. “Waduh! Nggak enak di sini, sakit!”, katanya.

Dia tinggalkan kamar 1 dan masuk kamar 2. Malaikat membuka kamar 2, dan ia menemukan orang yang ditusuk kepalanya dari ujung kepala sampai ujung “tahiti”, lalu diputer-puter seperti kambing guling.

“Aduh! Ini juga sakit. Nggak jadi”, katanya sambil meninggalkan kamar itu.

Malaikat mengantarnya lagi ke kamar 3. Disini lebih enak. Orang-orangnya sedang direndem. Tapi, pake air tinja. Dia pikir, mendingan di sini, bau-bau dikit nggak apa-apa. “Iya deh! Saya di sini aja”, katanya pada Malaikat. Iapun berendam di sana.

Lima menit kemudian, teng… teng… teng… teng… teng… bel berbunyi. Malaikat penjaga kamar itu mengumumkan, “Ya, sekarang silakan nyelem kembali!”

*

Bedanya orang Batak dan orang Jawa

“Apa bedanya orang Batak sama orang Jawa?”, tanya Dono pada Nanu.

Orang Batak:

Kalau sendiri: menyanyi solo

Berdua: main catur

Bertiga: main halma

Berempat: nari Tortor

Lebih dari empat: tutup semua jendela dan pintu-pintu.

Orang Jawa:

Kalau sendiri: main perkutut

Berdua: cari kutu

Bertiga: klenengan

Berempat: wayang orang

Lebih dari empat: transmigrasi.

Tapi paling enak kalau punya istri orang sunda. Orang Sunda itu praktis, ekonomis dan sedikit berkumis. Praktisnya, orang Sunda kalau makan sukanya pake daun-daunan. Lalap-lalapan namanya. Jadi, untuk mengumpani hidupnya gampang, kasih sambal dan tinggal lepas di kebon, sudah hidup. Daun singkong dimakan, daun pisang dimakan, daun pepaya dimakan, daun jambu dimakan, cuma satu daun yang nggak dimakan, daun jendela.

*

FLORA PEGUNUNGAN JAWA

Judul Asli:

THE MOUNTAIN FLORA OF JAVA

Oleh: C. G. G. J. van Steenis

Flora Pegunungan Jawa mengungkapkan warisan alam Indonesia yang unik. Gunung-gunung berapi yang menjulang tinggi menyajikan berbagai relung ekologi bagi aneka tumbuhan dan strategi bagi keberhasilan evolusi. Sejarah geologi dan lokasi geografi Jawa, antara benua Asia dan Australia, menjadikan floranya sangat istimewa sehingga menyandang prioritas konservasi nomor satu dalam skala global.

Paling informatif uraiannya dan paling indah ilustrasinya, buku ini disiapkan bagi para ilmuwan maupun pembaca awam untuk lebih mengenal kawasan pegunungan Jawa. Dilengkapi gambar berwarna dalam ukuran sebenarnya dari 456 spesies tumbuhan berbunga asli Jawa. Flora Pegunungan Jawa dirancang ramah pembaca.

Judul aslinya: The Mountain Flora of Java, dalam bahas Inggeris, diterbitkan di Leiden, Negeri Belanda, edisi perdana pada tahun 1972 dan edisi kedua pada tahn 2006.

Daftar Isi :

  1. Pendahuluan

  2. Sketsa sejarah – Pentingnya Cibodas Gede

  3. Pegunungan Jawa sebagai gunung berapi

  4. Iklim

  5. Zona elevasi

  6. Efek elevasi massa pegunungan

  7. Biologi bunga

  8. Tumbhan asing dan gulma asing pendatang

  9. Tumbuhan klimaks, suksesi, pionir, dan nomad

  10. Kebakaran dalam hutan pegunngan

  11. Catatan lepas tentang hewan

  12. Formasi tumbhan

  13. Perbedaan antara Jawa bagian barat dan timur

  14. Tumbhan pegunungan yang mum dan yang langka

  15. Variabilitas tumbuhan pegnungan

  16. Pemencaran dan persebaran – Umur tumbhan pegnungan

  17. Komposisi, turunan, dan asal muasal flora pegunungan Jawa

  18. Rjkan pilihan untuk pegunungan Jawa

  19. Perlindungan dan konservasi hutan pegunungan

  20. Catatan penjelasa

Penulis: Cornelis Gijsbert Gerrit Jan van Steenis

Penulis buku Flora Pegunungan Jawa Ini lahir di Utrecht, negeri Belanda pada 1901. Sejak kecil ia sudah sangat tertarik pada tumbuhan, dan karena itu belajar botani di universitas Utrecht. Pada tahn 1927 ia meraih gelar PhD berkat karyanya yang berupa revisi taksonomi bignoniaceae kawasan Malesia di bawah bimbingan Profesor A. A. Pulle, pakar botani terkenal masa itu. Sejak 1927 hingga 1949 ia bertugas di Kebun Raya Bogor dan Herbarium Bogoriense di Bogor (Waktu itu Buitenzorg). Disinilah pengetahuannya mengenai flora Indonesia tumbuh dan berkembang dengan pesat. Sumbangan ilmiahnya sangat besar dalam bidang-bidang taksonomi, biogeografi dan ekologi tropik. Iapun meletakan dasar-dasar penerbitan Flora Malesiana – satu-satunya terbitan ilmiah berkala mengenai semua tumbuhan berbiji dan paku-pakuan dari seluruh kawasan Malesia, sebuah kawasan yang diciptkannya sendiri berdasarkan pola persebaran tumbhan.

Pelukis Spesies Tumbuhan: AMIR HAMZAH dan MOEHAMAD TOHA

Dilengkapi 57 gambar berwarna. Menampilkan 456 spesies tumbuhan berbnga asli pegunungan Jawa, yang dilukis dalam ukuran sebenarnya berdasarkan spesimen hidup. Semasa hidpnya Amir Hamzah dan Moehamad Toha berkarya sebagai pelukis botani pada Herbarium Bogoriense, Lembaga Pusat Penelitian Alam (Kebun Raya Indonesia), Departemen Pertanian.

Penerjemah & Penyunting Naskah: JENNY A. KARTAWINATA

Mantan Redaktur Pelaksana Majalah Femina

Penelaah ilmiah:

KUSWATA KARTAWINATA

Penasihat Senior dalam bidang ekologi pada kantor UNESCO Jakarta.

ELIZABETH A. WIDJAJA

Direktur PROSEA Network Office, Bogor.

TUKIRIN PARTOMIHARDJO

Pakar ekpologi tumbuhan, Herbarim Bogoriense. Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Penerbit: Pusat Penelitian Biologi – LIPI, Bogor, Indonesia, 2006

Sejarah Pendakian Gunung dan Panjat Tebing

Sejarah Pendakian Gunung dan Panjat Tebing

SUMBER: http://mapalaui.info

Sebagian besar informasi berasal dari katalog Lomba Panjat Dinding nasional tahun 1990.

Updating dari Adi Seno (M-207-UI), 9 Januari 2004: “Data dari LPDN 90 ini ditulis oleh redpel majalah TRAS, sebelumnya Buletin FPTI, a/n Haryanto Suwarno dan dua kali diperbaiki di TRAS, terakhir ketika pergantian ketua FPTI tahun 1995 (kalau tidak salah)

Updating lainnya dari Adi ada di bagian Ekspedisi Carstensz dan Mount Cook Mapala UI, Ekspedisi Vasuki Parbat Wanadri, dan pemanjatan dinding utara Carstensz oleh Adi dan Budi Cahyono (1992).

1492
Sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m), di kawasan Vercors Massif.
Tak jelas benar tujuan mereka, tetapi yang jelas, sampai beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di Pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois, sejenis kambing gunung. Jadi mereka memanjat karena dipaksa oleh mata pencaharian, kurang lebih mirip para pengunduh sarang burung walet gua di tebing-tebing Kalimantan Timur atau Karang Bolong, Jawa Tengah.

1623
Yan Carstensz adalah orang Eropa pertama yang melihat “….. pegunungan yang sangat tinggi, di beberapa tempat tertutup salju !” di pedalaman Irian. Salju itu sangat dekat ke khatulistiwa. Laporannya tak dipercaya di Eropa, padahal belum lama berselang diberitakan ada juga salju di Pegunungan Andes dekat khatulistiwa.

1624
Masih berkaitan dengan pekerjaan juga, pastor-pastor Jesuit merupakan orang-orang Eropa pertama yang melintasi Pegunungan Himalaya, tepatnya

Mana

Pass

(pass = pelana/punggungan yang terentang antara dua puncak), dan Garhwal di

India

ke kawasan

Tibet

.

1760
Profesor de Saussure agaknya begitu jatuh cinta pada

Mont Blanc

di perbatasan Perancis-Italia, sehingga dia menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat menemukan lintasan ke puncaknya, untuk penyelidikan ilmiah yang diimpikannya. Sayang tak ada yang tertarik, terutama karena keder terhadap naga-naga yang konon mbaurekso di puncak gunung tertinggi di Eropa Barat itu.


1786
Setelah beberapa percobaan gagal, Puncak Mont Blanc (4807 m) digapai manusia. Mereka adalah Dr.Michel-Gabriel Paccard dan seorang pandu gunung, Jacques Balmat. Puncak tertinggi di Alpen yang didaki sebelumnya adalah Lysjoch (4153 m), tahun 1778.


1830
Alexander Gardiner melintasi Pelana Karakoram dari Sinkiang di Cina ke wilayah Kashmir di India.


1852
Ahli-ahli ukur tanah di India berhasil menentukan ketinggian Puncak XV, 8840 meter. Berarti puncak tertinggi di dunia, mengalahkan Puncak VIII (Kangchenjunga, 8598 m) yang sebelumnya dianggap paling tinggi. Puncak XV itu lalu diberi nama Everest (padahal aslinya orang Nepal menyebutnya Sagarmatha, atau Chomolungma kata orang Tibet). Belakangan ketinggiannya dikoreksi, 8888 meter, lalu dikoreksi lagi menjadi 8848 meter, sampai sekarang.


1854
Batu pertama Zaman Keemasan dunia pendakian di Alpen, diletakkan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke Puncak Wetterhom (3708 m), cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga.


1857
Alpine Club yang pertama berdiri, di Inggris.


1858
Ketinggian K2 (singkatan Karakoram nomer 2) terukur, 8610 meter, menggeser lagi kedudukan Kangchenjunga menjadi juara tiga.


1865
Dinding selatan Mont Blanc dipanjat untuk pertama kali lewat lintasan Old Brenva, menandai lahirnya panjat es (ice climbing). Sementara itu di Alpen bagian tengah, Edward Whymper dan enam rekannya berhasil menggapai Puncak Matterhorn (4474 m)di Swiss. Tetapi 4 anggota tim, yang saling terikat dalam satu tali, tewas dalam perjalanan turun, ketika salah seorang terpeleset jatuh dan menyeret yang lain. Musibah ini mengakhiri 11 tahun Zaman Keemasan. Tak urung lebih dari 180 puncak besar telah didaki dalam masa itu, sedikitnya satu kali, dan lebih dari setengahnya oleh orang-orang Inggris.

1874
WA Coolidge mendaki Puncak

Jungfrau

dan Wetterhorn di musim dingin, sehingga digelari Bapak Winter Climbing. Pada tahun 1870-an ini muncul trend baru, pendakian tanpa pemandu, yang segera menjadi ukuran kebanggaan di antara pendaki.

1878
Regu yang dipimpin Clinton Dent berhasil memanjat Aiguille du Dru di Perancis, memicu trend baru lagi, yaitu pemanjatan tebing-tebing yang tak seberapa tinggi namun curam dan sulit.

1883
WW Graham menjadi orang Eropa pertama yang mengunjungi Pegunungan Himalaya dengan tujuan mendaki gunung sebagai olahraga dan petualangan. Dia mendaki beberapa puncak rendah di kawasan

Nanda Devi

dan Sikkim India, bahkan konon berhasil mencapai Puncak Changabang (6864 m).

1895
Percobaan pertama mendaki gunung berketinggian di atas 8000 meter,

Nanga Parbat

(8125 m), oleh AF Mummery. Orang Inggris yang sering disebut Bapak Pendakian Gunung Modern ini hilang pada ketinggian sekitar 6000 meter.

1899
Ekspedisi Belanda pembuat peta di Irian menemukan kebenaran laporan Yan Carstensz, yang dibuat hampir 3 abad sebelumnya. Maka namanya diabadikan di situ.


1902
Percobaan pertama mendaki K2, oleh ekspedisi dari Inggris.

1907
Ekspedisi di bawah Tom Longstaff mendaki Trisul (7120 m), puncak 7000-an yang pertama. Longstaff adalah orang pertama yang mencoba penggunaan tabung oksigen dalam pendakian.

1909
Ekspedisi Persatuan Ahli Burung dari Inggris (BPUE) memasuki rawa-rawa sebelah selatan kawasan Carstensz. Dalam 16 bulan mereka kehilangan 16 orang anggota mati dan 120 sakit.

1910
Karabiner buat pertama kali dipakai dalam pendakian gunung, diperkenalkan oleh pemanjat-pemanjat dari

Munich

, Jerman Barat, diilhami oleh penggunaannya dalam pasukan pemadam kebakaran.

1912
Eks anggota ekspedisi BPUE 1090, Dr.AFR Wallaston, kembali ke Irian bersama C.Bodden Kloss, dengan 224 kuli pengangkut barang dan serdadu. Tiga jiwa melayang.

1921
George L.Mallory dkk. berhasil sampai di North Col Everest dalam perjalanan penjajagan mereka dari sisi

Tibet

.

1922
Usaha pertama mendaki Everest berakhir pada ketinggian 8320 meter di punggungan timur laut.

1924
Mallory dan

Irvine

yang kembali mencoba Everest, hilang pada ketinggian sekitar 8400 meter. Rekannya, Edward Norton, mencapai 8570 meter, rekor waktu itu, sendirian dan tanpa bantuan tabung oksigen.

1931
Schmid bersaudara mencapai Puncak

Matterhorn

lewat dinding utara, sekaligus melahirkan demam North Wall Climbing. Peningkatan taraf hidup di Inggris dan Eropa daratan pada umumnya, menimbulkan perubahan pola penduduk

kota

melewatkan waktu luangnya, menyebabkan populernya panjat tebing.

1932
Grivel memperkenalkan cakar es (crampoon) model 12 gigi, yang karena efektifnya tetap disukai hingga kini.

1933
Comici dari Italia memanjat overhang dinding utara Cima Grande Lavredo di kawasan Dolomite, Alpen Timur, menandai aid climbing yang pertama. Sekitar tahun ini pula sol sepatu Vibram ditermukan oleh Vitale Bramini.


1936
Dr.A.H.Colijn, manajer umum perusahaan minyak Belanda dekat Sorong, dan geolog DrJ.J.Dozy, menemukan bijih tembaga di kawasan dinding timur Gletser Moriane, tak jauh dari kawasan Carstensz, Irian.


1937
Bill Murray mengubah tongkat pendaki yang panjang menjadi kapak es, menandai lahirnya panjat es modern.


1938
Dinding utara Eiger di Swiss akhirnya berhasil dipanjat, oleh tim gabungan Jerman Barat dan Austria, yang oleh Hitler diiming-imingi dengan medali emas olympiade.
Dinding maut ini sebelumnya telah menelan cukup banyak korban, dan berlanjut hingga kini. .

1941
Ekspedisi Archbold ‘menemukan’ Lembah Baliem, kantung suku Dani dengan tingkat kebudayaan yang amat tinggi, di tengah belantara yang seolah tak berbatas dan tak tertembus. Irian kian jadi perhatian ilmuwan-ilmuwan dunia.

1949

Nepal

membuka perbatasannya bagi orang luar.

1950

Tibet

dicaplok Cina. Pendakian Himalaya dari sisi ini tak diperkenankan lagi. Maurice Herzog memimpin ekspedisi Perancis mendaki Annapurna (8091m), puncak 8000-an yang pertama, menandai awal 20 tahun Zaman Keemasan pendakian di Himalaya. Di Alpen, tali nilon mulai dipergunakan. Sebelumnya, tali serat tumbuhan hampir tak memiliki kelenturan, sehingga ada ‘hukum’ bahwa seorang leader tak boleh jatuh, sebab hampir pasti pinggangnya patah tersentak. Pakaian bulu angsa mulai membuat malam-malam di bivouac lebih nyaman.


1951
Don Whillan menemukan pasangannya, Joe Brown, duet pemanjat terkuat yang pemah dimiliki Inggris.
Panjat bebas (free climbing)

gaya

Inggris menjadi tolok ukur dunia panjat tebing. Walter Bonatti dkk. menyelesaikan dinding timur Grand Capucin, awal aid climbing pada tebing yang masuk kategori big wall.

Bermula di Inggris, terjadi Revolusi Padas. Tebing batu gamping ternyata tak serapuh yang selama itu disangka. Tebing-tebing granit dan batuan beku lainnya mendapat saingan.

1952
Herman Buhl solo di dinding timur laut Piz Badile di Swiss, dalam waktu 4 1/2 jam. Inilah nenek moyang speed climbing. Rekor waktu pada rute tersebut, yang dibuat tahun 1937, 52 jam!

1953
Herman Buhl dkk. menggapai Puncak Nanga Parbat (8125 m), puncak 8000-an kedua yang didaki orang. Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris, menjadi manusia-manusia pertama yang berdiri di puncak atap dunia, Everest.

1954
Ekspedisi Inggris sukses di Kangchenjunga, ekspedisi Perancis sukses di

Makalu

(8463 m). Di Alpen, Don Whillan dan Joe Brown mencatat dinding Barat Aiguille du Dru dalam 2 hari, rekor lagi.


1955
Walter Bonatti solo pilar barat daya du Dru 6 hari.


1956
Ekspedisi Jepang berhasil mendaki Manaslu (8163 m). Jepang segera menjadi salah satu negara besar dalam dunia pendakian di Himalaya.

1957
Herman Buhl dan tim

Austria

mencapai

Puncak

Broad

Peak

(8047 m), sekaligus mematok pendakian pertama gunung 8000-an dengan alpine tactic.

1958
Lapangan terbang perintis dibuka pada beberapa lokasi di Irian, membangkitkan semangat para pendaki gunung untuk menjajal Carstensz, sang perawan salju di khatulistiwa.

1960
Claudio Barbier dari Belgia solo ketiga dinding utara di Tre Cima Laverdo dalam 1 hari. Pertama kali speed climbing menggunakan teknik gabungan free dan aid climbing.
Helm mulai sering digunakan para pemanjat tebing.

Harness menjadi wajib, menyusul kematian seorang pemanjat Inggris di Dolomite. Harness pertama yang diproduksi massal dan dijual untuk umum terbuat dari webbing, merek Tankey.

Tebing 48 Citatah mulai digunakan sebagai ajang latihan bagi pasukan Angkatan Darat kita.

1961
Ekspedisi dari Selandia Baru coba mendaki Carstensz Pyramide tapi mengalami kegagalan sebab keterlambatan dukungan logistik lewat jembatan udara.

1962
Puncak Cerstensz Pyramide akhirnya berhasil digapai oteh tim Heinrich Heiner. Juga Puncak Eidenburg didekatnya, oleh ekspedisi yang dipimpin oleh Phillip Temple.
Awal pemakaian baut tebing di Alpen; Tebing pantai mulai diminati. Pemanjat Amerika Serikat mulai bicara di Alpen, diawali Hemmings dan Robbins yang menciptakan lintasan super sulit di dinding barat du Dru.

1963
Tim gabungan Inggris-AS memanjat dinding selatan Aiguille du Fou, hardest technical climbing di Alpen waktu ilu, dengan teknik-teknik aid climbing

gaya

AS.

Kode etik dalam panjat tebing mulai banyak diperdebatkan di rumah-rumah minum. Pemanjatan solo pertama Eiger Nordwand, oleh Michel Darbellay, dalam satu hari.

Bonatti dan Zapelli menyantap mix climbing (ice dan rock) tersulit di Alpen, dinding utara Grand Pilier d’Angle di

Mont Blanc

. Seorang ahli gletser yang baru kembali dari Antartika berusaha mendaratkan pesawat terbangnya di di Puncak Jaya, dekat Carstensz. Untung angin kencang mengurungkan niatnya, sebab salju tebal di

sana

terlalu lunak sebagai landas pacu. Tapi buntutnya, dua pesawat DC 3 kandas di lereng utara dan selatannya, pada ketinggian sekitar 4300 meter.

1964
Ekspedisi Cina berhasil mendaki Shisha Pangma (8046 m)di Tibet, satu-satunya puncak 8000-an yang terletak diluar Nepal dan Pakistan (Karakoram). Beberapa pendaki Jepang serta 3 orang ABRI, Fred Athaboe, Sudarto dan Sugirin, yang tergabung dalam Ekspedisi Cendrawasih, berhasil mencapai Puncak Carstensz (4884 m) di Irian. Dua perkumpulan pendaki gunung tertua lahir, Mapala Ul di Jakarta dan Wanadri di Bandung. Tahun ini dianggap awal sejarah pendakian gunung di Indonesia.

1965
Seratus tahun pendakian pertama

Matterhorn

diperingati dengan peliputan pendakian Hornli dkk. Oleh BBC/TV sampai ke puncak. Untuk pertama kalinya pendakian gunung maupun panjat tebing menjadi olahraga yang juga dapat ‘ditonton’ orang banyak.
Robbins dan John Harlin dri AS bikin lintasan lurus di dinding barat du Dru, mendemonstrasikan keunggulan pemanjat AS dalam pemanjatan panjang dan berat. Pemerintah

Nepal

menutup pendakian

Himalaya

di wilayahnya.

1967
Revolusi bagi para pemanjat es.
Chouinnard memperkenalkan kapak es berujung lengkung, dan McInnes menawarkan jenis Terodactyl. Lahirnya sekrup es berbentuk pipa meningkatkan standar pemanjatan ice climbing.
Penggunaan tali kernmantle dipelopori oleh Inggris.

1968
Nafas segar bagi para pendaki, sejumlah lapangan terbang milik misi Katolik dibuka (Ji Irian. Tapi dasar sial, hampir bersamaan dengan itu Pemerintah Rl tidak lagi mengeluarkan izin pendakian di kawasan Carstensz.

1969
Reinhold Messner keluar dari pertapaannya di tebing-tebing Alpen Timur, meluruk ke barat, menyikat dinding es raksasa tes Drotes dalam waktu 81/2 jam solo, membuyarkan rekor sebelumnya, 3 hari.

Pemanjat-pemanjat Jepang mulai membanjiri pasaran di Alpen, antara lain bikin lintasan baru di Eiger.

Sensus yang dilakukan British Mountaineering Club (BMC) mengatakan, ada 45.000 pemanjat dan 500.000 walkers, di Inggris saja.

Nomer perdana majalah ‘Mountain’ beredar, menjadi media pendaki gunung dan pemanjat tebing pertama yang beredar luas dalam bahasa Inggris, sehingga banyak mempengaruhi perkembangan lewat perdebatan dan opini.

Pemerintah

Nepal

membuka kembali wilayahnya bagi pendakian

Himalaya

, dengan beberapa peraturan baru dan membatasi pendakian pada puncak-puncak yang terdaftar dalam permitted peaks saja. Agen-agen trekking komersial tumbuh dan berjibun seperti kutu yak, menggelitik kelompok-kelompok kecil dari luar ‘main-main’ di Himalaya dengan mudah dan murah.

Soe Hok Gie dan ldhan Lubis gugur di Gunung Semeru, terkena gas beracun.

1970
Dinding Selatan Annapurna dirambah tim Inggris, menggunting pita pembukaan era pendakian jalur-jalur sulit di gunung-gunung besar. Tingkat kesulitan lintasan menjadi lebih penting dari pada sekedar mencapai puncak. Ini tak lepas dari kian canggihnya perlengkapan panjat es, kecepatan pemanjatan meningkat drastis.

Di Alpen artificial climbing tambah populer dan kaya teknik. Kurang lebih tahun ini pula lahir cabang panjat dinding. Tebing buatan yang pertama dikenal orang kemungkinan besar didirikan di Universitas

Leeds

,Inggris. Perancangnya Don Robinson, yang kemudian juga merancang dinding panjat di Acker’s Trust,

Birmingham

, dinding panjat pertama yang diklaim mampu menampung segala pegangan, pljakan dan gerakan panjat tebing, sekaligus menawarkan bentuk sculpture yang artistik.

Sejalan dengan itu, bentuk-bentuk latihan terpisah dalam panjat tebing mulai menggema. Salah seorang pelopornya ialah Pete Livesey, pemanjat yang juga pecinta speleologi dan olahraga

kano

, serta punya dasar di atletik sebagai pelari. Pete tahu benar pentingnya latihan spesifik bagi jenis-jenis olahraga tersebut. Dan dia mencoba menerapkan prinsip yang sama pada panjat tebing. Pelan tapi pasti, panjat tebing mulai dipandang lebih sebagai kegiatan atletis, ketimbang sekedar ‘hura-hura di tebing’. Tak lagi memadai semboyan ‘best training for climber is climbing’, apalagi hanya dengan memupuk kejantanan lewat gelas-gelas bir, seperti yang selama & dianut.

1971
Kawasan Carstensz kembali dibuka untuk pendakian, segera diserbu oleh ekspedisi-ekspedisi dari

Australia

,

Jerman

,

AS

, bahkan Hongkong. Tahun ini pula Mapala UI berhasil mencapai Puncak Jaya, antara lain oleh Herman O. Lantang dan Rudy Badil, orang-orang sipil

Indonesia

pertama.

1972
Untuk pertama kalinya panjat dinding masuk dalam jadwal olimpiade, yaitu didemonstrasikan dalam Olympiade Munich.

1974
Pasangan Reinhold Messner dan Peter Habeler mendaki Hidden Peak (8068 m) di Karakoram, 3 hari dengan Alpine push, kemudian memecahkan rekor kecepatan Eiger, 10 jam.

1975
Ekspedisi dari Jepang menjadi tim wanita pertama yang menjejakkan Puncak Everest. Sementara itu Cina mengirimkan tim pertamanya, dari punggungan timur laut.

Perlengkapan panjat es kian lengkap, lalu ramalan cuaca kian akurat dengan intervensi komputer. Akibatnya, seolah tak ada lagi pelosok Alpen yang terpencil. Namun, bercak-bercak kapur magnesium mulai terasa merisihkan tebing-tebing di Inggris dan Eropa daratan, kebanyakan dituduhkan sebagai ulah pemanjat-pemanjat ‘hijau’, yang mengobral magnesium pada lintasan-lintasan yang seharusnya bisa dilampaui tanpa bubuk itu.

1976
Harry Suliztiarto tak sanggup lagi menahan obsesinya, dengan tali nilon dia mulai latihan panjat memanjat di Citatah, dan dibelay oleh pembantu rumahnya. Patok pertama panjat tebing modern di Indonesia.

1977
Skygers Amateur Rock Climbing Group didirikan di

Bandung

oleh Harry Suliztiaito, Agus Resmonohadi, Heri Hermanu, Deddy Hikmat. Inilah awal tersebarnya kegiatan panjat tebing di Indonesia.

Ekspedisi Selandia Baru coba mendaki Everest tanpa bantuan sherpa. Mereka cuma sampai

South Col

, tapi mereka mereka seolah memukul gong yang gaungnya merantak ke mana-mana, ‘ekspedisi berdikari’. Yang pro mengganggapnya sebagai kejujuran yang wajib, yang kontra melecehkannya sebagai kesia-siaan yang konyol. Perdebatan tak selesai hingga kini.

1978
Messner & Habeler menggegerkan dunia kangouw

Himalaya

dengan pendakian Everest tanpa bantuan tabung oksigen. Tambah geger ketika Messner bersolo karier di Nanga PQrtied dalam waktu 12 hari. Pendakian solo ini oleh banyak pakar dianggap lebih penting daripada pendakian tanpa oksigennya.

Pemerintah

Nepal

menambahkan beberapa permitted peaks.

Dua pendaki Mapala UI, di antaranya Hadidjojo, menjajaki base camp Everest dari sisi selatan.

1979
Harry Suliztiarto memanjat atap Planetarium, Taman Ismail Marzuki.

1980
Tebing Parang untuk pertama kalinya oleh tim ITB, di bawah pimpinan Harry Sulisztiarto. Wanadri untuk pertamakalinya menyelenggarakan ekspedisi ke Carstensz di Pegunungan Jayawijaya. Skygers menyelenggarakan sekolah panjat tebing untuk pertama kalinya. Sampai kini belum ada lagi kelompok yang membuat pendidikan panjat tebing untuk umum seperti ini.

Pemerintah

Nepal

membuka kesempatan pendakian musim dingin, di samping musim semi dan musim gugur. Kian banyak kaki meratakan jalan-jalan setapak dipelbagai pelosok

Himalaya

, kikan tinggi sampah menumpuk di sana-sini. Sebagai gantinya, konon mata uang asing makin deras mengalir ke

sana

. Tapi siapa yang tambah kaya?

1981
Dua ekspedisi

Indonesia

sekaligus di dinding Selatan Carstensz, Mapala Ul dan ITB. Salah seorang anggota tim Mapala Ul, Hartono Basuki, gugur di sini. Jayagiri dari

Bandung

mengirimkan Danardana mengikuti sekolah pendaki gunung di Glenmore Lodge, Skotlandia, dilanjutkan pendakian Matterhorn di Swiss.

1982
Jayagiri kembali mengirimkan orang, Irwanto, ke sekolah pendakian di ISM, Swiss, dilanjulkan ekspedisi 4 orang ke Mont Blanc di Perancis, dan

Matterhorn

serta Monte Rosa di Swiss.

Ahmad dari kelompok Gideon Bandung tewas terjatuh di Tebing 48 Citatah, korban pertama panjat tebing di

Indonesia

.

1984
UGM (Mapagama) mengirimkan Tim Ekspedisi Gajah Mada ke Irian Jaya. Tim panjatnya, Gendon Bandono, bersama Ahmad Rizali dari Mapala UI berhasil mencapai puncak Carstensz Pyramide melalui jalur normal.

Tebing Lingga di Trenggalek, Jawa Timur, serta tebing pantai Uluwatu di Bali, berhasil dipanjat oleh kelompok Skygers bersama GAP (Gabungan Anak Petualang) dari Surabaya.

1985
Tebing Serelo di Lahat, Sumatra Selatan, berhasil dipanjat oleh tim yang menamakan dirinya Ekspedisi Anak Nakal. Ekspedisi Mapala Ul gagal mencapai Puncak Chulu West (6584 m)

di Himalaya

,

Nepal

. Ekspedisi Jayagiri gagal memanjat Eiger Nordwand.

1986
Kelompok gabungan Exclusive berhasil memanjat Tebing Bambapuang di selatan Toraja, Sulawesi Selatan.

Ketompok UKL (Unit Kenal Lingkungan) Univeritas Pajajaran Bandung memanjat tebing Gunung Lanang di Jawa Timur.

Pemanjat-pemanjat Jayagiri Bandung merampungkan Dinding Ponot di air terjun Sigura-gura, Sumatera Utara.

Ekspedisi Jayagiri mengulang pemanjatan Eiger, berthasil, menciptakan lintasan baru. Mapala Ul mengirimkan ekspedisi ke Puncak Kilimanjaro (5895 m) di Afrika antara lain Don Hasman.

Kompetisi panjat tebing pertama di dunia diselenggarakan di Uni Soviet, di tebing alam, dan sempat ditayangkan juga oteh TVRI.

Patrick Morrow, pendaki dan fotografer Kanada yang kelak mempopulerkan ide mendaki Seven Summits, mendaki Carstensz Pyramid bersama Adiseno dari Mapala UI. Ini puncak terakhir dari rangkaian Seven Summits yang didaki Pat Morrow.

Di tempat lain, milyuner asal

Texas

bernama Dick Bass juga merintis Seven Summits dalam versi berbeda. Dia menganggap Kosciusko (2230 m) di Australia sebagai bagian dari Seven Summits, bukannya Carstesz Pyramid.

Tahun ini pula, bersamaan dengan EXPO di Vancouver, Kanada, Pat Morrow menemani Norman Edwin, Adiseno, dan Tituz Pramono dari Mapala UI untuk memanjat puncak granit Bugaboo Spire (3186 m), salah satu puncak terpopuler Kanada yang terletak di kawasan British Columbia.

Mapala UI berlatih di Carstensz dengan ketuanya Adi Seno. Kelak, Mapala UI meneruskan tradisi latihan di Carstensz ini nyaris secara reguler. Beberapa tim yang datang ke

sana

antara lain dipimpin Handiman Rico (Koko), lalu oleh tim yang dipimpin Aloysius Febrian (Dedi).

1987
Empat Anggota Ekspedisi Aranyacala Universitas Trisakti tewas diserang Gerombolan Pengacau Irian dalam perjalanan menuju Jayawaijaya.

Ekspedisi Wanadri menyelesaikan pemanjatan Tebing Batu Unta di Kalimantan Barat.

Kelompok Trupala memanjat tebing Bukit Gajah di Jawa Tengah. Sepikul di Jawa Timur disantap Skygers.

Ekspedisi Wanita Indonesia Mendaki Himalaya ke lmja Tse, Himalaya, hampir bersamaan dengan dua anggota Ekspedisi Jayagiri Saddle Marathon yang sedianya berambisi memanggul sepeda ke puncak namun terhadang birokrasi

Nepal

. Di Afrika, ekspedisi sepeda ini berhasil mencapal puncak tertingginya, Kilimanjaro (5895 m) dan Mount Kenya (5199 m, tanpa sepeda).

Ekspedisi Wanadri gagal mencapai Puncak Vasuki Parbat (6792 m) di

Garhwal Himalaya

,

India

.

Adi Seno: “Vasuki Parbat merupakan seri pertama ekspedisi atas biaya Sampoerna yang didapat oleh Wanadri. Dari Mapala UI ada dua orang yang ikut, saya dan Rudi Badil (Kompas). Saya ke base camp mereka dan terus ikut naik sampai Camp III, di mana akhirnya Ogun dkk mencoba ke puncak tapi gagal karena tali habis dan badai datang. Kita semua pulang bareng dgn selamat.

Lomba panjat tebing pertama di Indonesia dilaksanakan di tebing pantai Jimbaran di Bali.

1988
Dinding panjat buat pertama kali diperkenalkan di Indonesia, dibawa oleh 4 atlet pemanjat Prancis yang diundang atas kerjasama Kantor Menpora dengan Kedubes Perancis di Jakarta. Mereka juga sempat memberikan ilmu lewat kursus singkat kepada pemanjat-pemanjat kita.
Bersamaan, lahir Federasi Panjat Gunung & Tebing Indonesia, diketuai Harry Suliztiarto.

Untuk pertama kalinya disusun rangkaian kejuaraan untuk memperebutkan Piala Dunia Panjat Dinding yang direstui dan diawasi langsung oleh UIAA (badan Internasional yang membawahi federasi-federasi panjat tebing dan pendaki gunung), diawali dengan kejuaraan

di Snowbird

,

Utah

, AS.

Ekspedisi panjat tebing pertama yang dilakukan sepenuhnya oleh wanita, Ekspedisi Putri Parang Aranyacala, Tower III. Sedangkan kelompok putranya memanjat Tebing Gunung Kembar di Citeureup,

Bogor

.

Ekspedisi UKL Unpad Bandung di Batu Unta, Kalbar, kehilangan satu anggotanya, Yanto Martogi Sitanggang jatuh bebas. Speed climbing pertama di

Indonesia

dilakukan oleh Sandy & Jati, di dinding utara Parang, 3 jam. Sekaligus merupakan pemanjatan big wall pertama tanpa menggunakan alat pengaman sama sekali, keduanya hanya dihubungkan dengan tali.

Lomba panjat ‘tebing buatan’ pertama dilakukan di Bandung, mengambil dinding gardu listrik.

Ekspedisi Wanadri berhasil menempatkan 3 pendakinya di Puncak Pumori (7145 m)

di Himalaya

,

Nepal

, disusul pasangan Hendricus Mutter dan Vera dari Jayagiri mendaki Imja Tse (6189 m), tanpa bantuan sherpa.

Lalu di Alpen, Ekspedisi Jayagiri Speed Climbing gagal memenuhi target waktu 2 hari pemanjatan dinding utara Eiger, mulur menjadi 5 hari. Sedangkan ekspedisi dari Pataga Jakarta berhasil menciptakan lintasan baru di dinding yang sama.

Di Yosemite, AS, Sandy Febyanto dan Jati Pranoto dari Jayagiri memanjat Tebing Half Dome (gagal memecahkan retor John Bachar & Peter Croft 4,5 jam) dan Tebing El Capitan (gagal memecahkan rekor 10,5 jam).

Mapala Ul mendaki Chimborazo (6267 m) dan Cayambe (gagal) di Pegunungan

Andes

, Ekuador (Amerika Selatan). Anggota tim adalah Adi Seno (ketua ekspedisi), Tantyo Bangun, alm. Didiek Samsu, Aloysius Febrian (Dedi), dan Setyo Ramadi.

1989
Awal tahun dunia panjat tebing

Indonesia

merunduk dilanda musibah, gugurnya salah satu pemanjat terbaik

Indonesia

, Sandy Febyanto, jatuh di Tebing Pawon, Citatah. Tapi tak lama, semangat almarhum seolah justru menyebar ke segala penjuru, memacu pencetakan prestasi panjat tebing di Bumi Pertiwi ini.

Tim Panjat Tebing Yogyakrta/TPTY melakukan ekspedisi ke Dinding Utara Carstensz tetapi gagal mencapai puncak secara direct, namun jalur normal Carstensz berhasil dipanjat sebelumnya.

Kembali kawasan Citeureup dirambah anak Aranyacala, kali ini Tebing Rungking.
Arek-arek Young Pioneer dari

Malang

memanjat tebing Gajah Mungkur di seputaran dalam kawah Gunung Kelud. Kemudian tim Jayagiri dalam persiapannya ke Lhotse Shar di Nepal, mematok target memanjati semua pucuk-pucuk tebing sekeliling kawah Kelud tadi, tapi tak berhasil. Ekspedisi Lhotse Shar itu sendiri batal berangkat.

Tebing Uluwatu dipanjat ekspedisi putri yang kedua, dari Mahitala Unpar.

Kelompok MEGA Universitas Terumanegara melakukan Ekspedisi Marathon Panjat Tebing, beruntun di tebing-tebing Citatah, Parang, Gajah Mungkur, dan berakhir di Uluwatu, dalam waktu hampir sebulan, marathon panjat tebing pertama di

Indonesia

. Ekspedisi Putri Lipstick Aranyacala dia Bambapuang, tapi musibah menimpa sebelum puncak tergapai. Ali Irfan Batubara, fotografer tim, tewas tergelincir dari ketinggian.

Tahun ini tercatat tak kurang dari sepuluh kejuaraan panjat dinding diselenggarakan di

Indonesia

. Beberapa yang besar antara lain di Universitas Parahyangan

Bandung

, Universitas Trisakti Jakarta, ISTN Jakarta, di Markas Kopassus Grup I Serang, dua kali oleh Trupala SMA-6 (di Balai Sidang dan Ancol), lalu SMA 70 Bulungan Jakarta, kelompok KAPA FT Ul, Geologi ITB.

Mapala Ul bikin dua ekspedisi, Mount Cook (3764 m) di Selandia Baru dan Puncak McKinley (6149 m) di Alaska.

Yang mencapai puncak

Mount Cook

adalah Sugiono Soetedjo (ketua ekspedisi), Umar Farouk, dan satu pendaki lagi. Sementara Diah Bisono dan Keplek menunggu dan lantas bertemu pendaki sekaligus pemandu terkemuka, Eric Simondson.

Nama yang terakhir ini orang AS, yang di lain kesempatan menemani Gunawan Ahmad (Ogun) dari Wanadri dalam Ekspedisi Khancenjunga di Himalaya. Eric pula yang di akhir ‘90-an menemukan jenazah George Mallory di Everest. Di McKinley, keempat pendaki Mapala UI mencapai puncak: Sugiono Soetedjo, alm. Didiek Samsu, Alloysius Febrian, dan alm. Norman Edwin.

Empat anggota Wanadri termasuk Ogun mengikuti kursus pendakian gunung es di Rainier Mountaineering Institute di AS, dilanjutkan dengan bergabung dengan ekspedisi AS ke Kangchenjunga di Himalaya. Tajuknya saat itu Ekspedisi Sampoerna.

Di Alpen, Ekspedisi Wanita Alpen Indonesia berhasil pula merampungkan misinya, mendaki 5 puncak tertinggi di 5 negara Eropa, Mont Blanc (4807m, Perancis), Grand Paradiso (4601 m, Italia), Marts Rosa (4634 m, Swiss), Grossgiockner (3978 m, Austria) dan Zugsptee (2964 m, Jerman Barat).

Akhir tahun ini ditutup dengan gebrakan Budi Cahyono melakukan pemanjatan solo di Tower III Tebing Parang. Artificial solo climbing pada big wall yang pertama di Indonesia.

1990
Mapala UI menggelar ekspedisi dan berhasil mencapai puncak ke

Mt.

Elbrus

(5642 m) di

Pegunungan Kaukasus

,

Georgia

. Ini rangkaian dari program Seven Summits setelah Carstensz Pyramid, Kilimanjaro, dan McKinley. Keempat anggota tim adalah Norman Edwin, Didiek Samsu, Alloysius Febrian, dan Sugiono Soetedjo. Setelah Elbrus, tiga puncak lagi yang disasar adalah

Aconcagua

, Vinsson Masif, dan Everest.

Di Carstensz, Didiek Samsu dari Mapala UI mencetak rekor tercepat sampai saat itu. Base Camp di Lembah Danau-Danau ke puncak ditempuhnya dalam 10 jam. Didiek mendaki Carstensz menemani pendaki Belanda yang mengejar Seven Summits, Ronald Naar.

1991
Aryati menjadi wanita Asia pertama yang berhasil menjejakkan kakinya di Puncak Annapurna IV, Himalaya, pada Ekspedisi Annapurna Putri Patria

Indonesia

.

Tim Srikandi Tim Panjat Tebing Yogyakarta (6 orang) membuat jalur i Bukit Tanggul, Tulung Agung, Jawa Timur.

1992
Dunia petualangan

Indonesia

kembali berduka karena kehilangan dua orang terbaiknya, Norman Edwin dan Didiek Syamsu, anggota Mapala UI tewas diterjang badai di

Gunung Aconcagua

,

Argentina

. Tiga anggota tim lainnya adalah Rudi Nurcahyo, Fayez, dan Dian Hapsari.

Beberapa waktu kemudian, dua anggota Mapala UI menyelesaikan pendakian

Aconcagua

yaitu Ripto Mulyono dan Tantyo Bangun. Seven Summits ke-5 untuk Mapala UI. Tinggal dua yang belum: Everest dan

Vinson Massif

.

Ekspedisi Pemanjat Putri

Indonesia

menjejakkan kakinya di Puncak Tebing Cima Ovest, Tre Cime, Italia.

Ekspedisi Putri Khatulistiwa Tim Panjat Tebing Yogyakarta memanjat dinding utara Bukit Kelam, Sintang, Kalimantan Barat.

Adi Seno dan Budi Cahyono ke Carstensz tahun 1992 bulan Mei. Bertemu dua pemanjat dari Eropa Timur.
Adi Seno: “Saat turun Budi memungut helm mereka, karena helm mereka Petzl, mahal banget. Saya jatuhkan di puncak Carstensz ketika dipakai untuk menggali snow hole. Kita bermalam di puncak. Saya punya foto Budi di puncak ketika tiba malam, dia yang simpan. Teman-teman dari Wanadri, Jojo teman saya ke Vasuki Parbat tahun 1987 (Juni) tidak percaya saya sampai di atas sana.

“Kami manjat dua hari. Hari pertama kemah di teras besar. Hari kedua sampai di puncak pukul 18.00 waktu setempat. Bermalam karena jalan turun lewat rute normal yang saya pernah lewati dua kali sebelumnya (1984 dan 1986) tidak terlihat. Besoknya kita turun rapelling dan meninggalkan anchor di puncak tali. Sebuah webbing kuning, (mustinya Agung, Zainal, Rully dkk lihat karena selanjutnya mereka yang ke puncak).

Rute tersebut di pesawat pulang ke

Jakarta

disepakati oleh Budi Cahyono, atas usul saya, untuk dinamai rute Norman Edwin yang tahun itu meninggal di

Aconcagua

. Ini mencontoh rute sulit di Eiger yang diberi nama pendaki Amerika terkemuka, yang tewas saat mencoba membuat rute. Cerita ini ada di TRAS edisi tahun 1993.

1993
Mapala UI berekspedisi dan berlatih untuk kesekian kali ke Carstensz. Satu tim (Zainal, Agung, Rully) membuat jalur direct, memanjat Carstensz Pyramid dan kelak jalur ini diberi nama Didiek Samsu. Satu tim lagi (Sapto, Hariyono, Cholik, dll) mendaki lewat rute normal. Tim pimpinan M. Fayez ini juga mendaki puncak-puncak lain di kawasan itu, sekaligus melakukan penelitian terhadap fungsi faal manusia di ketinggian, melibatkan unsur medis dari

Jakarta

.

Bulan Desember, Adi Seno dan Diah Bisono berusaha ke

Mount Cook

lewat jalur pendakian pertama. Tapi lantas memustuskan kembali setibanya di gletser.

————————-
1994
Ekspedisi Mapala UI memanjat tebing-tebing di Trenggalek dan Pacitan.

1995
Adi Seno bersama Patrick dan Baiba Morrow mendaki 21 gunung di atas ketinggian 3000 meter di Jepang. Mereka menyeberangi Pulau Honsyu dari Laut Jepang sampai Laut Pasifik sambil mendaki marathon.

1996
Dua guide profesional, Scott Fischer dari San Francisco (AS) dan Rob Hall dari Selandia Baru tewas saat terjadi musibah di Everest. Jon Krakauer, anggota tim yang juga reporter Majalah Outside, menuliskan tragedi ini ke dalam buku yang lantas menjadi best seller, Into Thin Air, dan juga difilmkan.

Mapala UI sekali lagi menyatroni Trenggalek, Jawa Timur. Kali ini giliran Watu Lingga yang batuan andhesit-nya rapuh.

Para

pemanjat di acara Temu Wicara dan Kenal Medan Mahasiswa Pencinta Alam Indonesia (TWKM) membuat beberapa jalur sport climbing di Tebing Lazila, Buton (Sulawesi Tenggara).

1997
Clara Sumarwati membuat kontroversi dalam pendakiannya di Everest, puncak tertinggi di Pegunungan

Himalaya

. Banyak pihak yang meragukan kedua kakinya telah menjejak puncak tertinggi di dunia itu.

Pratu Asmujiono anggota pendaki dari Kopassus menjadi orang pertama

Indonesia

yang menjejakkan kakinya di puncak tertinggi

Himalaya

, Everest. Asmujiono berangkat bersama tim Ekpedisi Everest

Indonesia

yang merupakan gabungan anggota Kopassus dan pendaki sipil lainnya. Tiga pendaki Mapala UI terlibat dalam ekspedisi ini. Rudi Nurcahyo mendaki dari sisi selatan, Ripto Mulyono dari sisi utara, dan ada pula Adiseno.

Ekspedisi Putri Mapala UI merampungkan pemanjatan Bambapuang di Sulawesi Selatan. Anggotanya adalah Andi Purnomowati, Maya, Nadira, Dian, dan Ita.

1999
Tebing Lawe di Banjarnegara (Jawa Tengah) dipanjat oleh Mapala UI.

2002
Tebing Dolok Simarsolpa di Sumatera Utara dipanjat oleh beberapa anggota Mapala UI bersama pemanjat setempat. Simarsolpa berbatu andhesit setinggi 250 meter.

Anatoly Boukreev, seorang mountaineer berkebangsaan Rusia yang terkemuka di Himalaya, konsultan pada Ekspedisi Indonesia ke Everest pada tahun 1997, tewas tertimpa avalanche di Annapurna.

2003
Ekspedisi Mapala UI memanjat tebing Gunung Krakatau di Selat Sunda. Sekitar tahun ini pula Mapala UI merintis jalur baru untuk mendaki puncak Gunung Raung (Jawa Timur) yang sesungguhnya. Di Jawa Barat, tebing Sela-Rumpang di Taman Nasional Gede Pangrango dijajal oleh beberapa pemanjat Mapala UI dengan izin khusus.

Ekspedisi Aranyacala Trisakti ke Mount Cook di Selandia Baru gagal pada percobaan pertama. Sembilan pendaki diselamatkan oleh SAR setempat.

2004
Patrick Berhault meninggal jatuh di Dom, puncak tertinggi Swiss, dalam rangka memanjat semua tebing gunung 4000 meter di Alp. Rencananya selama tiga bulan dia manjat semua 4000 meter, dan jika berhasil di DOm itu berarti puncak yang ke-65!

Kejadiannya 29 April. Berhault pernah manjat di

Indonesia

bersama Corinne Labrun. Dia juga yang ikut membangunkan FPTGI, cikal bakal FPTI.
(*)

Hotel

Di Bandara internasional Soekarno Hatta, seorang sopir taksi mendapat penumpang bule dari Amerika. Si sopir taksi itu menjadi guide pertama bagi si bule, mencari hotel tempat menginap.

“Kapan hotel ini dibuat?”, tanya bule itu pada sopir taksi ketika melintasi sebuah hotel.

“Kalau tidak salah, enam bulan tuan”, jawab sopir taksi.

“Enam bulan? Lama sekali ya. Di Amerika, hotel seperti ini dibangun cuma dua bulan”, kata bule itu.

“Kalau hotel ini?”, tanya si bule lagi di hotel yang lain.

“Hotel itu dibuat dalam waktu sepuluh bulan tuan”, kata sopir taksi.

“Sepuluh bulan? Terlalu lama. Di Amerika tidak lebih dari tiga bulan”, kata bule itu.

“Sombong sekali bule ini”, pikir sopir taksi.

Ketika taksi itu berhenti di depan Hotel Indonesia, bule itu bertanya lagi, “Oh ya, kalau ini, berapa lama hotel ini dibuat?”

Dengan cuek si sopir taksi menjawab, “Saya tidak tahu tuan. Kemarin sore sih saya lewat sini hotel ini belum ada.”

(Dari lawakannya Warkop)

Mules di Kereta

Cuti kerja tahun ini Tono menghabiskan liburan di kampung halamannya di Jember, Jawa Timur. Dia pulang dengan menggunakan kereta Progo jurusan Yogyakarta, dan nyambung lagi dengan kereta Sri Tanjung ke Jember.

Sampai di stasiun Lempuyangan, Tono kebelet buang air besar, sedang kereta Sri Tanjung tujuan Jember sepuluh menit lagi berangkat.

“Masih sempet!”, kata Tono dalam hati. Ia lari ke toilet umum dan mengeksekusi mulesnya. Selesai buang hajat, ia membayar Rp. 1000 di meja penjaga toilet. Tono membayar dengan uang selembar Rp. 5000.

“Maaf mas. Nggak ada kembaliannya empat ribu”, kata penjaga toilet.

“Wah! Saya juga nggak ada uang seribuan mas!”, kata Tono.

“Ya udah. Mas buang air empat kali lagi aja biar pas!”

Resensi: Menyentuh Yang Niskala

RESENSI BUKU 

Sinar Harapan


Inspirasi Petualangan Indonesia

Dadang Sukandar

Menyentuh_yang_niskalaJudul buku :Menyentuh Yang Niskala
Judul Asli   : Touching The Void
Penulis       : Joe Simpson
Penerjemah: Adi Seno
Penerbit      : Kepustakaan Populer Gramedia, 2006
Tebal Buku : 268 halaman

Sesaat sebelum mencapai puncak Gunung Raung pada pendakian medio Januari lalu, nyali saya sempat diciutkan oleh sebuah punggung bukit yang lebarnya tidak lebih dari dua meter. Sebenarnya punggungan itu tidak terlalu menyeramkan. Apa yang membuat saya ciut adalah jurang-jurang di kanan kiri punggungan itu.

Jurang itu dalamnya lima ratus meter, dan dasarnya tertutup awan. Tapi, saya lalui juga punggungan gunung itu bersama Fachri. Kami berdua bergerak bersama menyeberang jurang. Badan kami terhubung dengan terikat tali pengaman, teknik moving together. Saya sempat mempercayakan nyawa saya yang cuma selembar ini pada Fachri.


Saya mendapatkan inspirasi teknik moving together itu setelah membaca buku Menyentuh Yang Niskala. Saya bahkan memutuskan mendaki Gunung Raung karena membaca buku itu.


Buku Menyentuh Yang Niskala bercerita tentang sebuah tragedi kecelakaan saat mendaki Dinding Barat Siula Grande di pedalaman pegunungan Andes, Peru. Joe Simpson, penulisnya, sudah disangka mati oleh Simon Yates, partner-nya mendaki saat tali pengaman yang mengikat badan mereka berdua putus sewaktu turun tebing.


Sebelumnya, Joe dan Simon punya perjanjian, kalau salah satu dari mereka terjungkal ke jurang di sebuah punggungan sempit, maka yang lainnya yang selamat melompat ke jurang di seberangnya. Dengan begitu, tubuh mereka akan saling tertahan, saling terkekang tali, karena tali mereka tersangkut di juluran es atau salju.


Saya memikirkan teknik itu untuk mendaki Gunung Raung. Tapi, setelah ditimbang-timbang, teknik itu bisa jadi bahaya. Ketika saya mengamankan Fachri menyeberangi punggungan sempit menjelang puncak Raung, saya menebak-nebak, apakah saya akan melompat ke jurang di sebelah kiri seandainya Fachri terjungkal ke jurang di sebelah kanan.


Kalau itu saya lakukan, tubuh kami berdua akan saling tertahan, karena tali penghubung kami akan tersangkut di antara batu-batu tebing pembatas jurang. Sampai sini mungkin aman.


Tapi, saat tali pengaman itu saling menahan dan tegang, bagian tali yang tersangkut ke batu itu akan getas dan terjadi friksi atau gesekan. Dan kalau friksinya tepat di bagian batu yang tajam atau runcing, bagian batu itu akan mudah merobek tali.


Buku yang judul aslinya Touching The Void ini bukan hanya bercerita tentang sebuah pendakian gunung, tapi juga sebuah kisah tentang keteguhan hati memperjuangkan hidup.
Sesaat setelah mencapai puncak Siula Grande di ketinggian 6.300 meter, Joe dan Simon terperosok ke jurang. Mereka menggunakan teknik moving together, berjalan di punggung-punggung gunung sempit dengan saling terhubung tali.


Kalau yang satu celaka, yang lain mengamankan dengan tali. Oleh karena itu, mereka berhasil lolos dari maut saat terperosok ke jurang. Mereka saling mengekang tali yang menghubungkan kedua badan.


Tapi, saat kecelakaan berikutnya, kondisinya makin kritis dan dramatis. Kaki Joe patah ketika tergelincir di es dan terperosok ke jurang. Tali di badannya berhasil dikekang Simon hingga Joe tergantung di permukaan tebing yang menggantung. Di bawah kaki Joe, pemandangannya jurang yang melambai-lambaikan kematian.

Sementara itu, untuk kembali naik meniti tali, fisiknya sudah berantakan dan ia tak berdaya. Saat kekuatan Simon menahan tali Joe mulai kendur, Simon terpaksa memotong tali itu. Joe jatuh ke dalam jurang, dan Simon menganggapnya sudah mati.


Tanpa disangka, Simon menemukan Joe terbaring sekarat di dekat kemah induk mereka di bawah gunung. Perjuangan Joe merangkak dengan kaki patah hingga ke bawah gunung, tentu tak akan berhasil tanpa keteguhan hati.


Buku Menyentuh Yang Niskala diterjemahkan dari karangan aslinya oleh Adi Seno. Selain wartawan lingkungan senior di harian Sinar Harapan, ia juga seorang pendaki gunung dan pernah menyambangi gunung-gunung Everest, Boogabo Spires, sampai Andes di Peru.


Buku ini pernah mendapat penghargaan dari Boardman Tasker Award tahun 1988. Penghargaan ini diberikan kepada para pengarang buku-buku yang berkaitan dengan literatur pendakian gunung dan sastra.


Buku ini juga pernah difilmkan dengan menggunakan judul aslinya oleh John Smithson dan Kevin Macdonald.
Bersaing dengan film

Cold

Mountain

, film Touching The Void berhasil memenangkan

British

Academy

of Film and Television Arts (BAFTA) Award untuk kategori The Outstanding British Film Of The Year.


Tak salah tampaknya kalau buku ini hadir dalam rangka mengisi kekosongan literatur Indoneia dalam petualangan pendakian gunung. Kalau berhitung klub-klub atau organisasi pendakian gunung di Indonesia, bukan main banyaknya.
Para pendaki kita masih jarang yang menuliskan pengalamannya untuk dibagi-bagi sebagai pelajaran bagi sesama peminat gunung.


Seperti Into The Wild, Into Thin Air dan Anapurna, Menyentuh Yang Niskala juga merupakan buku inspirasional dalam rangka “ngomporin” anak-anak muda untuk bertualang.


Tidak pasti memang apa yang didapat seseorang dari sebuah petualangan mendaki gunung. Tapi, setidaknya kegiatan ini masih dipandang sebagai kegiatan yang positif dan sehat bagi pemuda.

Gunung Raung (Tidak) Memilih

 

Biasanya, pendaki yang rela tersaruk-saruk di gunung Raung yang tingginya 3332 meter dari permukaan laut (Mdpl) itu, mendaki gunung ini dari bagian utara, dari desa Sumber Wringin di Bondowoso, Jawa Timur. Di sana sudah ada jalur umum dan pos resminya untuk mendaki. Sejak 2002, sejak tim Pataga Universitas 17 Agustus (Pataga Untag) Surabaya membuka jalur mendaki dari arah selatan gunung ini, beberapa tim pendaki mulai banyak yang meluncur ke sana. Menurut pendaki setempat, kurang lebih baru sepuluh klub yang masuk gunung Raung dari selatan, dari kecamatan Kalibaru sejak dibuka 2002. Di tambah satu jalur lagi yang dibuat oleh tim Mapala UI tahun 2003 dari kecamatan Glenmore, maka genap sudah 2 jalur mendaki Raung dari selatan, jalur Kalibaru dan jalur Glenmore. Tapi, hingga kini di dua jalur itu belum ada pos resmi pendakiannya. 

Sebab itu pula, mendaki dari Kalibaru atau Glenmore di selatan punya kesulitan sendiri yang lebih khas, dan tentunya lebih sulit karena jalurnya pendakiannya tidak terawat. Kadang-kadang saja dilewati, jedanya bisa sampai berbulan-bulan dan membuat beberapa bagian hutan basahnya rapat lagi, tertutup pohon tumbang, juluran rotan-rotan dan perdu berduri. Kesan rintangan sulit keduanya, adalah saat menjelang puncak setelah melewati bagian hutan. Bagian menjelang puncak ini berupa tebing pasir yang setidaknya 500 meter tingginya. Mendaki bagian ini harus melewati sebuah sadle panjang, punggungan tipis yang lebarnya tidak lebih dari dua meter. Di situ kami berjalan melipir menyerang puncak. Dan di kanan kiri sadle itu, tebing-tebing 500 meter tersebut menganga. Kesan pertamaku, tebing-tebing itu sepertinya meminta korban. Aku sempat menebak-nebak, karena inikah gunung Raung disebut-sebut sebagai The Hardest in Java?   

Sepanjang beberapa catatan perjalanan selatan Raung yang kulongok, banyak yang gagal mencapai puncaknya. Kegagalan itu umumnya karena kemampuan peralatan dan keterampilan tali-temali, serta kekurangan air. Dari laporan-laporan itu aku kembali menghitung pendakian Raung via Kalibaru ini, bukan cuma dua kali, tapi berkali-kali. Soal berapa panjang tali yang musti kubawa, pasak tebing piton, kapak es, makanan seminggu, sampai kewajiban tiap pendaki menggondol sepuluh liter air dalam setiap ranselnya. Barang-barang itu kami angkut bersembilan ketika hmendaki Raung lewat Kalibaru pada medio Januari 2007 kemarin. Ketika kuhitung terakhir sebelum berangkat, nampaknya peralatan itu berlebihan, dan berat. Tapi, kalau kukurangi dan bahaya menimpa, tak ada yang bisa kusesali toh.

Karena tidak ada pos pelaporan resmi pendakian, aku melakukan pelaporan aparat keamanan dan birokrasi pemerintahan biasa, alias kepada kapolsek Kalibaru dan kepala dusun Wonorejo. Mereka menerima kami bersembilan dengan senang hati. Maksudku benar-benar senang, antusias, seperti orang daerah yang menerima orang kota yang ingin melihat-lihat desa dan pemandangan gunung. Dan karena senangnya, mereka membantu secara all out. Bahkan, pak Yayan yang kebagian tugas jaga kantor polsek turut membantu mencarikan kendaraan untuk mengantar kami ke dusun Wonorejo. Ia sampai ikut ke batas hutan lengkap dengan pakaian dinas dan pistolnya. Kata pak Yayan, kalau carter mobil sendiri bisa-bisa dicegat sama sopir ojek motor di palang jalan masuk ke desa. Dan itu berarti perlu keluar biaya lebih mahal lagi. Tapi, polisi di sana punya pamor, dihormati. Ketika mobil kami melintasi sekerubungan orang kerja bakti di sebuah pekarangan rumah yang sedang siap-siap pesta perkawinan, semua melambaikan tangan dan berteriak, “Mampir pak Yayan !”. Kami sih, cuma senyum-senyum saja. “Gini-gini, saya juga pernah dilepas di hutan untuk dapetin ini nih!”, kata Pak Yayan sewaktu melepas pendakian di dusun Wonorejo. Dan itu ia kemukakan sambil menunjuk pada badge kepolisiannya dengan bangga.

Pelayanan all out itu kurasa karena kami membawa surat rekomendasi dari Polres Depok, Jawa Barat, kepolisian resort dimana kami tercatat berdomisili. Surat rekomendasi itu lumayan sakti. Maksudku sakti bukan sekedar katebelece, tapi hanya merunut persiapan keamanan pendakian ini sebaik mungkin, koordinasi sana-sini secara baik, jadi kalau terjadi apa-apa tidak hanya ditunjuk-tunjuk kepalanya sambil disalah-salahkan, tapi benar-benar dibantu karena koordinasinya rapih. Sampai sini saja, kurasa kami sudah mengumpulkan poin memenangkan sebuah pendakian. Tinggal itu tuh yang terlupa, mohon izin masuk ke tanah kekuasannya Perhutani. Kawasan hutan Raung secara keseluruhan di bawah pengawasan dan kekuasaan pihak Perhutani, jadi ibaratnya mereka adalah wakil negara pemilik tanah dan hutan gunung. Tuan tanahnya. Sementara, polisi dan aparat desa adalah koordinasi keamanan kalau terjadi darurat gunung, semacam SAR gitu lah. Untuk izin perhutani ini, kami lupa. Dan itu kami anggap lalai.

Terhalang Gunung Wates

Dscn7376_1

Hari pertama mendaki, kami berkemah di sebuah gubuk kayu reot di tengah-tengah ladang kopi pada pukul lima. Gubuk itu terkunci pintunya, dan di dalamnya berisi kayu-kayu potongan ketika aku mengintip. Rumah kayu itu milik Pak Sunarya, kuncennya Raung di jalur Kalibaru. Sampai kemah itu, kami telah berjalan selama tiga jam dari dusun Wonorejo. Kami mulai jalan dari Wonorejo setelah makan siang, sekitar pukul dua, karena paginya mengurus koordinasi polisi dan kepala dusun. 

Hari kedua mendaki, kami dikecohkan koordinat peta dan bentangan alam. Keenakan mengikuti jalur penduduk di antara ladang-ladang kopi, kami jadi lupa pada peta ketinggian topografi dan mesin GPS (Global Positioning System). Kami menyeberangi sebuah lembah untuk loading air sungai di dasarnya, lalu mendaki lagi ke punggungan di seberangnya, karena ke arah itu ada jalan setapak. Ketika  punggungan itu patah di ujungnya, kami membandingkan peta dan GPS, dan barulah sadar, kami terpelanting ke punggungan seberang, keluar dari punggungan jalur utama yang sudah kami ploting sejak dari Jakarta. Kami putuskan untuk menyebrangi lembah lagi menuju ke punggungan utama semula, dan ini memakan waktu setengah hari membuka hutan. Sulung yang berjalan paling depan membuka hutan, menebas-nebas halangan pohon rubuh dengan tangan dan golok tramontina-nya, menuju ke punggungan utama. Ia seorang wartawan yang kebetulan penggila gunung juga, dan tangannya yang baret-baret tergores semak berduri dan cabang-cabang pohon tajam sepertinya tak terasa sakit untuk digunakan membuat catatan, menggenggam pulpennya. Sampai ke puncak Raung, jarang sekali kulihat ia berjalan di belakang, selalu di depan memimpin, menebas-nebas pohon hutan dengan tangganya. Pergerakan jalannya tidak terlalu cepat, tapi konstan, dan baru berhenti kalau benar-benar letih. Hari pertama itu kami simpulkan sebagai hari yang kurang produktif, waktu habis hanya untuk berputar-putar di hutan bagian bawah gunung, tidak signifikan menambah ketinggian.

Punggungan utama itu tipis, dan jalan setapaknya yang remang-remang tertutup semakin nyata menunjukan sebuah jalur pendakian. Kami membuka peta, dan membandingkan jalan itu dengan koordinat peta. Kami berada di jalan yang tepat. Langsung kami meluncur dengan semangat, melewati punggungan gunung selebar rata-rata dua atau tiga meter, dengan kanan kiri punggungan berupa lembah curam sekurang-kurangnya 50  meter dalamnya. 

Semakin sore tenaga di tangan makin lemas karena menebas-nebas beberapa bagian hutan yang rapat. Semak-semak berduri yang menyangkut di kulit, membuat tangan kami baret-baret dan bernanah besoknya. Juluran pohon-pohon rotan yang melintang, menyangkut di kepala ransel yang tingginya lebih tinggi dari kepalaku. Itu membuat tubuhku terikat, sulit bergerak dan harus merunduk, kadang merayap, berjalan jongkok atau berjalan berbalik arah menyibak semak dengan ransel di punggung. Pada bagian-bagian itu, golok tebas tramontina-ku jelas tak berfungsi.

Di langit, kawanan burung Rangkong yang terbang berbaris seolah mengejek kami. Aku diam istirahat dan hanya menatap langit, jarang-jarang melihat burung jenis itu. Sesekali, ada juga Elang Jawa yang melesat membelah langit. Lengkingan suaranya yang membentur dinding lembah, terdengar seperti jeritan penderitaan manusia. Juga kera-kera yang melompat dari satu pohon ke pohon lain. Semua kuperhatikan, dan seolah binatang-binatang itu mengejek kami. Pada jam lima sore, di sebuah tanah yang agak lapang, GPS versi hitungan UTM menunjukan koordinat peta: 7140.9510. Di titik peta itu kami mendirikan camp 2 untuk melewati malam.

Hari ketiga pendakian, puncak gunung Raung belum juga bisa kulihat. Punggungan tipisnya yang berupa tebing pasir yang sering kami sebut igir-igir juga belum terlihat, masih tersembunyi di balik puncak gunung Wates, anak gunung Raung. Hutan Raung yang basah menjadi semakin basah ketika hujan pelan-pelan menutupi hari yang terik. Tanganku basah, dan rasanya tidak enak ketika menyentuh pohon jelatang. Rasa gatal dan perihnya berlipat dua saat tetes air hujan jatuh di atas lukanya. Begitu juga binatang Agas yang berterbangan di depan mukaku, membuat luka bekas benturan pohon di pipiku semakin gatal dan perih.

Hujan mereda pada sore hari, sekitar jam lima. Tubuhku basah karena sisa siraman hujan, dan pelan-pelan disambut kedinginan karena tak melakukan banyak gerakan yang bisa menghasilkan panas tubuh. Kami memutuskan membuat camp 3 di koordinat peta 7280.9720, pada ketinggian 1700 mdpl. Di sini banyak binatang Agasnya. Awo menyulut rokok lintingan dari pasar lokal, katanya asap rokok yang dilinting sendiri itu bisa mengusir Agas yang berterbangan di depan mukanya. Padahal, setahuku ia tak pernah merokok, bukan perokok. Tapi, untungnya mahasiswa fakultas hukum yang satu ini tidak sempat merampas rokok kretek kemasan di ranselku yang tinggal sedikit. Ia cuma butuh rokok lintingan, asapnya yang tebal katanya pengusir Agas. Ketika mengganti baju dengan yang kering, kutemukan darah bekas gigitan Pacet di pahaku yang masih segar. Pacet itu gendut, jatuh ke tanah setelah kekenyangan menghisap darahku. Binatang macam ini, sering kutemui di hutan-hutan basah, seperti Pangrango misalnya.

Hari keempat, harusnya kami mencapai rencana camp 4 di batas vegetasi, di sekitar ketinggian 3000 mdpl. Tapi, karena terhambat segerombolan semak berduri dan beberapa bagian hutan rapat, camp 4 kami dirikan di ketinggian 2700 mdpl, di koordinat peta 7380.9940. Camp itu kami sebut juga advance base camp, karena dari camp ini kami akan meninggalkan sebagian isi ransel yang berat untuk menyosor langsung pucuk utama Raung. Dari camp itu kami hanya membawa peralatan panjat dan makanan kalori tinggi, istilah mountaineering-nya summit attack. Sebagian perlengkapan dan makanan yang tidak perlu kami tinggal di advance base camp agar perjalanan lebih ringan. Semacam base camp kedua di ketinggian, bukan yang di kaki gunung. Jadi, hanya tali, kapak es, paku tebing, kompor trangia, beberapa bungkus coklat kalori tinggi dan sup sachet asparagus yang kami angkut ke dalam ransel.

Puncak Raung Memilih

Dscn3170 Ketika kubuka catatan perjalanan beberapa tim mendaki Raung via Kalibaru sebelum berangkat, tak satupun kutemukan pendakian yang berhasil mencapai puncak tertingginya, kecuali tim Pataga Untag Surabaya. Semua catatan itu mengaku gagal mencapai puncak Raung. Dan kalaupun memang ada yang pernah sampai di puncaknya setelah tim Pataga, berarti banyak yang khilaf dalam literatur catatan risetku. Salahku sepenuhnya kalau begitu. Dan sebagai pengobat gagal, catatan itu memberinya bermacam-macam alasan untuk membesarkan hati. Soal keterbatasan alat, keterbatasan kemampuan, sampai kehabisan air. Aku sempat miris dan tertawa dalam hati soal alasan-alasan itu. “Cuma alasan”, pikirku. Tapi, ketika aku terhubung satu tali dengan Fachri melewati igir tipis menjelang puncak, dengan jurang-jurang tebing pasir sedalam lima ratus meter di kanan-kirinya, akupun bisa dengan mudahnya membuat sejuta alasan untuk mundur. Alasan yang mudah. Dan alasan yang masuk akal. Jadi, tidak terlalu disalahkan kalau pulang nanti bawa cerita nggak sampai puncak tertinggi. “Jalurnya susah cuy!”.

Setelah keluar hutan dan masuk daerah bebatuan, tepatnya di batas vegetasi antara hutan dan tebing, puncak gunung Raung baru kulihat. Akhirnya, setelah empat hari mendaki-daki, pucuk bebatuan botak itu baru bisa dilongok. Dramatis. Cuma itu pikiranku sambil memandang mimbar besar. Aku merinding sampai titik ini, dan rasanya sudah cukup kalau memang ditakdirkan gagal dan hanya sampai titik ini. Tapi, tidak, perjalanan empat hari kemarin tidak boleh disia-siakan. Sudah kepalang tanggung. Puncak Raung masih berdiri megahnya di depanku seperti balkon, di atas awan, melambai-lambaikan tantangan, dan kami belum lagi meraihnya.

Aku bertanya pada kawanku Bambang yang pada 2003 lalu membuka jalur baru puncak Raung via perkebunan Glenmore, “Gimana sih kondisi tebing puncak Raung ?”. Menurut pengamatannya, bisa saja dilewati dari segala arah, tergantung kabut dan hujan. Itu yang penting. Di sekitar ketinggian puncak sering turun hujan. Dan kalau kabut, itu tidak mungkin tidak ada. Turunnya hujan ini sangat mengganggu pastinya. Ketika aku kehujanan di ketinggian 200 meter tebing batu Simarsolpa di Simalungun, kulihat tebing gersang itu berubah seketika menjadi taburan air terjun. Saat itu badanku menggigil digigit dinginnya air hujan selama setengah jam pertama. Aku membandingkannya dengan puncak Raung yang berada di ketinggian 3000 mdpl lebih, dan kubayangkan dinginnya pasti berlipat-lipat daripada waktu aku meluncur kehujanan di Simarsolpa.

Kusimpulkan, puncak Raung bisa ditembus. Semoga tidak hujan, karena kalau hujan, tak tahu apa jadinya. “Santai aja lagi, Raung memilih orang-orang yang sampai puncak !”, kata Bambang secara bercanda. Sebelumnya, ia sudah dua kali ke Raung dengan misi membuka jalur lewat selatan gunung ini. Pertama, pada tahun 2001. Saat itu ia berbalik tertunduk memunggungi puncak Raung setelah gagal menerobos dan cuma puas sampai ketinggian 2700-an meter. Kedua, pada tahun 2003, dan berhasil mencapai puncak Raung dari selatan lewat Glenmore. Jadi, pada 2001 itu ia tak terpilih, dan baru terpilih pada 2003 sebagai penginjak puncak Raung. Hal itu, ternyata sampai juga ke pertimbanganku, “Raung memilih kita nggak ya?”. Kalau hujan, bisa jadi aku dan teman-temanku tidak terpilih sebagai penginjak puncaknya. Tapi kalau cuma kabut doang, itu puncak harus dikejar.

“Raung memilih!”, mungkin, tapi aku tidak percaya. Aku lebih percaya pada keyakinan bertindak dari manusia, bukan pada benda mati yang begitu menentukan. Kami hanya perlu melakukan penyesuaian. Kalau hujan, berhenti dulu, buka kemah darurat di celah-celah tebing yang aman, lalu lanjut kalau hujan berhenti. Toh, aku membawa air dan makanan cadangan untuk dua hari seandainya kemalaman dan harus ngemping di tebing. Jadi, sepertinya aman!   

Kami berjalan meninggalkan batas vegetasi menuju tiang bendera merah putih, tiang penanda puncak pertama yang disebut Puncak Selatan. Jaraknya cuma lima menit berjalan memelipiri bebatuan yang lapang, tapi di bagian kirinya langsung jurang. Aku bergeser tiga meter dari tiang bendera itu, dan tiba-tiba tebing batu setinggi setengah kilo meter langsung menghempaskan pemandangan di bawah kakiku. Aku memandangnya sebentar penasaran, dan setelah itu sama sekali tak ingin membayangkan jatuh ke dalamnya. Puncak Selatan itu dihubungkan oleh sebuah sadle berupa punggungan tipis ke arah puncak 17, sebuah puncak gundukan batu dan tanah berbentuk piramid yang tingginya sekitar sepuluh atau dua puluh meter. Aku kurang paham kenapa gundukan piramid itu dinamakan puncak 17, tapi kalau tidak salah untuk memberi penghargaan kepada rekan-rekan dari klub Pataga Universitas 17 Agustus Surabaya sebagai pembuka jalur Kalibaru.

Igir itu tipis dengan kanan-kirinya tebing jurang sedalam setengah kilometer. Kami bertujuh berjalan beriringan dengan terikat satu tali perdua orang, sementara Bambang dan Yuni, camp manager kami, lebih memilih menunggu di advance base camp saja, tidak ikut muncak. Paling depan, Jamal dan Bagus berjalan terhubung satu tali untuk merintis jalur. Ia yang mencari arah jalan memelipiri punggungan tipis itu. Sesekali mereka menancapkan kapak es dan paku tebing ke celah batu atau ditancapkan ke tanah untuk penambat tali. Di belakangnya, Sulung, Awo dan Rekso juga terikat dalam satu tali mengekori perintis terdepan. Sementara, aku terikat dalam satu tali dengan Fachri paling belakang. Teknik moving together, bergerak bersama dalam satu tali terhubung.

Dscn3181_1 Aku mendapatkan inspirasi teknis ini di Raung saat membaca buku “Menyentuh Yang Niskala”, buku terjemahan dari aslinya “Touching The Void”. Buku itu bercerita tentang sebuah tragedi kecelakaan saat mendaki Dinding Barat Siula Grande di pedalaman pegunungan Andes, Peru. Joe Simpson, penulisnya, sudah disangka mati oleh Simon Yates partner-nya mendaki saat tali pengaman yang menghubungkan badan mereka berdua putus saat turun tebing. Sebelumnya, Joe dan Simon punya perjanjian, kalau salah satu dari mereka terjungkal ke jurang di sebuah punggungan tipis atau igir, maka yang lainnya yang selamat melompat ke jurang di seberangnya. Dengan begitu, tubuh mereka akan saling tertahan, saling terkekang tali, karena tali mereka tersangkut di juluran es atau salju.

Aku memikirkan teknik itu untuk Raung. Tapi, setelah kutimbang-timbang, ini bisa juga jadi bahaya. Ketika aku mengamankan Fachri menyeberangi igir tipis, aku menebak-nebak, apakah aku akan melompat ke jurang sebelah kiri seandainya Fachri terjungkal ke jurang di kanannya. Kalau itu kulakukan, tubuh kami berdua akan saling tertahan, dan tali penghubung kami akan tersangkut di antara batu-batu. Tapi, menurutku itu juga bukan jaminan aman. Ketika tali pengaman saling menahan dan tegang, tali yang tersangkut ke batu itu akan getas dan friksi. Dan kalau friksinya tepat di bagian batu yang tajam atau runcing, bagian batu itu akan mudah merobek tali. Tali yang kugunakan jenis tali kernmantle dinamis. Seperti kebiasaan tali kernmantle, semakin tegang tali ini semakin mudah robek. Aku pernah menempelkan sebuah golok ke tali tegang yang ditarik ke arah ujung-ujungnya sewaktu latihan tali temali. Golok itu cuma kutempelkan. Dan dalam hitungan detik, tali itu menjepret, putus dan saling pental ke arah dua sisi ujungnya. Bagian-bagian itu, kemudian jadi pertimbanganku. Tapi yang paling penting, keputusan dan tindakanku harus yakin.

Aku tak ada waktu untuk memberi keterangan seperti itu kepada Fachri saat sedang repot melintasi punggungan tipis sambil terhubung tali ke badannya. Tapi, ia cuma tahu teknik itu saat menyeberanginya. Sementara, aku sempat memikirkan teknik lain kalau misalnya salah satu dari kami terperosok ke jurang, yaitu meraih batu terbesar yang terdekat dengan badanku lalu mengalungkan tali penghubung kami buru-buru sebelum tegang. Ini bukan cuma perlu tindakan yang sangat cepat, tapi juga kecermatan berpikir yang super kilat. Dan akhirnya, kami hanya menjalaninya saja, menyeberangi punggungan tipis itu tanpa banyak mikir lagi selain hati-hati.

Sebelum mengekang tali melewati punggungan tipis itu, di tempat lapang yang aman, kami membuat beberapa kesepakatan. Kesepakatan pertama, jarak kami tidak boleh berjauhan, sekitar dua puluh sampai tiga puluh meter paling jauh. Karena ini jarak pandang yang paling aman kalau tiba-tiba kabut tebal mengurung punggungan tipis itu. Kedua, meniupkan peluit sebanyak-banyaknya jika terjadi keadaan darurat, misalnya ada yang jatuh ke jurang. Jadi, jangan main-main sama peluit yang dikalungkan ke leher masing-masing. Ketiga, berlaku sistem “We are the rescue team”. Maksudnya, tim yang lain adalah tim penyelamat bagi tim yang mendapat celaka. Jadi, tidak menyiapkan satu tim khusus sebagai penyelamat. Ini kami rasakan lebih efektif, bergerak bersama dalam satu tali dan saling menjaga kawan setali, memperhatikan satu sama lain. “Cuy! Karena kalau enggak elu, mungkin gua yang di-rescue”.

Punggungan tipis itu berhasil juga kami lalui, dan mengantarkan kami ke leher piramid puncak 17. Tempat ini lebih aman. Menjelang puncak 17, kami bertemu crux kedua, titik tersulit untuk menyeberang jurang dan harus diamankan penambat besi yang sudah tertancap ke tanah. Penambat besi itu sudah ada di sana, sudah dipasang oleh tim mendaki sebelumnya, mungkin timnya Pataga Untag yang memasang. Aku menggoyang penambat itu dengan kaki untuk menguji kekuatan penambat, sepertinya kuat, tapi aku tak berpikir untuk membebaninya dengan berat tubuhku ketika menyebrang jurang. Kurasa, itu sugesti saja. 

Tali yang terjulur dan terikat ke sabuk kekang harness jamal, diamankan oleh sistem penambat ketika ia mulai memanjat crux kedua, sistem belay. Bagus yang mengamankan dari bawah saat Jamal memanjat rompalan pasir dan batu. Sambil merintis, ia menancapkan piton lagi ke celah-celah batu dan pasir. Di ujung rintisan, ketika ujung tali pengaman sudah habis, ujung gagang kapak es-nya ditancapkan ke celah-celah batu dan pasir, menjadikannya penambat tali dan berganti giliran mengamankan Bagus menyeberangi crux tersebut pada giliran kedua, upper belay. Dengan memperhatikan gaya saling tarik ulur tali mereka, dua tim di belakangnya hanya tinggal mengikuti tanpa banyak masalah.

Kami berkumpul di pucuk puncak 17 yang berupa gundukan batu pasir itu pada pukul sebelas siang. Sementara, di depanku menghadang tebing batu rontok yang lebar, langsung menghadap ke arah puncak tertinggi gunung Raung. Tapi, untuk mencapai dinding kakinya, harus menyeberangi sebuah sadle sekali lagi, sebuah punggungan tipis yang lebarnya tidak sampai dua meter. Sementara, sampai titik tertinggi gundukan batu pasir itu, kami sudah berjalan sekitar lima jam dari advance base camp. Untuk melewati punggungan dan dinding curam di depanku, kurasa akan memakan waktu lebih dari tiga jam kalau kami bertujuh semua berjalan bersamaan. Pergerakan kelompok yang besar, kurasa bisa melambatkan ritme jalan. Soalnya, aku khawatir, kalau-kalau sampai jam dua siang belum juga sampai puncak, turun bisa kemalaman. Belum lagi hujan yang katanya sering turun menjelang sore. Itu bisa menahan semakin lama di kawasan puncak, dan aku malas membayangkannya kalau terkurung kemalaman dan terpaksa menginap di sekitar tebing-tebing puncak.

Sebagai climbing leader keseluruhan pendakian, kuputuskan tim Jamal dan Bagus saja yang ke puncak. Lima orang selebihnya tetap bertahan di gundukan pasir itu, sambil mengamati pemanjatan dan stand by melakukan pertolongan kalau ada apa-apa. Aku memegang handie talkie. Di tim mereka, Bagus yang memegang HT itu. Kami selalu berkomunikasi sepanjang summit attack. Sekali-sekali, komunikasi mengejek. Sekali-sekali, komunikasi memberi arahan jalan dan semangat. Dari titik aku memegang HT,  dinding curam itu terlihat jernih kalau tak terhalang kabut. Jadi, kami berlima bisa melihat dengan jelas pergerakan mereka, ke kanan atau ke kirinya. Boring menunggu pemanjatan, Awo memasak sup sachet asparagus dan kopi kreamer sachet. Juga coklat-coklat manis yang membuat gigiku ngilu. Dan, tak ada yang lebih nikmat selain wangi tembakauku yang terbakar, kretek Sam Soe.

Pukul satu, Jamal dan Bagus belum juga keluar dari crux ketiga. Tebing pasir setinggi tujuh meter. Aku berkali-kali mengontak Bagus lewat HT ketika kabut mengurung mereka dan mereka hilang dari pandanganku. Mungkin mereka ada masalah sampai begitu lama di titik itu, atau mungkin mereka mengambil jalan yang ke kiri, ke arah jurang yang dasarnya tertutup awan. Semoga mereka tidak memilih jalan itu. Bayarannya terlalu mahal untuk menyeberang. “Sebentar lagi, kita lagi ngelewatin crux ketiga nih! Gue ngambil jalan yang ke kanan!”, balas Bagus. Keputusan yang tepat menurutku, meski terlihat dari tempatku dinding itu batuannya rontok. 

Pukul dua siang, Jamal dan Bagus belum juga sampai puncak. Kabut sudah mengurung mereka, juga lembah-lembah menganga di kanan kiriku, dibawah ketinggian setengah kilometer. Titik air dari langit, pelan-pelan menempel di kulit tangan dan jaketku. Sekelilingku hanya putih kabut, tak kulihat tumbuhan-tumbuhan hijau hutan yang beberapa hari lalu kulewati dengan terseok-seok. “Gus, udah jam dua nih!”, getaran pita suaraku kusalurkan kedalam HT, semoga Bagus mendengarnya di seberang lembah sana yang tertutup kabut. “Iya, iya. Tanggung. Udah deket nih ke puncak, gue minta waktu setengah jam lagi deh”, lapornya. “Oke, setengah jam ya, kalau nggak sampe, lu berdua turun!”, perintahku. “Oke, oke. Tengkiu Dang!”, kubayangkan mukanya berseri menerima itu.

Dscn3239_1 Mungkin tidak sampai lima belas menit, aku mendengar teriakan panjang dari arah puncak Raung, “Puncaaaaak!”. “Udah sampe puncak lu?”, tanyaku lewat HT. “Yoi, kita berdua udah sampe puncak!”, balas Bagus dengan nada berseri-seri. Kami berlima yang di puncak 17 itu berteriak, teriakan khas Mapala UI, “Uooooooooo…”. Teriakan itu membalas mereka berdua yang di puncak, “Uooooooo…” (Dadang Sukandar/ Dok. Mapala UI).

RESENSI: Cerita Segar Tulisan Perjalanan Indonesia

RESENSI BUKU 

Cerita Segar Tulisan Perjalanan

Indonesia

   

Judul – Berburu Nyali di Tebing Emas
Pengarang – Dadang Sukandar
Penerbit – Andi Yogyakarta
Tahun terbit – 2006
Jumlah halaman – viii + 104

Oleh
Sulung Prasetyo

Sinar Harapan

Dahulu Soe Hok Gie pernah memesonakan dengan tulisan perjalanan bertajuk "Menaklukkan Gunung Slamet". Dalam tulisan tersebut dengan gamblang pria yang meninggal di usia muda itu menjabarkan seluk-beluk perjalanan mereka ke gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.
Pada awal tulisannya, Gie menjabarkan latar belakang perjalanan pendakian. Dengan

gaya

normatif kaku dan ideal, akhirnya Gie menemukan apa sebenarnya konsep mereka hingga nekat mendaki gunung berkepala botak itu.


"Mencintai secara sehat tak akan mungkin dapat dicapai bila kita tak mengenalnya. Mendaki gunung membuat kami lebih mengenal masyarakat

Indonesia

dari dekat," paparnya.
Ungkapan kalimat-kalimat itu yang kemudian masih menggayuti kepala, bila kita bertandang kembali ke gunung-gunung. Karena dengan kalimat-kalimat itu, para pendaki gunung seperti memasuki fase berikutnya dari era gagah-gagahan mendaki, menuju era baru yang lebih bermanfaat.


Para pemuda mulai belajar mengenal masyarakat

Indonesia

dari dekat, mendalami dan mengerti masalah-masalahnya, hingga nanti saat para pemuda itu menjadi para pemegang keputusan, simpanan-simpanan memori itu yang akan menjadi pegangan.


Itu sekelumit hasil sebuah tulisan tentang perjalanan, yang mengejewantahkan konsep, dan menjabarkannya hingga menjadi prinsip yang dibutuhkan manusia dalam menjani hidup. Gie baru satu contoh. Bagaimana bila kita membaca tulisan Madelon Lulofs dalam novel Coolie.
Dalam pengembaraan wanita Belanda itu ke negeri Sumatera, ia harus menghadapi kenyataan pahit hidup bersama para kuli di perkebunan-perkebunan karet negeri Andalas. Kejahatan kolonialisme jelas memaksa Lulofs membuat novel tersebut.


Ia menjabarkan bagaimana sifat kuli yang cenderung nrimo dan skenario tak terbuka kaum kolonial, yang membuat Lulofs merasakan ketidakadilan di dalamnya. Menurut Lulofs, para kuli itu juga seharusnya mendapatkan hak yang sama sebagai manusia, bukannya diperlakukan sebagai boneka peras, yang menyenangkan hati kolonialis saja.


Mereka juga butuh kepintaran, perbaikan masa depan, dan hak untuk memilih. Bukan seperti yang sering ia perhatikan saat ia membuat buku tersebut.

Para

kuli menjadi sapi perah keuntungan para juragan kolonial. Mereka hanya dianggap aset produksi, tidak diperkenankan memiliki istri, dan jahatnya tidak memiliki kesempatan untuk maju.


Lulofs seperti menjadi tahap berikutnya hasil dari tulisan perjalanan. Sebuah paradigma baru tercipta dari tulisan-tulisan tersebut, yang memaksa orang berubah diri, dan bersama menuju sebuah harapan yang lebih baik.


Pada buku yang ditulis Dadang Sukandar dalam tajuk Berburu Nyali di Tebing Emas ini, sempat ada harapan seperti itu. Seperti Gie, Dadang juga mencoba menjabarkan apa yang ditemuinya, dalam perjalanan-perjalanan mendaki gunung dan memanjat tebing. Meskipun akhirnya mungkin tak semua dari kita akan merasakannya, apa yang ditulis Dadang terasa lebih renyah.


Idealisme yang sempat terasa kemudian buram dalam aroma metropolitan. Tak ada yang bisa disalahkan, karena seperti itulah kebanyakan anak muda kita sekarang. Mereka minim keseriusan dan menganggap segala hal tak pernah lepas dari humor.


Penggalan-penggalan artikel di buku ini juga memuat nilai tersebut. Sepertinya, pengarang mencoba membawa kita ke arah rasa aman. Pemaksaan pada paradigma kegiatan-kegiatan menantang seperti ini hanyalah soal kebiasaan dan bukan hal luar biasa. Ini terlihat jelas di beberapa artikelnya berjudul "Leyeh-leyeh di Gunung Gede", "Panjat Tebing Emas", dan lainnya.
Asyiknya buku ini memiliki tulisan tambahan kecil di dalamnya, yang ditaruh dalam boks–boks tersendiri. Tampaknya justru boks itu yang akan menjadi kekuatan buku ini.
Kita akan menemukan seorang jati diri petualang di dalamnya, apa adanya, penuh romantika, dan kadang penuh juga dengan cerita-cerita lucu.


Bagaimana tidak. Seperti dalam tulisan "Sorry Mulut Asem Nih" tergambar jelas bagaimana persahabatan di alam bebas bukanlah sesuatu hal tabu. Dalam "Meratapi Bumi Pasundan" kembali membuat kita terperangah pada kehancuran, atau "Lupa Ngiket Spanduk" mengingatkan kita pada kebodohan-kebodohan yang kadang kita lakukan secara manusiawi.
Itulah buku ini. Sebuah buku yang lurus sebagai manusia. Buku ini tak sebersahaja Gie atau Lulofs memang. Namun paling tidak, buku ini menjadi angin segar bagi genre tulisan perjalanan di Tanah Air.

Para

pengarang kini lebih banyak melupakan dasar realis dalam berkata-kata. Namun kini lebih berkutat pada kata-kata berbunga, yang kadang tak banyak dipahami maknanya.
Seberapa banyak tulisan metafora bisa berdampak langsung pada perubahan? Tulisan realis, seperti Lulofs, Gie, Max Havelar lebih terbukti membawa bangsa ini menuju pemikiran yang lebih baik.

Rock Climbing, Panduan Praktis Panjat Tebing

Rockclimbing

ISBN 979-763-545-7
Author: Dadang Sukandar
12×19cm, 124 hlm
Cetakan I, 2006
Harga: Rp.18.000

Daftar Isi:

Bab 1. Menembus Batas-batas Vertikal.

Bab 2. Panjat Tebing: Petualangan dan Olah Raga.

Bab 3. Artificia Climbing.

Bab 4. Free Cimbing.

Bab 5. Mengukur Tingkat Kesulitasn.

Bab 6. Simpu-simpul Tai.

Bab 7. Peralatan Panjat Tebing.

Apa yang membuat seorang pemanjat begitu dalam terlibat dalam panjat tebing sehingga mengabdikan hidupnya di

sana

? Atau ada juga yang sekedar ikut-ikutan dan cuma iseng? Tiap orang yang melakukan kegiatan ini, yang rasanya seperti testoteron yang nyaris meluap, sepertinya masing-masing punya jawabannya sendiri-sendiri. Tapi sederhananya, untuk menyimpulkan maksud-maksud mereka itu berkeliaran di tebing, saksikan saja seorang anak kecil yang sedang semangat-semangatnya memanjat pohon atau tembok. Kira-kira seperti itulah. Rasanya sama aja, memuaskan penasaran dan kadang-kadang dipamerkan. Namun, dalam panjat tebing, medannya sudah serius, bukan pohon atau tembok lagi dan memerlukan perhitungan dan kecermatan. Manusia menjadi dewasa, manusia berubah.

Bagian ini dicoba dibahas di awal-awal buku “Rock Climbing, Panduan Praktis Panjat Tebing”. Buku teknis yang berupaya mengisi kekosongan ruang literatur panjat tebing nasional kita yang sepi. Selain mengulas motif panjat tebing dan sedikit sejarahnya, buku ini juga mereka-reka bagaimana teknik artificial climbing dan free climbing dilakukan dengan mengambil sketsa gambar tebing Ciampea dan

Krakatau

sebagai perbandingan dan latar beakang. Tentang bagaimana menyusun strategi tali-temali di big wall, pembagian kerja pemanjat, crack climbing atau boudering.

Sebagai buku yang diperuntukan bagi pecinta alam umumnya, dan pemanjat tebing khususnya, dengan sifatnya yang praktis buku ini juga menjelaskan kegunaan dan cara-cara membuat simpul-simpul tali, terutama simpul-simpul dasar. Termasuk juga di dalamnya berbagai jenis peralatan panjat tebing, baik bentuk, fungsi maupun cara merawatnya. Buku ini menjadi lebih jernih dan praktis dengan hadirnya foto-foto dan iustrasi yang mendukung.

Dadang Sukandar, penulisnya, adalah seorang sarjana hukum yang berminat pada panjat tebing