dadzfla

look up there… the world is so high…


Tebing Cagak, Klapa NUnggal

 

“Mengapa selalu ada pertentangan diantara kita?” Penyebabnya mungkin tak sulit ditebak: karena manusia dilahirkan dengan seperangkat ego yang dilimpahkan Tuhan, dan kecenderungan manusia adalah mempertahankannya, atau bila perlu diadu atas nama kepentingan . Kalau pertanyaan ini munculnya di arena panjat tebing mungkin ceritanya bakal lain lagi: mengabaikan segala pertentangan dan hanya fokus pada bagaimana menuntaskan rintangan jalur. Di tebing Cagak, secara spontan pertanyaan itu hanya menjadi abadi sebagai nama jalur panjat, jalur “Why?”, bertingkat kesulitan 5.11 dan memanjang sampai ketianggian 20 meter. Nama jalur itu tergurat di permukaan tebing bagai merek minuman yang menimbul seperti urat nadi di botol Jack Daniel’s. 

 

Keluar dari pintu tol Gunung Putri tinggal belok kiri, dan setibanya di kantor polsek Klapa Nunggal belok kanan lagi menyusuri jalur truk, diantara pabrik-pabrik semen dan jalanan off road . Dulu jalanan ini cuma tanah berunduk-unduk, tapi sekarang sudah ditimpa semen sampai sekitar dua kilo meter ke dalam. Bagi pemanjat-pemanjat di sekitar Bogor dan Jakarta kawasan ini cukup familiar sebagai tempat latihan tebing alam, yang biasanya dilakukan di sebuah ceruk goa dibalik bukit tempat gunung-gunung kapur dihancurkan segepok dinamit untuk pabrik semen. Di dekat kawasan panjat tebing yang lama itu baru-baru ini  dibuat lagi sebuah kawasan panjat baru oleh pemanjat-pemanjat asal Bogor. 

Menurut salah seorang pembuat jalurnya, Indra Supriyatna, nama jalur-jalur baru itu dibubuhi di kawasan tebing bukit Cagak. Nama bukit Cagak sendiri adalah sebutan orang setempat yang kemungkinan karena bentuknya secara keseluruhan seperti cagak. Para pembuat jalur dan pemanjatnya biasa menyebut lokasi itu tebing Cagak, Klapa Nunggal.   

Kawasan panjat tebing Cagak dibuat untuk mengganti kebosanan kawasan tebing lama dan kerinduan para pemanjat akan jalur-jalur baru. Indra dan rekan-rekannya bergelantungan di sana,  mengangkut bor dan hanger, dan dua minggu kemudian sebelas jalur panjat baru siap dipanjat. Tingkat kesulitan kesebelas jalur itu bervariasi, mulai dari 5.9 sampai 5.11c. 

Dua jalur paling kiri disebut jalur “Cangcut”. Kedua jalur itu mempunyai titik start yang sama lalu terpecah menjadi dua jalur: “Cangcut Lurus” dan “Cangcut Miring”. Kedua jalur itu buatan Indra dan memiliki tingkat kesulitan 5.10. Menurut pembuatnya, dinamakan jalur “Cangcut” karena ketika jalur itu dijajal oleh tester (Pemanjat yang mengetes jalur baru), cangcut (Celana dalam) sang tester kelihatan dari kaki tebing.

Jalur ketiga di sebelah kanan jalur Cangcut dinamakan jalur “Asmiranda”, diambil dari nama seorang bintang sinetron Asmiranda yang beberapa waktu lalu foto sexy-nya sempat beredar di internet. Agak kurang jelas kenapa dinamakan Asmiranda, tapi kemungkinan sewaktu pembuatan jalur ini namanya menjadi buah bibir di kaki tebing. Jalur Asmiranda memiliki tingkat kesulitan 5.11 dan dibuat oleh seorang pemanjat handal asal Bogor, Andri alias Kebo.

Jalur keempat dinamakan “ii”, singkatan dari “Indra dan Indra”, dua orang yang bernama sama dimana Indra kesatu sebagai pembuat jalur dan Indra kedua sebagai tester. Jalur ini punya tingkat kesulitan 5.10d. Di sebelah kanan “ii” adalah jalur “MM”, singkatan dari ”Maripatu Mariam”, nama dari putri kesayangan Indra sang pembuat jalur. Jalur “MM” dibuat oleh Indra dan punya tingkat kesulitan 5.11a.

Di samping “MM” jalur “Virginia” buatan Norman. Jalur ini memiliki tingkat kesulitan 5.11c. Dinamakan jalur “Virginia” karena menurut gosipnya, hati Norman sempat tergetar oleh seorang gadis yang bernama Virginia. Entah bagaimana hasil akhirnya, tapi yang jelas nama itu abadi di tebing Cagak sebagai nama jalur panjat, lekang seperti putri raja yang dipuja seorang jejaka yang mulai menua. 

Jalur ketujuh adalah jalur “Tato”. Jalur ini bertingkat kesulitan 5.10d dan dibuat oleh Tobing dan Alay. Dinamakan jalur “Tato” karena kedua pembuat jalur itu bertato. Selanjutnya jalur kedelapan jalur “Kunyuk”, 5.11, dibuat oleh Indra. Sewaktu jalur “Kunyuk” selesai dibuat, Rana, pemanjat asal Bogor  yang menjadi tester. Sewaktu nge-tes jalur itu suasana di tebing sangat panas dan membuat badan Rana menjadi hitam, seperti Kunyuk. 

“My Juliet” adalah jalur kesembilan, berkesulitan 5.10d buatan Indra. Menurut Indra, nama jalur itu dibuat spontan saja, yang intinya mengingatkan kaum pria pada kehadiran wanita. “Setiap cowo punya Juliet-nya masing-masing,” kata Indra. Keras sekaligus lembut, seperti salju gunung es abadi.

Ada lagi satu pertanyaan yang nampaknya belum terjawab, dilukis secara abadi di jalur “ Why ” buatan ‘Mbe: “Mengapa selalu ada pertentangan diantara kita?” Nampaknya ‘Mbe belum mendapat jawaban filosofis dari pertanyaan-pertanyaan yang melingkunginya itu: tentang penyebab percekcokan dalam organisasinya atau tentang keretakan hubungannya dengan sang kekasih hati. Makanya ia mengguratkan jalurnya dengan nama “Why?” yang bertingkat kesulitan 5.11. Terakhir, disamping jalur “Why?”, jalur “Batako” buatan Apiv. Simple saja, dinamakan jalur “Batako” karena bentuknya yang mirip batako. 

Norman, dan juga oknum-oknum yang membuat jalur-jalur itu sepakat, jalur panjat tebing Cagak dipahat sebagai bentuk jeritan hati mereka. Makanya, meskipun para pembuatnya pria-pria kekar tapi nama jalur-jalurnya begitu melo . Bagaimana cara efektif memanjat jalur-jalur itu, tak usahlah diceritakan dalam artikel ini, sebab satu-satunya cara menuntaskan jalur panjat tebing adalah dengan membawa kernmantle dan harness langsung ke tebingnya sendiri. (Dadang Sukandar).

 

Thanks to:  

 

  • ‘Nyang bikin jalur: Indra, Andri (Kebo), Norman, Tobing, Alay, ‘Mbe, Apiv
  • ‘Nyang motret: koleksi Indra, koleksi Dadang.
  • ‘Nyang nyumbang hanger: Dedi Lawe
  • ‘Nyang ngeceng-ngecengin : anak-anak FPTI Bogor
  •  ‘Nyang belon disebutin namanya disini

 

 

Foto:

http://www.friendster.com/photos/13281808/1/268276761

http://www.facebook.com/photo.php?pid=951026&op=1&aid=41251&auser=701178352&id=701178352&ref=mf